
"Kamu keterlaluan Gita!" Rose yang sudah tidak tahan dengan sikap Gita, apalagi hendak mencelakai Anyelir dan kandungannya, akhirnya tidak bisa tinggal diam. Dia membentakk Gita karena memang sikapnya yang sudah tidak bisa ditolerir lagi.
"Ibu bentak aku?" bukannya merasa bersalah, Gita justru tidak terima Rose membentak dirinya, padahal jelas Gita pantas mendapatkan itu.
"Iya, kenapa? Kamu nggak terima, harusnya kamu bisa menerima Anyelir Gita, meskipun kalian lahir bukan dari rahim yang sama, Ibu mohon setidaknya jangan terus jahati dia," manik mata Rose bertemu dengan manik mata Gita, Gita seolah tidak takut sama sekali dengan apa yang Rose ucapkan. Sedangkan Rose, menatap Gita dengan penuh kecewa.
"Gita, Ayah heran sama kamu, apa sih yang ada dalam pikiran kamu? Hati kamu seolah dipenuhi oleh dendam, Ayah kecewa dengan sikap kamu," Agam ucapannya itu tidak akan bisa menyentuh hati nurani Gita, setidaknya Agam terus berusaha untuk mengingatkan Gita.
"Ayo, Bu kita pergi." Agam menggandeng tangan istrinya untuk meninggalkan kamar Gita, saat mereka keluar dari ruangan Gita, mereka berpapasan dengan Arman yang baru kembali dari kantin.
"Loh, Ayah sama Ibu mau makan?" tanya Arman.
"Kami mau pulang, titip Gita ya?" Agam tidak menjelaskan secara detail, apa alasannya karena tidak mau Arman juga kecewa dengan Gita.
"Ya sudah, Ayah dan Ibu istirahat saja, terimakasih sudah menemani Gita," Arman mencium tangan kedua mertuanya dengan sangat sopan, dia juga menatap punggung Agam dan Rose sampai benar-benar menghilang dari pandangannya. Setelah Agam dan Rose benar-benar sudah pergi, Arman pun masuk ke dalam ruangan rawat Gita. Tapi betapa terkejutnya dia, ketika melihat keadaan sang istri.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arman, sebab saat ini Gita tengah terisak.
"Ayah dan Ibu pergi," isak Gita dengan raut wajah yang begitu sendu.
"Iya, aku tadi ketemu sama mereka kok di depan, ayah dan ibu bilang, mereka mau pulang. Mungkin mereka sedang lelah sayang," Arman mengusap puncak kepala Gita, dia menenangkan istrinya karena Arman ingat, pesan dari Dokter bahwa Gita tidak boleh stres.
"Memangnya ada masalah apa sayang, semenjak aku di luar?" tanya Arman, sepertinya dia mulai risau.
"Anyelir terus membandingkan perlakuan ibu mertuanya dengan bunda Desi, Anyelir menceritakan hal yang menurut aku sebagai sindirian," Gita mulai mengarang cerita dan membuat seolah Anyelir yang bersalah.
"Aku meminta dengan baik-baik pada Anyelir, untuk berhenti menceritakan itu, karena aku tidak nyaman. Tapi Anyelir menuduh aku iri padanya, dan aku sedikit mengeraskan suara ku, dan mengatakan bahwa Anyelir adalah menantu yang beruntung, sedangkan aku tidak," isak Gita, dia menghentikan ucapannya, sedangkan Arman nampak mengusap air mata Gita.
"Ibu nggk terima aku bentak Anyelir, dan ibu malah marahin aku, Anyelir bahkan berpura-pura menangis. Aku dibenci oleh semua orang," isak Gita semakin menjadi. Arman yang mendengar cerita dari pihak Gita, jelas percaya saja, apalagi selama beberapa hari ini, dia melihat perubahan yang cukup signifikan dari diri Gita.
"Tenang, meskipun mereka menjauhi kamu, masih ada aku yang akan beradi di samping kamu sayang," Arman memeluk Gita, seolah memberikan ketenangan. Arman berpikir, bahwa Anyelir kini menjadi wanita yang jahat karena tidak bisa mengerti perasaan Gita. Ditambah lagi dengan sikap kedua mertuanya yang justru hanya membela Anyelir.
