Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Menahan sakit hati


__ADS_3

“Ta-,” Laura hendak menolak, namun Mayang pun bersuara dan mendukung Devan.


“Iya Nak, kamu mandi dulu,” saran Mayang, akhirnya Laura tidak bisa menolak dan menurut. Setelah Laura pergi, kini Devan meminta ibunya untuk masuk lebih dulu dan meminum obatnya.


“Sebentar ya Nak,” pamit Mayang dan diangguki oleh Anyelir. Setelah memastikan ibunya pergi, Devan mendekati Anyelir.


“Ponsel kamu tertinggal sayang,” dengan lembut Devan mengelus pipi Anyelir, tidak lupa dia memberikan ponsel Anyelir.


“Jangan sedih, nanti di rumah biar aku hibur kamu ya?” ujar Devan lagi, dan hanya diangguki oleh Anyelir. Devan kembali ke tempat semula, menjauh dari Anyelir, karena takut ibunya kembali dan melihat mereka berdua.


Kini Anyelir sudah bersama dengan Mayang, namun tiba-tiba saja ponsel Anyelir berdering, Anyelir pun berpamitan dengan sopan kepada Mayang untuk menerima panggilan telepon.


‘Ayah?’ batin Anyelir, firasatnya merasa tidak enak, karena tidak biasanya Agam menghubungi Anyelir malam hari.


[“Halo Ayah?”] suara lembut Anyelir menyapa pendengaran Agam, membuat Agam menitikkan air matanya karena merasa rindu dengan putri bungsunya.


[“Ayah? Ayah baik-baik saja kan?”] tanya Anyelir risau.


[“Ayah merindukan kamu Nak,”] akhirnya Agam mengatakan apa yang dirasanya, perasaan Anyelir tiba-tiba saja menjadi sendu, dia tahu saat ini kondisi ayahnya tidak baik-baik saja.


[“Anyelir juga rindu Ayah, tunggu Anyelir ya Yah, Anyelir ke rumah sekarang,”] ucap Anyelir, membuat Agam tentu saja bahagia.


[“Kamu menginap ya Nak?”] pinta Agam, dan tentu Anyelir mengabulkan permintaan ayahnya. Setelah panggilan telepon berakhir, Anyelir pun mendekat kearah Mayang untuk berpamitan.


“Sering-sering main ya Nak,” ujar Mayang kepada Anyelir.


“Iya Bu, nanti Anyelir usahakan,” jawab Anyelir, setelah itu dia mencium tangan Anyelir dan berpamitan. Dalam mobil, dia mengirim pesan untuk Devan suaminya.


[Sayang, aku pamit ke rumah ayah, tadi ayah telepon aku dan dia bilang merindukan aku. Firasat ku tidak enak, dan aku putuskan ke sana, kalau boleh aku menginap ya?] Anyelir mengirim pesan tersebut dan berharap Devan memberikannya izin.


[Iya sayang, hati-hati] jawaban Devan membuat Anyelir lega, karena Devan memberikannya izin.

__ADS_1


“Jadi, Ibu sudah tahu soal Anyelir?” tanya Laura setelah Devan masuk ke dalam kamarnya. Laura sengaja menunggu Devan di kamar tamu, kamar yang Devan gunakan.


“Bukan urusanmu,” jawab Devan dengan malas.


“Ini urusan aku Devan, aku juga istri kamu, apa kamu lupa?!” seru Laura kesal, dia kesal karena Devan terus mengabaikannya dan Laura kesal karena Devan terus saja bersikap ketus padanya.


“Aku tidak perduli,” jawab Devan dengan malas, dia malah melangkah menuju kamar mandi.


“Benarkah? Bagaimana kalau aku memberitahukan semuanya pada ibu?” ujar Laura menantang, membuat Devan menghentikkan langkah kakinya.


“Lakukanlah, kalau kau memang sudah bosan menjadi istriku,” tanpa menoleh sedikitpun Devan berucap, kemudian dia pun kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kamar mandi. Laura begitu kesal, dia mengepalkan tangannya kuat, begitu frustasi memikirkan masalahnya.  Laura pikir, dengan ancamannya tadi, Devan akan goyah, namun pemikirannya salah, Devan sama sekali tidak takut sedikitpun dan malah ancaman itu berbalik padanya.


‘Aku tidak boleh gegabah, kalau aku memberitahukan pada ibu, maka tamat riwayatku. Devan bisa saja langsug menceraikan aku,’ batin Laura frustasi.


