Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Tidak mau menjawab


__ADS_3

"Tu-Tuan saya mohon, maafkan saya. Saya tidak tahu kalau itu ibu  mertua anda, dan saya juga tidak sengaja, Tuan," si pelaku mencoba mengiba pada Devan.


"Benarkah, kau tidak tahu menahu soal itu? Dan kau tidak sengaja?" tanya Devan seolah meragukan.


"I-iya Tuan, saya tidak sengaja," jawab si pelaku dengan nada meyakinkan.


"Bukan karena ada yang menyuruh mu?" tanya Devan lagi, kali ini dia sengaja menekan setiap perkataannya. Mendengar perkataan Devan, sontak si pelaku membelalakkan matanya, nampaknya dia cukup terkejut.


"Kau ingin memberitahukan kepadaku secara langsung, dan kau mendapatkan keringanan hukuman? Atau, aku bertindak sendiri, dan kau akan mendapatkan hukuman jauh lebih berat?" Devan memberikan penawaran.


"Jawab!" bentak Felix, dia memberikan pukulan tepat di wajah si pelaku, membuat si pelaku sampai terhuyung ke belakang. Baru satu pukulan dan Devan memberikan kode kepada Felix untuk menghentikan semuanya.


"Berapa bayaran yang dia berikan, sampai kau masih terus tutup mulut?" tanya Devan sekali lagi.


"Saya akan terus tutup mulut, saya yakin anda pasti belum menemukan orangnya, kan?" si pelaku mulai bermain dengan Devan, dan membuat Devan meradang.


"Kau memang tidak bisa diajak bicara baik-baik," desis Devan.


"Kurung dia di sini, kita tunggu sampai lusa," titah Devan kepada anak buahnya. Devan, Felix dan anak buah lain meninggalkan tempat itu, dan menyisakan beberapa orang untuk berjaga.


Devan pulang dalam keadaan kesal karena dia tidak bisa mendapatkan informasi apapun, dan dia belum bisa menemukan siapa dalan yang sudah merencanakan itu semua, dan apa motifnya. Devan merasa belum bisa tenang, jika dia belum menguak dengan tuntas kasus tersebut.


"Apa yang akan kita lakukan dengan dia, Tuan?" tanya Felix, dia menunggu perintah selanjutnya.


"Ikuti orang tua Arman, aku mau mendapatkan informasi tentang mereka setiap harinya, di mulai saat ini," titah Devan, dan langsung disanggupi oleh Felix. Felix segera menghubungi anak buahnya, dan membagi menjadi dua tim.


-//-


Devan menghembuskan napasnya perlahan, dia sudah tiba di rumah sakit, tempat di mana Rose di rawat. Dia sudah mendapatkan kabar dari Anyelir, bahwa sang ibu mertua sudah siuman, dan kondisinya sudah jauh lebih baik. Devan memastikan bahwa raut wajah kesalnya tidak terlihat, karena tidak mau Anyelir menjadi kepikiran.


"Assalammualaikum." Devan masuk seraya mengucapkan salam, semua orang terlihat menatap ke arahnya. Ternyata di ruangan Rose sudah ada banyak orang, termasuk Arman dan kedua orang tuanya, sedangkan Anyelir dan Gita duduk bersama dengan Mayang.


"Maaf Bu, Devan baru bisa datang," ucap Devan dengan sopan.


"Tidak apa, Nak. Ibu tahu pekerjaan kamu pasti sangat banyak," Rose memahami pekerjaan sang menantu yang selalu memaksa Devan untuk turun tangan langsung. Devan pun berbincan sebentar dengan sang ibu mertua.


"Sudah, Nak Devan," jawab Dika dengan gugup.


"Kenapa duduknya berjauhan? Gita apa kamu begitu takut dengan kedua mertua kamu? Apa kamu takut mereka akan mencelakai kamu, meski dikeramaian begini?" tanya Devan seraya menatap Gita. Sedangkan Gita nampak gelisah, karena Devan bisa menebak apa yang dipikirkannya.


"Tenanglah Gita, itu semua tidak akan terjadi, masa iya sih ada orang tua yang mau mencelakai istri dari putranya, juga calon keturunannya?" ujar Devan, lalu tatapannya beralih pada Dika dan Desi. "Bukan begitu, Pak Dika dan bu Desi?" pertanyaan yang Devan layangkan kepada Dika dan Desi, nyatanya membuat mereka sontak terkejut bersamaan.


