
Anyelir baru saja selesai memberi kabar kepada Nabila, bahwa hari ini dia berhalangan hadir dan beralasan sakit, Anyelir juga sudah mengirimkan surat izin kepada Anjani selaku ketua divisi yang menaungi Anyelir. Sebenarnya ada rasa tidak enak karena Anyelir harus izin tidak masuk disaat pekerjaan sedang banyak-banyaknya, namun Anyelir juga tidak bisa memaksa berangkat karena keadaan dirinya yang tidak memungkinkan. Saat ini Anyelir dan Devan tengah menikmati sarapan mereka.
“Sayang, aku ingat semalam kamu bilang soal obat perangsang?” ucap Anyelir lirih, supaya hanya mereka berdua yang tahu pembicaraan apa yang tengah mereka bahas. Devan seketika terdiam, dia memikirkan kiranya jawaban apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan Anyelir barusan. Tidak mungkin kalau Devan menjawab bahwa Laura lah yang menaruhnya agar Devan mau menyentuh Laura, karena itu sama saja memunculkan kecurigaan Anyelir terhadap hubungan Devan dan Laura.
“Eehhm itu, aku di jebak oleh seseorang sayang, saat itu aku sedang menghadiri pertemuan dengan salah satu kolega ku, dan hal seperti ini memang sering terjadi. Memang aku saja yang kurang berhati-hati kan?” ujar Devan memberikan alasan, mendengar jawaban Devan, Anyelir pun hanya menganggukan kepalanya paham.
“Tapi sayang, aku melakukan itu bukan karena obat itu, aku memang ingin melakukannya bersama kamu sayang, haya saja aku takut ditolak, jadi aku menahannya selama ini, tapi karena obat itu, aku jadi tidak bisa menahan diri,” jelas Devan dengan sorot mata yang penuh keyakinan, dia berharap Anyelir akan percaya dengan apa yang dia katakan. Devan belum sepenuhnya bisa jujur dengan Anyelir, karena takut akan mengecewakan Anyelir, namun tahukah dia? Bahwa kejujuran dalam suatu hubungan juga sangat diperlukan?
Anyelir yang mendengar cerita Devan cukup was-was, bagaimana kalau seandainya Devan meniduri wanita lain yang bukan istrinya? Kira-kira apakah yang akan terjadi? Hal ini membuat Anyelir mengkhawatirkan Devan, yang seriung meeting di luar kantor karena permintaan dari client maupun kolega sendiri. Namun Devan meyakinkan Anyelir, bahwa itu semua tidak akan terjadi lagi, dia akan lebih berhati-hati dan Devan juga mengandalkan Felix, asistennya yang sangat dia percaya.
Anyelir cukup tahu soal Felix, memang dari penilaian Anyelir, Felix sangat sigap dan cukup ketat dalam menjaganya, apalagi kalau menjaga Devan. Anyelir sama sekali tidak menaruh curiga sedikitpun pada Devan yang tengah berbohong padanya, karena Anyelir sudah percaya pada suaminya dan menganggap tidak mungkin Devan berbohong padanya, namun melihat Anyelir yang nampak menaruh begitu percaya pada Devan, membuat dia merasa bersalah, hanya saja Devan belum siap bercerita dan membuka luka lamanya.
‘Maafkan aku sayang, aku janji akan menceritakan semuanya suatu hari nanti, hanya satu yang aku pinta, tolong bertahan dan teruslah bersamaku,’ batin Devan penuh harap. Mereka berdua pun kembali melanjutkan sarapan, setelah selesai Devan langsung berpamitan kepada Anyelir, dia harus berangkat ke kantor, namun beberapa berkas masih berada di kediaman ibunya, Devan pun mau tidak mau harus pulang ke rumah Mayang lebih dulu.
__ADS_1
“Assalammualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Nak? Ibu baru saja menanyakan soal kamu kepada Laura,” ujar Mayang, dia menyambut putranya dengan berbagai pertanyaan, karena pagi hari Devan belum melihat putra semata wayangnya, ketika dia baru saja bertanya kepada Laura, kebetulan Devan datang.
