
“Gita? Biar bagaimanapun kamu harusnya menurut apa kata suami, karena dia adalah imam kamu Gita,” Agam mencoa menasehati anaknya, namun Gita hanya diam dann memeluk selimut, seolah enggan unrtuk meninggalkan kamarnya yang sedari dulu sudah ditempati.
“Aku masih pengen di sini Yah, akau kangen sama suasana di sini,” Gita nampak meminta pada kedua orantuanya, dia bahkan merengek seperti anak kecil.
“Nak, kamu sudah punya suami, kamu harusnya bisa mengurus suami kamu sendiri dan semua keperluan dia, kamu harus bisa belajar mandiri dan dewasa Nak,” ujar Agam mencoba memberikan saran.
“Ya udah lah Yah, maklum aja … Gita kan sebenarnya belum siap untuk menikah, tapi pihak lelakinya kan? yang malah ngebet,” ujar Rose kembali membela Gita.
“Gita belum siap menikah dia tinggal di apartement, dengan semua pekerjaan rumah sudah ada art. Sedangkan Anyelir, dia juga terpaksa menikah mendadak dan dia harus tinggal jauh dari kita, tapi dia baik-baik saja dan mandiri. Harusnya Gita bisa mencontoh itu!” tegas Agam.
“Apa yang harus di contoh? Kehidupan Anyelir dengan Gita jelas beda, suami Anyelir jelas mapan, sedangkan Arman? Dan tentu saja Gita masih membutuhkan kita orangtuanya,” ujar Rose terus membela Gita.
“Ayah kenapa sih? Anyelir terus yang dibela, aku juga anak Ayah, harusnya Ayah bisa adil!” seru Gita, d ia merasa perhatian Agam terus tercurah untuk Anyelir.
“Adil? Harusnya anda mengatakan hal itu juga kepada Ibu Rose, bukankah begitu?” Devan menatap Rose, kali ini dia tidak bisa tinggal diam karena Anyelir yang selalu saja terus di sudutkan.
“Nggak usah ikut campur!” bentak Gita.
“Oh iya? Aku tidak boleh ikut campur? Tapi bagaimana ya? aku tidak bisa melihat istri k uterus di sudutkan, dan aku ingin ikut campur, bahkan sampai rumah sakit milik orangtua suami mu,” ujar Devan dengan santai, namun siapapun tahu bahwa perkataan Devan menyiratkan sesuatu, yaitu sebuah ancaman.
“Jangan macam-macam!” kali ini Arman ikut tersulut.
“Kalau tidak mau macam-macam, maka didik istri mu,” jawab Devan dengan santai, dia langsung membawa Anyelir dan berpamitan kepada Agam, Devan tidak mau lagi Anyelir mendengar perkataan yang hanya akan menyakiti hati istrinya.
“Kamu baik-baik saja?” Devan dan Anyelir kini sudah berada dalam mobil, dia memeluk istrinya seolah tahu sedari tadi Anyelir sudah menahan air matanya.
__ADS_1
“Menangislah, aku di sini,” ujar Devan sembari mengelus rambut istrinya dengan sayang, isakan kecil mulai terdengar, Devan tahu sekuatnya Anyelir dia pasti akan merasa rapuh juga. Isakan mulai terdengar lirih, itu berarti, Anyelir sudah lebih baik sekarang. Devan menghapus air mata Anyelir dengan jemarinya.
"Ada aku, jangan khawatir," Devan meyakinkan Anyelir, bahwa Anyelir tidak sendirian. Anyelir tersenyum ke arah Devan, dia sangat berseyukur, karena memiliki suami seperti Devan, yang selalu ada untuk dirinya.
“Bagaimana setelah menginap?:” tanya Devan. Dia berharap, semoga saja rasa rindu Anyelir bisa sedikit terobati. Meskipun, ada saja hal yang membuat Anyelir tidak nyaman.
“Aku lega, apalagi melihat kondisi Ayah sekarang ini, aku rasa Ayah akan cepat pulih, dan semoga saja Ayah selalu sehat,” harap Anyelir.
“Ayah akan selalu sehat, itu pasti,” ujar Devan. Mereka berdua tidak lagi sembunyi-sembunyi ketika berangkat ke kantor berdua, karena karyawan kantor tahu bahwa Anyelir dan Devan adalah kakak beradik, jadi mereka sama sekali tidak merasa curiga sedikitpun.
