
Anyelir merasa risih dan canggung mengobrol bersama keluarganya dan juga Arman, entah kenapa Anyelir merasa dia tidak bisa ikut masuk dalam obrolan mereka. Anyelir melihat banyak perubahan yang terjadi antara Gita dan kedua orangtuanya, sekarang ini Gita dan Rose jauh lebih akrab, bahkan Agam pun nampak sangat hangat kepada Rose dan juga Gita.
Anyelir hanya menyimak pembicaraan Gita dan Arman soal rencana pernikahan, bahkan Rose sudah merancang akan seperti apa mewahnya pernikahan Gita. Bukan bermaksud iri, namun Anyelir merasa kedatangannya sama sekali tidak dihiraukan, padahal Anyelir merasa rindu dengan keluarganya, namun nampaknya tidak ada yang merasakan hal yang sama seperti Anyelir.
‘Kedatanganku nampaknya tidak terlalu bermakna baik untuk Ayah maupun Ibu, apa sebaiknya aku pulang?’ batin Anyelir, mereka semua tertawa dengan lepas, namun Anyelir sendiri tidak bisa ikut larut dalam canda tawa mereka.
“Bu, Anyelir permisi,” pamit Anyelir.
“Oh iya Nak,” jawab Rose tanpa menoleh kearah Anyelir, karena dia tengah fokus pada cerita Gita. Hati Anyelir berdenyut nyeri, dia merasa asing dengan keluarganya sendiri.
“Loh Non, mau ke mana? kan baru dateng, masa langsung pamit?” bi Juminten, salah satu art yang bekerja paling lama di rumah ini, merasa heran karena Anyelir tiba-tiba memutuskan pergi.
“Nggak apa-apa kok Bi,” bohong Anyelir.
“Jangan bohong Non, cerita saja sama Bibi,” pinta bi Jum.
Anyelir menghela napasnya dalam, “saya merasa asing dengan keluarga saya sendiri Bi, mereka sama sekali tidak menghiraukan saya, dan saya rasa kedatangan saya memang kurang tepat. Jadi, saya putuskan untuk pergi,” jawab Anyelir.
“Non …”
“Sudahlah Bi, jangan terlalu membela mereka, aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana sikap mereka terhadapku,” Anyelir pun berpamitan kepada Bi Jum, dan melangkah menuju mobil milik nya. Sejenak Anyelir menoleh menatap rumah yang sudah cukup lama dia tinggali, belum genap satu bulan Anyelir pergi dari rumah itu, namun semuanya sudah terasa asing bagi Anyelir. Saat Anyelir hendak membuka pintu mobilnya, seseorang menahan tangan Anyelir.
__ADS_1
“Mau ke mana, hmm?” Anyelir menatap sosok pria yang ada di depannya.
“Bukankah istriku baru sampai?” dia adalah Devan.
“Ayo, masuk.” Ajak Devan, dia menarik lembut tangan Anyelir, dibukanya pintu tanpa mengetuk. Saat Anyelir dan Devan masuk ke dalam rumah, Agam tengah mencari Anyelir lewat bi Jum.
“Tuan Devan?” Agam cukup terkejut karena melihat kedatangan menantunya, bahkan Rose yang semula tengah sibuk pun bergegas ke ruang tamu setelah mendengar dari asisten rumah tangga, bahwa Devan datang bersama Anyelir.
“Mari silahkan duduk,” Agam mempersilahkan Devan untuk duduk, “Nak, kenapa kamu tidak bilang kalau kamu datang bersama suami kamu?” tanya Agam kepada Anyelir, namun Devan memberi kode agar Anyelir tetap diam.
“Kalau istri saya bilang dia datang dengan saya, mungkin saya tidak akan melihat kejadian yang menarik ini,” ujar Devan, rupanya dia telah menaruh seorang mata-mata dan bekerja di kediaman Agam.
“Emm Tuan soal itu …”
“Apakah anda sudah selesai mengobrol soal rencana pernikahan untuk putri sambung anda Bu Rosseline?” tanya Devan sedikit menyindir, “karena saya rasa obrolan anda sangat menarik, sampai-sampai kedatangan istri saya tidak anda hiraukan,” Devan sengaja menekan kata istri, bahkan dia merangkul Anyelir lebih erat, seolah menunjukkan bahwa Anyelir adalah miliknya.
Arman yang mendengar perkataan Devan pun terkejut, Anyelir menyenggol lengan Devan, lalu berbisik bahwa di rumah ini ada orang lain, namun Devan tidak masalah sama sekali. Rose merasa was-was, karena nampaknya Devan tidak suka ketika Anyelir di hiraukan.
“So-soal itu, saya …” Rose hendak meminta maaf, namun suara Devan kembali terdengar.
