
"Kak Gita?" Anyelir, menepuk bahu Gita yang tampak tengah melamun, dia tahu saat ini kakaknya tengah diterpa masalah dari pihak keluarga sang suami.
"Kakak kenapa? Masih kepikiran kejadian semalam?" tanya Anyelir, seolah tahu apa isi hati sang kakak. Akan tetapi, ternyata itu benar.
"Iya, Kakak kepikiran sama Arman, dia sepertinya cukup sedih karena kedua orang tuanya akan berpisah," jawab Gita nampak lesu.
"Memang, apa yang dilakukan oleh bu Desi, sudah sangat keterlaluan, jika dia terus dimaklumi, maka tidak akan ada efek jera untuk bu Desi," kata Anyelir, mengeluarkan pendapatnya.
"Iya, kamu benar. Tapi, sebagai seorang anak, pasti ini juga berat untuk Arman. Disaat orang tua lain dengan senang hati menyambut kelahiran cucunya, sangat jauh berbeda dengan orang tua Arman, " ungkap Gita sendu.
"Jangan dipikirkan, Kak. Masih ada ayah dan ibu kita yang akan dengan senang hati menantikan kelahiran anak Kakak, bahkan aku juga tidak sabar melihat keponakan dan anak ku bermain bersama," ucap Anyelir, berharap perkataannya bisa sedikit menghibur Gita, dan membuat Gita bisa kembali bersemangat.
__ADS_1
"Aku tahu, hanya saja rasanya kasihan melihat Arman terus merasa terpuruk," ucap Gita dengan raut wajah sendu. Bagaimana tidak, biasanya Arman yang selalu membuat Gita bersemangat dan tertawa, sekarang penyemangatnya sendiri tengah terpuruk, dan Gita merasa tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghibur Arman.
"Kak, percaya sama aku, Arman hanya butuh Kak Gita di sampingnya. Sekarang, Arman hanya butuh Kakak untuk bisa meyakinkan Arman, bahwa Kak Gita akan selalu berada di samping dia," terang Anyelir memberikan saran.
Gita menganggukkan kepalanya. "Kamu benar, sekarang ini Arman sedang membutuhkan aku, supaya aku bisa memberikan dia semangat, dan membuktikan bahwa dia tidak sendirian. Masih ada aku, yang akan selalu berada di sampingnya, mendukung dia dalam setiap langkahnya, dan ada anak kami, yang akan hadir di dunia ini, menyempurnakan kehidupan kami," ujar Gita seraya mengusap perutnya.
Anyelir tersenyum, karena akhirnya sang kakak bisa kembali bersamangat, Anyelir sangat yakin, kalau kakaknya bisa melewati semua ujian ini, yang terpenting semua keluarga memberikan dukungan.
.
.
__ADS_1
"Selamat datang sayang." ucap Gita, dia menyalami tangan Arman, tidak lupa dia juga mencium pipi suaminya.
"Ini dari adik bayi, katanya senyum semangat buat ayah," ucap Gita , seolah dia menyampaikan pesan dari anak dalam kandungannya.
Arman tersenyum dengan tingkah istriny, rasa kesal dan beban yang ada di pundaknya perlahan menghilang, Arman kembali teringat, bahwa sekarang dia punya keluarga yang membutuhkannya, jika Arman terus terpuruk, maka itu juga akan berakibat pada istrinya dan juga calon anaknya. Kalau Gita melihat Arman yang terus terpuruk, maka itu akan membuat kepikiran dan berakibat fatal pada kehamilannya.
"Aku mau mandi dulu ya, soalnya kan aku dari luar,'" kata Arman, dia takut kalau nanti dia membawa kuman penyakit yang menular, dan bisa membahayakan Gita.
"Ya sudah, ayo masuk, aku siapkan baju ganti." ajak Gita. Sebisa mungkin Gita berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya, Gita ingin menunjukkan bahwa pundaknya juga cukup kuat untuk Arman berbagi keluh kesah dengannya.
Gita sudah menyiapka air hangat untuk sang suami, selagi Arman mandi, Gita menyiapkan baju ganti. Saat Gita hendak keluar dari kamar, dia melihat ponsel Arman yang berdering, tertera nama ibunya di sana.
__ADS_1
"Bunda Desi, hubungi Arman? Ada apa ya?" lirih Gita, dia bingung apakah harus mengangkat panggilan telepon tersebut, atau membiarkannya, karena Arman juga tengah mandi sekarang.