
“Terimakasih sayang,” Devan mencium kening Anyelir, setelah permainan mereka berdua selesai. Rasa kesal, bahkan perkataan yang sudah Devan rangkai tiba-tiba saja buyar karena perlakuan Anyelir, dan hal itu benar-benar membuat amarah Devan langsung menghilang seketika.
“Bagaimana kabar Ibu?” tanya Anyelir yang masih terjaga dalam dekapan Devan.
“Ibu baik-baik saja, kamu tidak perlu risau sayang,” ujar Devan membuat hati Anyelir sedikit tenang, “oh iya, aku juga sudah bilang pada Ibu bahwa malam ini aku tidak pulang,” Devan memang meminta izin pada Mayang, dia beralasan akan banyak menemui beberapa kolega di luar acara malam hari ini, dan tentu saja Mayang percaya, tanpa menaruh curiga sedikitpun bahwa Devan tengah berbohong padanya.
“Kapan kita keluar?” tanya Anyelir.
“Kamu tidak perlu keluar, karena sebentar lagi acara juga selesai, biar aku saja yang pergi untuk menutup acara, nanti langsung masuk ke mobil ya?” jawab Devan menjelaskan kepada Anyelir apa yang seharusnya di lakukan, karena Devan yakin Anyelir pasti sudah sangat lelah.
“Tapi apa tidak apa-apa?” tanya Anyelir memastikan, dia takut kalau ada yang menyadari bahwa dirinya tidak berada di tempat acara.
“Tenang saja, acara tengah ramai dan mereka tidak akan menyadari bahwa kamu tidak berada di tempat acara sampai selesai,” tukas Devan, akhirnya baik Devan maupun Anyelir, sama-sama membersihkan diri lebih dulu, setelah itu Devan berpamitan untuk kembali ke tempat acara karena beberapa menit lagi acara akan segera di tutup karena hari sudah sangat larut. Anyelir sendiri tetap berada di kamar sembari menunggu aba-aba dari Devan, kapan kiranya Anyelir bisa keluar dari kamar hotel dengan aman tanpa ada orang kantor yang melihat. Hampir satu jam Anyelir menunggu, akhirnya Devan mengirimkan pesan supaya Anyelir bisa masuk ke dalam mobil yang sudah dipersiapkan, dengan langkah hati-hati, Anyelir langsung keluar dari hotel dan menuju mobil yang sudah menunggunya, tidak lama Devan juga masuk dalam mobil dan melaju menuju kediaman Anyelir.
**
“Pijit yang itu ….”
“Begini?”
“Iya Arman …” yaps, kini kita beralih ke kondisi rumah tangga Arman dan Gita, pasangan yang begitu serasi betul memang mereka berdua ini, kini Arman melihat seperti apa sifat asli Gita, manja dan suka memerintah, padahal Arman sendiri sudah cukup lelah dengan kuliah dan juga pekerjaannya di rumah sakit, sedangkan Gita? Dia hanya kuliah dan setelah sampai dia hanya akan ongkang-ongkang kaki dan brsantai, karena semua pekerjaan rumah sudah dikerjakan oleh asisten rumah tangga.
__ADS_1
‘Udah Git, aku capek!” nada suara Arman sedikit keras, membuat Gita langsung tersentak.
“Kamu marahin aku?” ini hal yang paling Arman tidak suka, Gita begitu cengeng, namun disisi lain Gita juga suka semena-mena kepada Arman, padahal Arman pulang ke rumah karena dia ingin istirahat, setelah beberapa jam berkutat dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya.
“Gita, belajar dewasa dikit dong, kamu udah nikah dan harusnya kamu bisa mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak, harusnya kamu bisa mengerti kalau aku juga lelah setelah seharian beraktifitas dan bekerja!” seru Arman, amarahnya mulai meluap, itu semua juga karenaa Gita yang terlalu egois dan juga manja.
“Kenapa? kamu nyesel nikah ama aku? kamu menyesal karena sekarang bentuk tubuh aku yang berubah?” Arman menggeram kesal, padahal bukan seperti itu maksudnya, Arman bukan bermaksud menilai fisik, hanya saja di sini Arman merasa sikap Gita terlau kekanakkan dan tidak bisa menghargainya sebagai seorang suami.
“Arrggghh!!” karena kesal mendengar semua yang Gita ucapkan, tanpa sadar Arman membanting salah satu Vas bunga, membuat Gita langsung berjingkat kaget.
