
"Sayang, aku cantik nggak?" Anyelir berpose di depan Devan, hal itu membuat Devan semakin gemas dengan sang istri.
"Cantik." jawab Devan seraya hendak mencium Anyelir, tapi dengan gesit Anyelir menahan bibir Devan.
"Ya sudah ayo berangkat, dari pada aku memaksa kamu nantinya," ucap Devan. Mereka pun berangkat bersama dengan Mayang juga.
Arman dan Gita juga tengah dalam perjalanan, semenjak pulang dari kediaman Agam dan Rose, Gita merasa ada yang beerbeda dengan perilaku Arman.
"Mas, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Gita memastikan, dia takut terjadi sesuatu dengan Arman.
"Aku nggak apa-apa, kok. Kamu nggak perlu khawatir ya?" Arman mengusap jemari Gita. Gita pun hanya menganggukkan kepalanya, entah kenapa Gita merasa bahwa raut wajah Arma menyembunyikan kesedihannya.
Arman dan Devan sampai bersamaan, mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama. Devan menatap sekeliling, belum ada mobil milik Dika dan Desi.
"Orang tua kamu datang kan?" tanya Devan memastikan.
"Iya, aku sudah hubungi Ayah, dan mereka sedang dalam perjalnan," jawab Arman, ternyata saat mereka tengah berbincang, Desi dan DIka benar-benar datang.
"Selamat malam, Pak Dika dan Bu Desi," sapa Devan dengan ramah.
"Malam, Nak Devan," balas Dika.
"Mari silahkan masuk, Pak." Devan memperilahkan Dika untuk masuk, dan di dalam Agam juga menyambut besa-besannya dengan ramah. Meskipun sebenarnya Agam juga teramat kecewa dengan sikap Desi, akan tetapi Agam harus ingat ada rencana yang sudah disusun rapi oleh Devan.
"Sayang, aku cantik nggak?" Anyelir berpose di depan Devan, hal itu membuat Devan semakin gemas dengan sang istri.
"Cantik." jawab Devan seraya hendak mencium Anyelir, tapi dengan gesit Anyelir menahan bibir Devan.
"Ya sudah ayo berangkat, dari pada aku memaksa kamu nantinya," ucap Devan. Mereka pun berangkat bersama dengan Mayang juga.
Arman dan Gita juga tengah dalam perjalanan, semenjak pulang dari kediaman Agam dan Rose, Gita merasa ada yang beerbeda dengan perilaku Arman.
"Mas, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Gita memastikan, dia takut terjadi sesuatu dengan Arman.
"Aku nggak apa-apa, kok. Kamu nggak perlu khawatir ya?" Arman mengusap jemari Gita. Gita pun hanya menganggukkan kepalanya, entah kenapa Gita merasa bahwa raut wajah Arma menyembunyikan kesedihannya.
Arman dan Devan sampai bersamaan, mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama. Devan menatap sekeliling, belum ada mobil milik Dika dan Desi.
"Orang tua kamu datang kan?" tanya Devan memastikan.
"Iya, aku sudah hubungi Ayah, dan mereka sedang dalam perjalnan," jawab Arman, ternyata saat mereka tengah berbincang, Desi dan DIka benar-benar datang.
"Selamat malam, Pak Dika dan Bu Desi," sapa Devan dengan ramah.
"Malam, Nak Devan," balas Dika.
"Mari silahkan masuk, Pak." Devan memperilahkan Dika untuk masuk, dan di dalam Agam juga menyambut besa-besannya dengan ramah. Meskipun sebenarnya Agam juga teramat kecewa dengan sikap Desi, akan tetapi Agam harus ingat ada rencana yang sudah disusun rapi oleh Devan.
"Sayang, aku cantik nggak?" Anyelir berpose di depan Devan, hal itu membuat Devan semakin gemas dengan sang istri.
"Cantik." jawab Devan seraya hendak mencium Anyelir, tapi dengan gesit Anyelir menahan bibir Devan.
"Ya sudah ayo berangkat, dari pada aku memaksa kamu nantinya," ucap Devan. Mereka pun berangkat bersama dengan Mayang juga.
Arman dan Gita juga tengah dalam perjalanan, semenjak pulang dari kediaman Agam dan Rose, Gita merasa ada yang beerbeda dengan perilaku Arman.
"Mas, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Gita memastikan, dia takut terjadi sesuatu dengan Arman.
