
Devan melepaskan pagutan mereka, setelah dirasa Anyelir nampak kehabisan napas, karena Devan tahu, meskipun mungkin Anyelir sudah bisa bermain dengannya, namun Anyelir belum bisa mengimbangi permainan dari Devan. Devan memegang pipi Anyelir, dia tersenyum dengan sangat manis.
“Sudah pintar ya sekarang? Hmm,” mendengar ucapan Devan, seketika pipi Anyelir memerah karena malu, dia pun menundukkan tatapannya. Anyelir sendiri bingung, bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal itu? Anyelir merasa malu, karena ketahuan sangat menikmati permainan dari Devan. Sebenarnya Devan ingin melakukan hal lebih jauh lagi, namun dia sadar di mana merek [a berada sekarang, jadi Devan mengurungkan niatnya. Untuk malam pertama, Devan akan menyiapkan hal yang spesial, itu pun harus menunggu satu minggu lagi.
.
.
Kini Arman tengah bersama dengan Gita, dia menatap Gita dengan tatapan yang menyimpan banyak pertanyaan, dan tentu saja tidak jauh soal Anyelir. Dalam benak Gita, dia sudah menyiapkan berbagai jawaban yang tentunya akan menguntungkan dirinya.
“Kenapa kamu nggak bilang soal Anyelir yang sudah menikah?” benar dugaan Gita, ini yang ingin Arman tanyakan.
“Aku nggak bisa cerita kesiapapun, karena sudah perjanjian, bahwa pernikahan ini akan disembunyikan dari siapapun,” jawab Gita, dia berusaha setenang mungkin.
“Lalu, mobil itu bukan dari orang lain kan? itu mobil dari suaminya kan?” tanya Arman, dia masih ingat bagaimana Gita menjelaskan kepada Arman seputar Anyelir, yang menurut Gita berhubungan dengan om-om.
“Iya, tapi kamu juga harus tahu bahwa lelaki itu memiliki istri lain. Lebih tepatnya, Anyelir pelakor,” lagi-lagi Gita menjelekkan nama Anyelir.
“Apa? bukankah ayah kamu bilang …”
__ADS_1
“Jangan mudah percaya, Anyelir menikah dengan lelaki itu, karena dia sudah ketahuan selingkuh, dan kamu tahu, Anyelir menikah secara siri. Pada saat itu, perusahaan ayah tengah diambang kebangkrutan. Dengan cara ini Anyelir mengambil hati ayah agar hubungannya direstui oleh ayah, lelaki itu membantu perusahaan ayah sampai semua kembali membaik,” Gita benar-benar pandai dalam mengarang sebuah cerita, dengan mudahnya dia bisa membuat Arman percaya dan kembali menaruh kebencian kepada Anyelir.
“Maaf ya, karena aku sempat salah paham,” Devan menggenggam tangan Gita, dia merasa bersalah karena sudah salah paham kepada Gita, meski sebenarnya, semua yang dikatakan oleh Gita, bohong belaka.
“Baiklah tidak masalah, tapi aku harap mulai sekarang kamu bisa lebih percaya padaku,” ujar Gita, dia pun memuluk Arman dengan erat, senyum smirk pun muncul dan terlihatlah wajah asli Gita.
‘Bagaimanapun aku harus mendapatkan kamu Arman, aku harus memiliki kamu, supaya jalan ku menjadi seorang Dokter bisa lebih mudah,’ batin Gita, iya Arman memang anak tunggal dari seorang Dokter tenama, dan keluarga Arman memiliki rumah sakit pribadi, dengan begini Arman memiliki masa depan yang cerah bukan? Dan Gita juga ingin memiliki jalan pintasnya, meskipun dia harus merusak kebahagiaan adiknya sendiri.
Anyelir yang melihat itu semua dari balkon kamarnya, hanya tersenyum, dia tidak menyangka Gita melakukan segala cara untuk menjatuhkan dirinya, bahkan jalan fitnah pun dia lakukan. Anyelir merutuki kebodohan dirinya, yang dulu begitu ingin dekat dengan Gita, sampai dia rela melakukan apa saja untuk Gita, dia juga merelakan uang saku dari ayahnya hanya untuk Gita. Tapi sekarang, Anyelir tahu seperti apa Gita dan bagaimana perangainya, Gita hanya akan bahagia ketika melihat Anyelir hancur.
