
Setelah mendengarkan cerita dari Adi, Dika hampir tidak percaya bahwa istrinya bisa melakukan tindakan kriminal. Dika mencoba memastikan kesaksian Adi dengan pertanyaan kepada Desi.
"Katakan jika semua itu bohong," pinta Dika kepada Desi, akan tetapi Desi justru hanya diam tidak berani menatap sang suami seolah dia mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh jika adalah benar adalah.
Desi menatap Gita dengan tatapan sinis dan memicing. "Diam jangan memanasi suasana, aku melakukan ini juga demi menyelamatkan putraku aku tidak mau anakku menghabiskan hidupnya bersama wanita seperti kamu, anakku bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada kamu," kata Desi, meskipun sudah jelas dia tengah di pojokan tapi Desi masih saja menunjukkan keangkuhannya. Melihat bagaimana Desi yang langsung terpancing emosi ketika Gita berbicara seolah semakin menguatkan bahwa memang Desi tidak pernah menyukai Gita.
"Diam! Kamu memang orang yang terlihat baik dan lemah lembut, tapi kelakuan kamu jauh lebih buruk daripada Gita. Sekarang Gita sudah menyadari kesalahannya sedangkan kamu masih saja terjebak dengan emosi masa dulu hal itu membuat kamu hancur sendiri. Seharusnya aku tidak memiliki istri dengan watak seperti kamu," Dika justru membela menantunya dan tidak membenarkan apapun yang dilakukan oleh Desi. Desi semakin geram ketika orang-orang di dekatnya justru sekarang melihat memihak kepada Gita.
"Apakah kamu menyesal menikah denganku?" Desi menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya dia tidak menyangka kalau suaminya akan berkata demikian.
"Sekarang kamu menjadi orang yang berbeda aku merasa kamu adalah orang asing. Dulu kepada kamu tidak akan sebenarnya ini menyakiti orang lain kamu sudah jauh berbeda, apa yang membuat kamu berubah?" tanya Dika kepada sang istri.
"Aku tidak suka dengan dia." Desi menunjuk ke arah Gita. "Dia berusaha untuk menjauhkan aku dengan anakku dan dia berusaha memfitnah aku dengan kalian semua, apalagi setelah aku tahu bahwa dia bukanlah anak kandung dari Pak Agam. Aku tahu bahwa mendiang ibu Gita sudah mengkhianati Pak Agam dan ibu Gita sendiri adalah istri kedua, jadi sudah jelas asal usul Gita itu dari orang tua yang tidak baik."
"Ibu Desi, apapun yang terjadi Gita adalah anak saya dia dibesarkan dengan penuh cinta oleh saya saya, tidak peduli akan darah yang mengalir, yang saya tahu dia adalah putri saya anak sulung saya. Gita adalah anak yang baik dan dari keluarga baik jadi jangan injak harga diri putri saya karena saya tidak akan terima itu," Agam cukup geram saat dia mendengar soal perkataan Desi yang seolah menginjak harga diri putrinya hati orang tua mana yang tidak akan sakit hati.
"Wanita baik mana yang merebut pasangan orang lain, apalagi itu saudarinya sendiri," balas Desi.
"Bunda apakah kamu lupa pasangan yang kamu maksud itu adalah aku putramu sendiri apakah kamu tidak merasa malu karena di sini yang bersalah bukan hanya istriku tapi juga aku. Lagipula kenapa harus mengungkit cerita masa lalu yang sudah kami lupakan anggap saja itu sebagai salah satu perjalanan takdir kenapa Bunda harus repot-repot terus mengusik kehidupan aku dan juga Gita? Aku sangat kecewa karena Bunda bukan lagi orang yang aku kenal aku merasa asing aku tidak menyangka bahwa orang terdekatku lah yang mencoba untuk menghancurkan kebahagiaanku apakah bunda tahu jika saja Gita pergi maka aku juga sebaiknya ikut dengannya aku tidak bisa hidup tanpanya," Arman seolah tengah menegaskan bahwa dia sangat mencintai istrinya.
"Arman jangan benci Bunda, kamu adalah dunia Bunda. Bunda hanya tidak mau kalau kamu bersama dengan Gita masih ada wanita lain yang jauh lebih baik darinya," pinta Desi masih berusaha untuk memisahkan anak dan juga menantunya.
"Aku bingung dengan Bunda, kenapa Bunda sampai begitu tega ingin menyakiti Gita padahal Bunda tahu di dalam kandungannya ada cucu Bunda. Bukankah itu sama saja Bunda melakukan tindakan kriminal? Aku bisa saja melaporkan kejadian ini ke kantor polisi dan Bunda akan dihukum dengan hukuman berat, apalagi ada Ibu Rose yang menjadi korban sampai masuk ke rumah sakit," ancam Arman. Desi yang mendengarkan ancaman dari putranya begitu terkejut dan menatap Arman dengan tatapan tidak percaya, mungkin Desi mengira Arman tidak akan berani melakukan hal itu karena dia adalah ibunya.