"Aku nggak apa-apa, kok. Kamu nggak perlu khawatir ya?" Arman mengusap jemari Gita. Gita pun hanya menganggukkan kepalanya, entah kenapa Gita merasa bahwa raut wajah Arma menyembunyikan kesedihannya.
Arman dan Devan sampai bersamaan, mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama. Devan menatap sekeliling, belum ada mobil milik Dika dan Desi.
"Orang tua kamu datang kan?" tanya Devan memastikan.
"Iya, aku sudah hubungi Ayah, dan mereka sedang dalam perjalnan," jawab Arman, ternyata saat mereka tengah berbincang, Desi dan DIka benar-benar datang.
"Selamat malam, Pak Dika dan Bu Desi," sapa Devan dengan ramah.
"Malam, Nak Devan," balas Dika.
"Mari silahkan masuk, Pak." Devan memperilahkan Dika untuk masuk, dan di dalam Agam juga menyambut besa-besannya dengan ramah. Meskipun sebenarnya Agam juga teramat kecewa dengan sikap Desi, akan tetapi Agam harus ingat ada rencana yang sudah disusun rapi oleh Devan.
"Sayang, aku cantik nggak?" Anyelir berpose di depan Devan, hal itu membuat Devan semakin gemas dengan sang istri.
"Cantik." jawab Devan seraya hendak mencium Anyelir, tapi dengan gesit Anyelir menahan bibir Devan.
"Ya sudah ayo berangkat, dari pada aku memaksa kamu nantinya," ucap Devan. Mereka pun berangkat bersama dengan Mayang juga.
Arman dan Gita juga tengah dalam perjalanan, semenjak pulang dari kediaman Agam dan Rose, Gita merasa ada yang beerbeda dengan perilaku Arman.
"Mas, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Gita memastikan, dia takut terjadi sesuatu dengan Arman.
"Aku nggak apa-apa, kok. Kamu nggak perlu khawatir ya?" Arman mengusap jemari Gita. Gita pun hanya menganggukkan kepalanya, entah kenapa Gita merasa bahwa raut wajah Arma menyembunyikan kesedihannya.
Arman dan Devan sampai bersamaan, mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama. Devan menatap sekeliling, belum ada mobil milik Dika dan Desi.
"Orang tua kamu datang kan?" tanya Devan memastikan.
"Iya, aku sudah hubungi Ayah, dan mereka sedang dalam perjalnan," jawab Arman, ternyata saat mereka tengah berbincang, Desi dan DIka benar-benar datang.
"Selamat malam, Pak Dika dan Bu Desi," sapa Devan dengan ramah.
"Malam, Nak Devan," balas Dika.
"Mari silahkan masuk, Pak." Devan memperilahkan Dika untuk masuk, dan di dalam Agam juga menyambut besa-besannya dengan ramah. Meskipun sebenarnya Agam juga teramat kecewa dengan sikap Desi, akan tetapi Agam harus ingat ada rencana yang sudah disusun rapi oleh Devan.
__ADS_1
"Sayang, aku cantik nggak?" Anyelir berpose di depan Devan, hal itu membuat Devan semakin gemas dengan sang istri.
"Cantik." jawab Devan seraya hendak mencium Anyelir, tapi dengan gesit Anyelir menahan bibir Devan.
"Ya sudah ayo berangkat, dari pada aku memaksa kamu nantinya," ucap Devan. Mereka pun berangkat bersama dengan Mayang juga.
Arman dan Gita juga tengah dalam perjalanan, semenjak pulang dari kediaman Agam dan Rose, Gita merasa ada yang beerbeda dengan perilaku Arman.
"Mas, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Gita memastikan, dia takut terjadi sesuatu dengan Arman.
"Aku nggak apa-apa, kok. Kamu nggak perlu khawatir ya?" Arman mengusap jemari Gita. Gita pun hanya menganggukkan kepalanya, entah kenapa Gita merasa bahwa raut wajah Arma menyembunyikan kesedihannya.
Arman dan Devan sampai bersamaan, mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama. Devan menatap sekeliling, belum ada mobil milik Dika dan Desi.
"Orang tua kamu datang kan?" tanya Devan memastikan.
"Iya, aku sudah hubungi Ayah, dan mereka sedang dalam perjalnan," jawab Arman, ternyata saat mereka tengah berbincang, Desi dan DIka benar-benar datang.
"Selamat malam, Pak Dika dan Bu Desi," sapa Devan dengan ramah.