"I-iya, Nak Devan. Kami mana ada pikiran ke sana," jawab Dika mencoba untuk bersikap dengan tenang.


Mereka pun kembali berbinang, entah perbincangan apapun, soal pekerjaan dan lain hal. Karena hari sudah cukup sore, Devan pun berpamitan untuk membawa sang istri dan juga Mayang, untuk pulang. Devan yakin, sedari tadi Anyelir belum istirahat.


"Dev, Ibu pulang nanti ya, Ibu mau jenguk temen Ibu juga soalnya," izin Mayang, kebetulan ada salah satu teman arisan Mayang yang juga masuk rumah sakit, tapi beda rumah sakit dengan Rose, dan teman-temannya juga tengah menjenguk. Jadi, Mayang berinisiatif menyusul.


"Ya sudah, Ibu sama anak buah Devan aja ya?" ujar Devan dan disetujui oleh Mayang. Mayang pergi dengan supir pribadi, lalu di belakang mobil Mayang ada mobil lain yang mengikuti, yaitu anak buahnya.


"Ayo pulang." Devan menuntun Anyelir untuk masuk ke dalam mobil, sedari tadi Anyelir masih diam, dia ingin melihat, apakah Devan akan menceritakan sesuatu padanya atau tidak.


"Sayang, kamu kenapa sih? Dari tadi diam aja," akhirnya Devan menyadari, ada hal yang berbeda dari Anyelir.


"Jujur sama aku, Mas. Ada apa sebenarnya, kenapa kamu seolah sedang menjaga aku dan ibu. Kemanapun kami pergi, pasti ada pengawalan, dan bahkan bukan hanya itu. Bahkan Kak Gita, juga mendapatkan pengawalan itu, sampai asisten rumah tangga juga. Ini sebenarnya ada apa?" Anyelir terus mendesak Devan untuk menceritakan semuanya, sedangkan Devan nampak masih gamang untuk menceritakan semuanya kepada Anyelir, dia takut kalau Anyelir nantinya khawatir dengan kondisi Ibunya.


"Sayang, aku hanya sedang berjaga-jaga, aku nggak mau kejadian buruk terjadi pada kalian. Bukannya kita harus sedia payung sebelum hujan? Dan ini yang sedang aku lakukan," jawab Devan.


"Aku kenal kamu , Mas. Nggak mungkin kamu ngelakuin ini, tanpa sesuatu alasan. Kamu sudah menemukan bukti baru, dari kasus kecelakaan ibu?" Anyelir, nampaknya masih belum puas dengan jawaban Devan.


"Tu-Tuan saya mohon, maafkan saya. Saya tidak tahu kalau itu ibu  mertua anda, dan saya juga tidak sengaja, Tuan," si pelaku mencoba mengiba pada Devan.


"Benarkah, kau tidak tahu menahu soal itu? Dan kau tidak sengaja?" tanya Devan seolah meragukan.


"I-iya Tuan, saya tidak sengaja," jawab si pelaku dengan nada meyakinkan.


"Bukan karena ada yang menyuruh mu?" tanya Devan lagi, kali ini dia sengaja menekan setiap perkataannya. Mendengar perkataan Devan, sontak si pelaku membelalakkan matanya, nampaknya dia cukup terkejut.


"Kau ingin memberitahukan kepadaku secara langsung, dan kau mendapatkan keringanan hukuman? Atau, aku bertindak sendiri, dan kau akan mendapatkan hukuman jauh lebih berat?" Devan memberikan penawaran.


"Jawab!" bentak Felix, dia memberikan pukulan tepat di wajah si pelaku, membuat si pelaku sampai terhuyung ke belakang. Baru satu pukulan dan Devan memberikan kode kepada Felix untuk menghentikan semuanya.


"Berapa bayaran yang dia berikan, sampai kau masih terus tutup mulut?" tanya Devan sekali lagi.


"Saya akan terus tutup mulut, saya yakin anda pasti belum menemukan orangnya, kan?" si pelaku mulai bermain dengan Devan, dan membuat Devan meradang.


"Kau memang tidak bisa diajak bicara baik-baik," desis Devan.


"Kurung dia di sini, kita tunggu sampai lusa," titah Devan kepada anak buahnya. Devan, Felix dan anak buah lain meninggalkan tempat itu, dan menyisakan beberapa orang untuk berjaga.


