Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Kabar bahagia


__ADS_3

Devan, yang begitu khawatir karena tiba-tiba sang istri jatuh pingsan. Langsung membawa untuk diperiksa. Karena kondisi Mayang, yang belum sepenuhnya sembuh, akhirnya Mayang hanya bisa mendoakan sang menantu agar selalu sehat, dan semoga saja, tidak ada hal buruk yang menimpa Anyelir.


Anyelir, mulai mengerjakan matanya, menyesuaikan cahaya yang terasa masuk ke penglihatannya. Bau obat-obatan langsung menyeruak menusuk hidung. Perlahan mata Anyelir, mulai bisa menyesuaikan cahaya, dia menatap sekeliling dan mendapati Devan yang tengah duduk di sampingnya.


"Kak Devan? Aku kenapa? Kok di sini? Bukannya seharusnya aku lagi jenguk Ibu?" Anyelir ingat, kalau terakhir kali, dia tengah berada di ruangan Mayang.


"Kamu pingsan sayang," jawab Devan dengan sendu.


"Pingsan? Aku? Kenapa Kak? Aku sakit kah?" tanya Anyelir dengan cemas.


"Maafkan aku," lirih Devan, semakin membuat Anyelir bingung dan takut.


"Kak aku mohon, aku kenapa? Kenapa Kakak minta maaf?" Anyelir sangat cemas sekarang.


"Ini semua salahku," ucap Devan lagi, kali ini Devan menundukkan wajahnya.


"Salah Kakak? Apa sih Kak, jawab aku dengan jelas," Anyelir merasa gemas dengan Devan yang terus saja berputar-puta.


"Maafkan aku sayang, gara-gara aku, ada sesuatu yang tumbuh di sini," Devan memegang bagian perut Anyelir.


"A-apa? Apa yang tumbuh Kak?" pikiran Anyelir semakin kalut, dia takut ada suatu penyakit yang serius.


"Buah cinta kita sayang," ujar Devan dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


"Hah?" Anyelir masih terkejut, dia memegang tangan Devan yang berada di atas perutnya.


"A-aku hamil?" tanya Anyelir memastikan.


"Iya sayang ... kamu dan aku akan segera menjadi orangtua," jawab Devan, dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya. Anyelir begitu terharu, dia sampai berkaca-kaca dan menitikkan air mata.


"Hei, kamu kenapa sayang? Kenapa menangis?" tanya Devan dengan was-was.

__ADS_1


"Aku terharu ..." jawab Anyelir sembari terisak.


"Aku juga sayang, rasanya masih belum percaya kalau Yang Maha Kuasa cepat memberikan kita kepercayaan ... Aku mohon, kamu jaga kesehatan ya? Jangan terlalu lelah, karena aku tidak mau kalau kamu dan calon buah hati kita kenapa-kenapa," titah Devan dengan begitu lembut.


"Aku janji akan menjaga kandungan ku," janji Anyelir. Devan tersenyum, dan mengecup dahi Anyelir dengan begitu lembut.


"Ibu pasti sangat bahagia kalau dengar bahwa dia akan menjadi seorang nenek," ucap Devan, dia nampak tidak sabar untuk memberitahu kan kabar bahagia ini kepada Mayang.


"Iya, kita harus memberitahukan kabar bahagia ini," Anyelir mendukung keputusan Devan. Namun, lebih dulu Devan membawa Anyelir untuk memeriksakan kandungannya di Dokter obgyn, supaya Devan dan Anyelir juga tahu, bagaimana perkembangan janin yang tengah di kandung Anyelir.


Anyelir dan Devan begitu bahagia saat mereka melihat lewat monitor, bagaimana calon buah hati mereka. Usia kandungan Anyelir baru menginjak 6 Minggu, dan masih sangat rentan. Jadi Dokter memberikan resep untuk penguat kandungan dan juga vitamin. Anyelir terus menatap lekat foto hasil usgnya, dia merasa begitu bahagia dengan semua yang terjadi hari ini.


'Terimakasih Ya Allah, hari ini aku mendapatkan berlipat kebahagiaan. Aku sudah mendapatkan restu dari Ibu, dan sekarang aku mendapatkan kabar bahagia, yaitu aku akan menjadi seorang Ibu,' batin Anyelir, mengelus perutnya yang masih rata. Sepanjang jalan, Devan menggandeng tangan Anyelir, seolah takut terjadi sesuatu dengan sang istri.


"Devan? Anyelir?" Mayang bahagia, karena melihat Anyelir yang nampak sudah lebih baik.


"Kamu kenapa Nak? Kamu baik-baik aja kan? Ibu sangat khawatir tadi," Mayang benar-benar khawatir, Karena Anyelir yang tiba-tiba saja pingsan.


