
"Wah kebetulan Pak Adi datang, selamat Pak, istri anda sudah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat," ucap Dokter, membuat Adi terkejut.
"Melahirkan? Kapan DOk?" tanya Adi yang masih begitu terkejut, ada rasa syukur yang dia ucapkan dalam hatinya, tapi dia juga merasa bersalah karena tidak bisa mendampingi sang istri.
"Istri anda, melahirkan dengan jalan operasi, kemarin malam kami melakukan operasinya, Pak," terang Dokter. Dokter juga menjelaskan, bahwa Indah, yang tidak lain istri Adi, saat ini dalam keadaan sehat, dan masih proses pemulihan.
"Dok, kedatangan saya ke sini, untuk meminta izin, saya mau memindahkan istri saya ke rumah sakit lain, yang dekat dengan tempat kerja saya. Karena saya tidak bisa bolak-balik ke sini, jaraknya cukup jauh," ucap Ai beralasan.
"Ini, atasan saya, Pak sebagai bukti," Adi menunjuk Felix yang berdiri di sampingnya, sebagai atasannya.
"Oh baiklah, kalau begitu silahkan Pak Adi urus ke bagian administrasi, ya?" Dokter tidak bisa berbuat banyak karena itu sudah menjadi keputusan Adi selaku suami Indah. Felix langsung meminta anak buahnya mengurus kepindahan Indah, sedangkan Adi dan Felix menemui Indah di ruangannya, semua harus dilakukan dengan cepat, karena mereka takut, Desi akan datang dan semua rencana mereka akan gagal sia-sia.
"Mas?" Indah menangis haru melihat kedatangan Adi, dia begitu khawatir dengan keadaan sang suami.
"Bu Desi bilang, kamu sedang ada pekerjaan di luar kota, dan itu membuat kamu nggak bisa datang menemani aku. Bu Desi, sangat baik loh, Mas," Indah menceritakan semuanya tentang Desi, hal itu membuat Felix berdecih pelan.
"Iya, makanya sekarang aku mau pindahkan kamu ke rumah sakit yang dekat dengan ku, supaya setiap hari kita bisa bertemu," ujar Adi.
"Oh iya, kenalkan ini Pak Felix, atasan ku. Beliau mau menjenguk anak kita," ucap Adi.
"Pak Felix, terimakasih sudah memberikan pekerjaan kepada suami saya," ujar Indah dengan rasa penuh terimakasih.
"Sama-sama, selamat ya, sekarang kalian sudah menjadi orang tua. Semoga anak kalian bisa tumbuh menjadi anak cerdas dan berbakti kepada orang tuanya," harap Felix, diamani oleh Adi dan Indah. Saat mereka tengah berbincang, ada beberapa perawat yang membantu Indah untuk duduk di kursi roda, juga ada perawat yang membawa anak Indah. Mereka langsung dibawa menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Devan. Indah menatap takjub mobil yang ditumpanginya, begitu mewah.
"Mas, aku mengantuk," ucap indah kepada Adi yang duduk di sampingnya.
"Tidurlah, dengan nyaman," Adi memposisikan dirinya, supaya Indah bisa tidur dengan nyaman. Memang, sebenarnya Felix juga Adi meminta kepada Dokter untuk memberikan obat tidur, supaya Indah tida terlalu lelah sepanjang perjalanan.
"Adi, kamu akan diantarkan oleh anak buahku, menggunakan jet pribadi saya, semua bukti sudah ada di tangan saya, kamu hanya perlu menjaga istri kamu, dan anak kamu. Tenang saja, akan ada anak buahku yang membantu menjaga dari jarak jauh, saya tidak pernah tahu bagaimana kinerja Desi," ujar Devan menjelaskan.
"Baik, terimakasih banyak, Tuan." Adi merasa berhutang budi kepada Devan, yang mau membantunya lepas dari cengkraman Desi. Adi berjanji akan selalu setia dengan Devan, dan dia akan mendidik anaknya, supaya bisa membalas budi baik Devan.
"Ada hadiah kecil, di rumah yang akan kamu tempati bersama istri kamu nanti, dan untuk saat ini, saya rasa istri kamu akan di rawat jalan di rumah, tapi kamu tenang saja, ada perawat yang sudah saya siapkan," ternyata, Devan sudah mempersiapkan semuanya dengan matang.
