
Kini semua orang sedang berkumpul di kediaman Soedrajat, ada Anyelir, Devan bahkan Mayang juga turut hadir, sedangkan Gita hanya bisa datang bersama dengan Arman, karena Dika sedang ada urusan pekerjaan. Setelah hubungan keluarga mereka membaik, Rosse dan Agam memang sering mengadakan acara keluarga, seperti acara makan malam bersama, supaya semakin mempererat kekeluargaan mereka. Suara canda dan tawa mengisi ruangan meja makan, mereka semua terlihat bahagia satu sama lain.
"Nanti, lahiran Anyelir dan Gita jadi berdekatan, ya?" ucap Mayang, karena memang jarak usia kehamilan mereka berdua tidak terlampau jauh.
"Iya Bu," jawab Gita.
"Rasanya sangat senang, karena dalam waktu dekat akan memiliki dua orang cucu sekaligus," kata Agam seraya melemparkan senyum pada semua orang.
"Ya, semoga saja kalian berdua selalu diberikan kesehatan, dan bisa melahirkan dengan lancar, ibu dan bayinya juga sehat," ucap Rose memberikan doa dan harapannya. Sebagai seorang ibu, Rose tentu sangat was-was, karena sebentar lagi kedua putrinya akan sama-sama berjuang melahirkan sosok malaikat kecil, yang mana, proses melahirkan itu juga bertaruh nyawa.
"Amiinn Bu, terimakasih atas doanya," ucap Anyelir dan Gita bersamaan.
-//-
__ADS_1
Beberapa bulan kemudian.
"Akhhhh!!!" Anyelir memegang perutnya yang terasa menegang, rasa sakit itu sangat luar biasa dia rasakan.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Devan dengan raut wajah cemas.
"perut aku sakit." jawab Anyelir seraya memegang perutnya dan meringis kesakitan. Devan yang mendengar jawaban Anyelir, pun menjadi panik.
"Loh, Devan! Ada apa dengan Anyelir?" tanya Mayang cemas.
"Sepertinya, Anyelir mau melahirkan, Bu," jawab Devan.
"Ya sudah, kamu bawa Anyelir ke mobil, Ibu ambil perlengkapan," titah Mayang, beruntung Mayang tidak ikut panik, dia masih bisa mengarahkan Devan. Mayang dan Devan duduk mengapit Anyelir, Mayang juga menuntun Anyelir untuk melakukan pernapasan yang baik dan benar. Sedangkan Devan, mengusap perut Anyelir seraya berdoa dalam hatinya untuk keselamatan kedua orang yang sangat dia cintai.
__ADS_1
'Nak, jangan buat ibu kamu terlalu kesakitan ya sayang, lahirlah dengan mudah, datanglah ke dunia ini dengan selamat, dan sehat,' batin Devan. Dia sangat tidak tega melihat Anyelir yang kesakitan, keringat mengucur deras di dahinya, dengan telaten, Mayang juga ikut mengusap peluh ANyelir.
"Kamu hubungi rumah sakit, katakan Anyelir akan datang," titah Mayang. Devan pun segera melakukannya, dia segera menghubungi rumah sakit tempat di mana Anyelir akan melahirkan. Jalanan sebenarnya sudah macet, tapi Devan sudah berjaga-jaga dengan meminta anak buahnya menggunakan sepeda motor dan membuka jalan untuknya, Devan tidak mau istrinya sampai terlambat di bawa ke rumah sakit. Setelah menghubungi pihak rumah sakit, Devan juga menghubungi kedua mertuanya, dan mengatakan soal Anyelir yang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.
AKhirnya, perjalanan panjang menuju rumah sakit selesai, mereka tiba dengan keadaan baik, Anyelir segera di bawa ke ruang persalinan.
"Tuan Devan, apakah anda ingin mendapampingi istri anda?" tanya perawat.
"Mau sus," jawab Devan dengan yakin, itu memang yang dia inginkan, mendampingi istrinya berjuang melahirkan buah hati mereka.
"Sayang, ayo berjuang, aku ada di sini bersama kamu, lakukan apapun yang kamu mau ke aku, aku siap menerimanya," ucap Devan memberikan semangat kepada Anyelir. ANyelir menganggukkan kepalanya.
Anyelir mulai mengejen, tidak hanya itu, Anyelir menjambak rambut Devan sebagai kekuatannya. Devan hanya bisa meringis kesakitan tapi tidak berani mengeluarkan suara, dia tahu kesakitan yang Anyelir alami, tidak ada tandingannya.
__ADS_1