“Iya aku menyesal menikah sama kamu! kalau saja aku menikah dengan Anyelir, aku yakin ini dia bisa menjadi istri yang baik dan bisa menjadi istri yang patuh pada suaminya! Tidak seperti kamu!!” seru Arman, membuat Gita tersulut emosi karena dibandingkan dengan Anyelir adik tirinya.
“Aku kecewa sama kamu!” seru Gita marah, dia masuk ke dalam kamarnya seraya membanting pintu.
‘Wanita sialan! Padahal aku sudah bisa dan berhasil menggaet Arman, tapi sampai sekarang malah Arman masih memuji dia, awas kamu Anyelir!’ batin Gita penuh dendam.
**
Keesokan harinya, Anyelir sudah tiba di kantor, meskipun sebenarnya dia masih merasa lelah karena harus lembur mengurus Devan, namun dia harus memenuhi kewajibannya sebagai mahasiswi magang. Namun, ada yang berbeda hari ini, sepanjang Anyelir masuk ke dalam kantor semua mata nampak menatapnya dengan aneh, seolah mereka tengah menggunjingkan Anyelir.
‘Ini perasaan ku aja atau …’ belum selesai Anyelir bertanya dalam hatinya sendiri, suara seseorang membuyarkan lamunanya.
__ADS_1
“Ada apa?” bisik Anyelir lirih.
“Gawat,” bisik Nabila dengan raut wajah cemas.
“Apanya yang gawat?” Anyelir ikut cemas, karena tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak, akhirnya Nabila mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan beberapa foto.
“Ini kamu dan pak Devan ketahuan masuk satu mobil, mereka jadi berpikiran buruk soal kamu, apalagi semalam kamu juga menghilang,” lirih Nabila, dia tidak bisa berbuat banyak karena semua karyawan sudah memiliki pemikiran buruk soal Anyelir, nampaknya akan sulit juga menyangkal bahwa Anyelir tidak memiliki hubungan apapun dengan CEO perusahaan Willson group.
“Nggak nyangka ya? kelihatannya polos, tapi pake jalur kotor juga,” sindir Della, yang tidak lain wanita yang sudah berhasil mendapatkan bukti tersebut.
“Apa maksudnya?” tanya Anyelir bingung, di sini Anyelir benar-benar bingung dan tidak tahu harus berkata apa, dia tidak mungkin mengakui bahwa dirinya adalah istri Devan, pasti berita itu akan cepat beredar dan yang lebih parah adalah Mayang, Anyelir takut kalau sampai Mayang mendengar kabar tersebut.
“Iya, mana satu mobil lagi, apa sih yang kamu kasih ke pak Devan?” timpal karyawan lain, kali ini Anyelir benar-benar di sudutkan dan hanya ada Nabila yang setia berdiri di samping Anyelir, Mike, Ayu dan Daniel nampak bingung dan diam, mungkin mereka juga sulit percaya dengan berita itu, namun foto tersebut sudah bisa membuktikan bahwa Anyelir benar-benar memiliki hubungan.
“Apa salahnya saya satu mobil dengan adik saya sendiri,” suara berat itu membuat semuanya menunduk dan terdiam.
“Adik?” lirih semua karyawan, masih sulit percaya dengan pengakuan Devan. Adik? Iya Devan mengakui bahwa Anyelir adiknya, sebenarnya Devan ingin memperkenalkan pada saat itu juga, bahwa Anyelir adalah istrinya bukan adiknya, namun banyak hal yang masih menjadi bahan pertimbangannya saat ini, Devan masih harus banyak bersabar.
“Anyelir Willson, itu adalah nama belakang yang sebenarnya, kalau kalian bertanya kenapa Anyelir merahasiakan semua ini, itu karena dia ingin mendapatkan pengalaman kerja yang sebenarnya, dia takut kalau kalian tahu tentang jati diri Anyelir, maka kalian akan memperlakukan Anyelir dengan spesial di kantor ini. Semalam, Anyelir kelelahan dan saya menyuruhnya beristirahat, dan kami memang pulang bersama, karena kami tinggal bersama,” Devan terus menjelaskan dan membuat semua karyawan percaya bahwa Anyelir adalah adiknya, namun sekali lagi Devan mengingatkan untuk merahasiakan hal ini, supaya Anyelir masih bisa menjalani kehidupannya seperti biasa, itu alasan Devan. Tentu saja, karena Devan yang meminta maka dengan senang hati semua karyawan menyanggupinya, kali ini Devan punya alasan jika dia ingin dekat dengan Anyelir, dan semua orang akan berpikir mereka adalah kakak beradik.
__ADS_1