"Terimakasih banyak, Tuan," sekali lagi, hanya rasa terimakasih yang begitu dalam yang bisa Adi ucapkan, dia tidak tahu bagaimana jika dia tidak bertemu dengan Devan. Ternyata, di balik kejadiannya ditangkap oleh Devan ada hikmah yang bisa diambilnya, dia bertemu dengan orang yang baik, orang yang mau membantunya tanpa pamrih, bahkan untuk anak dan istrinya. Akhirnya, Adi dan Indah pun bertolak menuju kota tujuan yang sudah dipersiapkan oleh Devan.
Devan menghela napas lega, dia sudah mengamankan Adi dan keluarganya dari Desi, jadi sekarang tinggal mengatur strategi bagaimana membongkar semua kejahatan Desi.
"Mas, kamu baru pulang?" Anyelir menyambut kepulangan suaminya dengan senyum merekah, bagaimana tidak ada kabar baik yang dia dengar seputar ibunya.
"Wah, kelihatannya kamu bahagia sekali, sayang. Ada apa?" tanya Devan penasaran, ternyata dia menyadari ada sesuatu yang membuat Anyelir begitu bahagia sore itu.
"Iya, Ibu besok mau pulang," jawab Anyelir dengan senyum merekahnya.
"Wah, benarkah?" tanya Devan memastikan, dan dijawab anggukan antusias dari Anyelir.
"Syukurlah, kalau Ibu sudah boleh pulang, aku turut bahagia mendengarnya," kata Devan, "jadi, apa yang akan kamu lakukan untuk menyambut kepulangan Ibu?"
Anyelir nampak berpikir. "Aku sebenarnya ingin mengadakan makan malam di rumah Ibu, Mas. Tapi, kamu kan tahu di rumah Ibu cuman ada 2 asisten rumah tangga, aku juga nggak bakal kamu bolehin buat bantu-bantu, kan?" Anyelir menyampaikan idenya dan juga kesulitannya, semoga saja Devan punya jalan keluar.
"Kalau itu gampang, sayang. Nanti mintalah beberapa pelayan di rumah ini untuk datang ke rumah ibu, untuk membantu menyiapkan hidangan makan malam," ucap Devan memberikan saran.
Anyelir tersenyum, dia langsung memeluk dan memberikan kecupan singkat di pipi Devan. "Kamu benar, Mas. Makasih ya, Mas. Kalau gitu aku hubungi kak Gita dulu, supaya kak Gita undang ibu dan ayah mertuanya," kata Anyelir. Anyelir dengan semangat menuju kamarnya, untuk menghubungi sang kakak.
"Iya, bagus. Semoga saja Desi datang," lirih Devan disertai senyum smirknya.
Sedangkan Gita, baru saja mendengar ide dari sang adik, soal jamuan makan malam. Karena Anyelir akan membawa pelayan ke rumah ibunya, maka Gita akan membuat dessert saja dari rumah. Dessert yang akan dibuat oleh Gita yaitu Apple Pie, makanan kesukaan Rose. Saat Gita tengah berbincang kepada dua pelayan di rumahnya, tiba-tiba Gita mendengar suara pintu masuk terbuka.
"Sayang?" Gita menyambut kepulangan Arman, dan seperti biasa, Arman tselalu tersenyum hangat ke arah Gita. Meski tersenyum, entah kenapa Gita merasakan ada seuatu yang tengah Arman tutupi.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Gita, yang menyadari ada semburat wajah sendu.
"Aku? Aku nggak kenapa-napa kok, sayang," tentu saja Arman berbohong, dia tidak mau kalau sampai Gita menjadi sedih dan kepikiran, jika mendengar bahwa ayahnya mengatakan hal yang begitu menyakitkan, yaitu meminta Arman dan Gita berpisah setelah Gita melahirkan, hanya karena Gita bukanlah anak kandung Agam.
"Jangan bohong, aku tahu kamu sedang menutupi sesuatu dari aku," desak Gita terus meminta Arman untuk jujur. Arman semakin bingung, dia tidak mau membuat Gita sedih, tapi Gita seolah tahu dengan isi hatinya saat ini.