‘Sebenci itu kah kamu padaku kak?’ batin Anyelir, dia tidak akan melakukan pembelaan apapun dihadapan Arman, karena bagi Anyelir sekarang ini apapun penilaian Arman tentangnya tidak akan diambil pusing, karena Arman hanyalah masa lalu bagi Anyelir.
Devan tengah berada di kamar ibunya, mengajak ibunya berbincang sebentar, yang tidak jauh dari cucu. Devan pun beralasan, bahwa dirinya sudah berusaha bersama dengan Laura, namun belum membuahkan hasil. Devan juga mengatakan, bahwa dia sudah memeriksakan dirinya, dan hasilnya baik-baik saja bahkan sangat sehat.
“Jangan-jangan Laura yang …” Devan sengaja menggantung ucapannya.
“Jangan bicara begitu,” tegur Mayang kepada putranya.
“Aku hanya heran Bu, 2 tahun kami menikah tapi belum memiliki momongan, sedangkan aku sehat, berarti kesalahannya ada pada Laura kan?” ucap Devan lagi.
__ADS_1
“Jangan pernah katakana itu dihadapan Laura, atau dia kaan merasa sangat sedih,” saran Mayang, bagaimanapun dia juga perempuan, tentunya dia juga tahu betul bagaimana rasanya jika dituduh seperti itu. Devan pun hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Ya sudah Ibu sekarang tidur ya? sudah malam,” ucap Devan, dia pun membetulkan posisi Mayang, lalu menyelimutinya, tidak lupa mencium kening Mayang dengan penuh sayang. melihat Mayang yang sudah terlelap, membuat Devan kembali teringat dengan masa-masa kelamnya, dia menyesalkan pertemuannya dengan Laura dulu, sampai semuanya menjadi sangatlah rumit bagi Devan. Tidak ma uterus berlarut, Devan memutuskan untuk ke kamarnya dan beritirahat, namun saat Devan memasuki kamarnya dia melihat Laura yang sudah berada di ranjang dengan posisi menantang.
Nampaknya Devan menyadari bahwa Laura tengah menggodanya, Laura senagaj mengenakan lingerie tipis dengan belahan dada yang rendah, dia juga menggunakan parfume yang cukup menggoda. Melihat Devan yang mulai mendekat, Laura pun tersenyum, karena nampaknya rencana dan usahanya berhasil untuk menggoda Devan.
“Loh Dev , kamu mau kemana?” ternyata Laura salah, Devan bukan ingin mendekatinya, namun hanya ingin mengambil bantal.
“Aku tidur di luar,” jawab Devan, seraya berbalik arah untuk meninggalkan Laura.
“Hah? Aku nggak salah denger? ngapain tidur di luar? Ini kan kamar kita,” ujar Laura was-was, padahal dia sudah sangat bahagia bisa tinggal di kediaman Mayang, karena itu berarti dia dan Devan akan tidur satu ranjang, namun melihat sikap Devan yang malah akan tidur di luar, membuat harapan Laura musnah sudah.
“Aku tidak mau, kau pakai saja kamar ini sendirian,” jawab Devan dingin, membuat Laura mendesah kesal. Laura memukul bantalnya dengan penuh emosi, Devan benar-benar pergi dari kamar mereka.
‘Sial, sia-sia semuanya. Kenapa sih, Devan sama sekali nggak bisa tertarik sama aku, pasti gara-gara wanita itu,’ Laura pikir, Anyelir sudah melakukan sesuatu sampai-sampai Laura sudah mati-matian menggoda Devan namun tetap tidak mempan. Padahal sebelum kedatangan Anyelir pun, Devan tidak tertarik pada Laura, malam panas yang pernah mereka lalui pun itu semua karena jebakan Laura, dia memasukan obat perangsang pada minuman Devan, sampai-sampai Devan akhirnya melakukan hubungan panas itu bersama Laura, namun tetap saja hubungan itu dilakukan di kamar Laura, bukan miliki Devan.
‘Apa sih cantiknya dia, jelas-jelas dari body aja dia kalah jauh dari aku,’ Laura benar-benar kesal, dia membandingkan tubuhnya dengan Anyelir, yang menurt Laura, dirinya jauh lebih sexy dan menggoda dibandingkan Anyelir. Pikiran Laura menerawang jauh, pada setiap perkataan Devan yang mengatakan soal bulan madu bersama Anyelir, mengingat hal itu semakin membuat hati Laura panas.
Haii masih setia ngga nunggu up dari akku? seperti biasa, aku akan up pendukung teratas di novel ini ... terimakasih ya untuk semua dukungannya, dan jangan pernah bosan.
__ADS_1