"Aku nggak apa-apa kok Bu, tapi terimakasih ya, sudah mengkhawatirkan Anyelir," Anyelir mengelus punggung tangan Mayang.


"Apa itu Nak?" tanya Mayang.


"Ini Bu, bukalah." Anyelir memberikan amplop putih, kepada Mayang. Perlahan Mayang membukanya. Netra Mayang terus mengamati apa yang tengah di pegang, tertulis nama Ny. Anyelir, dan Mayang paham apa maksudnya.


"Ka-kamu hamil Nak?" tanya Mayang dengan terbata.


"Iya Bu, usia kandungan Anyelir, sudah memasuki 6 Minggu," jawab Devan.


"Terimakasih Nak, " Mayang memeluk Anyelir dengan penuh sayang.


"Ibu sangat bahagia," mata Mayang sampai berkaca-kaca karena mendengar kabar yang begitu iya nantikan sejak lama. Mayang terus mengelus dan seolah mengajak mengobrol sang cucu, meminta cucunya untuk selalu sehat dan tidak membuat Anyelir sakit.

__ADS_1


Keadaan Mayang, mulai berangsur membaik. Apalagi, setelah Mayang tahu bahwa saat ini Anyelir tengah mengandung. Rasanya, semangat Mayang kembali hidup. Devan memboyong Mayang, ke kediamannya. Karena Devan ingin selalu dekat dan memantau keadaan Mayang.


"Ayo, Bu." ajak Devan, dia membukakan pintu mobil untuk Mayang.


"Apa Anyelir tidak masalah?" Mayang was-was, karena dia takut kalau Anyelir akan menola dirinya.


"Anyelir justru sangat mendukung Bu,"jawab Devan dengan senyum yang manis, seolah mengatakan bahwa dan meyakinkan kepada Mayang, bahwa semuanya akan baik-baik saja, karena semua sudah dipersiapkan.


"Ibu,"Anyellir keluar dan menyambut kedatangan Mayang dengan penuh kegembiraan.


"Maaf ya Bu, Anyelir terlambat menyambut Ibu,"sesal Anyelir.


"Ah kamu, bisa aja ... memangnya Ibu siapa? sampai disambut segala?" tanya Mayang. Devan pun membawa istri dan ibunya untuk memasuki rumah.


"Selamat datang Nyonya Mayang?" sambutan diberian oleh pelayan rumah Devan.


"Semoga Nyonya bisa betah di sini," ujar kepala pelayan.


"Wah terimakasih ..." MAyang terharu, karena ternyata kedatangannya diterima di kediaan putranya.


"Nyonya Anyelir, sudah menata kamar untuk Nyonya Mayang," ucapan salah satu pelayan, membuat Devan dan MAyang sontaak terkejut.


"Sayang, benar kamu melakukan itu?" tanya Devan cemas.


"Iya," jawab Anyelir seraya menganggukkan kepalanya perlahan. Jujur saja, saat ini Anyelir takut kalau Devan akan marah padanya.


"Nak? kenapa kamu melakukan itu? kamu kan sedang hamil. Harusnya kamu banyak istirahat Nak," Mayang pun menasehati Anyelir, dia takut kalau sampai Anyelir kelelahan, bisa berakibat fatal pada kandungannya.


"Aku nggak apa-apa kok, Bu ... dan Anyelir rasa, ini salah satu ngidamnya Anyelir," Anyelir memanfaatkan kata ngidam sebagai senjatanya.


Anyelir, mengelus perutnya yang masih rata, seraya berkata,"sepertinya, calon cucu Ibu sangat senang, dan dia mau menyambut secara langsung kepulangan Neneknya," Anyelir sangat yakin, kalau kali ini, perkatannya akan mempan.

__ADS_1


"Kamu memang sangat pandai merayu," Devan mencubit gemas pipi Anyelir.


"Ya sudah, Ibu sekarang istirahat duulu ya? karena biar bagaimana pun kondisi kesehatan Ibu, masih belum pulih betul." Devan kembali mengingatkan Mayang, soal kondisinya yang masih belum bisa dikatakan benar-benar stabil. Dan Mayang pun mengakui, dia merasa masih sering merasa lelah, bahkan hanya perjalanan rumah sakit menuju rumah Devan saja, Mayang sudah merasa penat. Dengan diantar oleh salah satu pelayang Devan, Mayang pun berpamitan menuju kamarnya. Sebenarnya, Anyelir ingin menemani Mayang, namun Mayang dan Devan kompak, sama-sama meminta Anyelir untuk beristirahat, demi kandunannya.


__ADS_2