Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Nasihat dari Ibu mertua


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, akhirnya keadaan Gita sudah dipastikan membaik. Kandungan Gita juga sudah cukup kuat, namun tetap haru berhati-hati dan banyak istirahat, biar bagaimanapun, kandungan diusia muda masih sangat rentan.


"Sayang, kita langsung pulang, kan?" tanya Gita, dia tidak mau kalau sampai harus mampir ke kediaman ibu mertuanya.


"Kalau udah sampai apartement, aku nggak mau terima tamu dulu ya?" ucap Gita.


"Termasuk ayah dan ibu?" tanya Arman, sebab tadi mereka sempat berpesan bahwa mereka akan datang berkunjung untuk menengok kondisi Gita.


"Iya, aku mau istirahat dulu," jawab Gita, sebenarnya Gita tengah menghindari dari Agam dan Rose, sejak kejadian dia melempar bantal, Agam dan Rose belum menjenguknya lagi.


"Ya sudah, nanti aku bicara sama ayah dan ibu, soalnya mereka bilang mau jenguk kamu. Aku yakin mereka bisa mengerti," ucap Arman.


-//-


"Anyelir?" Mayang mendekati menantunya, yang tengah duduk santai di gazebo, serya membca majalah majalah seputar kehamilan.


"Ibu? Ada apa, Bu?" tanya Anyelir, dia mengalihkan fokusnya kepada sang ibu mertua.


"Nggak apa-apa, tapi Ibu lihat, ibu Rose nggak pernah datang? Biasanya dia gampang kangen sama kamu," tanya Mayang memancing, padahal dia tahu saat ini hubungan Anyelir dengan Rose dan Agam sedang kurang baik, karena kejadian di restaurant waktu itu.


"Iya Bu, mungkin ibu sama ayah lagi sibuk ngurusin kak Gita," jawab Anyelir, nampak ada sedikit gurat kecewa di wajahnya.


Mayang tersenyum hangat, dia mengusap jemari Anyelir. "Ibu tahu, hubungan kamu dengan ibu Rose sedang tidak baik, ada kesalah pahaman diantara kalian," ucap Mayang dan Anyelir nampak menundukkan wajahnya.


"Tapi, kesalah pahaman berkelanjutan, juga tidak baik, Nak," Mayang memberikan wejangan untuk menantunya dan memberikan beberapa saran. Biar bagaimanapun, jika memang Anyelir salah, maka Mayang wajib mengingatkannya, apalagi Devan juga sudah meminta tolong kepada Mayang. Devan berpikir, karena Mayang dan Anyelir sesama wanita, maka akan lebih baik berbicara dari hati ke hati.


"Anyelir merasa, ibu sama ayah selalu mengutamakan kak Gita," akhirnya Anyelir menceritakan apa yang mengganjal dalam relung hatinya, membuat Mayang semakin mengerti, dengan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Anyelir. Mayang tahu, sebenarnya Anyelir juga bukan tipikal wanita yang manja, hanya saja mungkin saat ini pengaruh dari kehamilannya, jadi Anyelir menjadi lebih sensitive dan lebih perasa.


"Nak, Ibu yakin, kedua orang tua kamu, juga pasti ingin memberikan perhatia yang sama untuk kedua putrinya, hanya saja saat ini kondisi Gita yang lebih membutuhkan. Di sini, kan Anyelir ada Ibu dan Devan yang selalu memberikan perhatian untuk Anyelir," tutur Mayang, mencoba memberikan pengertian.


"Apa Anyerlir tahu, kalau setiap malam ibu dan ayah selalu menghubungi Devan, menanyakan kabar Anyelir dan memastikan keadaan Anyelir baik-baik saja," penuturan Mayang jelas membuat ANyelir terkejut, sebab Devan tidak pernah menceritakan apapun kepada Anyelir

__ADS_1


"Kok, mas Devan nggak pernah cerita, Bu?" tanya Anyelir.


"Karena Devan takut, kamu masih kesal, dan akan marah kalau kamu tahu, Devan membantu kedua orang tua kamu, Nak," terang Mayang. Anyelir pun menganggukkan kepalanya, dia tahu Devan selalu ingin menjaga perasaan Anyelir, dan menjaga mood Anyelir.