"Malam, Nak Devan," balas Dika.
"Mari silahkan masuk, Pak." Devan memperilahkan Dika untuk masuk, dan di dalam Agam juga menyambut besa-besannya dengan ramah. Meskipun sebenarnya Agam juga teramat kecewa dengan sikap Desi, akan tetapi Agam harus ingat ada rencana yang sudah disusun rapi oleh Devan.
"Sayang, aku cantik nggak?" Anyelir berpose di depan Devan, hal itu membuat Devan semakin gemas dengan sang istri.
"Cantik." jawab Devan seraya hendak mencium Anyelir, tapi dengan gesit Anyelir menahan bibir Devan.
"Ya sudah ayo berangkat, dari pada aku memaksa kamu nantinya," ucap Devan. Mereka pun berangkat bersama dengan Mayang juga.
Arman dan Gita juga tengah dalam perjalanan, semenjak pulang dari kediaman Agam dan Rose, Gita merasa ada yang beerbeda dengan perilaku Arman.
"Mas, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Gita memastikan, dia takut terjadi sesuatu dengan Arman.
"Aku nggak apa-apa, kok. Kamu nggak perlu khawatir ya?" Arman mengusap jemari Gita. Gita pun hanya menganggukkan kepalanya, entah kenapa Gita merasa bahwa raut wajah Arma menyembunyikan kesedihannya.
Arman dan Devan sampai bersamaan, mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama. Devan menatap sekeliling, belum ada mobil milik Dika dan Desi.
"Orang tua kamu datang kan?" tanya Devan memastikan.
"Iya, aku sudah hubungi Ayah, dan mereka sedang dalam perjalnan," jawab Arman, ternyata saat mereka tengah berbincang, Desi dan DIka benar-benar datang.
"Selamat malam, Pak Dika dan Bu Desi," sapa Devan dengan ramah.
"Malam, Nak Devan," balas Dika.
"Mari silahkan masuk, Pak." Devan memperilahkan Dika untuk masuk, dan di dalam Agam juga menyambut besa-besannya dengan ramah. Meskipun sebenarnya Agam juga teramat kecewa dengan sikap Desi, akan tetapi Agam harus ingat ada rencana yang sudah disusun rapi oleh Devan.
"Sayang, aku cantik nggak?" Anyelir berpose di depan Devan, hal itu membuat Devan semakin gemas dengan sang istri.
"Cantik." jawab Devan seraya hendak mencium Anyelir, tapi dengan gesit Anyelir menahan bibir Devan.
"Ya sudah ayo berangkat, dari pada aku memaksa kamu nantinya," ucap Devan. Mereka pun berangkat bersama dengan Mayang juga.
Arman dan Gita juga tengah dalam perjalanan, semenjak pulang dari kediaman Agam dan Rose, Gita merasa ada yang beerbeda dengan perilaku Arman.
"Mas, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Gita memastikan, dia takut terjadi sesuatu dengan Arman.
"Aku nggak apa-apa, kok. Kamu nggak perlu khawatir ya?" Arman mengusap jemari Gita. Gita pun hanya menganggukkan kepalanya, entah kenapa Gita merasa bahwa raut wajah Arma menyembunyikan kesedihannya.
Arman dan Devan sampai bersamaan, mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama. Devan menatap sekeliling, belum ada mobil milik Dika dan Desi.
"Orang tua kamu datang kan?" tanya Devan memastikan.
"Iya, aku sudah hubungi Ayah, dan mereka sedang dalam perjalnan," jawab Arman, ternyata saat mereka tengah berbincang, Desi dan DIka benar-benar datang.
"Selamat malam, Pak Dika dan Bu Desi," sapa Devan dengan ramah.
"Malam, Nak Devan," balas Dika.
"Mari silahkan masuk, Pak." Devan memperilahkan Dika untuk masuk, dan di dalam Agam juga menyambut besa-besannya dengan ramah. Meskipun sebenarnya Agam juga teramat kecewa dengan sikap Desi, akan tetapi Agam harus ingat ada rencana yang sudah disusun rapi oleh Devan.
"Sayang, aku cantik nggak?" Anyelir berpose di depan Devan, hal itu membuat Devan semakin gemas dengan sang istri.
"Cantik." jawab Devan seraya hendak mencium Anyelir, tapi dengan gesit Anyelir menahan bibir Devan.
"Ya sudah ayo berangkat, dari pada aku memaksa kamu nantinya," ucap Devan. Mereka pun berangkat bersama dengan Mayang juga.
