Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Meminta penjelasan


__ADS_3

Anyelir dan Devan saat ini ada di salah satu restaurant, mereka juga bersama dengan Agam juga Rose. Setelah Devan membawa Anyelir keluar dari ruangan Gita, Agam sengaja mengejar Devan untuk memastikan keadaan Anyelir. Anyelir berpikir ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan soal kenapa mereka menyembunyikan satu rahasia, soal kenyataan bahwa sebenarnya, mendiang ibu Gita adalah istri kedua.


"Kamu nggak apa-apa kan, Nak?" tanya Rose dengan raut wajah yang cemas.


"Maafin Ayah, Nak. Gita memang sudah sangat keterlaluan," ujar Agam.


"Kak Gita bersikap seperti itu, karena kak Gita berpikir bahwa Ibu adalah istri kedua, Ayah. Andai kak Gita tahu, kalau sebenarnya yang menjadi istri kedua itu adalah mendiang bundanya, mungkin dia akan bersikap berebeda," jelas Anyelir, membuat kedua orang tuanya terkejut.


"Ma-maksud kamu apa, Nak?" tanya Rose dengan gugup.


"Kenapa? Ayah dan Ibu kaget aku tahu?" tanya Anyelir menatap kedua orang tuanya dengan tatapan kecewa.


"Saya dan Anyelir sudah tahu semuanya, Yah. Tuhan mempertemukan saya dengan salah satu mantan tetangga Ayah dan Ibu, lewat pertemuan bisnis. Dia mengenal Ayah dan Ibu, dan meneceritakan semuanya," Devan yang merasa bertanggung jawab untuk menjelaskannya pun, akhirnya menjelaskan bagaimana rentetan pertemuannya dengan mantan tetangga Agam dan Rose.


"Sekarang, bisa Ayah dan Ibu jelaskan, kenapa kalian tidak menceritakan yang sejujurnya kepada kami?" tanya Anyelir sekali lagi.


"Kamu bingung, Nak. Saat itu, Gita tengah frustasi setelah kehilangan ibunya, Ibu nggak sampai hati untuk menceritakan semuanya, sampai akhirnya Ibu memilih untuk Gita beranggapan bahwa Ibu adalah istri siri Ayah," Rose menceritakannya dengan wajah sendu.


"Tapi sekarang Ibu lihat, kan? Bagaimana sikap kak Gita sam Anye,  seandainya Ibu dan Ayah jujur, pasti Anye nggak akan jadi korban kebencian kak Gita," terang Anyelir.


Rose dan Agam pun menundukkan wajahnya, mereka menyadari, semua kebencian Gita berawal dari mereka yang tidak jujur sedari awal, sampai akhirnya Gita bisa bersikap lebih jauh. Hati anak mana yang tidak sakit, saat tahu bahwa ayahnya memiliki wanita idaman lain, dan membawa istri mudanya setelah ibunya meninggal. Mungkin itu yang dipikirkan oleh Gita, dan seharusnya Agam menjelaskan kesalah pahaman ini sedari awal. Tapi, mengingat kondisi Gita dulu, Rose tidak sampai hati mengatakannya, dan sampai detik ini mereka belum bisa menjelaskan semua kepada Gita.


"Kami tahu, Nak. Kondisinya sangat sulit saat itu," Rose tidak bisa berbuat banyak, hanya itu yang bisa dia katakan.


"Bukankah, ini masih belum terlambat, Bu? Kita bisa menjelaskan semuanya kepada Gita sekarang," saran Devan.


"Jangan," cegah Agam dan Rose.


"Kenapa?" tanya Anyelir dan Devan bersamaan.


"Karena saat ini Gita sedang hamil, Nak. Dan Dokter sudah berpesan bahwa Gita tidak boleh stres, karena Gita sudah cukup dipusingkan dengan sikap mertuanya yang tidak bisa menerima Gita. Kami mohon, beri kami waktu, Nak sampai Gita malahirkan," pinta Agam.


"Lalu, akan sampai kapan Anyelir menanggung semua kebencian kak Gita, Yah? Anyelir harus terus memaafkan dan memaklumi semua kebencian dan perbuatan kak Gita. Hari ini, dengan sengaa kak Gita ingin mencelakai kandungan aku, dan besok-besok apa? Dalam keadaan sakit, kak Gita masih saja menaruh dendam padaku begitu besar," isak Anyelir. Devan pun membawa Anyelir ke dalam dekapannya.


