Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Gagal


__ADS_3

Sedangkan saat ini, anak buah yang ditugaskan oleh Devan sudah mulai menyadari bahwa pelaku itu sudah kabur, mereka terus mencari keberadaannya, dan tidak lupa melaporkan keteledoran mereka, kepada Felix.


["Kabur?!"] Felix sangat terkejut, baru saja dia hendak beristirahat, namun dia justru mendapatkan laporan mengejutkan dari anak buahnya. Setelah mendapatkan laporan dariĀ  anak buahnya, Felix meminta mereka untuk tetap mencari, Felix yakin si pelaku yang sudah menbrak Rose, tidak akan bisa keluar dari hutan itu.


'Sebaiknya, aku jangan menghubungi, Tuan Devan. Katanya, Nyonya Anyelir sudah mulai curiga, sebaiknya aku ke sana sendiri,' batin Felix, dia pun segera bergegas pergi menuju lokasi.


Si pelaku itu, masih terus mencari jalan keluar, dia merasa bahwa dirinya terus saja berputar, tidak menemukan arah jalan raya. Napasnya bahkan sudah terengah-engah karena kelelahan.


"Sudah menyerah?" suara yang begitu familiar terdengar di telinga si pelaku.


"Tu-Tuan?" si pelaku terkejut, melihat kedatangan Felix bersama dengan gerombolan anak buahnya.


"Kau pikir kau bisa kabur, hah!" sentak Felix, dia mencengkram dengan kuat kerah si pelaku itu, dan dengan tatapan marah Felix segera menyeretnya.

__ADS_1


"Ikat dia," titah Felix.


"Tuan, saya mohon lepaskan saya!" raung si pelaku mencoba melawan. Namun tenaganya sudah terkuras habis, bahkan hanya untuk melawan satu anak buah saja, dia tidak mampu.


"Bukankah Tuan Devan sudah memberikan kamu pilihan? Kau mau buka mulut, atau tetap terkurung di sini?" tanya Felix dengan nada sinis. Si pelaku kembali terdiam, entah apa yang dia dapatkan sampai dia masih saja bungkam.


"Baiklah, kau masih keras kepala, kan? Jadi ikat dia dan tutup matanya," titah Felix lagi.


"Tuan, kau tidak akan menemukan siapa pelakunya, dan meskipun kalian mengurung ku di sini, itu tidak akan menghasilkan apapun!" raung si pelaku itu lagi, namun dengan begitu santai Felix mengambil sebatang rokok, dan juga pemantik.


"Bawa dia," titah Felix lagi, dia hendak melangkah pergi namun suara si pelaku kembali terdengar.


-//-

__ADS_1


Devan masih terjaga, padahal malam sudah larut, bahkan Anyelir sudah tidur sejak 2 jam lalu. Mata Devan masih saja segar, dia seolah belum menemukan titik lelahnya, membuat Devan harus berkali-kali mencoba memejamkan matanya.


'Apa aku terlalu memikirkan siapa pelakunya? Sampai aku tidak bisa tidur begini?' batin Devan, dia pun beranjak dari tempat tidur, dan melangkah keluar kamar. Devan melihat tv yang masih menyala, menandakan ada seseorang di ruang tengah.


"Bu?" lirih Devan, dan seketika Mayang menoleh ke arahnya.


"Loh Devan, kamu belum tidur?" tanya Mayang.


Devan melangkah mendekati ibunya, lalu duduk di sofa singgle. "Belum ngantuk, Bu. Nggak tahu kenapa," jawab Devan seraya mengusap pelipisnya.


"Kamu kebanyakan pikiran?" tebak Mayang.


"Entahlah, Bu. Devan merasa masalah ini cukup menggangu, Devan khawatir kalau pelaku utamanya belum tertangkap, bisa-bisa dia melakukan tindakan lain," ujar Devan mengatakan apa yang sebenarnya cukup mengganggu pikirannya saat ini. Ditambah lagi, Ayelir yang mulai curiga. Devan tidak mau memberitahukan hal ini kepada Anyelir, bukan karena hal lain, selain karena dia khawatir dengan kesehatan sang istri, yang pasti akan berdampak juga pada kesehatan janin anak mereka.

__ADS_1


"Ibu yakin, saat itu pelaku utama itu sedang was-was, karena orang yang mereka bayar untuk mencelakai ibu Rose, justru menghilang," kata Mayang.


"Hilang? Apanya yang hilang?"


__ADS_2