
"Selamat pagi, Tuan." sapa kedua anak buah Devan, yang memang bertugas berjaga di rumah sakit. Rupanya Devan datang.
"Pagi, Ayah Agam." sapa Devan, membuat Agam menoleh ke arahnya.
"Sekedar mampir Yah, untuk membawakan sarapan titipan dari Anyelir, tapi maaf mungkin agak dingin,'" ujar Devan tak enak.
"Tidak apa-apa, Ayah justru merasa tidak enak karena merepotkan kamu," kata Agam, dia pun menerima bekal sarapan dari tangan Devan.
"Bagaimana kondisi Ibu, Yah?" tanya Devan, dia melihat sepertinya Rose belum siuman.
"Dari hasil pemeriksaan, semua sudah stabil, semoga Ibu akan segera siuman," harap Agam. "Oh iya, bagaimana dengan pelaku yang sudah mencelakai Ibu, apakah sudah ditemukan?" tanya Agam, pasalnya setelah menabrak Rose, pelaku itu memang kabur.
"Kami masih mencarinya, Yah," jawab Devan dengan rasa tidak enak, sebab belum bisa menguak siapa pelaku sebenarnya.
"Kenapa, bukankah di cctv jelas terlihat, mobil itu. Kan, tinggal cari saja pemilik mobil dengan informasi platnya," Agam sepertinya tidak sabar ingin bertemu dengan pelaku yang sudah membuat sang istri terbaring di rumah sakit. Ditambah lagi, pada saat kejadian, Gita juga hampir menjadi korban.
"Tidak semudah itu, Yah. Sepertinya hal ini sudah direncanakan, karena plat mobil itu, palsu," terang Devan, membuat Agam seketika terkejut.
"Palsu?" tanya Agam memastikan, dan Devan menganggukkan kepalanya.
"Ya Tuhan, apa lagi ini?" Agam menyugar rambutnya frustasi, baru saja keluarganya berbaikan, kini mereka justru dihadapkan dengan kajidan yang sangat fatal, Rose ditabrak oleh orang yang ingin menyakiti keluarga SOedrajat.
"Apa Ayah akhri-akhir ini sedang memiliki rifal yang cukup berbahaya?" tanya Devan memastikan.
__ADS_1
"Tidak ada, Ayah yakin semua berjalan dengan semestinya," jawab Agam dengan sangat yakin.
"Kalau begitu, ini berarti dari pihak Devan." tutur Devan membuat Agam sontak terkejut.
"Gita, kenapa dengan Gita?" Agam masih tidak bisa habis pikir, ada yang berniat mencelakai putrinya. Memang pada saat kejadian, Agam jelas melihat Rose yang mendorong Gita, sampai akhirnya GIta selamat dan hanya Rose yang kecelakaan.
"Untuk saat ini, aku tidak bisa menjelaskan secara detail, Yah. Karena Devan harus segera ke kantor, yang jelas Ayah nggak perlu khawatir, karena sekarang kedua putri Ayah dalam keadaan aman," Devan mencoba menenangkan Agam, supaya tidak terlalu memikirkan Gita dan Anyelir.
"Baiklah kamu hati-hati, dan jika ada informasi lain, tolong beri tahu Ayah," pesan Agam di jawab anggukan oleh Devan. Akhirnya Devan pun berpamitan untuk pergi ke kantornya, dan menyisakan banyak pertanyaan dalam benak Agam.
"Musuh dari pihak Gita?" gumam Agam, dia tidak tahu harus bagaimana, tapi jika mengingat dengan sikap Gita yang dulu, mungkin saja ada seseorang yang merasa masih sakit hati dengan Gita dan berencana mencelakai Gita, namun bagaimana Agam bertanya pada Gita soal hal ini? Agam justru takut menyinggung perasaan Gita.
"Selamat pagi, Tuan." sapa kedua anak buah Devan, yang memang bertugas berjaga di rumah sakit. Rupanya Devan datang.
"Pagi, Ayah Agam." sapa Devan, membuat Agam menoleh ke arahnya.
"Sekedar mampir Yah, untuk membawakan sarapan titipan dari Anyelir, tapi maaf mungkin agak dingin,'" ujar Devan tak enak.
"Tidak apa-apa, Ayah justru merasa tidak enak karena merepotkan kamu," kata Agam, dia pun menerima bekal sarapan dari tangan Devan.
"Bagaimana kondisi Ibu, Yah?" tanya Devan, dia melihat sepertinya Rose belum siuman.
"Dari hasil pemeriksaan, semua sudah stabil, semoga Ibu akan segera siuman," harap Agam. "Oh iya, bagaimana dengan pelaku yang sudah mencelakai Ibu, apakah sudah ditemukan?" tanya Agam, pasalnya setelah menabrak Rose, pelaku itu memang kabur.
__ADS_1
"Kami masih mencarinya, Yah," jawab Devan dengan rasa tidak enak, sebab belum bisa menguak siapa pelaku sebenarnya.
"Kenapa, bukankah di cctv jelas terlihat, mobil itu. Kan, tinggal cari saja pemilik mobil dengan informasi platnya," Agam sepertinya tidak sabar ingin bertemu dengan pelaku yang sudah membuat sang istri terbaring di rumah sakit. Ditambah lagi, pada saat kejadian, Gita juga hampir menjadi korban.
"Tidak semudah itu, Yah. Sepertinya hal ini sudah direncanakan, karena plat mobil itu, palsu," terang Devan, membuat Agam seketika terkejut.
"Palsu?" tanya Agam memastikan, dan Devan menganggukkan kepalanya.
"Ya Tuhan, apa lagi ini?" Agam menyugar rambutnya frustasi, baru saja keluarganya berbaikan, kini mereka justru dihadapkan dengan kajidan yang sangat fatal, Rose ditabrak oleh orang yang ingin menyakiti keluarga SOedrajat.
"Apa Ayah akhri-akhir ini sedang memiliki rifal yang cukup berbahaya?" tanya Devan memastikan.
"Tidak ada, Ayah yakin semua berjalan dengan semestinya," jawab Agam dengan sangat yakin.
"Kalau begitu, ini berarti dari pihak Devan." tutur Devan membuat Agam sontak terkejut.
"Gita, kenapa dengan Gita?" Agam masih tidak bisa habis pikir, ada yang berniat mencelakai putrinya. Memang pada saat kejadian, Agam jelas melihat Rose yang mendorong Gita, sampai akhirnya GIta selamat dan hanya Rose yang kecelakaan.
"Untuk saat ini, aku tidak bisa menjelaskan secara detail, Yah. Karena Devan harus segera ke kantor, yang jelas Ayah nggak perlu khawatir, karena sekarang kedua putri Ayah dalam keadaan aman," Devan mencoba menenangkan Agam, supaya tidak terlalu memikirkan Gita dan Anyelir.
"Baiklah kamu hati-hati, dan jika ada informasi lain, tolong beri tahu Ayah," pesan Agam di jawab anggukan oleh Devan. Akhirnya Devan pun berpamitan untuk pergi ke kantornya, dan menyisakan banyak pertanyaan dalam benak Agam.
"Musuh dari pihak Gita?" gumam Agam, dia tidak tahu harus bagaimana, tapi jika mengingat dengan sikap Gita yang dulu, mungkin saja ada seseorang yang merasa masih sakit hati dengan Gita dan berencana mencelakai Gita, namun bagaimana Agam bertanya pada Gita soal hal ini? Agam justru takut menyinggung perasaan Gita.
__ADS_1