Devan pulang dalam keadaan kesal karena dia tidak bisa mendapatkan informasi apapun, dan dia belum bisa menemukan siapa dalan yang sudah merencanakan itu semua, dan apa motifnya. Devan merasa belum bisa tenang, jika dia belum menguak dengan tuntas kasus tersebut.


"Apa yang akan kita lakukan dengan dia, Tuan?" tanya Felix, dia menunggu perintah selanjutnya.


"Ikuti orang tua Arman, aku mau mendapatkan informasi tentang mereka setiap harinya, di mulai saat ini," titah Devan, dan langsung disanggupi oleh Felix. Felix segera menghubungi anak buahnya, dan membagi menjadi dua tim.


-//-


Devan menghembuskan napasnya perlahan, dia sudah tiba di rumah sakit, tempat di mana Rose di rawat. Dia sudah mendapatkan kabar dari Anyelir, bahwa sang ibu mertua sudah siuman, dan kondisinya sudah jauh lebih baik. Devan memastikan bahwa raut wajah kesalnya tidak terlihat, karena tidak mau Anyelir menjadi kepikiran.


"Assalammualaikum." Devan masuk seraya mengucapkan salam, semua orang terlihat menatap ke arahnya. Ternyata di ruangan Rose sudah ada banyak orang, termasuk Arman dan kedua orang tuanya, sedangkan Anyelir dan Gita duduk bersama dengan Mayang.


"Maaf Bu, Devan baru bisa datang," ucap Devan dengan sopan.


"Tidak apa, Nak. Ibu tahu pekerjaan kamu pasti sangat banyak," Rose memahami pekerjaan sang menantu yang selalu memaksa Devan untuk turun tangan langsung. Devan pun berbincan sebentar dengan sang ibu mertua.


"Sudah, Nak Devan," jawab Dika dengan gugup.


"Kenapa duduknya berjauhan? Gita apa kamu begitu takut dengan kedua mertua kamu? Apa kamu takut mereka akan mencelakai kamu, meski dikeramaian begini?" tanya Devan seraya menatap Gita. Sedangkan Gita nampak gelisah, karena Devan bisa menebak apa yang dipikirkannya.

__ADS_1


"Tenanglah Gita, itu semua tidak akan terjadi, masa iya sih ada orang tua yang mau mencelakai istri dari putranya, juga calon keturunannya?" ujar Devan, lalu tatapannya beralih pada Dika dan Desi. "Bukan begitu, Pak Dika dan bu Desi?" pertanyaan yang Devan layangkan kepada Dika dan Desi, nyatanya membuat mereka sontak terkejut bersamaan.


"I-iya, Nak Devan. Kami mana ada pikiran ke sana," jawab Dika mencoba untuk bersikap dengan tenang.


Mereka pun kembali berbinang, entah perbincangan apapun, soal pekerjaan dan lain hal. Karena hari sudah cukup sore, Devan pun berpamitan untuk membawa sang istri dan juga Mayang, untuk pulang. Devan yakin, sedari tadi Anyelir belum istirahat.


"Dev, Ibu pulang nanti ya, Ibu mau jenguk temen Ibu juga soalnya," izin Mayang, kebetulan ada salah satu teman arisan Mayang yang juga masuk rumah sakit, tapi beda rumah sakit dengan Rose, dan teman-temannya juga tengah menjenguk. Jadi, Mayang berinisiatif menyusul.


"Ya sudah, Ibu sama anak buah Devan aja ya?" ujar Devan dan disetujui oleh Mayang. Mayang pergi dengan supir pribadi, lalu di belakang mobil Mayang ada mobil lain yang mengikuti, yaitu anak buahnya.


"Ayo pulang." Devan menuntun Anyelir untuk masuk ke dalam mobil, sedari tadi Anyelir masih diam, dia ingin melihat, apakah Devan akan menceritakan sesuatu padanya atau tidak.


"Sayang, kamu kenapa sih? Dari tadi diam aja," akhirnya Devan menyadari, ada hal yang berbeda dari Anyelir.