‘Aku harus memikirkan cara lain,’ Laura tidak akan menyerah untuk bisa menghancurkan rumah tangga Anyelir dengan Devan, dengan begitu dia bisa mengambil hati Devan lagi dan selamanya dia bisa menjadi istri Devan satu-satunya.


‘Aku sudah mendapatkan restu ibu, aku hanya tinggal memanfaatkan kedekatanku dengan ibu, dengan begitu aku akan aman,’ Laura tersenyum smrik. Setidaknya untuk saat ini dia merasa aman, karena masih punya Mayang yang menjadi senjatanya.


“Bu, Devan pamit pergi ya? ada beberapa urusan,” izin Devan.


“Ini sudah malam Nak,” ujar Mayang, dia heran dengan Devan, dan merasa Devan mulai gila kerja.


“Ini malam penting Bu, dan sebenanrnya Devan pulang juga untuk mengambil beberapa dokumen,” Devan memperlihatkan beberapa dokumen yang sebenarnya itu kosong.


“Ibu tahu, kamu sudah sangat bekerja keras untuk semua ini. tapi, luangkan juga waktu untuk Laura, bagaimana pun kalian sudah menikah dan kalian masih harus tetap menjaga keromantisan dan kehangatan rumah tangga kalian,” saran Mayang.


“Iya Bu,” jawab Devan, dia langsung mencium tangan dan kening ibunya lalu beranjak pergi.


‘Kehangatan? Cinta? Romantic? Itu semua sudah tidak bisa aku rasakan lagi Bu bersama dengan Laura, karena sekarang semua sudah tergantikan dengan kehadiran Anyelir,’ batin Devan seraya berlalu pergi.


Rupanya, Lauara melihat Devan pergi dari balkon kamar, Laura bersedekap dada dan menatap Devan dengan tatapan kesal. Laura jelas tahu ke mana Devan akan pergi, menyusul Anyelir.

__ADS_1


**


Kini Anyelir sudah tiba di kediaman Agam, dia mengetuk pintu dengan perlahan, dan tidak lama asisten rumah tangga nampak membuka pintu. Agam yang mendengar bel rumah berbunyi, langsung berlari keluar kamar untuk menemui putrinya.


“Ayah ada?” tanya Anyelir seraya masuk.


“Ada Nona, mari.”


Agam berlari, dan membuat Gita, Arman, serta Rose yang masih duduk di ruang keluarga terkejut. Mereka mencoba bertanya, namuan Agam enggan menjawab.


“Ayah kenapa Bu?” tanya Arman was-was.


“Nggak tahu,” jawab Rose, dia pun segera menyusul Agam, karena takut terjadi sesuatu, Gita dan Arman pun ikut menyusul. Namun, saat mereka sampai di depan pintu, mereka melihat Agam yang tengah memeluk Anyelir.


‘Anyelir? Ngapain sih dia ke sini?’ batin Gita kesal.


“Anyelir?” Rose mendekati putrinya, Anyelir masih dengan sopan mencium tangan Rose, karena biar bagaimanapun Rose adalah ibunya, wanita yang harus Anyelir hormati.


“Kamu datang dengan siapa Nak?” tanya Agam, pasalnya ini sudah cukup malam dan Agam cukup khawatir dengan putrinya.


“Sama supir Yah, tapi tadi supir sudah pulang,” jawab Anyelir sembari tersenyum.


“Tidak bersama Devan?” tanya Rose.


“Nggak Bu, mala mini adalah penting, karena acara ulang tahun perusahaan,” ujar Anyelir menjelaskan.


“Oh iya? Bukannya karena lagi sibuk sama yang lain?” sindir Gita, dia tahu Devan punya dua istri, dan selama ini yang Gita tahu, Devan tidak mencintai Anyelir. Sebab Anyelir hanya dijadikan sebagai penebus hutang.


“Gita!” hardik Agam, dia tidak suka jika Gita selalu saja menyudutkan Anyelir, padahal semua yang terjadi dalam kehidupan Anyelir, adalah demi keluarga.


“Kamu nggak berperan apapun dalam keluarga, jadi sebaiknya kamu diam! Di sini, Anyelir yang paling berjasa, tapi kamu terus saja menyudutkan dia! Harusnya kamu sadar diri!” ujar Agam, perkataannya pedas karena  Agam tidak punya cara lain. Selama ini Gita terus saja menggunjingkan Anyelir, menyudutkan Anyelir dan menjelekkan nama Anyelir di depan Arman dan keluarganya.

__ADS_1



__ADS_2