Arman dan Gita juga tengah dalam perjalanan, semenjak pulang dari kediaman Agam dan Rose, Gita merasa ada yang beerbeda dengan perilaku Arman.
"Mas, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Gita memastikan, dia takut terjadi sesuatu dengan Arman.
"Aku nggak apa-apa, kok. Kamu nggak perlu khawatir ya?" Arman mengusap jemari Gita. Gita pun hanya menganggukkan kepalanya, entah kenapa Gita merasa bahwa raut wajah Arma menyembunyikan kesedihannya.
Arman dan Devan sampai bersamaan, mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama. Devan menatap sekeliling, belum ada mobil milik Dika dan Desi.
"Orang tua kamu datang kan?" tanya Devan memastikan.
"Iya, aku sudah hubungi Ayah, dan mereka sedang dalam perjalnan," jawab Arman, ternyata saat mereka tengah berbincang, Desi dan DIka benar-benar datang.
"Selamat malam, Pak Dika dan Bu Desi," sapa Devan dengan ramah.
"Malam, Nak Devan," balas Dika.
"Mari silahkan masuk, Pak." Devan memperilahkan Dika untuk masuk, dan di dalam Agam juga menyambut besa-besannya dengan ramah. Meskipun sebenarnya Agam juga teramat kecewa dengan sikap Desi, akan tetapi Agam harus ingat ada rencana yang sudah disusun rapi oleh Devan.
__ADS_1
"Sayang, aku cantik nggak?" Anyelir berpose di depan Devan, hal itu membuat Devan semakin gemas dengan sang istri.
"Cantik." jawab Devan seraya hendak mencium Anyelir, tapi dengan gesit Anyelir menahan bibir Devan.
"Ya sudah ayo berangkat, dari pada aku memaksa kamu nantinya," ucap Devan. Mereka pun berangkat bersama dengan Mayang juga.
Arman dan Gita juga tengah dalam perjalanan, semenjak pulang dari kediaman Agam dan Rose, Gita merasa ada yang beerbeda dengan perilaku Arman.
"Mas, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Gita memastikan, dia takut terjadi sesuatu dengan Arman.
"Aku nggak apa-apa, kok. Kamu nggak perlu khawatir ya?" Arman mengusap jemari Gita. Gita pun hanya menganggukkan kepalanya, entah kenapa Gita merasa bahwa raut wajah Arma menyembunyikan kesedihannya.
Arman dan Devan sampai bersamaan, mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama. Devan menatap sekeliling, belum ada mobil milik Dika dan Desi.
"Orang tua kamu datang kan?" tanya Devan memastikan.
"Iya, aku sudah hubungi Ayah, dan mereka sedang dalam perjalnan," jawab Arman, ternyata saat mereka tengah berbincang, Desi dan DIka benar-benar datang.
"Selamat malam, Pak Dika dan Bu Desi," sapa Devan dengan ramah.
"Malam, Nak Devan," balas Dika.
"Mari silahkan masuk, Pak." Devan memperilahkan Dika untuk masuk, dan di dalam Agam juga menyambut besa-besannya dengan ramah. Meskipun sebenarnya Agam juga teramat kecewa dengan sikap Desi, akan tetapi Agam harus ingat ada rencana yang sudah disusun rapi oleh Devan.
"Sayang, aku cantik nggak?" Anyelir berpose di depan Devan, hal itu membuat Devan semakin gemas dengan sang istri.
"Cantik." jawab Devan seraya hendak mencium Anyelir, tapi dengan gesit Anyelir menahan bibir Devan.
"Ya sudah ayo berangkat, dari pada aku memaksa kamu nantinya," ucap Devan. Mereka pun berangkat bersama dengan Mayang juga.
Arman dan Gita juga tengah dalam perjalanan, semenjak pulang dari kediaman Agam dan Rose, Gita merasa ada yang beerbeda dengan perilaku Arman.
"Mas, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Gita memastikan, dia takut terjadi sesuatu dengan Arman.
"Aku nggak apa-apa, kok. Kamu nggak perlu khawatir ya?" Arman mengusap jemari Gita. Gita pun hanya menganggukkan kepalanya, entah kenapa Gita merasa bahwa raut wajah Arma menyembunyikan kesedihannya.
Arman dan Devan sampai bersamaan, mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama. Devan menatap sekeliling, belum ada mobil milik Dika dan Desi.
