
Hari ini Anyelir berangkat ke kantor seperti biasa, namun baru saja dia keluar dari mobil, seseorang menarik tangan Anyelir dan menyeret Anyelir ke belakang mobil.
“Nabila?” lirih Anyelir, “ngapain sih loe?” tanya Anyelir kesal.
“Ssstt kecilin suara loe,” Nabila menekan suaranya, dan melihat sekeliling dengan was-was.
“Kenapa sih?” tanya Anyelir bingung.
“Nih, lihat kakak tiri loe yang gila itu,” Nabila mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan kepada Anyelir, di mana Gita memposting sesuatu ke akun social medianya. Gita meposting sebuah foto pernikahannya dengan Devan, dan lebih mengejutkan lagi, Gita memberikan caption bahwa Anyelir adalah seorang pelakor, dan rela menjadi istri kedua Devan.
“Sekarang loe nggak bisa masuk ke kantor, mereka semua bakalan ngomongin loe habis-habisan,” ujar Nabila.
“Tapi …”
“Nona Anyelir, tuan Devan memerintahkan kami untuk membawa Nona pulang,” salah satu anak buah yang perintahkan Devan datang menjemput Anyelir.
“Ta-tapi …” Anyelir nampak ragu.
“Nye, plis banget, gue nggak mau loe kenapa-napa,” Nabila nampak sangat mengkhawatirkan Anyelir.
“Oke, gue balik, loe juga hati-hati ya?” ujar Anyelir.
“Anda juga diminta pulang Nona,” ujar anak buah kepada Nabila, membuat Nabila terdiam. Namun Nabila hanya bisa menurut, karena mungkin ini memang yang terbaik, dia tidak bisa ke kantor saat ini.
Anyelir sendiri semakin pusing dibuatnya, dia tengah memikirkan Mayang yang sampai saat ini, Anyelir sendiri tidak tahu pasti bagaimana keadaan Mayang, dan kini Gita malah membuat Anyelir semakin ditimpa masalah. Anyelir mengunci akun social media miliknya, karena netizen menyerbu akunnya dan memberikan beberapa ucapan-ucapan makian yang kasar. Anyelir tidak mau terbawa emosi dan akhirnya malah membuat masalah baru, karena apapun yang Anyelir lakukan tidak akan benar di mata mereka saat ini.
Anyelir terus mencoba untuk menghubungi Gita, namun nihil, Gita tidak menjawab, hal itu semakin membuat Anyelir frutasi.
__ADS_1
“Kita ke rumah ayah Agam,” titah Anyelir.
“Baik Nona,” sopir pun melajukan kendaraan menuju kediaman Agam. Saat sampai di kediaman Agam, Anyelir mengernyit karena dia melihat mobil Devan yang juga sudah berada di sana, dan bahkan bukan hanya mobil milik Devan, rupanya ada mobilk Arman beserta kedua orangtuanya.
“Ada apa ini?” batin Anyelir was-was.
“Tuan, tolong jangan buat rumah sakit kami bangkrut, kami akan lakukan apapun asalkan Tuan tidak membuat rumah sakit kami hancur,” Anyelir masuk ke dalam rumah dan melihat kedua orangtua Arman yang tengah memohon, sedangkan Devan masih duduk dengan posisi tegap dan mengeluarkan aura dingin. Devan nampak sama sekali tidak menjawab, dadanya masih bergemuruh mengingat orang-orang yang mencaci Anyelir dan memberikan sumpah serapahnya.
“Devan …” Anyelir mendekati suaminya, dan memegang bagunya pelan.
“Sayang? kau kemari?” seketika raut wajah Devan berubah hangat dan menatap Anyelir penuh cinta, hal itu disaksikan semua orang termasuk Agam.
“Kau meminta ku untuk tidak datang ke kantor,” ujar Anyelir, “tapi apa yang kamu lakukan di sini?” Anyelir yakin, ada sesuatu hal yang terjadi, sampai membuat semua orang menjadi sangat tegang.
“Aku sedang menghukum mereka sayang, karena mereka berani bermain denganku. Aku hanya ingin meladeni permainan mereka, tapi mereka kalah, jadi yang kalah harus dihukum kan? hmm?” Devan membelai wajah Anyelir, dihadapan mereka semua, kini Anyelir paham apa maksud Devan, pasti ini semua ada kaitannya dengan apa yang dilakukan oleh Gita.
