
Arman baru saja menyelesaikan makan malamnya, bahkan sampah pun sudah siap untuk dia buang. Tapi, saat Arman hendak keluar dari kamar rawat Gita, tiba-tiba saja pintu terdorong, membuat Arman sampai terhuyung ke belakang.
"Mas," Gita terkejut, saat Arman terjatuh, tapi saat Gita melihat seseorang yang berdiri di ambang pintu, Gita sudah tahu apa penyebabnya.
"Dasar menantu kurang ajar!" raung Desi, dia hendak mendekat ke arah Gita, tapi langsung ditahan oleh Arman. Gita sendiri sudah memasang wajah ketakutan dan seolah tidak tahu apapun.
"Bun, sabar. Adapa ap sih ini?" tanya Arman yang masih terus menahan ibunya, Arman memberikan kode pada Gita, untuk membunyikan alarm, supaya ada perawat yang membantu menahan Desi.
"Dia itu wanita kurang ajar Arman, dia kirim pesan ke Bunda, dan dia mengancam akan menghancurkan Bunda!" Desi terus meraung mencoba mendekati Gita, dan seolah ingin menjambak rambut Gita.
"Gita, apa itu benar?" tanya Arman memastikan.
"Enggak sayang, kan aku nggak boleh main hp," jawab Gita dengan raut wajah ketakutan.
"Bunda denger sendiri, kan bukan Gita," Arman mencoba sabar menghadapi ibunya.
"Bunda tahu kamu nggak akan percaya, tapi dia kirim pesan lewat hp kamu," ucap Desi mencoba meyakinkan Arman. Tidak lama perawat rumah sakit datang, dan heran melihat istri dari pemilik rumah sakit tengah mengamuk.
"Tolong kalian jaga istri saya," pinta Arman, dia masih mencoba menahan Desi, sedangkan perawat berdiri di samping Gita, berjaga-jaga kalau Desi bisa mendekati Gita.
"Mana buktinya, Bu?" tanya Arman.
"Buktinya, sudah di hapus oleh Gita," oleh Desi, dia belum sempat menyimpan bukti pesan tersebut, jadi dia tidak memiliki bukti apapun. Arman mengusap wajahnya kasar, dia yakin bundanya terngah berbohong soal Gita.
"Bun, sejak tadi Gita sama aku, jadi nggak mungkin dia ngirim pesan itu. Aku tahu Bunda benci sama Gita, tapi tolong, Bunda juga tahu kalu aku sangat mencintai Gita, aku mau mulai saat ini, Bunda stop fitnah istri ku," pinta Armn.
"Arman, Bunda nggak fitnah, Bunda bicara sebenar-," saat Desi tengah mencoba menjelaskan, tiba-tiba saja, sang suami datang.
"Desi!" panggil Dika dengan raut wajah yang nampak menahan marah.
"Mas?" llirih Desi menatap suaminya.
"Apa-apaan kamu, memalukan," ucap Dika dengan tegas.
"Apa kamu bilang, Mas? Memalukan?" tanya Desi dia menatap sang suami dengan tatapan tak percaya. "Aku cuman mau menyadarkan anak kita, supaya dia itu sadar, bahwa istrinya itu adalah wanita busuk!" sinis Desi menunjuk ke arah Gita.
"Cukup!" seru Dika dengan tegas, dia menatap garang ke arah Desi. "Ayo pulang!" Dika langsung menyeret esi untuk pergi dari ruangan rawat Gita, sebelum pergi Dika sempat meminta Arman untuk menjaga Gita, bahkan Dika juga meminta maaf pada menantunya.
__ADS_1
'Tamat kamu Desi, aku singkirkan siapapun yang ingin menghancurkan kebahagiaan ku,' batin Gita.
"Sayang, kamu nggak apa-apa, kan?" Arman langsung mendekati Gita dan memastikan keadaan sang istri.
"Aku takut," Gita langsung memeluk Arman, dia menunjukkan wajah yang nampak ketakutan.
"Tenang ya, aku ada di sini," ucap Arman dia mengusap puncak kepala Gita, mencoba menenangkan.
Sedangkan kini, Desi tengah bersama Dika, mereka berada di ruangan milik Dika. Desi masih diam membisu sedangkan Dika menatap Desi dengan wajah garangnya.
"Kamu itu benar-benar nggak bisa dikasih paham ya, bukannya sudah aku bilang, kalau Gita itu sedang hamil?" ujar Dika.
"Aku nggak terima, kalau anak kita terus bersama Gita," jawab Desi.
"Kamu kenapa sih, terus menerus memfitnah Gita, dari apa yang aku lihat, jelas dia sudah berubah, malah kamu yang kumat," tegas Dika.
"Mas, kamu itu cuman dibodohi oleh dia!" raung Desi masih mencoba membela diri.
"DIam!" bentak Dika, "kalau sampai terjadi sesuatu pada Gita, maka kamu tanggung sendiri akibatnya," ancam Dika, dia pun menyuruh supirnya untuk datang ke ruangannya dan menjemout Desi. Tadinya Desi terus menolak, karena dia merasa urusannya dengan Gita belum selesai. Tapi Dika mengancam akan berbuat tegas kepada Desi, jika masih menggangu Gita, akhirnya Desi pun menyerah.
