Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Berdebat


__ADS_3

"Ayah cuman mau, kamu memiliki keluarga yang baik. Kamu jelas tahu, di keluarga kita harus jelas bibit, bebet, dan bobotnya. Sedangkan Gita, dia tidak jelas ayahnya siapa, hanya saja Gita beruntung karena memiliki ayah seperti pak Agam," terang Gita.


"Yah, aku yakin, Gita juga nggak mau dilahirkan dengan cara seperti itu, tapi di dunia ini sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, dan kita sebagai manusia hanya bisa menjalankan takdir yang sudah digariskan," Arman mencoba memebrikan pengertian kepada Dika, berharap dengan begini pemikiran Dika kepada Gita, bisa berubah.


Arman bangkit dari tempat duduknya dan menatap ayahnya dengan begitu dingin. "Yah, aku tahu Gita memiliki masa lalu yang buruk, tapi Gita juga memiliki masa depan, Yah. Dan aku yakin, Gita akan menjadi istri dan juga ibu yang baik untuk anak-anak kami nanti," kata Arman dengan penuh keyakinan.


"Arman, kamu salah paham."


"Apanya yang salah paham, maksud Ayah, Gita bukan dari keluarga baik, kan? Tapi nyatanya, Gita di asuh oleh orang yang baik, jadi mau bagaimanapun Ayah mencoba membuat aku dan Gita berpisah, itu tidak akan terjadi, aku janji akan terus bersama dengan Gita," putus Arman, setelah mengatakan hal itu, dia segera meninggalkan Dika, tanpa menoleh ke belakang lagi.


'Arman.' Dika menatap punggung anaknya yang semakin menjauh, dia pun duduk kembali di tempatnya, dan menatap piring Arman yang masih tersisa makan siangnya. Ada sedikit penyesalan di mata Dika, karena dia harus berdebat di jam makan siang, dan membuat putranya tidak bisa makan sampai habis.


"Kamu pasti lelah Arman, tapi jam makan siang kamu justru dihabiskan dengan berdebat dengan Ayah," sesal Dika.


Arman sudah kembali ke tempatnya bekerja, dia masih saja memikirkan perkataan ayahnya, soal Gita.


'Kenapa Ayah bisa berpikir begitu?' batin Arman. Dia menyugar rambutnya frustasi dan menelungkupkan wajahnya di atas meja.


Tok ... tokk.. suara ketukan pintu terdengar di ruangan Arman.


"Masuk." ucap Arman.


"Siang, Pak Arman," salah satu perawat datang membawa paperbag yang entah apa itu isinya.


"Iya, ada apa?" tanya Arman.


"Ada titipan dari Pak Direktur utama, untuk Pak Arman," terang perawat seraya menaruh paperbag itu di atas meja Arman.


"Ya sudah, terimakasih," jawab Arman dengan malas.


"Emm Pak Arman," perawat tadi nampak ragu mengatakan sesuatu.


"Iya, ada apa lagi?" tanya Arman.


"Tolong ya Pak, di makan. Kalau tidak saya bisa dipecat," perawat tadi menundukkan wajahnya, dia benar-benar takut jika sampai makanan dari Dika, tidak disentuh oleh Arman.

__ADS_1


Arman menghela napasnya, dia tahu ayahnya pasti khawatir karena makan siang tadi, Arman baru menyentuh makanannya sedikit.


"Iya, pasti aku makan. Terimakasih." kata Arman lagi, dan perawat tadi pun pergi setelah memastikan bahwa Arman akan memakan titipan dari Dika.


-//-


Saat ini, Devan sudah berada di rumah sakit tempat istri Adi dirawat, Adi adalah pelaku yang sudah diperintah oleh Desi.


"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanya Adi kepada Devan.


"Sebentar, anak buahku sedang memastikan, bahwa tidak ada Desi di sini," ujar Devan, dia masih menunggu hasil laporan dari anak buahnya, yang memang menjaga dari jarak jauh, ruangan istri Adi.


"Tuan, semua sudah aman," kata Felix, dia sudah mendapatkan laporan dari anak buahnya.


"Baiklah, sekarang tugas kamu adalah pergi ke Dokter yang menangani istri kamu dulu, dan katakan bahwa kamu akan memindahkan istri kamu ke rumah sakit lain," Devan memberikan penjelasan dan arahan kepada Adi.


"Baik, Tuan, saya akan lakukan," kata Adi patuh. Devan memerintahkan salah satu anak buahnya untuk ikut bersama Adi, seraya membawa uang untuk mengurus kepindahan istri Adi.


'Semoga semua berjalan lancar,' batin Devan.