__ADS_1
"Kamu tega ingin memenjarakan ibu kamu sendiri?" Desi menatap Arman dengan tatapan tidak percaya dia juga melemparkan tatapan kekecewaannya bahkan bukan hanya kepada Arman tapi juga kepada Dika.
"Aku ingin Bunda mempertanggungjawabkan perbuatannya karena apa yang kita lakukan tentu ada pertanggungjawabannya. Sebaiknya mempertanggungjawabkan di dunia daripada di akhirat, aku baru mengatakan hal seperti ini saja Bunda sudah menganggap aku seperti anak durhaka, padahal Bunda saja begitu tega ingin menghancurkan kehidupanku, kalau Bunda ingin Gita pergi maka aku juga akan pergi," ancam Arman.
Dika langsung mendekati besannya. "Saya selaku suami dari Desi meminta maaf sebesar-besarnya kepada Pak Agam dan juga Ibu Rose, atas apa yang sudah dilakukan oleh istri saya dan membahayakan Ibu. Saya akan serahkan semua keputusan kepada Pak Agam jika memang Bapak ingin memenjarakan istri saya maka saya ikhlas, karena saya tahu istri saya sudah melakukan kesalahan besar dan itu juga termasuk tindakan kriminal," ucap Dika begitu pasrah. Dia sudah bingung harus bagaimana lagi membuat istrinya berubah, Dika sudah terlanjur malu. Desi sendiri menatap suaminya dengan tatapan terkejut, dia tidak menyangka kalau suaminya justru memberikan izin jika akan akan melaporkannya ke polisi.
"Kamu sudah kehilangan akal? Kamu mau melihat aku menderita di balik jeruji besi?" Tanya Desi.
"Seharusnya sebelum bertindak kamu memikirkan sampai hal ini, supaya kamu bisa lebih dulu memikirkan konsekuensinya. Apa yang sudah kamu lakukan tentu harus kamu pertanggungjawabkan, ini sudah tindakan kriminal, aku akan berdosa jika aku membela kamu yang jelas-jelas sudah bersalah bahkan bukti sudah begitu jelas," Dika mengatakan hal itu dengan berat hati tapi mau bagaimana lagi dia memang harus memberikan efek cerah terhadap Desi supaya tidak melakukan dan mengulangi kesalahannya kali ini.
"Tidak, aku tidak mau dipenjara. Aku akui, aku bersalah tapi aku mohon jangan penjarakan aku." Desi terisak dan menangis bersimpuh kepada suaminya.
"Bukan kepada aku kamu meminta maaf, tapi kepada Pak Agam, Ibu Ros dan juga Gita," ucap Agam.
Setelah mendengarkan cerita dari Adi, Dika hampir tidak percaya bahwa istrinya bisa melakukan tindakan kriminal. Dika mencoba memastikan kesaksian Adi dengan pertanyaan kepada Desi.
"Katakan jika semua itu bohong," pinta Dika kepada Desi, akan tetapi Desi justru hanya diam tidak berani menatap sang suami seolah dia mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh jika adalah benar adalah.
Desi menatap Gita dengan tatapan sinis dan memicing. "Diam jangan memanasi suasana, aku melakukan ini juga demi menyelamatkan putraku aku tidak mau anakku menghabiskan hidupnya bersama wanita seperti kamu, anakku bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada kamu," kata Desi, meskipun sudah jelas dia tengah di pojokan tapi Desi masih saja menunjukkan keangkuhannya. Melihat bagaimana Desi yang langsung terpancing emosi ketika Gita berbicara seolah semakin menguatkan bahwa memang Desi tidak pernah menyukai Gita.
"Diam! Kamu memang orang yang terlihat baik dan lemah lembut, tapi kelakuan kamu jauh lebih buruk daripada Gita. Sekarang Gita sudah menyadari kesalahannya sedangkan kamu masih saja terjebak dengan emosi masa dulu hal itu membuat kamu hancur sendiri. Seharusnya aku tidak memiliki istri dengan watak seperti kamu," Dika justru membela menantunya dan tidak membenarkan apapun yang dilakukan oleh Desi. Desi semakin geram ketika orang-orang di dekatnya justru sekarang melihat memihak kepada Gita.
"Apakah kamu menyesal menikah denganku?" Desi menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya dia tidak menyangka kalau suaminya akan berkata demikian.
__ADS_1
"Sekarang kamu menjadi orang yang berbeda aku merasa kamu adalah orang asing. Dulu kepada kamu tidak akan sebenarnya ini menyakiti orang lain kamu sudah jauh berbeda, apa yang membuat kamu berubah?" tanya Dika kepada sang istri.
"Aku tidak suka dengan dia." Desi menunjuk ke arah Gita. "Dia berusaha untuk menjauhkan aku dengan anakku dan dia berusaha memfitnah aku dengan kalian semua, apalagi setelah aku tahu bahwa dia bukanlah anak kandung dari Pak Agam. Aku tahu bahwa mendiang ibu Gita sudah mengkhianati Pak Agam dan ibu Gita sendiri adalah istri kedua, jadi sudah jelas asal usul Gita itu dari orang tua yang tidak baik."
