
"Ya sudah, Ibu sekarang istirahat duulu ya? karena biar bagaimana pun kondisi kesehatan Ibu, masih belum pulih betul." Devan kembali mengingatkan Mayang, soal kondisinya yang masih belum bisa dikatakan benar-benar stabil. Dan Mayang pun mengakui, dia merasa masih sering merasa lelah, bahkan hanya perjalanan rumah sakit menuju rumah Devan saja, Mayang sudah merasa penat. Dengan diantar oleh salah satu pelayang Devan, Mayang pun berpamitan menuju kamarnya. Sebenarnya, Anyelir ingin menemani Mayang, namun Mayang dan Devan kompak, sama-sama meminta Anyelir untuk beristirahat, demi kandungannya.
.
.
"Kita harus memberitahukan kabar bahagia ini kepada Ayah dan Ibu kamu sayang," kembali, Devan membahas perihal kabar kehamilan Anyelir, yang sampai saat ini keluarga Anyelir belum ada yang mengetahui. Bahkan, Agam dan Rosse sekalipun.
"Entahlah, aku takut ...." jawab Anyelir dengan ragu.
"Apa yang kamu takutkan sayang?" Devan mengelus punggung tangan Anyelir.
"Kamu tahu sendiri bukan? bagaimana kak Gita yang sangat tidak menyukai ku, bahkan kak Gita sangat membenciku, juga selalu mencari cara untuk melukaiku. Kalau selama ini, mungkin aku hanya diam saja, dengan semua tingkah kak Gita, kali ini aku tidak bisa. Aku hanya ingin melindungi anak ku," jawab Anyelir dengan bibir bergetar menahan tangis.
Devan sekarang paham, apa yang ditakutkan oleh istrinya, yaitu adanya Gita. Devan tau, saat ini Anyelir tengah was-was dan takut, kalau seandainya, Gita juga berusha untuk mencelakai calon buah hati mereka. Namun, bukan hanya Anyelir yang takut, tapi Devan pun sama.
"Baiklah,mungkin kamu masih butuh waktu sayang, dan aku tidak akan memaksa. Tapi, aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku akan selalu menjaga kamu, dan calon buah hati kita. Tidak akan aku biarkan, Gita atau siapapun yang ingin mencelakai kamu, menyentuh kamu barang seujung rambut pun,'" ucap Devann dengan begitu yakin. Apa yang tengah Devan lakukan, adalah kesungguhan dari dalam lubuk hatinya, sebagai seorang kepala rumah tangga, dia bertanggung jawab untuk menjaga istri dan juga anak-anaknya. Bagaiamanapun juga, Devan masih seperti yang dulu, dia terkenal tidak mengenal ampun, untuk siapa saja yang berani mencari urusan dengannya.
"Bagaimana kalau kita ajak Ayah dan Ibu untuk makan malam?" tanya Devan meminta persetujuan Anyelir.
"Baiklah," jawab Anyelir menyetujui. Akhirnya, malam ini Devan akan mengadakan jamuan makan malam. Sebagai bentuk penyambutan kepulangan ibunya juga untuk mengumumkan kehamilan sang istri.
.
.
"Bu, Devan mengundang kita untuk makan malam, nanti malam." ucap Agam yang masih memegang ponselnya, dia baru saja mendapatkan telepon dari Devan, sang menantu.
"Acara makan malam? Tumben." jawab Rose nampak menyelidik.
"Mungkin, ingin mempererat tali silaturahmi kekeluargaan," jawab Agam.
__ADS_1
"Gita? Diajak?" tanya Rose lagi.
Agam menggelengkan kepalanya. "Tidak, kata Devan hanya kita berdua," jawab Agam.
"Kok gitu?" Rosse nampak tidak terima, mendengar Gita yang tidak diundang, "Gita kan kakaknya, katanya mau mempererat tali silturahmi, lalu kenapa Gita nggak diundang?" tanya Rosse dengan wajah kesal.
"Pasti Devan punya alasan, apa kamu nggak ingat? Dengan kejadian waktu itu? Yang Gita menyebarkan fitnah," kembali Agam mengungkit kesalahan Gita, yang hampir saja menghancurkan keluarga suaminya juga.
"Gita, kan sudah minta maaf, dan dia juga sudah menjalani hukuman dari Devan," Rosse masih bersikeras membela Gita dan merasa sakit hati karena Gita tidak turut diundang dalam acara makan malam Devan.
"Sudahlah, yang menyelenggarakan acara itu, kan Devan. Jadi terserah mau undang siapa," jawab Agam, mencoba berpikir positif.
"Pokoknya, kalau Gita nggak diundang, Ibu juga nggak mau pergi," putus Rosse.
"Kamu yakin?" tanya Agam memastikan.
"Iya." jawab Rosse seraya berlalu pergi. Agam hanya bisa bersabar, dan menatap punggung istrinya yang semakin menjauh.