"Jujur sama aku, Mas. Ada apa sebenarnya, kenapa kamu seolah sedang menjaga aku dan ibu. Kemanapun kami pergi, pasti ada pengawalan, dan bahkan bukan hanya itu. Bahkan Kak Gita, juga mendapatkan pengawalan itu, sampai asisten rumah tangga juga. Ini sebenarnya ada apa?" Anyelir terus mendesak Devan untuk menceritakan semuanya, sedangkan Devan nampak masih gamang untuk menceritakan semuanya kepada Anyelir, dia takut kalau Anyelir nantinya khawatir dengan kondisi Ibunya.


"Sayang, aku hanya sedang berjaga-jaga, aku nggak mau kejadian buruk terjadi pada kalian. Bukannya kita harus sedia payung sebelum hujan? Dan ini yang sedang aku lakukan," jawab Devan.


"Aku kenal kamu , Mas. Nggak mungkin kamu ngelakuin ini, tanpa sesuatu alasan. Kamu sudah menemukan bukti baru, dari kasus kecelakaan ibu?" Anyelir, nampaknya masih belum puas dengan jawaban Devan.


"Tu-Tuan saya mohon, maafkan saya. Saya tidak tahu kalau itu ibu  mertua anda, dan saya juga tidak sengaja, Tuan," si pelaku mencoba mengiba pada Devan.


"Benarkah, kau tidak tahu menahu soal itu? Dan kau tidak sengaja?" tanya Devan seolah meragukan.


"I-iya Tuan, saya tidak sengaja," jawab si pelaku dengan nada meyakinkan.


"Bukan karena ada yang menyuruh mu?" tanya Devan lagi, kali ini dia sengaja menekan setiap perkataannya. Mendengar perkataan Devan, sontak si pelaku membelalakkan matanya, nampaknya dia cukup terkejut.


"Kau ingin memberitahukan kepadaku secara langsung, dan kau mendapatkan keringanan hukuman? Atau, aku bertindak sendiri, dan kau akan mendapatkan hukuman jauh lebih berat?" Devan memberikan penawaran.


"Jawab!" bentak Felix, dia memberikan pukulan tepat di wajah si pelaku, membuat si pelaku sampai terhuyung ke belakang. Baru satu pukulan dan Devan memberikan kode kepada Felix untuk menghentikan semuanya.


"Berapa bayaran yang dia berikan, sampai kau masih terus tutup mulut?" tanya Devan sekali lagi.


"Saya akan terus tutup mulut, saya yakin anda pasti belum menemukan orangnya, kan?" si pelaku mulai bermain dengan Devan, dan membuat Devan meradang.


"Kau memang tidak bisa diajak bicara baik-baik," desis Devan.


"Kurung dia di sini, kita tunggu sampai lusa," titah Devan kepada anak buahnya. Devan, Felix dan anak buah lain meninggalkan tempat itu, dan menyisakan beberapa orang untuk berjaga.


Devan pulang dalam keadaan kesal karena dia tidak bisa mendapatkan informasi apapun, dan dia belum bisa menemukan siapa dalan yang sudah merencanakan itu semua, dan apa motifnya. Devan merasa belum bisa tenang, jika dia belum menguak dengan tuntas kasus tersebut.


"Apa yang akan kita lakukan dengan dia, Tuan?" tanya Felix, dia menunggu perintah selanjutnya.


"Ikuti orang tua Arman, aku mau mendapatkan informasi tentang mereka setiap harinya, di mulai saat ini," titah Devan, dan langsung disanggupi oleh Felix. Felix segera menghubungi anak buahnya, dan membagi menjadi dua tim.


-//-


Devan menghembuskan napasnya perlahan, dia sudah tiba di rumah sakit, tempat di mana Rose di rawat. Dia sudah mendapatkan kabar dari Anyelir, bahwa sang ibu mertua sudah siuman, dan kondisinya sudah jauh lebih baik. Devan memastikan bahwa raut wajah kesalnya tidak terlihat, karena tidak mau Anyelir menjadi kepikiran.


"Assalammualaikum." Devan masuk seraya mengucapkan salam, semua orang terlihat menatap ke arahnya. Ternyata di ruangan Rose sudah ada banyak orang, termasuk Arman dan kedua orang tuanya, sedangkan Anyelir dan Gita duduk bersama dengan Mayang.


"Maaf Bu, Devan baru bisa datang," ucap Devan dengan sopan.


"Tidak apa, Nak. Ibu tahu pekerjaan kamu pasti sangat banyak," Rose memahami pekerjaan sang menantu yang selalu memaksa Devan untuk turun tangan langsung. Devan pun berbincan sebentar dengan sang ibu mertua.


