
“Mungkin, kalian juga bertanya, lalu kenapa Laura memerintahkan seseorang untuk menyebarkan berita tidak benar? Jawabannya karena cemburu. Saya akui, saya tidak lagi mencintai istri pertama saya, dan itupun karena beberapa alasan, salah satunya adalah …” Devan memerintahkan Felix untuk memperlihatkan sesuatu di layar monitor. Semua orang terkejut, karena melihat foto yang ditunjukkan oleh Devan, foto itu tidak lain adalah Laura, yang tengah bersama dengan lelaki lain, yang ternyata adalah selingkuhannya.
Konferensi perss disiarkan secara live, dan sekarang ini, di media social, mereka semua tengah membicarakan perihal Anyelir dan Laura. Jika semula, para netizen terus menghakimi Anyelir, namun sekarang berbeda, sekarang justru mereka mengecam Laura, dan mengatakan bahwa Laura adalah wanita bermuka dua. Dan kini, mereka justru mendukung Anyelir.
Laura, yang ternyata juga menyaksikan konferensi perss itu, teramat geram. Apalagi, saat dia membaca komentar pedas yang semuanya mengarah padanya, membuat Laura semakin malu.
“Arrrggghhhh sialan!” semua barang-barang yang ada di atas nakas, berjatuhan di lantai, bahkan beberapa ada yang pecah.
“Ini semua gara-gara wanita sialan itu!!” seru Laura dengan penuh emosi. Tidak ada pelayan yang berani mendekati Laura yang tengah di bakar rasa amarah. Bahkan sekarang, tanpa pikir panjang, Laura berlari keluar rumah. Pelayan ingin mencoba menghentikannya, namun mereka tidak berani. Karena mereka pernah merasakan bagaimana amukan Laura.
Laura dengan gesit berlari kearah mobil, yang pada saat itu, baru saja selesai digunakan, dia masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan kendaran tersebut, keluar gerbang, sangkin emosinya, bahkan Laura hampir menabrak satpam yang hendak menutu gerbang. Salah satu kepala pengawal, menghubungi kaburnya Laura lewat Felix.
“Aku harus menemui Ibu, hanya dia yang bisa membantuku,” Laura rupanya menuju ke rumah sakit, untuk menumi Mayang, dia akan menceritakan semuanya pada Mayang, dana Laura juga sangat yakin kalau dia bisa mendapatkan dukungan dari ibu mertuanya itu. Namun, tidakkah Laura berpikir? Bagaimana kondisi Mayang saat ini? tidakkah terlalu berbahaya, jika Laura menjelaskan semuanya kepada Mayang? Karena saat ini kondisi Mayang yang belum stabil? Namun, begitulah Laura, dia hanya memikirkan soal dirinya sendiri, tanpa perduli soal bagaimana? Dan apa yang akan terjadi kedepannya.
Laura memarkirkan kedaraan secara sembarangan, mereka yang sudah tahu bahwa Laura adalah istri Devan, hanya menggelengkan kepalanya. Laura berlari menuju ruangan Mayang. Padahal, pihak medis sudah coba untuk menghalangi, namun Laura tetap bersikukuh dan berontak.
“Ibu!” seru Laura, memasuki ruangan Mayang.
“Ibu?” Laura terkejut, karena kini ruangan Mayang sudah kosong, bahkan sangat rapi.
“Dok, di mana ibu saya? Di mana ibu mertua saya?!” seru Mayang, bertanya pada Dokter yang biasa menangani Mayang.
“Ibu Mayang, dipindahkan ke rumah sakit lain Bu, oleh tuan Devan,” jawab Dokter.
__ADS_1
“Kemana?” Laura terus mendesak Dokter, agar mau memberitahukan, di mana Mayang dipindahkan.
“Saya kurang tahu Bu, karena tuan Devan hanya datang untuk mengurus perpindahannya, kami juga tidak ikut campur dalam hal ini, karena ini mutlak atas putusan tuan Devan,” jelas Dokter.
“Dokter ini gimana sih, Dokter kan tahu kondisi ibu mertua saya gimana! Harusnya jangan diizinin dong,” Laura nampak marah, karena tahu Mayang sudah dipindahkan, dan dia tidak mendapatkan infomasi apapun soal kemana Mayang.
“Maaf Bu, tuan Devan selaku anak dari Ibu Mayang, sudah melengkapi berkasnya, dan kami tidak ada hak untuk menahan pasien,” jelas Dokter masih bersabar.
“Kamu mencari Ibu?” suara yang sangat Laura kenal, terdengar menyapa pendengarannya, saat Laura mulai frustasi memikirkan cara, agar Devan tidak menceraikannya.
“Devan?” lirih Laura, dia menatap Devan yang saat ini tengah tersenyum smirk padanya, terlihat menakutkan bagi Laura.