“Anyelir, tolong bicara pada suami kamu Nak, minta kepada Tuan Devan, supaya tidak menghancurkan rumah sakit kami,” pinta Dika.
“Apa? rumah sakit?” Anyelir begitu terkejut, setahu Anyelir, rumah sakit milik Dika begitu besar, namun bisa begitu mudahnya takluk di tangan Devan.
“Sayang? benar kamu melakukannya?” tanya Anyelir dengan lembut.
“Kau membela mereka?” Devan mulai berbicara datar.
“Tidak, tapi ayo ikut denganku.” Anyelir mengajak Devan untuk naik ke lantai dua dan menuju kamarnya, kemudian dia mengunci pintu dengan rapat, dan membiarkan Devan duduk dengan santai.
“Kau terlalu berlebihan kalau sampai menghancurkan rumah sakit itu,” ujar Anyelir seraya memijit pundak Devan dengan lembut.
__ADS_1
“Biarkan saja, supaya mereka tahu siapa aku, dan mereka tidak berperilaku seenaknya kepada mu,” jawab Devan sembari memejamkan matanya, menikmati pijatan Anyelir.
“Kan yang bersalah di sini kak Gita, tapi aku juga yakin kalau kak Gita tidak akan melakukan ini sendirian,” ujar Anyelir, Devan pun nampak berpikir, apa yang Anyelir katakan memang benar. Gita tidak akan seberani itu, kalau tidak ada orang yang dibelakangnya.
“Pijatan kamu nyaman sekali,” Devan malah lebih fokus pada pijatan Anyelir.
“Sudah lebih rilex kan?” Anyelir bertanya seraya mencodongkan wajahnya menatap Devan, memastikan Devan sudah lebih santai sekarang.
Cup Anyelir begitu terkejut karena Devan menyambar bibirrnya, awalnya Devan hanya mengecup, namun dia malah ketagihan dan memegang tengkuk Anyelir untuk memperdalam pagutan mereka. Melihat Anyelir yang nampak mulai kehabisan napas, Devan melepas pagutan mereka, dan menatap Anyelir dengan penuh minat.
“Kamu harus bertanggung jawab,” tanpa menunggu persetujuan Anyelir, Devan langsung menggendong Anyelir ala bridal style, dan membaringkan tubuh Anyelir di ranjang. Sekali lagi, Devan kembali menyambar bibir Anyelir, dan kali ini Devan lebih memperdalam pagutannya, tangan Devan juga tidak tinggal diam, dia terus bergerilya bermain di bagian dada, sampai membuat Anyelir ingin merasakan lebih.
.
.
Sedangkan kini, di lantai bawah, semua orang masih menunggu dengan harap cemas, mereka sangat berharap kalau Anyelir bisa membujuk Devan untuk menyelamatkan rumah sakit. Desi, ibu mertua Gita menatap menantunya itu dengan tatapan sengit, dia terus menyalahkan Gita atas tindakan bodohnya yang sudah menyebarkan berita seputar Anyelir.
“Lihat apa yang kamu lakukan! Kamu sudah membuat rumah sakit kamu diambang kehancuran!” seru Desi membentak Gita. Gita hanya diam, dan berlindung di belakang Arman.
“Bu Desi, jangan terus menyalahkan Gita,” Rosse kambali membela Gita, padahal sudah dengan jelas, Gita memang bersalah.
“Bu Rose harusnya bisa mendidik Gita dengan baik, gara-gara dia keluarga kami diambang kehancuran! Kalau tahu begini, saya tidak akan sudi anak saya menikah dengan wanita seperti dia!” seru Desi dengan penuh amarah.
“Bu Desi, jangan keterlaluan ya?” Rose pasang badan untuk membela Gita.
“Sudahlah Bu, Gita memang bersalah, seharusnya dia berusaha meminta maaf pada Devan. Bukannya hanya diam dan berlindung di balik suaminya,” Agam ikut geram dengan tingkah anaknya, sedangkan Gita belum berani buka suara sedikitpun.
__ADS_1
“Ini baru rumah sakit milik keluarga Pak Dika, bagaimana kalau perusahaan Ayah juga kena? Apa kalian mau hidup susah Bu, Gita?” tanya Agam pada istri dan anaknya, Gita.