“Maaf ya Bu, semalam Devan buru-buru pergi, karena client Devan yang baru saja datang dari Amerika langsung mengajak bertemu, karena mereka tidak punya waktu lain lagi, jadi mau tidak mau Devan harus pergi Bu,” jawab Devan bohong, sejujurnya dia merasa lelah dengan semua ini, namun Devan tidak punya pilihan lain selain ini, dia ingin menyelesaikan semuanya, namun melihat kondisi Mayang yang masih belum stabil membuat Devan masih setengah hati melakukannya.
“Ya sudah, tapi betulkan kamu pergi karena urusan pekerjaan? Bukan karena bertengkar?” tanya Mayang memastikan, Mayang memang sangat menyayangi Laura, bahkan dia tidak rela kalau sampai anaknya bertengkar dengan Laura, karena di mata Mayang, Laura adalah menantu yang sangat baik.
“Enggak kok Bu,” Devan menjawab pertanyaan Mayang disertai senyum yang mengembang. Membuat Mayang akhirnya percaya dan yakin dengan jawaban putranya.
“Ya sudah, ayo kita sarapan Nak.” Ajak Mayang, namun Devan menolak dengan alasan dia sudah sarapan dengan clientnya tadi, jadi dia masih kenyang. Akhirnya Dvan memilih mengambil tas kerjanya di ruang kerja, namun ternyata Laura datang menyusul.
__ADS_1
“Aku nggak terima ya, kamu perlakukan aku kaya gini!” seru Laura dengan nada penuh emosi, membuat Devan membuang napas lelah, rasanya sangat malas karena di pagi hari harus berdebat dengan Laura.
“Aku istri kamu Devan! Dan aku juga berhak mendapatkan nafkah batin dari kamu!” seru Laura lagi, untung saja ruang kerja Devan kedap suara, jadi mau Laura berteriak sekencang apapun, orang yang berada di luar tidak akan mendengarnya.
“Harusnya kamu sadar, wanita itu kamu nikahi hanya untuk menebus hutang orangtuanya!” seru Laura lagi, kali ini perkataan Laura sukses memancing amarah Devan, dia langsung menatap Laura dengan tatapan intimidasi, tiba-tiba saja hawa dingin langsung menguar dari sekitaran Devan, membuat nyali Laura langsung menciut dibuatnya.
“Bukankah kau yang seharusnya sadar siap dirimu?” Devan memegang dagu Laura dengan cukup kencang, membuat Laura merasa kesakitan. “Sepertinya aku terlalu berbaik hati pada mu, sehingga kamu menjadi wanita yang pembangkang!” Devan mendorong dagu Laura, sampai Laura terhuyung ke belakang dan tepat mengenai sisi meja.
“Bukankah sudah ku bilang, jangan melampaui batasmu! Ingat posisimu sendiri! Siapa kau, dan jangan lupa, aku menikahi mu supaya kamu bisa bertanggung jawab terhadap ibu!” seru Devan lagi, Laura hanya bisa diam, sepertinya dia Lupa, bahwa Devan yang sekarang bukan lagi Devan yang dulu bersamanya, kalau dulu Devan tidak akan pernah bisa kasar pada Laura dan selalu memandang Laura dengan penuh cinta.
“Pergi,” ucap Devan dengan nada dingin, selagi Devan belum bebuat kasar kembali,Laura pun memilih pergi meninggalkan Devan. Laura memilih masuk ke dalam kamarnya, dia menatap pantulan dirinya di cermin, dan mengepalkan tangannya erat, mengumpulkan semua emosinya sampai kuku Laura berubah putih.
‘Kau harus membayarnya Anyelir,’ batin Laura penuh dendam, bagi Laura, semua ini karena hadirnya Anyelir. Laura mengangap, kalau saja Anyelir tidak datang, pasti dia masih punya kesempatan untuk mengambil hati Devan kembali, dan pastinya Devan akan menyayangi Laura seperti dulu. Nampaknya, Laura tidak berkaca pada kesalahannya, dia meninggalkan Devan dihari pernikahan, bahkan saat itu Devan harus kahilangan ayahnya dan harus mendapati ibunya yang masuk ke rumah sakit. Devan yang pada saat itu jatuh sejatuh-jatuhnya harus tetap berfikir waras, untuk mengurus perusahaan dan ibunya sendirian, hanya Felix yang ada di sampingnya, hanya Felix yang setia mendampingi Devan.
__ADS_1