Anyelir dan Devan saat ini ada di salah satu restaurant, mereka juga bersama dengan Agam juga Rose. Setelah Devan membawa Anyelir keluar dari ruangan Gita, Agam sengaja mengejar Devan untuk memastikan keadaan Anyelir. Anyelir berpikir ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan soal kenapa mereka menyembunyikan satu rahasia, soal kenyataan bahwa sebenarnya, mendiang ibu Gita adalah istri kedua.


"Kamu nggak apa-apa kan, Nak?" tanya Rose dengan raut wajah yang cemas.


"Maafin Ayah, Nak. Gita memang sudah sangat keterlaluan," ujar Agam.


"Kak Gita bersikap seperti itu, karena kak Gita berpikir bahwa Ibu adalah istri kedua, Ayah. Andai kak Gita tahu, kalau sebenarnya yang menjadi istri kedua itu adalah mendiang bundanya, mungkin dia akan bersikap berebeda," jelas Anyelir, membuat kedua orang tuanya terkejut.


"Ma-maksud kamu apa, Nak?" tanya Rose dengan gugup.

__ADS_1


"Kenapa? Ayah dan Ibu kaget aku tahu?" tanya Anyelir menatap kedua orang tuanya dengan tatapan kecewa.


"Saya dan Anyelir sudah tahu semuanya, Yah. Tuhan mempertemukan saya dengan salah satu mantan tetangga Ayah dan Ibu, lewat pertemuan bisnis. Dia mengenal Ayah dan Ibu, dan meneceritakan semuanya," Devan yang merasa bertanggung jawab untuk menjelaskannya pun, akhirnya menjelaskan bagaimana rentetan pertemuannya dengan mantan tetangga Agam dan Rose.


"Sekarang, bisa Ayah dan Ibu jelaskan, kenapa kalian tidak menceritakan yang sejujurnya kepada kami?" tanya Anyelir sekali lagi.


"Kamu bingung, Nak. Saat itu, Gita tengah frustasi setelah kehilangan ibunya, Ibu nggak sampai hati untuk menceritakan semuanya, sampai akhirnya Ibu memilih untuk Gita beranggapan bahwa Ibu adalah istri siri Ayah," Rose menceritakannya dengan wajah sendu.


"Tapi sekarang Ibu lihat, kan? Bagaimana sikap kak Gita sam Anye,  seandainya Ibu dan Ayah jujur, pasti Anye nggak akan jadi korban kebencian kak Gita," terang Anyelir.


Rose dan Agam pun menundukkan wajahnya, mereka menyadari, semua kebencian Gita berawal dari mereka yang tidak jujur sedari awal, sampai akhirnya Gita bisa bersikap lebih jauh. Hati anak mana yang tidak sakit, saat tahu bahwa ayahnya memiliki wanita idaman lain, dan membawa istri mudanya setelah ibunya meninggal. Mungkin itu yang dipikirkan oleh Gita, dan seharusnya Agam menjelaskan kesalah pahaman ini sedari awal. Tapi, mengingat kondisi Gita dulu, Rose tidak sampai hati mengatakannya, dan sampai detik ini mereka belum bisa menjelaskan semua kepada Gita.


"Kami tahu, Nak. Kondisinya sangat sulit saat itu," Rose tidak bisa berbuat banyak, hanya itu yang bisa dia katakan.


"Bukankah, ini masih belum terlambat, Bu? Kita bisa menjelaskan semuanya kepada Gita sekarang," saran Devan.


"Jangan," cegah Agam dan Rose.


"Kenapa?" tanya Anyelir dan Devan bersamaan.


"Karena saat ini Gita sedang hamil, Nak. Dan Dokter sudah berpesan bahwa Gita tidak boleh stres, karena Gita sudah cukup dipusingkan dengan sikap mertuanya yang tidak bisa menerima Gita. Kami mohon, beri kami waktu, Nak sampai Gita malahirkan," pinta Agam.


"Lalu, akan sampai kapan Anyelir menanggung semua kebencian kak Gita, Yah? Anyelir harus terus memaafkan dan memaklumi semua kebencian dan perbuatan kak Gita. Hari ini, dengan sengaa kak Gita ingin mencelakai kandungan aku, dan besok-besok apa? Dalam keadaan sakit, kak Gita masih saja menaruh dendam padaku begitu besar," isak Anyelir. Devan pun membawa Anyelir ke dalam dekapannya.