"Ibu benar, Anyelir terlalu egois karena terlalu memikirkan kondisi Anyelir sendiri. Saat ini, kak Gita jelas lebih membutuhkan ayah dan ibu, karena kak Gita hanya punya suaminya," Anyelir akhirnya menyadari.


"Ibu salut dengan kamu, Nak, kamu selalu bisa berpikir dewasa dan selalu bisa mendengarkan nasihat yang diberikan," Mayang kembali tersenyum hangat.


"Kalau Anyelir ketemu ibu sama ayah, apa Anyelir mau?" tanya Mayang.


"Mau, Bu. Anyelir mau meminta maaf sama ayah dan ibu, atas sikap Anyelir beberapa waktu lalu," Anyelir menyesal dengan sikapnya ketika di restaurant. Setelah mendnegar jawaban Anyelir, dia pun berpamitan lebih dulu. Anyelir sempat heran kenapa tiba-tiba ibu mertuanya itu pergi, tapi tidak lama semua pertanyaan itu terjawab.


"Ayah, Ibu?" lirih Anyelir, ternyata Rose dan Agam datang, mereka sengaja meminta Mayang untuk menanyakan seputar ketersediaan Anyelir bertemu dengan mereka, jika saja tadi Anyelir menjawab tidak, maka Rose dan Agam akan memilih pulang, mereka tidak mau untuk memaksakan kehendak mereka.


"Anyelir?" Rose dan Agam masih terpaku, mereka ragu untuk mendekati putri mereka. Tapi Anyelir ternyata mendekat ke arah mereka dan memeluk kedua orang tuanya. Tangis haru diantara mereka bertiga, membuat Mayang yang menatap jauh ikut terharu. Mayang pun memberikan waktu dan luang, bagi Anyelir membenahi hubungan mereka yang sempat renggang. Sebelumnya, Mayang meminta pelayan untuk menghidangkan minuman untuk kedua besannya, juga membawakan camilan ringan, untuk menemani suasana mengobrol mereka.


Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, akhirnya keadaan Gita sudah dipastikan membaik. Kandungan Gita juga sudah cukup kuat, namun tetap haru berhati-hati dan banyak istirahat, biar bagaimanapun, kandungan diusia muda masih sangat rentan.


"Sayang, kita langsung pulang, kan?" tanya Gita, dia tidak mau kalau sampai harus mampir ke kediaman ibu mertuanya.


"Kalau udah sampai apartement, aku nggak mau terima tamu dulu ya?" ucap Gita.


"Termasuk ayah dan ibu?" tanya Arman, sebab tadi mereka sempat berpesan bahwa mereka akan datang berkunjung untuk menengok kondisi Gita.


"Iya, aku mau istirahat dulu," jawab Gita, sebenarnya Gita tengah menghindari dari Agam dan Rose, sejak kejadian dia melempar bantal, Agam dan Rose belum menjenguknya lagi.


"Ya sudah, nanti aku bicara sama ayah dan ibu, soalnya mereka bilang mau jenguk kamu. Aku yakin mereka bisa mengerti," ucap Arman.


-//-


"Anyelir?" Mayang mendekati menantunya, yang tengah duduk santai di gazebo, serya membca majalah majalah seputar kehamilan.

__ADS_1


"Ibu? Ada apa, Bu?" tanya Anyelir, dia mengalihkan fokusnya kepada sang ibu mertua.


"Nggak apa-apa, tapi Ibu lihat, ibu Rose nggak pernah datang? Biasanya dia gampang kangen sama kamu," tanya Mayang memancing, padahal dia tahu saat ini hubungan Anyelir dengan Rose dan Agam sedang kurang baik, karena kejadian di restaurant waktu itu.


"Iya Bu, mungkin ibu sama ayah lagi sibuk ngurusin kak Gita," jawab Anyelir, nampak ada sedikit gurat kecewa di wajahnya.


Mayang tersenyum hangat, dia mengusap jemari Anyelir. "Ibu tahu, hubungan kamu dengan ibu Rose sedang tidak baik, ada kesalah pahaman diantara kalian," ucap Mayang dan Anyelir nampak menundukkan wajahnya.