"Sudah, Nak Devan," jawab Dika dengan gugup.


"Kenapa duduknya berjauhan? Gita apa kamu begitu takut dengan kedua mertua kamu? Apa kamu takut mereka akan mencelakai kamu, meski dikeramaian begini?" tanya Devan seraya menatap Gita. Sedangkan Gita nampak gelisah, karena Devan bisa menebak apa yang dipikirkannya.


"Tenanglah Gita, itu semua tidak akan terjadi, masa iya sih ada orang tua yang mau mencelakai istri dari putranya, juga calon keturunannya?" ujar Devan, lalu tatapannya beralih pada Dika dan Desi. "Bukan begitu, Pak Dika dan bu Desi?" pertanyaan yang Devan layangkan kepada Dika dan Desi, nyatanya membuat mereka sontak terkejut bersamaan.


"I-iya, Nak Devan. Kami mana ada pikiran ke sana," jawab Dika mencoba untuk bersikap dengan tenang.


Mereka pun kembali berbinang, entah perbincangan apapun, soal pekerjaan dan lain hal. Karena hari sudah cukup sore, Devan pun berpamitan untuk membawa sang istri dan juga Mayang, untuk pulang. Devan yakin, sedari tadi Anyelir belum istirahat.


"Dev, Ibu pulang nanti ya, Ibu mau jenguk temen Ibu juga soalnya," izin Mayang, kebetulan ada salah satu teman arisan Mayang yang juga masuk rumah sakit, tapi beda rumah sakit dengan Rose, dan teman-temannya juga tengah menjenguk. Jadi, Mayang berinisiatif menyusul.


"Ya sudah, Ibu sama anak buah Devan aja ya?" ujar Devan dan disetujui oleh Mayang. Mayang pergi dengan supir pribadi, lalu di belakang mobil Mayang ada mobil lain yang mengikuti, yaitu anak buahnya.


"Ayo pulang." Devan menuntun Anyelir untuk masuk ke dalam mobil, sedari tadi Anyelir masih diam, dia ingin melihat, apakah Devan akan menceritakan sesuatu padanya atau tidak.


"Sayang, kamu kenapa sih? Dari tadi diam aja," akhirnya Devan menyadari, ada hal yang berbeda dari Anyelir.


"Jujur sama aku, Mas. Ada apa sebenarnya, kenapa kamu seolah sedang menjaga aku dan ibu. Kemanapun kami pergi, pasti ada pengawalan, dan bahkan bukan hanya itu. Bahkan Kak Gita, juga mendapatkan pengawalan itu, sampai asisten rumah tangga juga. Ini sebenarnya ada apa?" Anyelir terus mendesak Devan untuk menceritakan semuanya, sedangkan Devan nampak masih gamang untuk menceritakan semuanya kepada Anyelir, dia takut kalau Anyelir nantinya khawatir dengan kondisi Ibunya.


"Sayang, aku hanya sedang berjaga-jaga, aku nggak mau kejadian buruk terjadi pada kalian. Bukannya kita harus sedia payung sebelum hujan? Dan ini yang sedang aku lakukan," jawab Devan.


"Aku kenal kamu , Mas. Nggak mungkin kamu ngelakuin ini, tanpa sesuatu alasan. Kamu sudah menemukan bukti baru, dari kasus kecelakaan ibu?" Anyelir, nampaknya masih belum puas dengan jawaban Devan.


"Tu-Tuan saya mohon, maafkan saya. Saya tidak tahu kalau itu ibu  mertua anda, dan saya juga tidak sengaja, Tuan," si pelaku mencoba mengiba pada Devan.


"Benarkah, kau tidak tahu menahu soal itu? Dan kau tidak sengaja?" tanya Devan seolah meragukan.


"I-iya Tuan, saya tidak sengaja," jawab si pelaku dengan nada meyakinkan.


"Bukan karena ada yang menyuruh mu?" tanya Devan lagi, kali ini dia sengaja menekan setiap perkataannya. Mendengar perkataan Devan, sontak si pelaku membelalakkan matanya, nampaknya dia cukup terkejut.


"Kau ingin memberitahukan kepadaku secara langsung, dan kau mendapatkan keringanan hukuman? Atau, aku bertindak sendiri, dan kau akan mendapatkan hukuman jauh lebih berat?" Devan memberikan penawaran.