“Aku ingin cepat selesai magang, dengan begitu aku tidak perlu lagi repot-repot membohongi banyak orang,” harap Anyelir, dia merasa tidak nyaman terus menerus membohongi mereka, apalagi Mike dan Ayu, mereka sangat perduli dengan Anyelir, tapi Anyelir malah berbuat sebaliknya pada mereka.
“Aku juga ingin kamu segera wisuda sayang, tapi yang aku ingin dalam waktu dekat ini, semoga saja ibu kesehatan ibu bisa semakin baik, dengan begitu aku bisa menberitahukan semuanya kepada ibu tentang apa yang terjadi antara aku dan Laura sebenarny. Karena jujur, aku sudah tidak tahan hidup begini terus menerus,” dapat Anyelir lihat, raut wajah lelah dalam diri Devan. Dan itu membuat Anyelir tidak tega.
.
.
Kini, Laura tengah duduk bersantai di gazebo bersama dengan Mayang. Lauara memang sangat mahir dalam hal mendapatkan simpati dan kasih sayang dari ibu mertuanya itu, Mayang begitu menyayangi Laura, padahal Laura sendiri selalu saja acuh saat Mayang membutuhkan bantuan maupun pertolongan, dan sering terjadi kalau Laura terlihat tidak perduli pada Mayang, namun pikiran Mayang hanya pada putranya, karena putranya mencintai Laura, maka Mayang selalu berusaha menerima dan mencintai Laura juga.
“Bu, lihat deh, banyak banget berita soal rumah tangga retak karena orang ketiga,” Laura memperlihatkan Artikel yang menampilkan sebuah berita sial perselingkuhan.
“Iya, zaman sekarang aneh-aneh aja,” uja Mayang.
“Kamu harus hati-hati Nak, jangan sampai Devan tergoda dengn wanita di luar sana,” saran Mayang, dan angguki oleh Laura.
__ADS_1
‘Sayangnya, semua sudah terjadi,’ batin Laura.
“Oh iya Bu, gimana menurut Ibu soal Anyelir?” Laura ingin tahu apa komentar Mayang seputar Anyelir, dan tentu saja Laura berharap Mayang tidak cocok dengan Anyelir, dengan begitu akan semakin mudah bagi Laura membuat Anyelir semakin dibawahnya.
“Menurut Ibu, Anyelir gadis yang sopan, dan dia sangat baik sekali. Ibu pernah di tolong Anyelir, dan Anyelir menolong seseorang tanpa pandang bulu, Ibu suka dengan kepribadiannya,” jawaban Mayang tentu saja tidak sesuai dengan ekspetasi Laura. Dia berharap Mayang tidak akan menyukai keperibadian Anyelir.
“Oh iya Bu? ya yang penting dia nggak jadi perusak rumah tangga orang aja ya Bu?” ucapan Laura sontak saja membuat Mayang terheran-heran.
“Loh? Maksudnya apa Laura?” tanya Mayang tidak paham.
“Bukan maksud apa-apa kok Bu, aku cuman miris aja dengan keadaan sekarang, di mana para wanita muda mau menjadi simpanan lelakii, baik lelaki yang tua mau pun muda, yang masih lajang atau beristri. Semua itu tidak lain demi gaya hidup Bu, karena dia mau kehidpan yang glamour tanpa harus kerja keras,” ucapan Laura membuat Mayang berpikir sejenak, dan diam-diam Laura tersenyum devil.
‘Semoga saja Ibu termakan oleh omongan ku,’ batin Laura.
“Maksudnya apa Nak? maksud kamu Anyelir …” belum selesai Mayang berbicara namun Laura sudah kembalu bersuara.
“Ya Ibu lihat aja, semua barang milik dia semalam, bermerk semua kan?” Laura mulai mengeluarkan jurusnya, menjelakkan Anyelir di hadapan ibu mertuanya.
“Mobil, dan lain sebagainya, aku yakin Bu, ini semua tidak jauh-jauh dengan simpanan sugar daddy,” jelas Laura, membuat Mayang kembali berpikir kembali, soal penilaiannya terhadap Anyelir.
“Tapi kan Nak, kita juga belum tahu soal keluarganya, siapa tahu Anyelir dari keluarga berada,” Mayang mencoba berpikir positif.
“Iya Bu,” Laura hanya bisa mengiyakan, Laura tidak mau kalau Ibu mertuanya menganggap Laura cemburu buta.
“Ibu yakin, kalau nanti kalian sudah dekat dan akrab, pasti kamu akan menyukai kepribadian Anyelir,” ujar Mayang, namun Laura hanya tersenyum, dia sama sekali tidak berminat untuk dekat dengan Anyelir.
__ADS_1