Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Makan malam


__ADS_3

Akhirnya, kini malam sudah tiba. Devan dan Anyelir sudah bersiap untuk menyambut tamu mereka. Menurt informasi yang Anyelir dapat, dari Devan. Devan hanya mengundang kedua orang tua Anyelir.


"Itu mobil Ayah." tunjuk Anyelir dengan raut wajah bahagia.


Benar saja, Agam pun turun dari mobilnya. Namun, yang membuat aneh, kenapa Agam hanya sendirian? dan tidak terlihat kehadiran Rose bersamanya.


"Ayah?" Anyelir mencium tangan ayahnya dengan sopan.


"Ayah apa kabar?" tanya Devan.


"Baik, Nak." jawab Agam dengan senyum merekahnya.


"Ayah hanya datang sendiri? Ibu mana?" tanya Anyelir, sembari mencari keberadaan Rosse.

__ADS_1


"Maaf, Nak. Ayah tidak datang dengan Ibu, karena Ibu sedang ada urusan," kilah Agam. Dia tidak enak, jika harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Acara apa Yah? Apa begitu penting? Sampai Ibu nggak bisa memenuhi undangan ku?" tanya Anyelir dengan raut wajah kecewa. Anyelir paham sikap Ibunya, dan Anyelir tahu, saat ini Agam tengah menutupi alasan yang sebenarnya.


Agam nampak bingung, harus menjawab apa. Sebab, dia memang tidak pandai berbohong. Gelagat, aneh Agam pun, bisa dengan mudah dibaca oleh Devan.


"Ibu tidak mau datang, Yah?" tanya Devan dengan hti-hati.


"Iya, Nak." jawab Agam, seraya menganggukkan kepalanya dengan tak enak hati.


"Karena kamu tidak mengundang kak Gita, Nak. Padahal, Ayah sudah jelaskan, pasti kalian punya alasan kenapa tidak mengundang Gita malam ini. Lagi pula, Ayah juga menyadari banyak kesalahan yang sudah dibuat oleh kakak kamu," ucap Agam.


"Anyelir bingung Yah. Kenapa, Ibu sama sekali nggak bisa adil sama aku. Anyelir tahu, kalu kak Gita sudah kehilangan bundanya, dan Ibu sebagai ibu sambung, ingin merangkul kak Gita. Hanya saja, Anyelir merasa ibu tidak adil dengan Anye dan kak Gita." ucap Anyelir seraya terisak.

__ADS_1


"Nak, jangan bersedih. Ayah, sebagai suami ibu kamu, meminta maaf atas sikapnya selama ini. Dan Ayah janji, akan berusaha mengubah sikap ibu," janji Agam. Dia begitu iba melihat putri bungsunya.


"Iya Yah, semoga saja ibu masih bisa berubh. Ya sudah lah Yah, sebaiknya sekarang kita masuk dulu." ajak Anyelir.


"Eits tunggu." cegah Devan. "Masih ada yang belum datang," ucapnya lagi.


"Siapa? Bukannya kamu bilang, cuma mengundang Ayah dan ibu?" tanya Anyelir heran. Tidak lama, terlihat beberapa mobil yang memasuki gerbang rumah Devan.


"Kamu mengundang mereka?" tanya Anyelir tak percaya, dan Devan hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Selamat malam semuanya." sapa teman-teman Anyelir bersamaan. Ternyata Devan mengundang ketiga sahabat Anyelir, yaitu Nabilla, Dinda dan juga Nina.. Tidak lupa, Devan juga mengundang sahabat magang Anyelir, yang tidak lain karyawannya juga, yaitu Ayu, Mike dan Daniel.


Karena semua orang sudah datang, Devan pun mengajak mereka untuk masukĀ  ke dalam rumah. Mereka juga diperkenalkan dengan Mayang, ibu Devan. Semua sahabat Anyelir, mulanya merasa tidak percaya, diundang dalam acara yang bisa dibilang hanya dihadiri oleh keluarga inti. Namun, karena itu yang mengabari Devan secara langsung, mereka semua pun akhirnya percaya. Meskipun, merek juga sempat bingung, ada apa sebanarnya, sampai-smpai Devan membuat acara makan malam dan mengundang semua sahabat Anyelir.

__ADS_1


"Baiklah, mungkin baik Ayah maupun teman-teman Anyelir, bertanya-tanya. Ada apa saya, mengadakan acara makan malam dan mengundang Ayah serta kerabat semuanya. Selain untuk memperkenalkan Ibu saya, ada kabar lain yang yang ingin saya sampaikan. Yaitu, soal istri saya yang tengah mengandung."


__ADS_2