"Jawab!" bentak Felix, dia memberikan pukulan tepat di wajah si pelaku, membuat si pelaku sampai terhuyung ke belakang. Baru satu pukulan dan Devan memberikan kode kepada Felix untuk menghentikan semuanya.


"Berapa bayaran yang dia berikan, sampai kau masih terus tutup mulut?" tanya Devan sekali lagi.


"Saya akan terus tutup mulut, saya yakin anda pasti belum menemukan orangnya, kan?" si pelaku mulai bermain dengan Devan, dan membuat Devan meradang.


"Kau memang tidak bisa diajak bicara baik-baik," desis Devan.


"Kurung dia di sini, kita tunggu sampai lusa," titah Devan kepada anak buahnya. Devan, Felix dan anak buah lain meninggalkan tempat itu, dan menyisakan beberapa orang untuk berjaga.

__ADS_1


Devan pulang dalam keadaan kesal karena dia tidak bisa mendapatkan informasi apapun, dan dia belum bisa menemukan siapa dalan yang sudah merencanakan itu semua, dan apa motifnya. Devan merasa belum bisa tenang, jika dia belum menguak dengan tuntas kasus tersebut.


"Apa yang akan kita lakukan dengan dia, Tuan?" tanya Felix, dia menunggu perintah selanjutnya.


"Ikuti orang tua Arman, aku mau mendapatkan informasi tentang mereka setiap harinya, di mulai saat ini," titah Devan, dan langsung disanggupi oleh Felix. Felix segera menghubungi anak buahnya, dan membagi menjadi dua tim.


-//-


Devan menghembuskan napasnya perlahan, dia sudah tiba di rumah sakit, tempat di mana Rose di rawat. Dia sudah mendapatkan kabar dari Anyelir, bahwa sang ibu mertua sudah siuman, dan kondisinya sudah jauh lebih baik. Devan memastikan bahwa raut wajah kesalnya tidak terlihat, karena tidak mau Anyelir menjadi kepikiran.


"Assalammualaikum." Devan masuk seraya mengucapkan salam, semua orang terlihat menatap ke arahnya. Ternyata di ruangan Rose sudah ada banyak orang, termasuk Arman dan kedua orang tuanya, sedangkan Anyelir dan Gita duduk bersama dengan Mayang.


"Maaf Bu, Devan baru bisa datang," ucap Devan dengan sopan.


"Tidak apa, Nak. Ibu tahu pekerjaan kamu pasti sangat banyak," Rose memahami pekerjaan sang menantu yang selalu memaksa Devan untuk turun tangan langsung. Devan pun berbincan sebentar dengan sang ibu mertua.


"Sudah, Nak Devan," jawab Dika dengan gugup.


"Kenapa duduknya berjauhan? Gita apa kamu begitu takut dengan kedua mertua kamu? Apa kamu takut mereka akan mencelakai kamu, meski dikeramaian begini?" tanya Devan seraya menatap Gita. Sedangkan Gita nampak gelisah, karena Devan bisa menebak apa yang dipikirkannya.


"Tenanglah Gita, itu semua tidak akan terjadi, masa iya sih ada orang tua yang mau mencelakai istri dari putranya, juga calon keturunannya?" ujar Devan, lalu tatapannya beralih pada Dika dan Desi. "Bukan begitu, Pak Dika dan bu Desi?" pertanyaan yang Devan layangkan kepada Dika dan Desi, nyatanya membuat mereka sontak terkejut bersamaan.


"I-iya, Nak Devan. Kami mana ada pikiran ke sana," jawab Dika mencoba untuk bersikap dengan tenang.


Mereka pun kembali berbinang, entah perbincangan apapun, soal pekerjaan dan lain hal. Karena hari sudah cukup sore, Devan pun berpamitan untuk membawa sang istri dan juga Mayang, untuk pulang. Devan yakin, sedari tadi Anyelir belum istirahat.


"Dev, Ibu pulang nanti ya, Ibu mau jenguk temen Ibu juga soalnya," izin Mayang, kebetulan ada salah satu teman arisan Mayang yang juga masuk rumah sakit, tapi beda rumah sakit dengan Rose, dan teman-temannya juga tengah menjenguk. Jadi, Mayang berinisiatif menyusul.