__ADS_1
"Wah kebetulan Pak Adi datang, selamat Pak, istri anda sudah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat," ucap Dokter, membuat Adi terkejut.
"Melahirkan? Kapan DOk?" tanya Adi yang masih begitu terkejut, ada rasa syukur yang dia ucapkan dalam hatinya, tapi dia juga merasa bersalah karena tidak bisa mendampingi sang istri.
"Istri anda, melahirkan dengan jalan operasi, kemarin malam kami melakukan operasinya, Pak," terang Dokter. Dokter juga menjelaskan, bahwa Indah, yang tidak lain istri Adi, saat ini dalam keadaan sehat, dan masih proses pemulihan.
"Dok, kedatangan saya ke sini, untuk meminta izin, saya mau memindahkan istri saya ke rumah sakit lain, yang dekat dengan tempat kerja saya. Karena saya tidak bisa bolak-balik ke sini, jaraknya cukup jauh," ucap Ai beralasan.
"Ini, atasan saya, Pak sebagai bukti," Adi menunjuk Felix yang berdiri di sampingnya, sebagai atasannya.
"Oh baiklah, kalau begitu silahkan Pak Adi urus ke bagian administrasi, ya?" Dokter tidak bisa berbuat banyak karena itu sudah menjadi keputusan Adi selaku suami Indah. Felix langsung meminta anak buahnya mengurus kepindahan Indah, sedangkan Adi dan Felix menemui Indah di ruangannya, semua harus dilakukan dengan cepat, karena mereka takut, Desi akan datang dan semua rencana mereka akan gagal sia-sia.
"Mas?" Indah menangis haru melihat kedatangan Adi, dia begitu khawatir dengan keadaan sang suami.
"Bu Desi bilang, kamu sedang ada pekerjaan di luar kota, dan itu membuat kamu nggak bisa datang menemani aku. Bu Desi, sangat baik loh, Mas," Indah menceritakan semuanya tentang Desi, hal itu membuat Felix berdecih pelan.
"Iya, makanya sekarang aku mau pindahkan kamu ke rumah sakit yang dekat dengan ku, supaya setiap hari kita bisa bertemu," ujar Adi.
"Oh iya, kenalkan ini Pak Felix, atasan ku. Beliau mau menjenguk anak kita," ucap Adi.
"Pak Felix, terimakasih sudah memberikan pekerjaan kepada suami saya," ujar Indah dengan rasa penuh terimakasih.
"Sama-sama, selamat ya, sekarang kalian sudah menjadi orang tua. Semoga anak kalian bisa tumbuh menjadi anak cerdas dan berbakti kepada orang tuanya," harap Felix, diamani oleh Adi dan Indah. Saat mereka tengah berbincang, ada beberapa perawat yang membantu Indah untuk duduk di kursi roda, juga ada perawat yang membawa anak Indah. Mereka langsung dibawa menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Devan. Indah menatap takjub mobil yang ditumpanginya, begitu mewah.
"Mas, aku mengantuk," ucap indah kepada Adi yang duduk di sampingnya.
"Tidurlah, dengan nyaman," Adi memposisikan dirinya, supaya Indah bisa tidur dengan nyaman. Memang, sebenarnya Felix juga Adi meminta kepada Dokter untuk memberikan obat tidur, supaya Indah tida terlalu lelah sepanjang perjalanan.
"Adi, kamu akan diantarkan oleh anak buahku, menggunakan jet pribadi saya, semua bukti sudah ada di tangan saya, kamu hanya perlu menjaga istri kamu, dan anak kamu. Tenang saja, akan ada anak buahku yang membantu menjaga dari jarak jauh, saya tidak pernah tahu bagaimana kinerja Desi," ujar Devan menjelaskan.
"Baik, terimakasih banyak, Tuan." Adi merasa berhutang budi kepada Devan, yang mau membantunya lepas dari cengkraman Desi. Adi berjanji akan selalu setia dengan Devan, dan dia akan mendidik anaknya, supaya bisa membalas budi baik Devan.
"Ada hadiah kecil, di rumah yang akan kamu tempati bersama istri kamu nanti, dan untuk saat ini, saya rasa istri kamu akan di rawat jalan di rumah, tapi kamu tenang saja, ada perawat yang sudah saya siapkan," ternyata, Devan sudah mempersiapkan semuanya dengan matang.
