
"Entahlah, Bu. Devan merasa masalah ini cukup menggangu, Devan khawatir kalau pelaku utamanya belum tertangkap, bisa-bisa dia melakukan tindakan lain," ujar Devan mengatakan apa yang sebenarnya cukup mengganggu pikirannya saat ini. Ditambah lagi, Ayelir yang mulai curiga. Devan tidak mau memberitahukan hal ini kepada Anyelir, bukan karena hal lain, selain karena dia khawatir dengan kesehatan sang istri, yang pasti akan berdampak juga pada kesehatan janin anak mereka.
"Ibu yakin, saat itu pelaku utama itu sedang was-was, karena orang yang mereka bayar untuk mencelakai ibu Rose, justru menghilang," kata Mayang.
"Hilang? Apanya yang hilang?" Mayang dan Devan begitu terkejut, menyadari bahwa Anyelir sudah berada di anak tangga terakhir, mereka saling bersitatap.
"Nak, kamu bangun?" tanya Mayang mencoba bersikap tenang.
"Iya Bu, Anyelir haus dan kebetulan air di atas nakas habis, jadi Anyelir mau ambil minum," jelas Anyelir.
"Ya sudah, biar Devan ambilkan biar kamu ikut IBu," Mayang menuntun sang menantu menuju ke sofa, sedangkan Devan menatap Mayang dengan was-was, namun Mayang mengangguk menandakan bahwa Devan tidak perlu khawatir. Devan pun bangkit dari tempat duduknya, dan mengambilkan air untuk Anyelir.
__ADS_1
"Ibu, tadi lagi bahas apa sama mas Devan, kok aku denger ada yang hilang, apa Bu yang hilang?" tanya Anyelir masih penasaran.
"Ibu cerita masa lalu aja, Nak. Dulu Ibu pernah pergi ke luar kota, dan jalan-jalan ke wisata yang memang pelosok, sinya Ibu hilang dan Ibu was-was nggak bisa kabarin Devan yang ada di rumah," jelas Mayang, cerita itu memang ada hanya saja Mayang berbohong, bahwa sebenarnya dia tidak menceritakan hal tersebut dengan Devan. Devan datang dan mendengar penjelasan ibunya.
"Oh begitu, Bu," Anyelir menganggukkan kepalanya percaya, hal itu membuat Devan dan Mayang bernapas lega.
"Diminum dulu, sayang." Devan memberikan air minumnya kepada sang istri.
"Ya sudah, sekarang kalian istirahat ya, Ibu juga udah ngantuk," Mayang menguap, menandakan matanya sudah mulai lelah dan minta diistirahatkan.
"Iya Bu, bentar lagi Anyelir naik," Anyelir sepertinya masih tidak bisa langsung tertidur, dia butuh waktu untuk duduk sebentar.
__ADS_1
"Ya sudah, Ibu tinggal ya?" Mayang pun berpamitan untuk masuk ke kamarnya lebih dulu.
"Mas kok, bangun? Kenapa?" tanya Anyelir, dia yakin ada sesuatu yang suaminya pikirkan, dari raut wajahnya, Anyelir melihat otot wajah Devan yang menegang.
"Aku cuman mikirin kerjaan sayang,akhir-akhir ini sedang cukup padat jadwalku, aku terkadang khawatir dengan hubungan kita," ujar Devan.
"Khawatir bagaimana, Mas?" tanya Anyelir heran, dia merasa selama ini hubungannya dengan Devan baik-baik saja.
"Ya, aku jarang ada waktu buat kamu, dan aku yakin, kamu pasti bosan, kan sayang di rumah. Maaf ya aku belum bisa ajak kamu jalan-jalan," Devan padahal sudah ingin mempersiapkan liburan, untuk baby moon, namun karena ada kejadian ini, Devan ingin mengusut tuntas lebih dulu.
"Sayang, saat ini keadaan keluarga juga sedang tidak begitu baik, aku malu kalau kita justru pergi mengahabiskan watu bersama disaat seperti ini. Aku nggak masalah kamu kerja, yang penting kamu juga harus ingat dengan kesehatan," pesan Anyelir kepada Devan. Devan memang tipikal lelaki yang gila kerja, jadi ANyelir selalu siaga menyediakan obat, dan vitamin untuk Devan. Mendapatkan perhatian dan dukungan yang besar dari sang istri, membuat Devan semakin bersemangat dalam bekerja, namun Devan juga merasa bersalah karena belum bisa jujur dengan Anyelir. Tapi, Devan pastikan, jika semuanya sudah terungkap, maka Devan akan menejlaskan dengan gamblang, tanpa ada yang ditutupi lagi.
__ADS_1