Anyelir dan Devan saat ini ada di salah satu restaurant, mereka juga bersama dengan Agam juga Rose. Setelah Devan membawa Anyelir keluar dari ruangan Gita, Agam sengaja mengejar Devan untuk memastikan keadaan Anyelir. Anyelir berpikir ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan soal kenapa mereka menyembunyikan satu rahasia, soal kenyataan bahwa sebenarnya, mendiang ibu Gita adalah istri kedua.


"Kamu nggak apa-apa kan, Nak?" tanya Rose dengan raut wajah yang cemas.


"Maafin Ayah, Nak. Gita memang sudah sangat keterlaluan," ujar Agam.


"Kak Gita bersikap seperti itu, karena kak Gita berpikir bahwa Ibu adalah istri kedua, Ayah. Andai kak Gita tahu, kalau sebenarnya yang menjadi istri kedua itu adalah mendiang bundanya, mungkin dia akan bersikap berebeda," jelas Anyelir, membuat kedua orang tuanya terkejut.


"Ma-maksud kamu apa, Nak?" tanya Rose dengan gugup.


"Kenapa? Ayah dan Ibu kaget aku tahu?" tanya Anyelir menatap kedua orang tuanya dengan tatapan kecewa.


"Saya dan Anyelir sudah tahu semuanya, Yah. Tuhan mempertemukan saya dengan salah satu mantan tetangga Ayah dan Ibu, lewat pertemuan bisnis. Dia mengenal Ayah dan Ibu, dan meneceritakan semuanya," Devan yang merasa bertanggung jawab untuk menjelaskannya pun, akhirnya menjelaskan bagaimana rentetan pertemuannya dengan mantan tetangga Agam dan Rose.


"Sekarang, bisa Ayah dan Ibu jelaskan, kenapa kalian tidak menceritakan yang sejujurnya kepada kami?" tanya Anyelir sekali lagi.


"Kamu bingung, Nak. Saat itu, Gita tengah frustasi setelah kehilangan ibunya, Ibu nggak sampai hati untuk menceritakan semuanya, sampai akhirnya Ibu memilih untuk Gita beranggapan bahwa Ibu adalah istri siri Ayah," Rose menceritakannya dengan wajah sendu.


"Tapi sekarang Ibu lihat, kan? Bagaimana sikap kak Gita sam Anye,  seandainya Ibu dan Ayah jujur, pasti Anye nggak akan jadi korban kebencian kak Gita," terang Anyelir.

__ADS_1


Rose dan Agam pun menundukkan wajahnya, mereka menyadari, semua kebencian Gita berawal dari mereka yang tidak jujur sedari awal, sampai akhirnya Gita bisa bersikap lebih jauh. Hati anak mana yang tidak sakit, saat tahu bahwa ayahnya memiliki wanita idaman lain, dan membawa istri mudanya setelah ibunya meninggal. Mungkin itu yang dipikirkan oleh Gita, dan seharusnya Agam menjelaskan kesalah pahaman ini sedari awal. Tapi, mengingat kondisi Gita dulu, Rose tidak sampai hati mengatakannya, dan sampai detik ini mereka belum bisa menjelaskan semua kepada Gita.


"Kami tahu, Nak. Kondisinya sangat sulit saat itu," Rose tidak bisa berbuat banyak, hanya itu yang bisa dia katakan.


"Bukankah, ini masih belum terlambat, Bu? Kita bisa menjelaskan semuanya kepada Gita sekarang," saran Devan.


"Jangan," cegah Agam dan Rose.


"Kenapa?" tanya Anyelir dan Devan bersamaan.


"Karena saat ini Gita sedang hamil, Nak. Dan Dokter sudah berpesan bahwa Gita tidak boleh stres, karena Gita sudah cukup dipusingkan dengan sikap mertuanya yang tidak bisa menerima Gita. Kami mohon, beri kami waktu, Nak sampai Gita malahirkan," pinta Agam.


"Lalu, akan sampai kapan Anyelir menanggung semua kebencian kak Gita, Yah? Anyelir harus terus memaafkan dan memaklumi semua kebencian dan perbuatan kak Gita. Hari ini, dengan sengaa kak Gita ingin mencelakai kandungan aku, dan besok-besok apa? Dalam keadaan sakit, kak Gita masih saja menaruh dendam padaku begitu besar," isak Anyelir. Devan pun membawa Anyelir ke dalam dekapannya.