Arman baru saja menyelesaikan makan malamnya, bahkan sampah pun sudah siap untuk dia buang. Tapi, saat Arman hendak keluar dari kamar rawat Gita, tiba-tiba saja pintu terdorong, membuat Arman sampai terhuyung ke belakang.
"Mas," Gita terkejut, saat Arman terjatuh, tapi saat Gita melihat seseorang yang berdiri di ambang pintu, Gita sudah tahu apa penyebabnya.
"Dasar menantu kurang ajar!" raung Desi, dia hendak mendekat ke arah Gita, tapi langsung ditahan oleh Arman. Gita sendiri sudah memasang wajah ketakutan dan seolah tidak tahu apapun.
"Bun, sabar. Adapa ap sih ini?" tanya Arman yang masih terus menahan ibunya, Arman memberikan kode pada Gita, untuk membunyikan alarm, supaya ada perawat yang membantu menahan Desi.
"Dia itu wanita kurang ajar Arman, dia kirim pesan ke Bunda, dan dia mengancam akan menghancurkan Bunda!" Desi terus meraung mencoba mendekati Gita, dan seolah ingin menjambak rambut Gita.
"Gita, apa itu benar?" tanya Arman memastikan.
"Enggak sayang, kan aku nggak boleh main hp," jawab Gita dengan raut wajah ketakutan.
"Bunda denger sendiri, kan bukan Gita," Arman mencoba sabar menghadapi ibunya.
"Bunda tahu kamu nggak akan percaya, tapi dia kirim pesan lewat hp kamu," ucap Desi mencoba meyakinkan Arman. Tidak lama perawat rumah sakit datang, dan heran melihat istri dari pemilik rumah sakit tengah mengamuk.
__ADS_1
"Tolong kalian jaga istri saya," pinta Arman, dia masih mencoba menahan Desi, sedangkan perawat berdiri di samping Gita, berjaga-jaga kalau Desi bisa mendekati Gita.
"Mana buktinya, Bu?" tanya Arman.
"Buktinya, sudah di hapus oleh Gita," oleh Desi, dia belum sempat menyimpan bukti pesan tersebut, jadi dia tidak memiliki bukti apapun. Arman mengusap wajahnya kasar, dia yakin bundanya terngah berbohong soal Gita.
"Bun, sejak tadi Gita sama aku, jadi nggak mungkin dia ngirim pesan itu. Aku tahu Bunda benci sama Gita, tapi tolong, Bunda juga tahu kalu aku sangat mencintai Gita, aku mau mulai saat ini, Bunda stop fitnah istri ku," pinta Armn.
"Arman, Bunda nggak fitnah, Bunda bicara sebenar-," saat Desi tengah mencoba menjelaskan, tiba-tiba saja, sang suami datang.
"Desi!" panggil Dika dengan raut wajah yang nampak menahan marah.
"Mas?" llirih Desi menatap suaminya.
"Apa-apaan kamu, memalukan," ucap Dika dengan tegas.
"Apa kamu bilang, Mas? Memalukan?" tanya Desi dia menatap sang suami dengan tatapan tak percaya. "Aku cuman mau menyadarkan anak kita, supaya dia itu sadar, bahwa istrinya itu adalah wanita busuk!" sinis Desi menunjuk ke arah Gita.
"Cukup!" seru Dika dengan tegas, dia menatap garang ke arah Desi. "Ayo pulang!" Dika langsung menyeret esi untuk pergi dari ruangan rawat Gita, sebelum pergi Dika sempat meminta Arman untuk menjaga Gita, bahkan Dika juga meminta maaf pada menantunya.
'Tamat kamu Desi, aku singkirkan siapapun yang ingin menghancurkan kebahagiaan ku,' batin Gita.
"Sayang, kamu nggak apa-apa, kan?" Arman langsung mendekati Gita dan memastikan keadaan sang istri.
"Aku takut," Gita langsung memeluk Arman, dia menunjukkan wajah yang nampak ketakutan.
"Tenang ya, aku ada di sini," ucap Arman dia mengusap puncak kepala Gita, mencoba menenangkan.
Sedangkan kini, Desi tengah bersama Dika, mereka berada di ruangan milik Dika. Desi masih diam membisu sedangkan Dika menatap Desi dengan wajah garangnya.
"Kamu itu benar-benar nggak bisa dikasih paham ya, bukannya sudah aku bilang, kalau Gita itu sedang hamil?" ujar Dika.
"Aku nggak terima, kalau anak kita terus bersama Gita," jawab Desi.
"Kamu kenapa sih, terus menerus memfitnah Gita, dari apa yang aku lihat, jelas dia sudah berubah, malah kamu yang kumat," tegas Dika.
"Mas, kamu itu cuman dibodohi oleh dia!" raung Desi masih mencoba membela diri.
__ADS_1
"DIam!" bentak Dika, "kalau sampai terjadi sesuatu pada Gita, maka kamu tanggung sendiri akibatnya," ancam Dika, dia pun menyuruh supirnya untuk datang ke ruangannya dan menjemout Desi. Tadinya Desi terus menolak, karena dia merasa urusannya dengan Gita belum selesai. Tapi Dika mengancam akan berbuat tegas kepada Desi, jika masih menggangu Gita, akhirnya Desi pun menyerah.