“Kenapa tidak bertanya langsung padaku?” tanya Devan, dia mulai melangkah mendekati Laura. Dokter yang tadi pun, memilih meninggalkan sepasang suami istri tersebut, karena tidak mau ikut campur, apalagi turut terlibat.
“Kau berniat menemui ibuku?” tanya Devan dan Laura hanya bisa bergetar takut.
“Sepertinya, kamu malu ya berada di sini, kalau begitu ayo pulang,” Devan menggenggam erat pergelangan tangan Laura, dan menyeretnya berjalan keluar rumah sakit. Kali ini Devan menuju pintu rumah sakit di bagian belakang, supaya tidak berpapasan dengan banyak orang.
Sesampainya di rumah, Devan kembali menyeret Laura sampai dia terjatuh di lantai. Laura langsung berlutut, meminta ampun pada Devan, Laura tahu saat ini Devan tengah marah, karena dirinya ingin meneui Mayang.
“Kau tahu bukan, keadaan ibu sedang tidak baik, tapi kau ingin menemuinya?” Devan mencengkram dagu Laura kuat.
“Apa kau memang ingin membunuh ibuku dengan perlahan?” tanya Devan, sorot matanya terlihat begitu menyeramkan bagi Laura, karena Devan menatapnya dengan penuh kebencian.
__ADS_1
“Ampuni aku Devan, aku janji tidak akan mengulanginya,” isak Laura.
“Kau memang tidak akan melakukannya lagi, kau tidak akan menemui ibuku lagi,” ucap Devan, membuat alis Laura berkerut.
“Ma-maksud mu?” tanya Laura bingung.
“Aku, Devan Wilson menjatuhkan talakku pada kamu Laura Nasution, dan mulai hari ini, detik ini juga kau bukan lagi istri ku. Aku membebaskan kamu, dari tali pernikahan kita,” dengan lancar dan lantang Devan menjatuhkan ikrar talaknya kepada Laura. Seketika, jantung Laura langsung cepat berpacu. Mulai saat ini, dirinya bukan lagi istri dari Devan Wilson.
“Devan, aku mohon …”
“Aku tidak akan mau lagi mendengar pembelaan mu, kemasi barangmu dan pergilah. Aku tidak mau menggunakan kekerasan Laura, karena itu permintaan Anyelir, ” Devan tidak akan menggunakan cara kasar sesuai dengan apa yang Anyelir minta, baginya ini semua sudah berakhir. Laura bangkit, dan hendak menuju kamarnya, namun suara Devan menghentikan langkah Laura.
“Pergilah keluar negeri, dan jangan pernah kembali, kau bisa memulai kehidupan barumu di sana. Jika kau tetap memilih untuk berada di sini, maka itu semua terserah padamu, kau tentu lebih tahu apa yang akan terjadi jika kau bertahan di sini,” jelas Devan . dan Laura paham apa maksud Devan. Semua orang, sudah tahu soal masalahnya, jika dia bertahan di Indonesia, maka semua orang yang bertemu dengannya akan menatap sebelah mata Laura, dan memakinya. Apa yang disarankan oleh Devan, memang ada benarnya. Kini karir Laura di Indonesia sudah tidak bisa lagi diselematkan.
Menceraikan Laura memang mudah bagi Devan, namun setelah ini Devan harus menghadapi ibunya. Devan harus bisa membuat Mayang memberikan restunya kepada Anyelir. Karena saat ini, Anyelir sudah menjadi nyonya Wilson, dan menjadi satu-satunya istri Devan. Bahkan Devan sudah mulai mengurus berkas pernikahannya, agar tercatat di Negara.
“Bagaimana kak Laura?” tanya Anyelir, setelah Devan pulang.
“Dia ke rumah sakit, dan ingin bertemu denga Ibu, untung saja aku sudah memindahkannya,” jawab Devan lega.
“Aku sudah menceraikannya,” ucapan Devan membuat Anyelir menatap Devan dengan bingung, entahlah, Anyelir sendiri juga bingung dengan perasaannya. Apakah Anyelir harus bahagia di atas penderitaan Laura?
Saat Anyelir dan Devan tengah mengobrol, tiba-tiba saja Felix datang dan memberikan kabar, bahwa Devan diminta menuju ke rumah sakit. Anyelir memaksa ikut, karena Anyelir yakin itu soal Mayang. Namun, Devan tidak mengizinkan, Devan meminta Anyelir bersabar sedikit lagi. Anyelir paham, dia memberikan waktu untuk Devan dan membiarkan suaminya pergi dengan Felix.
__ADS_1
“Semoga, ibu bisa kembali sehat seperti sedia kala,” lirih Anyelir penuh harap.