'Padahal, ini acara Anyelir, putrinya sendiri. Tapi, kenapa kamu sama sekali tidak memikirkan perasaan anak kamu, Rose.' batin Agam.
.
.
"Emangnya, Kak Devan undang beraapa orang, Bu? Kayaknya sibuk banget?" tanya Anyelir heran.
"Setahu Ibu, cuman orang tua kamu, Nak." jawab Mayang jujur.
"Kak Gita, nggak diundang, Bu?" Anyeli benar-benar tidak tahu, siapa saja yang akan diundang makan malam, jadi dia bertanya kepada Mayang.
"Devan bilang, dia tidak mau ambil resiko. Devan takut, kalau nantinya Gita justru membuat masalah dan membahayakan kamu, Nak. Jadi, Devan putuskan untuk tidak mengundag kakak kamu. Nggak apa-apa, kan?" tanya Mayang memastkan.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok, Bu. Anyelir, terserah kak Devan aja." jawab Anyelir dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Devan beruntung, memiliki istri yang begitu penurut seperti kamu, Nak." puji Mayang, seraya mengelus puncak kepala Anyelir. Ada rasa bersalah, karena sempat tak merestui hubungan mereka. Mayang tidakk bisa membayangkan, bagaimana bersalahnya dia, kalau sampai saat ini masih belum bisa merestui hubungan Devan dan Anyelir.
Anyelir menggenggam tangan Mayang dan tersenyum. "Justru, Anyelir yang merasa bangga bisa menjadi pendamping kak Devan, karena akhirnya Anyelir, mendapatkan paket komplit. Suami yang baik, dan Ibu yang sangat menyayangi Anyelir." ucap Anyelir, seraya memeluk ibu mertuanya.
"Ibu minta maaf, karena sempar tidak merestu hubungan kalian, Nak." ucap Mayang, sembari mengelus punggung Anyelir.
"Nggak apa-apa kok, Bu. Anyeli tahu pasti sebagai seorang Ibu, ingin yang terbaik untuk anaknya, dan Anyelir yakin Ibu juga begitu," jawab Anyelir.
Karena sudah sore, Anyelir memutuskan mandi, dan Larissa yang bertanggung jawab untuk mengurus semua keperluan Anyelir, dia jug akan selalu memastikan, sebelum Anyelir masuk ke kamar mandi, semua dalam keadaan kering dan tidak licin. Anyeli sebenarnya tidak enak, diperlakukan seperti itu. Namun, itu semua sudah perintah secara lngsung dari Devan, demi menjaga calon buah hati mereka. Jadi, Anyelir pun hanya bisa menerima sikap possesife suaminya, selagi itu baik untuk dirinya.
Selesai mandi, Larissa sudah mempersiapkan gaun yang akan dikenakan oleh Anyelir di acara nanti malam. Larissa memilih gaun dengan panjang di bawah lutut, bukan gaun yang panjang menjuntai. Sebab takut gaun itu terinjak dan membuat Anyelir terjatuh. Tidak lupa, Larissa juga memilihkan flat shoes untuk dikenakan oleh Anyeli. Sesuai permintaan dari Devan, Anyelir tidak diperbolehkan mengenakan high helsatau semacamnya, demi keamanan.
"Apa aku terlihat cantik Larissa?" tanya Anyelir ragu, padahal biasanya Anyelir sangat suka dengan penampilan seperti ini, make up yang flawless dan rambut digerai indah.
"Iya Nyonya, anda sangat cantik," jawab Larissa jujur.
"Larissa aku tidak suka warna pitanya." ucap Anyelir, seraya menunjuk pita sebelah kanan. Pita itu berwarna pink, dan terdapat sattu mutiara sebagai hiasan.
"Lalu? Anda mu warna apa Nyonya?" tanya Larissa, seraya memperlihatkan beberapa koleksi yang lain.
"Ini." tunjuk Anyelir, pada pita berwarna hitam. Anyelir pun mengiyakan. Menurut Larissa, semenjak hamil, Anyelir selalu bisa mengatakan apa yang dia suka dan apa yang tidak dii suka. Tidak jarang Anyelir suka bergonta-ganti pakaian, karena merasa pakaian itu tidak cocok untuknya. Padahal, jika dilihat semua yang dikenakan oleh Anyelir selalu bagus.
......"Hai makasih yaaa untuk segala bentuk dukungannya, dan di bawah sini adalah 12 besar pendukung cerita TMK."......
Intinya, terimakasih ya untuk semua pendukung aku, dan aku berharap kalian juga bisa mendukung karya author yang lainnya, yuk cek profilku. Aku juga ads group chat, kalian silahkan klik profilku, dan kalian bisa gabung di group chatkua.. supaya kalian nggak ketinggalan update terbaru karya author lainnya, kalian bisa follow author 🥰
...(Top fans Ranking umum)...
__ADS_1
...(Top fans ranking mingguan)...