"Ayah cuman mau, kamu memiliki keluarga yang baik. Kamu jelas tahu, di keluarga kita harus jelas bibit, bebet, dan bobotnya. Sedangkan Gita, dia tidak jelas ayahnya siapa, hanya saja Gita beruntung karena memiliki ayah seperti pak Agam," terang Gita.


"Yah, aku yakin, Gita juga nggak mau dilahirkan dengan cara seperti itu, tapi di dunia ini sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, dan kita sebagai manusia hanya bisa menjalankan takdir yang sudah digariskan," Arman mencoba memebrikan pengertian kepada Dika, berharap dengan begini pemikiran Dika kepada Gita, bisa berubah.


Arman bangkit dari tempat duduknya dan menatap ayahnya dengan begitu dingin. "Yah, aku tahu Gita memiliki masa lalu yang buruk, tapi Gita juga memiliki masa depan, Yah. Dan aku yakin, Gita akan menjadi istri dan juga ibu yang baik untuk anak-anak kami nanti," kata Arman dengan penuh keyakinan.


"Arman, kamu salah paham."


"Apanya yang salah paham, maksud Ayah, Gita bukan dari keluarga baik, kan? Tapi nyatanya, Gita di asuh oleh orang yang baik, jadi mau bagaimanapun Ayah mencoba membuat aku dan Gita berpisah, itu tidak akan terjadi, aku janji akan terus bersama dengan Gita," putus Arman, setelah mengatakan hal itu, dia segera meninggalkan Dika, tanpa menoleh ke belakang lagi.


'Arman.' Dika menatap punggung anaknya yang semakin menjauh, dia pun duduk kembali di tempatnya, dan menatap piring Arman yang masih tersisa makan siangnya. Ada sedikit penyesalan di mata Dika, karena dia harus berdebat di jam makan siang, dan membuat putranya tidak bisa makan sampai habis.


"Kamu pasti lelah Arman, tapi jam makan siang kamu justru dihabiskan dengan berdebat dengan Ayah," sesal Dika.


Arman sudah kembali ke tempatnya bekerja, dia masih saja memikirkan perkataan ayahnya, soal Gita.

__ADS_1


'Kenapa Ayah bisa berpikir begitu?' batin Arman. Dia menyugar rambutnya frustasi dan menelungkupkan wajahnya di atas meja.


Tok ... tokk.. suara ketukan pintu terdengar di ruangan Arman.


"Masuk." ucap Arman.


"Siang, Pak Arman," salah satu perawat datang membawa paperbag yang entah apa itu isinya.


"Iya, ada apa?" tanya Arman.


"Ada titipan dari Pak Direktur utama, untuk Pak Arman," terang perawat seraya menaruh paperbag itu di atas meja Arman.


"Ya sudah, terimakasih," jawab Arman dengan malas.


"Emm Pak Arman," perawat tadi nampak ragu mengatakan sesuatu.


"Iya, ada apa lagi?" tanya Arman.


"Tolong ya Pak, di makan. Kalau tidak saya bisa dipecat," perawat tadi menundukkan wajahnya, dia benar-benar takut jika sampai makanan dari Dika, tidak disentuh oleh Arman.


Arman menghela napasnya, dia tahu ayahnya pasti khawatir karena makan siang tadi, Arman baru menyentuh makanannya sedikit.


"Iya, pasti aku makan. Terimakasih." kata Arman lagi, dan perawat tadi pun pergi setelah memastikan bahwa Arman akan memakan titipan dari Dika.


-//-


Saat ini, Devan sudah berada di rumah sakit tempat istri Adi dirawat, Adi adalah pelaku yang sudah diperintah oleh Desi.


"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanya Adi kepada Devan.


"Sebentar, anak buahku sedang memastikan, bahwa tidak ada Desi di sini," ujar Devan, dia masih menunggu hasil laporan dari anak buahnya, yang memang menjaga dari jarak jauh, ruangan istri Adi.


"Tuan, semua sudah aman," kata Felix, dia sudah mendapatkan laporan dari anak buahnya.


"Baiklah, sekarang tugas kamu adalah pergi ke Dokter yang menangani istri kamu dulu, dan katakan bahwa kamu akan memindahkan istri kamu ke rumah sakit lain," Devan memberikan penjelasan dan arahan kepada Adi.

__ADS_1


"Baik, Tuan, saya akan lakukan," kata Adi patuh. Devan memerintahkan salah satu anak buahnya untuk ikut bersama Adi, seraya membawa uang untuk mengurus kepindahan istri Adi.


'Semoga semua berjalan lancar,' batin Devan.


__ADS_2