Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Siapa dia?


__ADS_3

"Makanan datang!" Arman langsung menghidangkan nasi goreng buatannya di depan Gita. Aroma nasi goreng yang begitu menggugah selera, membuat Gita semakin tidak sabar mencicipi nasi goreng buatan Arman.


"Wah, pasti nasi goreng kamu enak banget, udah ketahuan dari harumnya," puji Gita, membuat Arman langsung malu-malu.


"Sayang, jangan dipuji dulu, aku takut rasanya nggak sesuai sama apa yang kamu suka," kata Arman was-was.


"Enggak mungkin, aku yakin masakan suami aku itu paling enak," lagi-lagi Gita memuji Arman, membuat senyum Arman semakin merekah. Tidak menunggu lama, Gita segera mencicipi nasi goreng buatan sang suami. Satu suapan akhirnya masuk ke dalam mulut Gita, dan ekspresinya langsung terkejut.


"Gimana, nggak enak ya sayang?" tanya Arman dengan was-was.


"Enak banget, sayang. Ini bahkan nasi goreng paling enak yang pernah aku makan," kembali Gita melontarkan pujian untuk sang suami, membuat Arman semakin dimabuk kepayang. Pagi itu, di meja makan, penuh dengan kata-kata pujian nan romantis, membuat dua pelayan yang ada di kediaman Arman dan Gita, diam-diam tersenyum melihat bagaimana pasangan sejoli itu, masih saja terlihat seperti pengantin baru.


"Oh iya, tadi Arman juga hidangin dua porsi, katanya buat kalian. Kalian coba deh, pasti suka," kata Gita kepada dua pelayannya. Arman sendiri baru saja berpamitan untuk berangkat ke rumah sakit.

__ADS_1


"Terimakasih Nyonya, pasti kami makan," jawab pelayan.


"Jangan nanti, dimakan sekarang aja, masalah kerjaan nggak akan ada habisnya, mending ditinggal dulu aja," saran Gita, dia memang sudah berubah jauh lebih baik, dan bahkan bisa begitu perduli dengan dua pelayannya.


"Baik Nyonya, terimakasih banyak," pelayan pun menuruti saran dari Gita, mereka menghentikan pekerjaan sejenak yang memang masih bisa ditinggal. Sedangkan Gita kini tengah berada di ruang tengah, menonton acara berita pagi. Sejenak, Gita teringat dengan adiknya, Anyelir.


"Anyelir lagi apa ya? Hari ini dia mau ke rumah sakit nggak ya?" Gita pun mencoba untuk menghubungi Anyelir, ternyata ANyelir berniat untuk ke rumah sakit hari ini. Dan akhirnya, mereka berdua membuat janji temu di sana.


-//-


"Bagaimana, apa ada kecurigaan yang kalian dapatkan?" tanya Devan dengan tatapan serius.


"Ada, Tuan. Ada kejanggalan, di mana ibu Desi, datang ke rumah sakit Citra Medika setiap hari, dan menemui salah satu pasien di sana," jawab salah satu anak buah.

__ADS_1


"Pasien? Kalian sudah dapatkan data dirinya?" tanya Devan semakin penasaran.


"Kami tidak bisa mengulik informasi lebih banyak, kami hanya bisa mendapatkan fotonya dan nama panggiannya saja. Untuk kejelasan, apa hubungan wanita itu dengan Desi, kami sama sekali tidak tahu," kata anak buah Devan.


Devan menerima beberapa foto wanita itu, yang mana wanita itu terlihat tengah mengobrol dengan Desi, dan wanita itu juga nampaknya tengah hamil besar.


"Kita ke tempat penyekapan," Devan langsung berdiri dari tempat duduknya, dan menuju ke tempat di mana dia menyekap seorang lelaki, yang tidak lain pelaku yang sudah mencelakai Rose. Felix sendiri bingung, kenapa Devan tiba-tiba bergegas menuju ke tempat penyekapan setelah melihat foto tersebut? Namun, dia juga tidak banyak bertanya, yang jelas Felix akan langsung mendapatkan jawabannya nanti.


-//-


"Gimana kabar Ibu?" sekarang Anyelir dan Gita sudah ada di rumah sakit, mereka tengah berbincang dengan Rose yang sepertinya, keadaannya sudah jauh lebih baik.


"Ibu baik, kalian juga baik, kan?" tanya Rose kepada kedua putrinya. Rose sama sekali tidak membedakan antara anak kandung dan anak tirinya, baginya Gita juga adalah putrinya, titipan dari mendiang ibu Gita.

__ADS_1


__ADS_2