Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Tragedi makan siang


__ADS_3

“Aku harus jelaskan kepada Ibu lebih dulu,” pinta Anyelir seraya terisak.


“Ibu tidak akan mendengar penjelasan kamu Anyelir, mengertilah,” ucap Devan, Devan meminta pada Felix untuk membawa Anyelir ke mobil, sedangkan Devan akan berbicara lebih dulu dengan Mayang.


“Kamu mengecewakan Ibu, Devan,” itu lah kalimat pertama yang muncul dari bibir Mayang.


“Devan mencintai Anyelir, dan asal Ibu tahu, Anyelir tidak pernah merebut Devan dari Laura. Karena selama ini Devan tidak pernah mecintai Laura,” akhirnya Devan mengatakan yang sejujurnya kepada Mayang, tentang perasaannya terhadap Laura. Saat itu Laura begitu terkejut, karena Devan berani mengakui di hapadapan Mayang.


“Apa maksud kamu Devan?” Mayang tidak percaya dengan perkataan putranya, karena selama ini yang Mayang tahu, Laura adalah wanita yang begitu Devan cintai.


“Laura tidak lagi ada di hati Devan bahkan saat kita menikah, kalau Ibu mau tahu alasannya? Itu semua karena dia meninggalkan Devan tepat di hari pernikahan,” ungkap Devan.


“Ti-tidak mungkin,” Mayang menggeleng, dia mencoba mengingat sesuatu hal, karen Mayang merasa, dia mengingat sesuatu namun terasa sangat samar. Tapi, semakin berusaha Mayang mengingatnya, semakin sakit kepala Mayang.


“Ibu?” Devan nampak khawatir, “Ibu kenapa?” tanya Devan seraya memegang lengan Mayang, namun Mayang tidak merespone, dia pun akhirnya pingsan dalam dekapan Devan.


“Kau memang sumber masalah,” ketus Devan. Dia membawa Mayang keluar dari restaurant dan diikuti oleh Laura.


‘Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu dengan Ibu?’ batin Laura, dia takut kalau Mayang tidak bisa lagi dimanfaatkan, namun Laura masih sangat yakin kalau Mayang tidak akan bisa setuju dengan Anyelir, dan pastinya akan lebih memilihnya menjadi istri Devan.


.


.


Anyelir di bawa ke rumah, Larissa yang melhat Anyelir pulang sembari menangis tersedu-sedu pun ikut khawatir, Larissa langsung memeluk Anyelir dan mencoba menenangkannya. Larissa begitu khawatir, karena ini kali pertamanya melihat Anyelir yang menangis begitu tersedu-sedu.


“Ada apa Nona?” tanya Larissa dengan cemas.


“Ibu-ibu sudah tahu,” jawab Anyelir seraya terisak, namun dari jawaban Anyelir, Larissa sudah paham apa maksudnya, dan kini pikiran Larissa terbagi menjadi dua. Kiranya apa yang terjadi pada nyonya besar?

__ADS_1


.


.


Sedangkan kini, Devan masih terus menunggu di luar ruang UGD, keadaan Mayang benar-benar drop, dan itu semua membuat Devan merasa bersalah.


‘Harusnya aku tidak membiarkan Ibu bersama Laura, karena akhirnya akan begini,’ batin Devan penuh sesal, dia menatap Laura yang saat ini tengah duduk tidak jauh darina, dicengkramnya lengan Laura dengan kuat sampai Laura meringis kesakitan.


“Kalau sampai terjadi sesuatu pada ibu, maka kau akan tahu akibatnya!” bentak Devan, dari sorot matanya sangat terlihat kalau Devan begitu marah dengan Laura. Dengan tubuh bergetar, Laura menjatuhkan tubuhnya di kursi, sekarang dia merutuki kebodohannya.


‘Gawat, harusnya aku benar-benar bisa menahan diriku, agar tidak terjadi hal seperti ini, bodoh kau Laura,’ batin Laura penuh sesal, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Devan jika benar terjadi sesuatu pada Mayang.


“Bagaimana keadaan Ibu?” Devan langsung bertanya kepada Dokter, karena kini Dokter baru saja keluar dari ruangan Mayang.


“Kondisi nyonya Mayang, sangat lemah Tuan, dan saat ini beliau sedang beritirahat total. Saran saya, Tuan tidak menemui Ibu Mayang lebih dulu, sebab akan fatal akibatnya jika memaksa Ibu Mayang berbicara,” ujar Dokter memberikan saran. Seketika Devan memundurkan langakhnya.