__ADS_1
"Kamu keterlaluan Gita!" Rose yang sudah tidak tahan dengan sikap Gita, apalagi hendak mencelakai Anyelir dan kandungannya, akhirnya tidak bisa tinggal diam. Dia membentakk Gita karena memang sikapnya yang sudah tidak bisa ditolerir lagi.
"Ibu bentak aku?" bukannya merasa bersalah, Gita justru tidak terima Rose membentak dirinya, padahal jelas Gita pantas mendapatkan itu.
"Iya, kenapa? Kamu nggak terima, harusnya kamu bisa menerima Anyelir Gita, meskipun kalian lahir bukan dari rahim yang sama, Ibu mohon setidaknya jangan terus jahati dia," manik mata Rose bertemu dengan manik mata Gita, Gita seolah tidak takut sama sekali dengan apa yang Rose ucapkan. Sedangkan Rose, menatap Gita dengan penuh kecewa.
"Gita, Ayah heran sama kamu, apa sih yang ada dalam pikiran kamu? Hati kamu seolah dipenuhi oleh dendam, Ayah kecewa dengan sikap kamu," Agam ucapannya itu tidak akan bisa menyentuh hati nurani Gita, setidaknya Agam terus berusaha untuk mengingatkan Gita.
"Ayo, Bu kita pergi." Agam menggandeng tangan istrinya untuk meninggalkan kamar Gita, saat mereka keluar dari ruangan Gita, mereka berpapasan dengan Arman yang baru kembali dari kantin.
"Loh, Ayah sama Ibu mau makan?" tanya Arman.
"Kami mau pulang, titip Gita ya?" Agam tidak menjelaskan secara detail, apa alasannya karena tidak mau Arman juga kecewa dengan Gita.
"Ya sudah, Ayah dan Ibu istirahat saja, terimakasih sudah menemani Gita," Arman mencium tangan kedua mertuanya dengan sangat sopan, dia juga menatap punggung Agam dan Rose sampai benar-benar menghilang dari pandangannya. Setelah Agam dan Rose benar-benar sudah pergi, Arman pun masuk ke dalam ruangan rawat Gita. Tapi betapa terkejutnya dia, ketika melihat keadaan sang istri.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arman, sebab saat ini Gita tengah terisak.
"Ayah dan Ibu pergi," isak Gita dengan raut wajah yang begitu sendu.
"Iya, aku tadi ketemu sama mereka kok di depan, ayah dan ibu bilang, mereka mau pulang. Mungkin mereka sedang lelah sayang," Arman mengusap puncak kepala Gita, dia menenangkan istrinya karena Arman ingat, pesan dari Dokter bahwa Gita tidak boleh stres.
"Memangnya ada masalah apa sayang, semenjak aku di luar?" tanya Arman, sepertinya dia mulai risau.
"Anyelir terus membandingkan perlakuan ibu mertuanya dengan bunda Desi, Anyelir menceritakan hal yang menurut aku sebagai sindirian," Gita mulai mengarang cerita dan membuat seolah Anyelir yang bersalah.
"Aku meminta dengan baik-baik pada Anyelir, untuk berhenti menceritakan itu, karena aku tidak nyaman. Tapi Anyelir menuduh aku iri padanya, dan aku sedikit mengeraskan suara ku, dan mengatakan bahwa Anyelir adalah menantu yang beruntung, sedangkan aku tidak," isak Gita, dia menghentikan ucapannya, sedangkan Arman nampak mengusap air mata Gita.
"Ibu nggk terima aku bentak Anyelir, dan ibu malah marahin aku, Anyelir bahkan berpura-pura menangis. Aku dibenci oleh semua orang," isak Gita semakin menjadi. Arman yang mendengar cerita dari pihak Gita, jelas percaya saja, apalagi selama beberapa hari ini, dia melihat perubahan yang cukup signifikan dari diri Gita.
"Tenang, meskipun mereka menjauhi kamu, masih ada aku yang akan beradi di samping kamu sayang," Arman memeluk Gita, seolah memberikan ketenangan. Arman berpikir, bahwa Anyelir kini menjadi wanita yang jahat karena tidak bisa mengerti perasaan Gita. Ditambah lagi dengan sikap kedua mertuanya yang justru hanya membela Anyelir.