"Terimakasih banyak, Tuan," sekali lagi, hanya rasa terimakasih yang begitu dalam yang bisa Adi ucapkan, dia tidak tahu bagaimana jika dia tidak bertemu dengan Devan. Ternyata, di balik kejadiannya ditangkap oleh Devan ada hikmah yang bisa diambilnya, dia bertemu dengan orang yang baik, orang yang mau membantunya tanpa pamrih, bahkan untuk anak dan istrinya. Akhirnya, Adi dan Indah pun bertolak menuju kota tujuan yang sudah dipersiapkan oleh Devan.
Devan menghela napas lega, dia sudah mengamankan Adi dan keluarganya dari Desi, jadi sekarang tinggal mengatur strategi bagaimana membongkar semua kejahatan Desi.
"Mas, kamu baru pulang?" Anyelir menyambut kepulangan suaminya dengan senyum merekah, bagaimana tidak ada kabar baik yang dia dengar seputar ibunya.
"Wah, kelihatannya kamu bahagia sekali, sayang. Ada apa?" tanya Devan penasaran, ternyata dia menyadari ada sesuatu yang membuat Anyelir begitu bahagia sore itu.
"Iya, Ibu besok mau pulang," jawab Anyelir dengan senyum merekahnya.
"Wah, benarkah?" tanya Devan memastikan, dan dijawab anggukan antusias dari Anyelir.
"Syukurlah, kalau Ibu sudah boleh pulang, aku turut bahagia mendengarnya," kata Devan, "jadi, apa yang akan kamu lakukan untuk menyambut kepulangan Ibu?"
Anyelir nampak berpikir. "Aku sebenarnya ingin mengadakan makan malam di rumah Ibu, Mas. Tapi, kamu kan tahu di rumah Ibu cuman ada 2 asisten rumah tangga, aku juga nggak bakal kamu bolehin buat bantu-bantu, kan?" Anyelir menyampaikan idenya dan juga kesulitannya, semoga saja Devan punya jalan keluar.
"Kalau itu gampang, sayang. Nanti mintalah beberapa pelayan di rumah ini untuk datang ke rumah ibu, untuk membantu menyiapkan hidangan makan malam," ucap Devan memberikan saran.
Anyelir tersenyum, dia langsung memeluk dan memberikan kecupan singkat di pipi Devan. "Kamu benar, Mas. Makasih ya, Mas. Kalau gitu aku hubungi kak Gita dulu, supaya kak Gita undang ibu dan ayah mertuanya," kata Anyelir. Anyelir dengan semangat menuju kamarnya, untuk menghubungi sang kakak.
"Iya, bagus. Semoga saja Desi datang," lirih Devan disertai senyum smirknya.
Sedangkan Gita, baru saja mendengar ide dari sang adik, soal jamuan makan malam. Karena Anyelir akan membawa pelayan ke rumah ibunya, maka Gita akan membuat dessert saja dari rumah. Dessert yang akan dibuat oleh Gita yaitu Apple Pie, makanan kesukaan Rose. Saat Gita tengah berbincang kepada dua pelayan di rumahnya, tiba-tiba Gita mendengar suara pintu masuk terbuka.
"Sayang?" Gita menyambut kepulangan Arman, dan seperti biasa, Arman tselalu tersenyum hangat ke arah Gita. Meski tersenyum, entah kenapa Gita merasakan ada seuatu yang tengah Arman tutupi.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Gita, yang menyadari ada semburat wajah sendu.
"Aku? Aku nggak kenapa-napa kok, sayang," tentu saja Arman berbohong, dia tidak mau kalau sampai Gita menjadi sedih dan kepikiran, jika mendengar bahwa ayahnya mengatakan hal yang begitu menyakitkan, yaitu meminta Arman dan Gita berpisah setelah Gita melahirkan, hanya karena Gita bukanlah anak kandung Agam.
"Jangan bohong, aku tahu kamu sedang menutupi sesuatu dari aku," desak Gita terus meminta Arman untuk jujur. Arman semakin bingung, dia tidak mau membuat Gita sedih, tapi Gita seolah tahu dengan isi hatinya saat ini.