"Ya sudah, Ibu sama anak buah Devan aja ya?" ujar Devan dan disetujui oleh Mayang. Mayang pergi dengan supir pribadi, lalu di belakang mobil Mayang ada mobil lain yang mengikuti, yaitu anak buahnya.


"Ayo pulang." Devan menuntun Anyelir untuk masuk ke dalam mobil, sedari tadi Anyelir masih diam, dia ingin melihat, apakah Devan akan menceritakan sesuatu padanya atau tidak.


"Sayang, kamu kenapa sih? Dari tadi diam aja," akhirnya Devan menyadari, ada hal yang berbeda dari Anyelir.


"Jujur sama aku, Mas. Ada apa sebenarnya, kenapa kamu seolah sedang menjaga aku dan ibu. Kemanapun kami pergi, pasti ada pengawalan, dan bahkan bukan hanya itu. Bahkan Kak Gita, juga mendapatkan pengawalan itu, sampai asisten rumah tangga juga. Ini sebenarnya ada apa?" Anyelir terus mendesak Devan untuk menceritakan semuanya, sedangkan Devan nampak masih gamang untuk menceritakan semuanya kepada Anyelir, dia takut kalau Anyelir nantinya khawatir dengan kondisi Ibunya.


"Sayang, aku hanya sedang berjaga-jaga, aku nggak mau kejadian buruk terjadi pada kalian. Bukannya kita harus sedia payung sebelum hujan? Dan ini yang sedang aku lakukan," jawab Devan.


"Aku kenal kamu , Mas. Nggak mungkin kamu ngelakuin ini, tanpa sesuatu alasan. Kamu sudah menemukan bukti baru, dari kasus kecelakaan ibu?" Anyelir, nampaknya masih belum puas dengan jawaban Devan.


"Tu-Tuan saya mohon, maafkan saya. Saya tidak tahu kalau itu ibu  mertua anda, dan saya juga tidak sengaja, Tuan," si pelaku mencoba mengiba pada Devan.


"Benarkah, kau tidak tahu menahu soal itu? Dan kau tidak sengaja?" tanya Devan seolah meragukan.


"I-iya Tuan, saya tidak sengaja," jawab si pelaku dengan nada meyakinkan.


"Bukan karena ada yang menyuruh mu?" tanya Devan lagi, kali ini dia sengaja menekan setiap perkataannya. Mendengar perkataan Devan, sontak si pelaku membelalakkan matanya, nampaknya dia cukup terkejut.


"Kau ingin memberitahukan kepadaku secara langsung, dan kau mendapatkan keringanan hukuman? Atau, aku bertindak sendiri, dan kau akan mendapatkan hukuman jauh lebih berat?" Devan memberikan penawaran.


"Jawab!" bentak Felix, dia memberikan pukulan tepat di wajah si pelaku, membuat si pelaku sampai terhuyung ke belakang. Baru satu pukulan dan Devan memberikan kode kepada Felix untuk menghentikan semuanya.


"Berapa bayaran yang dia berikan, sampai kau masih terus tutup mulut?" tanya Devan sekali lagi.


"Saya akan terus tutup mulut, saya yakin anda pasti belum menemukan orangnya, kan?" si pelaku mulai bermain dengan Devan, dan membuat Devan meradang.


"Kau memang tidak bisa diajak bicara baik-baik," desis Devan.


"Kurung dia di sini, kita tunggu sampai lusa," titah Devan kepada anak buahnya. Devan, Felix dan anak buah lain meninggalkan tempat itu, dan menyisakan beberapa orang untuk berjaga.


Devan pulang dalam keadaan kesal karena dia tidak bisa mendapatkan informasi apapun, dan dia belum bisa menemukan siapa dalan yang sudah merencanakan itu semua, dan apa motifnya. Devan merasa belum bisa tenang, jika dia belum menguak dengan tuntas kasus tersebut.


"Apa yang akan kita lakukan dengan dia, Tuan?" tanya Felix, dia menunggu perintah selanjutnya.


"Ikuti orang tua Arman, aku mau mendapatkan informasi tentang mereka setiap harinya, di mulai saat ini," titah Devan, dan langsung disanggupi oleh Felix. Felix segera menghubungi anak buahnya, dan membagi menjadi dua tim.