“Apa yang bisa lelaki itu berikan? Sampai-sampai istri saya, yang notabennya anak kalian sendiri, tidak kalian hiraukan. Apakah kalian tidak sadar, kenyamanan yang kalian rasakan sampai detik ini, itu karena pengorbanan Anyelir! Kalau saja Anyelir tidak mau menikah dengan ku, mungkin kalian sudah hidup luntang-lantung, karena Pak Agam yang dipenjara,” Devan murka, entah kenapa melihat Anyelir seperti tidak dianggap oleh keluarganya sendiri, membuat Devan tidak terima.
__ADS_1
“Tuan, saya …” Agam ingin angkat bicara.
“Kalau kalian ingin meminta maaf, seharusnya bukan padaku,” sentak Devan. Anyelir terus mengelus punggung suaminya agar lebih tenang. Mendengar ucapan menantunya, akhirnya Agam, dan Rose pun meminta maaf pada Anyelir.
“Sudahlah, Ayah dan Ibu aku yakin kalian tengah sibuk, dan tidak bermaksud melakukan itu padaku,” Anyelir mencoba menyelamatkan kedua orangtuanya di hadapan Devan.
“Sayang, aku ingin melihat kamarmu,” Dean malas dan muak mendengar kata-kata pujian yang nantinya akan diberikan untuknya, dia tahu semua itu karena mereka hanya ingin menjaga perasaannya, namun mereka tidak ada yang bisa bersikap demikian kepada Anyelir, dan Devan tidak terima.
“Oh, ayo.” Anyelir pun mengajak Devan untuk ke kamar yang dulu dia tempati, menurut Anyelir ini lebih baik, dari pada Devan terus marah kepada kedua orangtuanya.
Melihat Devan yang sudah pergi, membuat Agam dan juga Rosse bernapas lega, Agam pun langsung menatap istrinya dengan tatapan marah. Dia menyalahkan Rose karena tidak bisa menyambut Anyelir dengan baik, Agam tidak tadinya tengah menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi, namun Rose malah terus sibuk membicarakan soal Gita dan Arman.
“Kalau hal ini sampai terjadi lagi, kau akan terima akibatnya,” ancam Agam, dan diangguki oleh Rose.
Arman sendiri langsung menanyakan soal kebenaran pernikahan Anyelir, dan diangguki oleh Gita, juga Rose. Agam pun menjelaskan kepada Arman, tentang kenapa Anyelir akhirnya menikah dengan Devan, Agam tidak mau Arman berpikir buruk soal Anyelir. Padahal Anyelir menikah dengan Devan juga berkorban demi keluarga. Agam bersyukur karena nampaknya Devan mulai jatuh cinta pada Anyelir, itu semua karena Devan sangat membela Anyelir, bahkan memanggil Anyelir dengan sayang.
‘Aku tidak percaya kalau tuan Devan bisa mencintai Anyelir, istrinya saja jauh lebih menarik,’ batin Gita, dia yakin kalau Devan dan Anyelir tengah berdua, pasti mereka tidak akan seromantis tadi. Dia pun diam-diam mengendap-endap menuju lantai atas, lebih tepatnya dia ingin mencuri dengar apa yang sebenarnya tengah dilakukan Anyelir dan Devan. Karena Gita sangat yakin, kehidupan rumah tangga Anyelir tidak akan baik-baik saja, karena Anyelir hanyalah penebus hutang.
Devan sendiri tengah menatap ruang kamar Anyelir yang tidak banyak berubah, dan Anyelir merasa sangat rindu dengan kamarnya. Devan menatap Anyelir dengan tatapan yang sulit diartikan, posisi mereka sangat dekat, dengan sekali gerakan, Devan lagi-lagi menyambar bibir Anyelir, namun kali ini Anyelir sudah bisa membalas ciuman Devan. Ciuman itu berlangsung cukup lama, dan tanpa mereka sadari Gita melihat semua itu, karena pintu kamar yang masih setengah terbuka. Hampir saja Gita berteriak, namun dia langsung menutup mulutnya, dia tidak percaya kalau Devan dan Anyelir ternyata sudah sedekat itu, melihat bagaimana ciuman panas yang terjadi antara mereka, Gita yakin kalau mereka saling mencintai, dan pemikirannya selama ini salah. Tidak mau ketahuan, Gita langsung meninggalkan kamar Anyelir, dan bergegas pergi dengan mengendap-endap agar langkah kakinya tidak terdengar oleh Devan dan juga Anyelir.
‘Anyelir mendapatkan suami seperti Devan? Kalau gitu sih gue juga mau,’ batin Gita kesal, dia merasa Anyelir sangat beruntung bisa dicintai oleh lelaki milyader seperti Devan.
__ADS_1
...Jangan lupa klik Like, vote dan komen yaaa ... Kalau berkenan aku juga menerima tip loh, hheee...