Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Kabar baik


__ADS_3

"Baiklah, mungkin baik Ayah maupun teman-teman Anyelir, bertanya-tanya. Ada apa saya, mengadakan acara makan malam dan mengundang Ayah serta kerabat semuanya. Selain untuk memperkenalkan Ibu saya, ada kabar lain yang yang ingin saya sampaikan. Yaitu, soal istri saya yang tengah mengandung." ucap Devan, dengan senyum tulus yang terukir. Semua yang mendengar kabar bahagia dari Devan, jelas ikut merasakan, kebahagiaan Anyelir dan Devan.


"Nak? jadi Ayah akan jadi Kakek?" tanya Agam dengan mata yang berkaca-kaca. Rasanya seperti mimpi bagi Agam, dia tidak menyangka, atas apa yang dia lakukan selama ini, rupanya masih ada hal baik yang menemani mendatangai keluarganya.


"Iya, Ayah." jawab Anyelir menganggukkan kepalanya. Anyelir bahagia, saat ibu kandungnya sendiri, menjauh darinya dan selah tidak perduli kepada Anyelir. Namun, Anyelir merasa sangat beruntung, karena dia memiliki sahabat yang semuanya, sangat baik dan perhatian kepada Anyelir.


Acara makan malam pun terus berlanjut, dan semakin berkesan kekeluargaan. Mayang, yang memang begitu baik, sangat menyambut hangat besan dan juga semua sahabat Anyelir. Selesai makan malam, mereka juga mengobrol, apa lagi sahabat Anyelir yang di kampus, yang saat ini jarang bisa bertemu dengan Anyelir.


"Nye, terus gimana kuliah lo?" tanya Dinda, sebab saat ini Anye tengah berbadan dua, dan mungkin banyak hal yang akan Anyelir rasakan di awal kehamilan.


"Aku udah bicara sama kak Devan, dan karena menurut Dokter, kandungan ku terbilang lemah. Jadi aku putuskan untuk cuti dulu," jawab Anyelir. Keputusan ini, sudah dibicarakan baik-baik dengan Devan. Dan Anyelir, tidak mau mengambil resiko. Jadi, keputusan untuk cuti kuliah pun akhirnya ditempuh.


.


.


Makan malam sudah usai, semua sahabat Anyelir sudah berpamitan lebih dulu. Sedangkan, kini giliran Agam yang akan berpamitan. Agam menatap wajah sang putri, yang nampaknya cukup kecewa karena sang ibu yang, tidak bisa hadir dalam acara penting ini.


"Nanti, Ayah akan sampaikan kepada ibu, soal kabar bahagia ini. Ayah yakin, ibu juga akan bahagia, mendengar kabar putrinya yang tengah mengandung sekarang." ucap Agam seraya mengelus puncak kepala sang putri dengan penuh kasih sayang. Rasanya, Aggam merasa malu kepada Devan, Anyelir dan besannya, karena tidak bisa membawa Rose untuk ikut serta. Padahal, ini adalah undangan makan malam anak mereka sendiri.


"Semoga saja Yah, dan tolong sampaikan maaf ku kepada ibu. Karena tidak bisa mengundang kak Gita," ucap Anyelir.


"Nanti Ayah akan sampaikan," ujar Agam. Akhirnya, Agam pun berpamitan kepada anak dan menantunya, tidak lupa juga dengan sang besan.


Karena sudah cukup malam, Devan meminta sang Ibu untuk beristirahat. Devan juga mengantarkan Anyelir ke kamarnya, dan memastikan sang istri beristirahat dengan baik. Meskipun Devan tahu, pastinya malam ini banyak hal yang menjadi beban pikiran Anyelir.


"Nggak usah memikirkan soal ibu ya?"  ucap Devan, seraya menangkup wajah istrinya.


"Iya sayang, aku akan berusaha, aku tidak mau memikirkan hal-hal yang nantinya justru membahayakan buah hati kita." janji Anyelir.

__ADS_1


"Syukurlah, ya sudah kamu ganti pakaian, dan tidur ya?"


Devan, menatap punggung istrinya  yang tengah mengganti gaun. Devan tengah memikirkan cara, bagaimana caranya untuk mengubah perangai ibu mertuanya. Jika dipikri, Devan juga kasihan kepada Anyelir, yang harus terus menahan sakit hati karena dibadakan dari Gita.


'Aku janji sayang, jika kamu tidak mendapatkan kebahagiaan kamu dari ibu kamu. Maka akan aku pastikan, kamu akan mendapatkan kebahagiaan dari ku,' janji Devan.


.


.


Agam, yang baru saja tiba di rumah. langsung masuk ke dalam rumah, dan menemukan istri juga putri sulungnya yang tengah bersenda gurau di ruang tamu.


