Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Tertekan


__ADS_3

"Oh iya Bu, Ibu nggak pernah ngomong apapun kan ke Ayah, soal aku?" Gita menaikkan sebalah alisnya.


Rose yang mendadak mendapatkan pertanyaan itu, tentu saja terkejut, tapi dia berusaha untuk bersikap tenang, supaya Gita tidak curiga.a


"Tidak, Nak. Kamu tenang saja," ucap Rose meyakinkan.


"Oke, kalau gitu aku pergi ya Bu." Setelah mengatakan itu, Gita pun langsung pergi dengan raut wajah bahagianya. Sedangkan Rose kembali mendudukkan dirinya karena dia merasa lemah saat berhadapan dengan Gita.


'Kenapa aku tidak bisa melawan Gita? Apa karena aku takut Gita bisa berbuat apa saja terhadap Anyelir?' batin Rose.


Rose masih mencoba mengatur debaran jantungnya, setiap kali dia bertemu dengan Gita, maka beginilah respone Rose. Bayangan Gita yang hendak menabrak Anyelir, selalu saja muncul diingatan Rose, membuat dia seolah lemah di hadapah Gita, dan selalu memenuhi dan menuruti apa saja yang diinginkan oleh Gita. Rose sadar, dirinya sudah tidak baik-baik saja, dan dia harus bertemu dengan Psikiater.


'Aku harus memeriksakan diriku, aku harus bisa menguatkan diriku lagi. Aku tidak mau terus menerus menjadi boneka Gita, dan terus tunduk di hadapan Gita, karena jika aku terus begini, maka Gita juga tidak akan pernah berubah,' gumam Rose bertekad. Tapi sepertinya Rose akan merahasiakan ini lebih dulu dari Agam, karena dia tidak mau jika suaminya nanti khawatir dengan keadaan Rose.

__ADS_1


Rose memastikan, bahwa Gita benar-benar sudah pergi, barulah Rose berani keluar dari rumahnya. Rose terlalu takut kalau sampai Gita tahu, ke mana sebenarnya tujuan Rose.


'Syukurlah, sepertinya benar-benar sudah aman,' batin Rose. Dia langsung meminta supir mengantarkannya ke kediaman Anyelir. Dalam perjalanan, Rose mecoba untuk menghubungi sang suami, dia ingin menceritakan apa yang terjadi di rumah. Beruntung tidak perlu waktu lama, sambungan telepon Rose langsung terhubung dengan Agam. Rosepun langsung menceritakan semuanya kepada suaminya.


["10 juta?"] tanya Agam seolah tidak percaya.


["Iya mas, aku sebenarnya nggak mau kasih, tapi aku terlalu takut dengan Gita mas."] Isak Rose, yang merasa lemah jika berhadapan dengan Gita, rasa takut lebih mendominasi dirinya saat ini.


["Sudahlah sayang, jangan dipikirkan. Nanti kita cari jalan keluarnya sama-sama,"] ucap Agam mencoba untuk menenangkan sang istri.


["Iya aku janji,"] ujar Agam, membuat Rose merasa lega. Kini, Rose sudah lebih baik, dia merasa lebih lega setelah terbuka dengan Agam, karena setidaknya dia memiliki pendengar dan merasa mendapatkan perlindungan dari Agam.


["Oh iya mas, aku mau ke rumah Anyelir ya, tadi dia telepon aku katanya dia kesepian."] Rose meminta izin pada suaminya, karena takut nanti dia akan pulang sore hari.

__ADS_1


["Ya sudah sayang, semoga dengan begini, kamu juga bisa sedikit melupakan sikap Gita ya?"] harap Agam.


.


.


Di sala satu mall terbesar, Gita tengah bersenang-senang dengan teman-temannya, ke sana dan kemari, mencari sesuatu yang sekiranya bagus dan cocok untuk mereka.


"Lo malak lagi dari nyokap tiri lo?" celetuk salah satu teman Gita.


"Iya dong, dari mana lagi gue dapetin duit double," jawab Gita dengan begitu entengnya.


"Lo bener-bener hebat, bisa kuasain nyokap tiri lo," puji teman Gita, membuat Gita semakin di awang-awang.

__ADS_1


"Jelas, gue nggak mau diatur sama seorang pelakor. Apalagi, dia adalah orang yang menyebabkan nyokap gue meninggal," Gita benar-benar menaruh benci pada Rose, bahkan pada Anyelir juga.


__ADS_2