"Ibu Desi, apapun yang terjadi Gita adalah anak saya dia dibesarkan dengan penuh cinta oleh saya saya, tidak peduli akan darah yang mengalir, yang saya tahu dia adalah putri saya anak sulung saya. Gita adalah anak yang baik dan dari keluarga baik jadi jangan injak harga diri putri saya karena saya tidak akan terima itu," Agam cukup geram saat dia mendengar soal perkataan Desi yang seolah menginjak harga diri putrinya hati orang tua mana yang tidak akan sakit hati.
"Wanita baik mana yang merebut pasangan orang lain, apalagi itu saudarinya sendiri," balas Desi.
"Bunda apakah kamu lupa pasangan yang kamu maksud itu adalah aku putramu sendiri apakah kamu tidak merasa malu karena di sini yang bersalah bukan hanya istriku tapi juga aku. Lagipula kenapa harus mengungkit cerita masa lalu yang sudah kami lupakan anggap saja itu sebagai salah satu perjalanan takdir kenapa Bunda harus repot-repot terus mengusik kehidupan aku dan juga Gita? Aku sangat kecewa karena Bunda bukan lagi orang yang aku kenal aku merasa asing aku tidak menyangka bahwa orang terdekatku lah yang mencoba untuk menghancurkan kebahagiaanku apakah bunda tahu jika saja Gita pergi maka aku juga sebaiknya ikut dengannya aku tidak bisa hidup tanpanya," Arman seolah tengah menegaskan bahwa dia sangat mencintai istrinya.
"Arman jangan benci Bunda, kamu adalah dunia Bunda. Bunda hanya tidak mau kalau kamu bersama dengan Gita masih ada wanita lain yang jauh lebih baik darinya," pinta Desi masih berusaha untuk memisahkan anak dan juga menantunya.
"Aku bingung dengan Bunda, kenapa Bunda sampai begitu tega ingin menyakiti Gita padahal Bunda tahu di dalam kandungannya ada cucu Bunda. Bukankah itu sama saja Bunda melakukan tindakan kriminal? Aku bisa saja melaporkan kejadian ini ke kantor polisi dan Bunda akan dihukum dengan hukuman berat, apalagi ada Ibu Rose yang menjadi korban sampai masuk ke rumah sakit," ancam Arman. Desi yang mendengarkan ancaman dari putranya begitu terkejut dan menatap Arman dengan tatapan tidak percaya, mungkin Desi mengira Arman tidak akan berani melakukan hal itu karena dia adalah ibunya.
"Kamu tega ingin memenjarakan ibu kamu sendiri?" Desi menatap Arman dengan tatapan tidak percaya dia juga melemparkan tatapan kekecewaannya bahkan bukan hanya kepada Arman tapi juga kepada Dika.
"Aku ingin Bunda mempertanggungjawabkan perbuatannya karena apa yang kita lakukan tentu ada pertanggungjawabannya. Sebaiknya mempertanggungjawabkan di dunia daripada di akhirat, aku baru mengatakan hal seperti ini saja Bunda sudah menganggap aku seperti anak durhaka, padahal Bunda saja begitu tega ingin menghancurkan kehidupanku, kalau Bunda ingin Gita pergi maka aku juga akan pergi," ancam Arman.
Dika langsung mendekati besannya. "Saya selaku suami dari Desi meminta maaf sebesar-besarnya kepada Pak Agam dan juga Ibu Rose, atas apa yang sudah dilakukan oleh istri saya dan membahayakan Ibu. Saya akan serahkan semua keputusan kepada Pak Agam jika memang Bapak ingin memenjarakan istri saya maka saya ikhlas, karena saya tahu istri saya sudah melakukan kesalahan besar dan itu juga termasuk tindakan kriminal," ucap Dika begitu pasrah. Dia sudah bingung harus bagaimana lagi membuat istrinya berubah, Dika sudah terlanjur malu. Desi sendiri menatap suaminya dengan tatapan terkejut, dia tidak menyangka kalau suaminya justru memberikan izin jika akan akan melaporkannya ke polisi.
"Kamu sudah kehilangan akal? Kamu mau melihat aku menderita di balik jeruji besi?" Tanya Desi.
"Seharusnya sebelum bertindak kamu memikirkan sampai hal ini, supaya kamu bisa lebih dulu memikirkan konsekuensinya. Apa yang sudah kamu lakukan tentu harus kamu pertanggungjawabkan, ini sudah tindakan kriminal, aku akan berdosa jika aku membela kamu yang jelas-jelas sudah bersalah bahkan bukti sudah begitu jelas," Dika mengatakan hal itu dengan berat hati tapi mau bagaimana lagi dia memang harus memberikan efek cerah terhadap Desi supaya tidak melakukan dan mengulangi kesalahannya kali ini.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau dipenjara. Aku akui, aku bersalah tapi aku mohon jangan penjarakan aku." Desi terisak dan menangis bersimpuh kepada suaminya.
"Bukan kepada aku kamu meminta maaf, tapi kepada Pak Agam, Ibu Ros dan juga Gita," ucap Agam.