"Ayah? Sudah pulang?? Bagaiamana  acara makan malamnya?" tanya Rosse dengan pertanyaan sedikit meledek.


"Berjalan dengan baik, Ayah dikenalkan dengan besan kita juga." jawab Agam seraya mendudukkan dirinya.


"Besan? jadi kita punya Besan?" tanya Rosse, sebab dia tidak tahu sama sekali bahwa dia masih punya besan.


"Terus, apalagi Yah? Apa cuman untuk memperkenalkan ibu dari Devan. Sampai harus mengadakan makan malam segaala?" tanya Gita, dia nampak tidak suka.


"Anyelir, memberitahukan kalau sekarang dia sedang hamil." Agam menjawab dengan senyum merekah, dia menengadahkan kepalanya ke atas. "Aku tidak menyangka, kalau sebentar lagi, akan menjadi seorang Kakek," ucap Agam.


"A-apa? Anyelir hamil?" tanya Rosse nampak terkejut. Rose yang mendengar kabar, bahwa putrinya tengah hamil, merasakan sesuatu di hatinya, ada yang menghangat di sana.


'Anyelir hamil?' Arman, ternyata baru saja dari toilet. Saat dia kembali, secara tak sengaja, dia mendengar pembicaraan Agam.


"Jadi? Ini alasan dia nggak ngundang aku, Yah?" tanya Gita dengan nada tak suka.


"Bukan begitu, Nak." Agam mencoba untuk menjelaskan kepada Gita, supaya tidak terjadi kesalah pahaman diantara adik dan kakk.

__ADS_1


"Siapa saja yang datang Yah?" tanya Rose nampak penasaran.


"Devan, mengundang serta sahabat Anyelir. Oh iya, Anyelir juga terus mencari kamu," ucap Agam.


"Apa? Sahabat Anyelir? Devan mengundang orang lain, tapi dia nggak mau ngundang aku. Memang ya dia it-" ucapan Gita terpotong, karena disela oleh Arman.


"Harusnya, kamu introspeksi diri. Kenapa Devan nggak mengundang kamu dan lebih memilih mengundang sahabat Anyelir. Itu semua ya karena kamu yang selalu jahat dengan Anyelir." ucap Arman, seraya melenggang melewati Gita dan duduk di kursi yang masih kosong.


"Kok, kamu jadi belain mereka?"  Gita nampak kesal, karena sang suami justru sama sekali tidak membela dirinya.


"Kenapa? Benar kan?  Kamu sudah keterlaluan kepada Anyelir, bahkan rumah sakit keluarga ku juga hampir jadi korban. Beruntung, Anyelir itu orang baik, jadi dia mau membujuk Devan supaya tidak memperpanjang masalah yang kamu buat," Arman, mengingatkan Gita soal dirinya yang pernah membuat heboh, karena memberikan berita seputar Anyelir yang menjadi istri kedua.


"Sudah lah Arman, kenapa kamu malah menyudutkan istri kamu? Sekarang, kamu adalah suaminya, jadi kamu harus bisa mendidik Gita," ucap Rose.


Karena malam semakin larut, Arman pun mengajak Gita untuk pulang, meskipun sebenarnya, Gita enggan untuk pulang dan malah meminta Arman untuk menginap. Namun, Arman menolak, dan memaksa Gita untuk pulang bersamanya.


"Aku mau program hamil," ucap Gita tiba-tiba.


Arman menoleh sekilas, dia tahu kalau istrinya tengah cemburu, setelah mendengar kabar bahwa Anyelir tengah hamil sekarang, "Kamu yakin?"  tanya Arman memastikan. Sebab, memiliki anak adalah hal besar dan lagi memiliki tanggung jawab yang bukan main-main.


"Aku yakin lah," jawab Gita tanpa beban.


"Punya anak, berarti kamu haru siap mengurus mereka, siap dengan segala konsekuensi yang ada. Siap, kalau jam main kamu semakin berkurang, karena kamu akan mulai sibuk mengurus bayi," jelas Arman.


"Kan bisa kita cari pengasuh bayi," ujar Gita lagi.


"Terus? Kamu?" Arman menatap istrinya dengan bingung.


"Aku ya jadi Ibunya, aku yang mengandung dia, tapi untuk urusan mengasuh bayi, bisa kan kita memperkerjakan orang, supaya aku juga nggak sibuk dan aku masih bisa main dan have fun sama teman-teman aku," jawab Gita.

__ADS_1


Arman, nampak menghela napasnya, dia bingung harus bagaimana menghadapi sikapp Gita, karena Arman tahu, saat ini Gita tengah merasa kalah setelh mendengar kabar soal kehamilan Anyelir.


__ADS_2