
Agam menunggu dengan harap cemas, Rose yang tengah ditangani oleh Dokter. Dia terus berdoa, berharap kalau Rose akan baik-baik saja.
"Bagaimana keadan istri saya Dok?" tanya Agam kepada Dokter yang baru saja keluar dari ruangan Rose.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Pak. Hal ini lumrah terjadi, pada ibu yang tengah hamil di kehamilan muda, mungkin karena lelah," ujar Dokter.
"Ha-hamil?" tanya Agam kembali memastikan.
"Iya, dari hasil pemeriksaan saya, istri anda hamil. Tapi untuk lebih jelasnya, silahkan bawa bawa ke Dokter kandungan," jawab Dokter.
Mata Agam langsung berkca-kaca. "Apa saya boleh menemui istri saya Dok?" Agam tidak sabar, ingin segera menemui istrinya yang sangat dia cintai.
__ADS_1
"Silahkan Pak, kebetulan istri Bapak sudah siuman." Dokter pun berpamitan, dan Agam langsung masuk ke dalam ruangan Rose.
"Sayang." Agam memeluk istrinya dan memberikan kecupan di dahi Rose.
"Mas, Allah masih baik sama aku. Aku masih diberi kesempatan untuk menjadi seorang ibu." Rose menitikkan air mata bahagianya, dia masih tidak menyangka, kalau akhirnya dia hamil.
"Aku sangat bahagia sayang," ucap Agam. Rasa syukur tidak pernah lepas dari keduanya, raut wajah bahagia benar-benar terpnacar dariĀ mereka. Agam juga langusung membawa Rose ke Dokter kandungan.
Erma, begitu benci kepada Rose, niatnya untuk menyingkirkan Rose, lewat bayi yang baru saja Erma lahirkan, nyatanya semua itu tidak berlaku. Erma geram saat dia mendengar bahwa Rose tengah hami.
Waktu terus berlalu, Agam masih memiliki dua istri, dan dia bertanggung jawab kepada kedua istrinya. Agam begitu adil kepada mereka berdua. Kini, Rose juga sudah melahirkan anaknya yang berjenis kelamin perempuan. Rasa bahagia terus terukir di wajah Agam dan Rose. Tapi tidak untuk Erma.
__ADS_1
"Mas, sekarang kamu udah punya anak dari Rose, tapi aku nggak mau kalau sampai kamu nggak perduli lagi sama Gita," ucap Erma dengan nada emosi.
"Kamu itu kenapa sih, terus berpikir buruk soal aku. Gita dan Anyelir, sama-sama anak ku, jadi aku akan berbagi kasih yang sama kepada mereka," jawab Agam dengan sunggu-sungguh.
"Tapi aku nggak mau, kalau sampai Gita tahu dia punya ibu tiri dan saudara tiri," Erma berucap dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
"Kamu pikir Anyelir mau?" tanya Agam, membalik omongan Erma.
Rose, menatap Agam dan Rose secara bergantian. "Mas Agam, Erma?" panggil Rose.
"Jangan bertengkar masalah seperti ini. Aku tahu Rose, sebagai seorang ibu, kamu tidak mau kalau sampai anak kamu minder karena ayahnya memiliki dua istri. Jadi, ya sudah, kita rahasiakan saja hubungan kita semua seperti biasa. Saat Mas Agam sama kamu, ya berarti Mas Agam suami dan juga ayah dari Gita, tapi begitu juga sebaliknya. Saat Mas Agam sama aku berarti Mas Agam adalah ayah dari anak aku," ucap Rose memberikan saran.
__ADS_1
"Kenapa sih, kamu nggak ngalah aja. Kenapa kamu nggak pergi dari kehidupan Mas Agam, supaya hanya aku yang menjadi istrinya, dan Gita nggak punya ibu tiri!" ketus Erma, tanpa berperasaan.
"Erma!" bentak Agam. "Kamu sadar nggak sih, kamu bisa jadi istri ku karena siapa? Ya karena Rose, jadi jangan bertingkah, kalau kamu masih mau jadi istri ku." Agam memberikan peringatan dan ancaman kepada Erma, supaya Erma bisa jera dan tidak lagi hanya memikirkan egonya sendiri.