"Orang tua kamu datang kan?" tanya Devan memastikan.
"Iya, aku sudah hubungi Ayah, dan mereka sedang dalam perjalnan," jawab Arman, ternyata saat mereka tengah berbincang, Desi dan DIka benar-benar datang.
"Selamat malam, Pak Dika dan Bu Desi," sapa Devan dengan ramah.
"Malam, Nak Devan," balas Dika.
"Mari silahkan masuk, Pak." Devan memperilahkan Dika untuk masuk, dan di dalam Agam juga menyambut besa-besannya dengan ramah. Meskipun sebenarnya Agam juga teramat kecewa dengan sikap Desi, akan tetapi Agam harus ingat ada rencana yang sudah disusun rapi oleh Devan.
"Sayang, aku cantik nggak?" Anyelir berpose di depan Devan, hal itu membuat Devan semakin gemas dengan sang istri.
"Cantik." jawab Devan seraya hendak mencium Anyelir, tapi dengan gesit Anyelir menahan bibir Devan.
"Ya sudah ayo berangkat, dari pada aku memaksa kamu nantinya," ucap Devan. Mereka pun berangkat bersama dengan Mayang juga.
Arman dan Gita juga tengah dalam perjalanan, semenjak pulang dari kediaman Agam dan Rose, Gita merasa ada yang beerbeda dengan perilaku Arman.
"Mas, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Gita memastikan, dia takut terjadi sesuatu dengan Arman.
"Aku nggak apa-apa, kok. Kamu nggak perlu khawatir ya?" Arman mengusap jemari Gita. Gita pun hanya menganggukkan kepalanya, entah kenapa Gita merasa bahwa raut wajah Arma menyembunyikan kesedihannya.
Arman dan Devan sampai bersamaan, mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama. Devan menatap sekeliling, belum ada mobil milik Dika dan Desi.
"Orang tua kamu datang kan?" tanya Devan memastikan.
"Iya, aku sudah hubungi Ayah, dan mereka sedang dalam perjalnan," jawab Arman, ternyata saat mereka tengah berbincang, Desi dan DIka benar-benar datang.
"Selamat malam, Pak Dika dan Bu Desi," sapa Devan dengan ramah.
"Malam, Nak Devan," balas Dika.
"Mari silahkan masuk, Pak." Devan memperilahkan Dika untuk masuk, dan di dalam Agam juga menyambut besa-besannya dengan ramah. Meskipun sebenarnya Agam juga teramat kecewa dengan sikap Desi, akan tetapi Agam harus ingat ada rencana yang sudah disusun rapi oleh Devan.
"Sayang, aku cantik nggak?" Anyelir berpose di depan Devan, hal itu membuat Devan semakin gemas dengan sang istri.
"Cantik." jawab Devan seraya hendak mencium Anyelir, tapi dengan gesit Anyelir menahan bibir Devan.
"Ya sudah ayo berangkat, dari pada aku memaksa kamu nantinya," ucap Devan. Mereka pun berangkat bersama dengan Mayang juga.
Arman dan Gita juga tengah dalam perjalanan, semenjak pulang dari kediaman Agam dan Rose, Gita merasa ada yang beerbeda dengan perilaku Arman.
"Mas, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Gita memastikan, dia takut terjadi sesuatu dengan Arman.
"Aku nggak apa-apa, kok. Kamu nggak perlu khawatir ya?" Arman mengusap jemari Gita. Gita pun hanya menganggukkan kepalanya, entah kenapa Gita merasa bahwa raut wajah Arma menyembunyikan kesedihannya.
Arman dan Devan sampai bersamaan, mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama. Devan menatap sekeliling, belum ada mobil milik Dika dan Desi.
"Orang tua kamu datang kan?" tanya Devan memastikan.
"Iya, aku sudah hubungi Ayah, dan mereka sedang dalam perjalnan," jawab Arman, ternyata saat mereka tengah berbincang, Desi dan DIka benar-benar datang.
"Selamat malam, Pak Dika dan Bu Desi," sapa Devan dengan ramah.
"Malam, Nak Devan," balas Dika.
"Mari silahkan masuk, Pak." Devan memperilahkan Dika untuk masuk, dan di dalam Agam juga menyambut besa-besannya dengan ramah. Meskipun sebenarnya Agam juga teramat kecewa dengan sikap Desi, akan tetapi Agam harus ingat ada rencana yang sudah disusun rapi oleh Devan.
__ADS_1