
"Gita, bangun. Suami kamu datang," ucap Agam seraya menggoyangkan kaki Gita. Ini sudah hari kedua Gita menginap di kediaman Agam tanpa Arman.
"Gita!" nada suara Agam mulai meninggi, karena Gita tidak bergeming.
"Apa sih, Yah?" Gita mulai mengucek matanya, dan menyesuaikan cahaya.
"Masih pukul 04.00 pagi? Ngapain Ayah bangunin aku?" tanya Gita dengan suara serak khas bangun tidur.
"Suami kamu datang," ucap Agam lagi.
"Teru?" tanya Gita dengan santai.
"Kamu datang ke sini tanpa sepengatahuan Arman, kan? Kamu ada masalah dengan suami kamu, dan lari ke sini. Cepat bangun dan selesaikan masalah kalian." Agam menarik paksa selimut Gita, supaya putrinya mau bangkit dari tempat tidur. Mau tidak mau, Gita pun akhirnya bangun.
"Ayah tunggu di bawah." Agam meninggalkan putrinya, dan dia kembali ke ruang tamu, di mana ada Arman di sana.
"Nak Arman terlihat sangat lelah, kurang istirahat ya, Nak?" Rose yang tengah menemani Arman di ruang tau, sedikit memperhatikan raut wajah menantunya.
"I-iya Bu, saya sering ambil pekerjaan lain soalnya," jawab Arman dengan senyum yang dipaksakan.
"Loh, kenapa begitu? Apa kalian sedang kesulitan uang?" tanya Rose dengan raut wajah prihatin. Agam yang baru saja datang, langsung menyimak obrolan istri dan menantunya.
"Bukan begitu Ayah, Ibu. Tapi, Gita ingin program hamil, bahkan dia mau langsung bayi tabung," jelas Arman. Dia menceritakan bagaimana permintaan Gita yang ingin segera memiliki momongan. Karena mendengar Anyelir yang tengah hamil.
__ADS_1
"Jika nanti Gita hamil, dia mau lahiran secara secar. Dan Gita juga tidak mau memberikan ASI secara langsung, karena Gita mau anak kami nantinya minum susu formula." Arman menghela napasnya.
"Tentu saja, setelah mendengar semua keinginan Gita, saya harus mulai menabung, karena biaya untuk semua itu saja sangat banyak. Apalagi, kalau Gita ingin kami program bayi tabung," Arman memperlihatkan wajahnya yang nampak sudah sangat lelah, dia sudah bersusah payah untuk mewujudkan semua keinginan Gita.
"Lalu, kenapa Gita ke sini?" tanya Agam penasaran.
"Gita bilang, dia mau pulang, kalau uang untuk program bayi tabung sudah ada Yah," jawab Arman.
Agam dan Rose nampak menghela napas mereka. Mereka beruda tidak menyangka, kalau Gita begitu mengekang Arman.
"Tapi kalian itu masih muda. Ibu yakin tanpa program bayi tabung pun kalian akan tetap punya anak. Kalian konsul dulu aja ke Dokter kandungan, ikut progaram hamil, Ibu yakin kok, kaliam pasti punya keturunan, asal kalian ikuti semua saran Dokter dan kalian sabar," jelas Rose. Sebab, dulu dia juga pernah merasakan bagaimana berjuang memiliki momongan.
"Sudah Bu, saya sudah mengatakan hal itu, tapi Gita sama sekali tidak mau mendengarkan saya," tutur Arman.
"Ngadu apa aja kamu, sama Ayah!" Gita datang dengan raut wajah yang tidak bersahabat. Dia menatap tajam ke arah Arman.
"Duduk!" titah Agam, akhirnya Gita pun duduk di samping Arman, namun agak sedikit memberikan jarak.
"Ayah sudah mendengar semuanya dari Arman, sekarang Ayah butuh penjelasan dari kamu. Kenapa kamu sampai pergi dari rumah?" tanya Agam masih mencoba sabar menghadapi sikap putrinya yang memang sering membuatnya kesal.
"Gita cuman minta, program bayi tabung," ucap Gita dengan enteng.
"Kamu bilang cuman?" tanya Agam dengan raut wajah tak percaya.