__ADS_1
"Wah kebetulan Pak Adi datang, selamat Pak, istri anda sudah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat," ucap Dokter, membuat Adi terkejut.
"Melahirkan? Kapan DOk?" tanya Adi yang masih begitu terkejut, ada rasa syukur yang dia ucapkan dalam hatinya, tapi dia juga merasa bersalah karena tidak bisa mendampingi sang istri.
"Istri anda, melahirkan dengan jalan operasi, kemarin malam kami melakukan operasinya, Pak," terang Dokter. Dokter juga menjelaskan, bahwa Indah, yang tidak lain istri Adi, saat ini dalam keadaan sehat, dan masih proses pemulihan.
"Dok, kedatangan saya ke sini, untuk meminta izin, saya mau memindahkan istri saya ke rumah sakit lain, yang dekat dengan tempat kerja saya. Karena saya tidak bisa bolak-balik ke sini, jaraknya cukup jauh," ucap Ai beralasan.
"Ini, atasan saya, Pak sebagai bukti," Adi menunjuk Felix yang berdiri di sampingnya, sebagai atasannya.
"Oh baiklah, kalau begitu silahkan Pak Adi urus ke bagian administrasi, ya?" Dokter tidak bisa berbuat banyak karena itu sudah menjadi keputusan Adi selaku suami Indah. Felix langsung meminta anak buahnya mengurus kepindahan Indah, sedangkan Adi dan Felix menemui Indah di ruangannya, semua harus dilakukan dengan cepat, karena mereka takut, Desi akan datang dan semua rencana mereka akan gagal sia-sia.
"Mas?" Indah menangis haru melihat kedatangan Adi, dia begitu khawatir dengan keadaan sang suami.
"Bu Desi bilang, kamu sedang ada pekerjaan di luar kota, dan itu membuat kamu nggak bisa datang menemani aku. Bu Desi, sangat baik loh, Mas," Indah menceritakan semuanya tentang Desi, hal itu membuat Felix berdecih pelan.
"Iya, makanya sekarang aku mau pindahkan kamu ke rumah sakit yang dekat dengan ku, supaya setiap hari kita bisa bertemu," ujar Adi.
"Oh iya, kenalkan ini Pak Felix, atasan ku. Beliau mau menjenguk anak kita," ucap Adi.
"Pak Felix, terimakasih sudah memberikan pekerjaan kepada suami saya," ujar Indah dengan rasa penuh terimakasih.
"Sama-sama, selamat ya, sekarang kalian sudah menjadi orang tua. Semoga anak kalian bisa tumbuh menjadi anak cerdas dan berbakti kepada orang tuanya," harap Felix, diamani oleh Adi dan Indah. Saat mereka tengah berbincang, ada beberapa perawat yang membantu Indah untuk duduk di kursi roda, juga ada perawat yang membawa anak Indah. Mereka langsung dibawa menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Devan. Indah menatap takjub mobil yang ditumpanginya, begitu mewah.
"Mas, aku mengantuk," ucap indah kepada Adi yang duduk di sampingnya.
"Tidurlah, dengan nyaman," Adi memposisikan dirinya, supaya Indah bisa tidur dengan nyaman. Memang, sebenarnya Felix juga Adi meminta kepada Dokter untuk memberikan obat tidur, supaya Indah tida terlalu lelah sepanjang perjalanan.
"Adi, kamu akan diantarkan oleh anak buahku, menggunakan jet pribadi saya, semua bukti sudah ada di tangan saya, kamu hanya perlu menjaga istri kamu, dan anak kamu. Tenang saja, akan ada anak buahku yang membantu menjaga dari jarak jauh, saya tidak pernah tahu bagaimana kinerja Desi," ujar Devan menjelaskan.
"Baik, terimakasih banyak, Tuan." Adi merasa berhutang budi kepada Devan, yang mau membantunya lepas dari cengkraman Desi. Adi berjanji akan selalu setia dengan Devan, dan dia akan mendidik anaknya, supaya bisa membalas budi baik Devan.
"Ada hadiah kecil, di rumah yang akan kamu tempati bersama istri kamu nanti, dan untuk saat ini, saya rasa istri kamu akan di rawat jalan di rumah, tapi kamu tenang saja, ada perawat yang sudah saya siapkan," ternyata, Devan sudah mempersiapkan semuanya dengan matang.