“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Devan, dia nampak berputus asa.


“Kalian bawa dia, dan amankan,” titah Devan kepada salah satu anak buahnya, Devan meminta anak buahnya untuk mengamankan Laura, dan tidak membiarkan Laura pergi ke manapun.


“Devan, aku mohon jangan kurung aku. Aku khawatir dengan kondisi Ibu,” pinta Laura dengan memohon. Devan kembali tersulut emosi, dia mengcengkram dagu Laura dan menatapnya dengan tajam.


“Kau bilang kau perduli dengan ibu? Hm?” suara Devan memang pelan, namun penuh penekanan dan  terkesan dingin, karena sebenarnya dia tengah menahan gejolak emosi, supaya tidak meluap. Dengan berlinang air mata, Laura mengangguk.


“Iya Dev, biarkan aku menjaga ibu di sini,” pinta Laura lagi.


“Aku justru lebih takut, kalau ibuku harus dijaga oleh ****** sepertimu,” Devan menepiskan Dagu Laura dengan kuat, untung saja Laura bisa menahannya. Sekali lagi, Devan memberikan kode, agar anak buahnya segera membawa Laura ke rumah dan mengurungnya.


Sedangkan Devan masih berada di rumah sakit, dia menatap wajah ibunya lewat kaca, Devan sangat berharap Ibunya bisa segera siuman. Banyak hal yang ingin Devan jelaskan, Devan juga ingat, betapa inginnya Anyelir diakui oleh Mayang, bahwa dia juga menantu Mayang.

__ADS_1


‘Bu, andai saja ibu mengenal Anyelir, aku yakin ibu akan suka dengannya,’ batin Devan.


“Jaga ibuku dengan baik, dan jika ada sesautu hal yang terjadi, kabari aku segara,” titah Devan kepada salah satu perawat.


“Baik Tuan.”


Devan segera pergi menuju kediamannya dengan Anyelir, selama perjalanan dia terus menghubungi Felix yang memang diperintahkan untuk menjaga Anyelir. Devan ingin tahu bagaimana keadaan Anyelir saat ini, karena setahu Devan saat Anyelir pergi meninggalkan restaurant, Anyelir masih sangat bersedih, bahkan menangis terisak.


“Sayang …” Devan langsung memeluk Anyelir, yang tengah tertidur di sofa, nampaknya Anyelir kelelahan karena terlalu lama menangis, sangat terlihat karena matanya yang begitu sembab.


“De-van?” Anyelir mengerjapkan matanya, dan melihat suaminya yang tengah kini tengah duduk disamping dirinya yang tengah tertidur.


“Aww,” pekik Anyelir kesakitan sembari memegan kepalanya yang terasa berdenyut.


“Pasti karena kamu terlalu lama menangis,” Devan memilih duduk di samping Anyelir dan memijit kepalanya dengan perlahan.


“Bagaimana keadaan Ibu?” tanya Anyelir dengan cemas.


“Ibu baik-baik saja … jangan khawatir,” Devan tidak mau membuat Anyelir kepikiran dan menyalahkan dirinya, atas semua kejadian ini.


“Aku harus bertemu dengan Ibu, dan menjelaskan semuanya,” Anyelir masih bersikukuh untuk menemui Mayang, sebab dia tidak mau kalau Mayang terus salah paham dan menganggap dirinya adalah perebut suami orang.


“Itu urusan ku, aku akan berusaha untuk mendapatkan restu Ibu,” ujar Devan meyakinkan.


“Bagaimana kalau ibu tetap tidak merestui kita,” Anyelir mulai berpikiran buruk tentang hubungannya dengan Devan. Anyelir jelas tahu, seberapa besar Devan menyayangi Mayang, bahkan Devan sampai rela kembali dengan Laura dan menikahi Laura demi ibunya. Kini Anyelir berpikir, apakah mungkin Devan akan lebih memilih untuk meninggalkan Anyelir?


“Apapun itu, apapun halangannya, aku akan terus mencoba untuk mendapatkan restu ibu,” jawab Devan.


“Bagaimana kalau ibu meminta kamu untuk meninggalkan aku?” tanya Anyelir, seketika Devan terdiam.

__ADS_1


“Maka, aku akan tetap mempertahankan kamu, bahkan akan aku tunjukkan betapa besar cinta kita,” ujar Devan lagi. Mendengar jawaban Devan, membuat Anyelir tersentuh, dia langsung memeluk suaminya dengan erat.


__ADS_2