Anyelir dan Devan saat ini ada di salah satu restaurant, mereka juga bersama dengan Agam juga Rose. Setelah Devan membawa Anyelir keluar dari ruangan Gita, Agam sengaja mengejar Devan untuk memastikan keadaan Anyelir. Anyelir berpikir ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan soal kenapa mereka menyembunyikan satu rahasia, soal kenyataan bahwa sebenarnya, mendiang ibu Gita adalah istri kedua.


"Kamu nggak apa-apa kan, Nak?" tanya Rose dengan raut wajah yang cemas.


"Maafin Ayah, Nak. Gita memang sudah sangat keterlaluan," ujar Agam.


"Kak Gita bersikap seperti itu, karena kak Gita berpikir bahwa Ibu adalah istri kedua, Ayah. Andai kak Gita tahu, kalau sebenarnya yang menjadi istri kedua itu adalah mendiang bundanya, mungkin dia akan bersikap berebeda," jelas Anyelir, membuat kedua orang tuanya terkejut.


"Ma-maksud kamu apa, Nak?" tanya Rose dengan gugup.


"Kenapa? Ayah dan Ibu kaget aku tahu?" tanya Anyelir menatap kedua orang tuanya dengan tatapan kecewa.


"Saya dan Anyelir sudah tahu semuanya, Yah. Tuhan mempertemukan saya dengan salah satu mantan tetangga Ayah dan Ibu, lewat pertemuan bisnis. Dia mengenal Ayah dan Ibu, dan meneceritakan semuanya," Devan yang merasa bertanggung jawab untuk menjelaskannya pun, akhirnya menjelaskan bagaimana rentetan pertemuannya dengan mantan tetangga Agam dan Rose.


"Sekarang, bisa Ayah dan Ibu jelaskan, kenapa kalian tidak menceritakan yang sejujurnya kepada kami?" tanya Anyelir sekali lagi.


"Kamu bingung, Nak. Saat itu, Gita tengah frustasi setelah kehilangan ibunya, Ibu nggak sampai hati untuk menceritakan semuanya, sampai akhirnya Ibu memilih untuk Gita beranggapan bahwa Ibu adalah istri siri Ayah," Rose menceritakannya dengan wajah sendu.


"Tapi sekarang Ibu lihat, kan? Bagaimana sikap kak Gita sam Anye,  seandainya Ibu dan Ayah jujur, pasti Anye nggak akan jadi korban kebencian kak Gita," terang Anyelir.


Rose dan Agam pun menundukkan wajahnya, mereka menyadari, semua kebencian Gita berawal dari mereka yang tidak jujur sedari awal, sampai akhirnya Gita bisa bersikap lebih jauh. Hati anak mana yang tidak sakit, saat tahu bahwa ayahnya memiliki wanita idaman lain, dan membawa istri mudanya setelah ibunya meninggal. Mungkin itu yang dipikirkan oleh Gita, dan seharusnya Agam menjelaskan kesalah pahaman ini sedari awal. Tapi, mengingat kondisi Gita dulu, Rose tidak sampai hati mengatakannya, dan sampai detik ini mereka belum bisa menjelaskan semua kepada Gita.


"Kami tahu, Nak. Kondisinya sangat sulit saat itu," Rose tidak bisa berbuat banyak, hanya itu yang bisa dia katakan.


"Bukankah, ini masih belum terlambat, Bu? Kita bisa menjelaskan semuanya kepada Gita sekarang," saran Devan.


"Jangan," cegah Agam dan Rose.


"Kenapa?" tanya Anyelir dan Devan bersamaan.

__ADS_1


"Karena saat ini Gita sedang hamil, Nak. Dan Dokter sudah berpesan bahwa Gita tidak boleh stres, karena Gita sudah cukup dipusingkan dengan sikap mertuanya yang tidak bisa menerima Gita. Kami mohon, beri kami waktu, Nak sampai Gita malahirkan," pinta Agam.


"Lalu, akan sampai kapan Anyelir menanggung semua kebencian kak Gita, Yah? Anyelir harus terus memaafkan dan memaklumi semua kebencian dan perbuatan kak Gita. Hari ini, dengan sengaa kak Gita ingin mencelakai kandungan aku, dan besok-besok apa? Dalam keadaan sakit, kak Gita masih saja menaruh dendam padaku begitu besar," isak Anyelir. Devan pun membawa Anyelir ke dalam dekapannya.


__ADS_2