-//-


Devan menghembuskan napasnya perlahan, dia sudah tiba di rumah sakit, tempat di mana Rose di rawat. Dia sudah mendapatkan kabar dari Anyelir, bahwa sang ibu mertua sudah siuman, dan kondisinya sudah jauh lebih baik. Devan memastikan bahwa raut wajah kesalnya tidak terlihat, karena tidak mau Anyelir menjadi kepikiran.


"Assalammualaikum." Devan masuk seraya mengucapkan salam, semua orang terlihat menatap ke arahnya. Ternyata di ruangan Rose sudah ada banyak orang, termasuk Arman dan kedua orang tuanya, sedangkan Anyelir dan Gita duduk bersama dengan Mayang.


"Maaf Bu, Devan baru bisa datang," ucap Devan dengan sopan.


"Tidak apa, Nak. Ibu tahu pekerjaan kamu pasti sangat banyak," Rose memahami pekerjaan sang menantu yang selalu memaksa Devan untuk turun tangan langsung. Devan pun berbincan sebentar dengan sang ibu mertua.


"Sudah, Nak Devan," jawab Dika dengan gugup.


"Kenapa duduknya berjauhan? Gita apa kamu begitu takut dengan kedua mertua kamu? Apa kamu takut mereka akan mencelakai kamu, meski dikeramaian begini?" tanya Devan seraya menatap Gita. Sedangkan Gita nampak gelisah, karena Devan bisa menebak apa yang dipikirkannya.


"Tenanglah Gita, itu semua tidak akan terjadi, masa iya sih ada orang tua yang mau mencelakai istri dari putranya, juga calon keturunannya?" ujar Devan, lalu tatapannya beralih pada Dika dan Desi. "Bukan begitu, Pak Dika dan bu Desi?" pertanyaan yang Devan layangkan kepada Dika dan Desi, nyatanya membuat mereka sontak terkejut bersamaan.


"I-iya, Nak Devan. Kami mana ada pikiran ke sana," jawab Dika mencoba untuk bersikap dengan tenang.


Mereka pun kembali berbinang, entah perbincangan apapun, soal pekerjaan dan lain hal. Karena hari sudah cukup sore, Devan pun berpamitan untuk membawa sang istri dan juga Mayang, untuk pulang. Devan yakin, sedari tadi Anyelir belum istirahat.


"Dev, Ibu pulang nanti ya, Ibu mau jenguk temen Ibu juga soalnya," izin Mayang, kebetulan ada salah satu teman arisan Mayang yang juga masuk rumah sakit, tapi beda rumah sakit dengan Rose, dan teman-temannya juga tengah menjenguk. Jadi, Mayang berinisiatif menyusul.


"Ya sudah, Ibu sama anak buah Devan aja ya?" ujar Devan dan disetujui oleh Mayang. Mayang pergi dengan supir pribadi, lalu di belakang mobil Mayang ada mobil lain yang mengikuti, yaitu anak buahnya.


"Ayo pulang." Devan menuntun Anyelir untuk masuk ke dalam mobil, sedari tadi Anyelir masih diam, dia ingin melihat, apakah Devan akan menceritakan sesuatu padanya atau tidak.


"Sayang, kamu kenapa sih? Dari tadi diam aja," akhirnya Devan menyadari, ada hal yang berbeda dari Anyelir.


"Jujur sama aku, Mas. Ada apa sebenarnya, kenapa kamu seolah sedang menjaga aku dan ibu. Kemanapun kami pergi, pasti ada pengawalan, dan bahkan bukan hanya itu. Bahkan Kak Gita, juga mendapatkan pengawalan itu, sampai asisten rumah tangga juga. Ini sebenarnya ada apa?" Anyelir terus mendesak Devan untuk menceritakan semuanya, sedangkan Devan nampak masih gamang untuk menceritakan semuanya kepada Anyelir, dia takut kalau Anyelir nantinya khawatir dengan kondisi Ibunya.


"Sayang, aku hanya sedang berjaga-jaga, aku nggak mau kejadian buruk terjadi pada kalian. Bukannya kita harus sedia payung sebelum hujan? Dan ini yang sedang aku lakukan," jawab Devan.


"Aku kenal kamu , Mas. Nggak mungkin kamu ngelakuin ini, tanpa sesuatu alasan. Kamu sudah menemukan bukti baru, dari kasus kecelakaan ibu?" Anyelir, nampaknya masih belum puas dengan jawaban Devan.

__ADS_1


__ADS_2