__ADS_1
"Iya Ayah, kenapa sih Ayah nggak suka banget sama keputusan aku. Aku juga pengen hamil dan punya anak, aku mau memberikan Ayah dan Ibu cucu. Apa itu salah?" Gitabertanya dengan raut wajah seolah apa yang dia lakukan tidak masalah, dan semua yang dia inginkan adalah hal mudah.
"Git, Ayah dan Ibu sama sekali tidak masalah dengan keinginan kamu punya anak. Tapi, bayi tabung? Itu pilihan yang sangat tergesa-gesa, Nak. Kamu masih bisa ambil pilihan lain, seperti program hamil, kamu bisa konsultasi dulu ke Dokter," Agam memberikan saran terbaik untuk putrinya.
"Nanti, kamu akan dapat jawaban dari Dokter, dan dari sana kamu bisa memutuskan. Kalau memang jalan bayi tabung adalah jalan yang tepat, maka lakukanlah dan Ayah akan dukung. Tapi, jika memang kondisi kamu baik, dan kamu masih bisa hamil dengan cara program hamil dan terus mengiukuti saran Dokter, maka gunakan cara itu Nak," lanjut Agam.
"Ayah kenapa sih? Nggak pernah bisa mendukung keputusan aku, Ayah cuman mau cucu dari Anyelir? Ayah nggak mau aku bahagia, dan menjadi kakek dari anak-anak aku kelak?" rupanya Gita lagi-lagi salah mengartikan semua saran dari Agam.
"Nak, bukan begitu maksud Ayah. Kami akan sangat bahagia kalau kamu dan Anyelir hidup bahagia. Tapi, program bayi tabung harus mengeluarkan budget yang cukup dalam, Nak. Selagi kamu bisa program hamil, kenapa tidak?" Rose ikut menjelaskan kepada Gita, berharap penjelasannya juga bisa diterima oleh Anyelir.
"Oh, jadi masalah uang?" tanya Gita seraya menatap Agam dan Rose dengan berani. "kalian pikir, aku dan Arman nggak mampu, dan hanya Anyelir yang mampu. Karena suaminya yang sangat kaya itu?" tanya Gita dengan nada emosi.
"Git, kenyataannya memang aku nggak mampu. Aku sampai harus kerja dua kali lipat demi bisa memenuhi semua keinginan kamu!" Arman mulai berani angkat bicara, dia lelah terus saja diinjak dan ditekan oleh Gita.
"Kamu minta dong sama orang tua kamu. Mereka, kan punya rumah sakit," ucap Gita dengan nada enteng.
"Kamu lupa, gara-gara kelakukan kamu yang sampai rumah sakit keluarga ku hampi di hancurkan oleh Devan? Gara-gara itu orang tua ku nggak mau lagi tahu soal aku dan kamu. Beruntung, mereka nggak pecat aku dari rumah sakit!" bentak Arman. Kini Gita baru tahu soal amarah kedua mertuanya yang masih saja kecewa dengan sikap Gita.
"Gita, Arman sebagai suami dan kepala rumah tangga, sudah susah payah memenuhi semua keinginan kamu. Dan kamu sebagai seorang istri, harusnya bisa belajar, bagaimana cara melayani suami, dan menghargai suami," Agam kembali memberikan petuah untuk sang putri. Sebenarnya, Agam juga ingin membahas soal Gita yang mengancam Rose untuk menjauhi Anyelir, namun Agam teringat dengan perkataan Rose, bahwa bisa saja keamanan Anyelir terancam.
"Ayah mau, sekarang juga kamu ikut pulang dengan suami kamu, dan pikirkan baik-baik semua perkataan Ayah, dan Ibu," ucap Agam mengingatkan. Gita memutar bola matanya malas, nampaknya dia masih belum sadar akan kesalahannya.
Gita bangkit dari duduknya, dan menghentakkan kakinya kesal, dia melangkah menaiki tangga untuk mengambil barang-barangnya.
__ADS_1
"Terimakasih Ayah, Ibu." Arman bersyukur, kepada kedua mertuanya yang mau bijak dan mau menengahi permasalahannya dengan Gita.
"Jangan bertemikasih, Nak. Justru kami harusnya minta maaf atas sikap Gita selama ini. Dan kami juga berterimakasih karena kamu mau bertahan dengan Gita." Agam menepuk bahu Arman pelan. Sungguh, sebagai seorang Ayah, Agam merasa malu dan bersalah kepada Arman, karena dia merasa gagal dalam mendidik Gita.