"Terimakasih banyak, Tuan," sekali lagi, hanya rasa terimakasih yang begitu dalam yang bisa Adi ucapkan, dia tidak tahu bagaimana jika dia tidak bertemu dengan Devan. Ternyata, di balik kejadiannya ditangkap oleh Devan ada hikmah yang bisa diambilnya, dia bertemu dengan orang yang baik, orang yang mau membantunya tanpa pamrih, bahkan untuk anak dan istrinya. Akhirnya, Adi dan Indah pun bertolak menuju kota tujuan yang sudah dipersiapkan oleh Devan.
Devan menghela napas lega, dia sudah mengamankan Adi dan keluarganya dari Desi, jadi sekarang tinggal mengatur strategi bagaimana membongkar semua kejahatan Desi.
"Mas, kamu baru pulang?" Anyelir menyambut kepulangan suaminya dengan senyum merekah, bagaimana tidak ada kabar baik yang dia dengar seputar ibunya.
"Wah, kelihatannya kamu bahagia sekali, sayang. Ada apa?" tanya Devan penasaran, ternyata dia menyadari ada sesuatu yang membuat Anyelir begitu bahagia sore itu.
"Iya, Ibu besok mau pulang," jawab Anyelir dengan senyum merekahnya.
"Wah, benarkah?" tanya Devan memastikan, dan dijawab anggukan antusias dari Anyelir.
"Syukurlah, kalau Ibu sudah boleh pulang, aku turut bahagia mendengarnya," kata Devan, "jadi, apa yang akan kamu lakukan untuk menyambut kepulangan Ibu?"
Anyelir nampak berpikir. "Aku sebenarnya ingin mengadakan makan malam di rumah Ibu, Mas. Tapi, kamu kan tahu di rumah Ibu cuman ada 2 asisten rumah tangga, aku juga nggak bakal kamu bolehin buat bantu-bantu, kan?" Anyelir menyampaikan idenya dan juga kesulitannya, semoga saja Devan punya jalan keluar.
"Kalau itu gampang, sayang. Nanti mintalah beberapa pelayan di rumah ini untuk datang ke rumah ibu, untuk membantu menyiapkan hidangan makan malam," ucap Devan memberikan saran.
Anyelir tersenyum, dia langsung memeluk dan memberikan kecupan singkat di pipi Devan. "Kamu benar, Mas. Makasih ya, Mas. Kalau gitu aku hubungi kak Gita dulu, supaya kak Gita undang ibu dan ayah mertuanya," kata Anyelir. Anyelir dengan semangat menuju kamarnya, untuk menghubungi sang kakak.
"Iya, bagus. Semoga saja Desi datang," lirih Devan disertai senyum smirknya.
Sedangkan Gita, baru saja mendengar ide dari sang adik, soal jamuan makan malam. Karena Anyelir akan membawa pelayan ke rumah ibunya, maka Gita akan membuat dessert saja dari rumah. Dessert yang akan dibuat oleh Gita yaitu Apple Pie, makanan kesukaan Rose. Saat Gita tengah berbincang kepada dua pelayan di rumahnya, tiba-tiba Gita mendengar suara pintu masuk terbuka.
"Sayang?" Gita menyambut kepulangan Arman, dan seperti biasa, Arman tselalu tersenyum hangat ke arah Gita. Meski tersenyum, entah kenapa Gita merasakan ada seuatu yang tengah Arman tutupi.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Gita, yang menyadari ada semburat wajah sendu.
"Aku? Aku nggak kenapa-napa kok, sayang," tentu saja Arman berbohong, dia tidak mau kalau sampai Gita menjadi sedih dan kepikiran, jika mendengar bahwa ayahnya mengatakan hal yang begitu menyakitkan, yaitu meminta Arman dan Gita berpisah setelah Gita melahirkan, hanya karena Gita bukanlah anak kandung Agam.
"Jangan bohong, aku tahu kamu sedang menutupi sesuatu dari aku," desak Gita terus meminta Arman untuk jujur. Arman semakin bingung, dia tidak mau membuat Gita sedih, tapi Gita seolah tahu dengan isi hatinya saat ini.
__ADS_1