"Tapi, kesalah pahaman berkelanjutan, juga tidak baik, Nak," Mayang memberikan wejangan untuk menantunya dan memberikan beberapa saran. Biar bagaimanapun, jika memang Anyelir salah, maka Mayang wajib mengingatkannya, apalagi Devan juga sudah meminta tolong kepada Mayang. Devan berpikir, karena Mayang dan Anyelir sesama wanita, maka akan lebih baik berbicara dari hati ke hati.


"Anyelir merasa, ibu sama ayah selalu mengutamakan kak Gita," akhirnya Anyelir menceritakan apa yang mengganjal dalam relung hatinya, membuat Mayang semakin mengerti, dengan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Anyelir. Mayang tahu, sebenarnya Anyelir juga bukan tipikal wanita yang manja, hanya saja mungkin saat ini pengaruh dari kehamilannya, jadi Anyelir menjadi lebih sensitive dan lebih perasa.


"Nak, Ibu yakin, kedua orang tua kamu, juga pasti ingin memberikan perhatia yang sama untuk kedua putrinya, hanya saja saat ini kondisi Gita yang lebih membutuhkan. Di sini, kan Anyelir ada Ibu dan Devan yang selalu memberikan perhatian untuk Anyelir," tutur Mayang, mencoba memberikan pengertian.


"Apa Anyerlir tahu, kalau setiap malam ibu dan ayah selalu menghubungi Devan, menanyakan kabar Anyelir dan memastikan keadaan Anyelir baik-baik saja," penuturan Mayang jelas membuat ANyelir terkejut, sebab Devan tidak pernah menceritakan apapun kepada Anyelir


"Kok, mas Devan nggak pernah cerita, Bu?" tanya Anyelir.


"Karena Devan takut, kamu masih kesal, dan akan marah kalau kamu tahu, Devan membantu kedua orang tua kamu, Nak," terang Mayang. Anyelir pun menganggukkan kepalanya, dia tahu Devan selalu ingin menjaga perasaan Anyelir, dan menjaga mood Anyelir.


"Ibu benar, Anyelir terlalu egois karena terlalu memikirkan kondisi Anyelir sendiri. Saat ini, kak Gita jelas lebih membutuhkan ayah dan ibu, karena kak Gita hanya punya suaminya," Anyelir akhirnya menyadari.


"Ibu salut dengan kamu, Nak, kamu selalu bisa berpikir dewasa dan selalu bisa mendengarkan nasihat yang diberikan," Mayang kembali tersenyum hangat.


"Kalau Anyelir ketemu ibu sama ayah, apa Anyelir mau?" tanya Mayang.


"Mau, Bu. Anyelir mau meminta maaf sama ayah dan ibu, atas sikap Anyelir beberapa waktu lalu," Anyelir menyesal dengan sikapnya ketika di restaurant. Setelah mendnegar jawaban Anyelir, dia pun berpamitan lebih dulu. Anyelir sempat heran kenapa tiba-tiba ibu mertuanya itu pergi, tapi tidak lama semua pertanyaan itu terjawab.


"Ayah, Ibu?" lirih Anyelir, ternyata Rose dan Agam datang, mereka sengaja meminta Mayang untuk menanyakan seputar ketersediaan Anyelir bertemu dengan mereka, jika saja tadi Anyelir menjawab tidak, maka Rose dan Agam akan memilih pulang, mereka tidak mau untuk memaksakan kehendak mereka.


"Anyelir?" Rose dan Agam masih terpaku, mereka ragu untuk mendekati putri mereka. Tapi Anyelir ternyata mendekat ke arah mereka dan memeluk kedua orang tuanya. Tangis haru diantara mereka bertiga, membuat Mayang yang menatap jauh ikut terharu. Mayang pun memberikan waktu dan luang, bagi Anyelir membenahi hubungan mereka yang sempat renggang. Sebelumnya, Mayang meminta pelayan untuk menghidangkan minuman untuk kedua besannya, juga membawakan camilan ringan, untuk menemani suasana mengobrol mereka.

__ADS_1


__ADS_2