__ADS_1
"Kamu keterlaluan Gita!" Rose yang sudah tidak tahan dengan sikap Gita, apalagi hendak mencelakai Anyelir dan kandungannya, akhirnya tidak bisa tinggal diam. Dia membentakk Gita karena memang sikapnya yang sudah tidak bisa ditolerir lagi.
"Ibu bentak aku?" bukannya merasa bersalah, Gita justru tidak terima Rose membentak dirinya, padahal jelas Gita pantas mendapatkan itu.
"Iya, kenapa? Kamu nggak terima, harusnya kamu bisa menerima Anyelir Gita, meskipun kalian lahir bukan dari rahim yang sama, Ibu mohon setidaknya jangan terus jahati dia," manik mata Rose bertemu dengan manik mata Gita, Gita seolah tidak takut sama sekali dengan apa yang Rose ucapkan. Sedangkan Rose, menatap Gita dengan penuh kecewa.
"Gita, Ayah heran sama kamu, apa sih yang ada dalam pikiran kamu? Hati kamu seolah dipenuhi oleh dendam, Ayah kecewa dengan sikap kamu," Agam ucapannya itu tidak akan bisa menyentuh hati nurani Gita, setidaknya Agam terus berusaha untuk mengingatkan Gita.
"Ayo, Bu kita pergi." Agam menggandeng tangan istrinya untuk meninggalkan kamar Gita, saat mereka keluar dari ruangan Gita, mereka berpapasan dengan Arman yang baru kembali dari kantin.
"Loh, Ayah sama Ibu mau makan?" tanya Arman.
"Kami mau pulang, titip Gita ya?" Agam tidak menjelaskan secara detail, apa alasannya karena tidak mau Arman juga kecewa dengan Gita.
"Ya sudah, Ayah dan Ibu istirahat saja, terimakasih sudah menemani Gita," Arman mencium tangan kedua mertuanya dengan sangat sopan, dia juga menatap punggung Agam dan Rose sampai benar-benar menghilang dari pandangannya. Setelah Agam dan Rose benar-benar sudah pergi, Arman pun masuk ke dalam ruangan rawat Gita. Tapi betapa terkejutnya dia, ketika melihat keadaan sang istri.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arman, sebab saat ini Gita tengah terisak.
"Ayah dan Ibu pergi," isak Gita dengan raut wajah yang begitu sendu.
"Iya, aku tadi ketemu sama mereka kok di depan, ayah dan ibu bilang, mereka mau pulang. Mungkin mereka sedang lelah sayang," Arman mengusap puncak kepala Gita, dia menenangkan istrinya karena Arman ingat, pesan dari Dokter bahwa Gita tidak boleh stres.
"Memangnya ada masalah apa sayang, semenjak aku di luar?" tanya Arman, sepertinya dia mulai risau.
"Anyelir terus membandingkan perlakuan ibu mertuanya dengan bunda Desi, Anyelir menceritakan hal yang menurut aku sebagai sindirian," Gita mulai mengarang cerita dan membuat seolah Anyelir yang bersalah.
"Aku meminta dengan baik-baik pada Anyelir, untuk berhenti menceritakan itu, karena aku tidak nyaman. Tapi Anyelir menuduh aku iri padanya, dan aku sedikit mengeraskan suara ku, dan mengatakan bahwa Anyelir adalah menantu yang beruntung, sedangkan aku tidak," isak Gita, dia menghentikan ucapannya, sedangkan Arman nampak mengusap air mata Gita.
"Ibu nggk terima aku bentak Anyelir, dan ibu malah marahin aku, Anyelir bahkan berpura-pura menangis. Aku dibenci oleh semua orang," isak Gita semakin menjadi. Arman yang mendengar cerita dari pihak Gita, jelas percaya saja, apalagi selama beberapa hari ini, dia melihat perubahan yang cukup signifikan dari diri Gita.
"Tenang, meskipun mereka menjauhi kamu, masih ada aku yang akan beradi di samping kamu sayang," Arman memeluk Gita, seolah memberikan ketenangan. Arman berpikir, bahwa Anyelir kini menjadi wanita yang jahat karena tidak bisa mengerti perasaan Gita. Ditambah lagi dengan sikap kedua mertuanya yang justru hanya membela Anyelir.
__ADS_1