
"Bukankah, ini masih belum terlambat, Bu? Kita bisa menjelaskan semuanya kepada Gita sekarang," saran Devan.
"Jangan," cegah Agam dan Rose.
"Karena saat ini Gita sedang hamil, Nak. Dan Dokter sudah berpesan bahwa Gita tidak boleh stres, karena Gita sudah cukup dipusingkan dengan sikap mertuanya yang tidak bisa menerima Gita. Kami mohon, beri kami waktu, Nak sampai Gita malahirkan," pinta Agam.
"Lalu, akan sampai kapan Anyelir menanggung semua kebencian kak Gita, Yah? Anyelir harus terus memaafkan dan memaklumi semua kebencian dan perbuatan kak Gita. Hari ini, dengan sengaa kak Gita ingin mencelakai kandungan aku, dan besok-besok apa? Dalam keadaan sakit, kak Gita masih saja menaruh dendam padaku begitu besar," isak Anyelir. Devan pun membawa Anyelir ke dalam dekapannya.
"Ayah tahu, Nak. Pasti kamu sangat kecewa, tapi Ayah juga tidak bisa berbuat banyak, biar bagaimanapun kakak kamu sekarang sedang mengandung. Ayah harap dengan sangat, kali ini kamu masih mau bersabar," pinta Agam dengan raut wajah memohon. Devan memberikan isyarat menganggukan kepalanya, seolah dia mengatakan supaya Agam berhenti membujuk Anyelir, dan nantinya Devan yang akan berbicara dengan sang istri. Karena Anyelir terus terisak, membuat Devan khawatir dengan kondisi Anyelir, hal itu membuat Devan akhirnya memilih berpamitan kepada kedua mertuanya. Anyelir juga tidak menolak, tapi saat pergi, Anyelir hanya diam dan terus menundukkan wajahnya.
"Mas," Rose menatap sang suami, dia juga takut kalau Anyelir kecewa dengan sikap mereka, dan takut kalau ANyelir berpikir bahwa mereka berat sebelah kepada Gita, tapi memang keadaan yang sedang tidak mendukung.
"Kita percayakan pada Devan, dia pasti bisa membuat Anyelir percaya pada kita," ujar Agam menenangkan Rose.
"Iya, Mas. Semoga saja Devan bisa membantu kita," harap Rose. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang, lagi pula mereka jua merasa sangat lelah. Banyak permasalahan yang mereka hadapi akhir-akhir ini.
Sedangkan ANyelir, dia kelelahan menangis sampai ketiduran. Devan sigap menggendong istrinya dan sampai ke kamar, dengan langkah yang pelan Devan membawa tubuh sang istri dengan hati-hati. Dia bahkan meminta pelayan yang berpapasan dengannya untuk tidak mengeluarkan suara, karena takut Anyelir terganggu tidurnya dan justru terbangun. Devan ingin Anyelir istirahat lebih dulu, dia tahu Anyelir pasti tenah kecewa atas keputusan orang tuanya. Tapi, Devan juga memahami di posisi kedua mertuanya, mereka pasti bingung karena sekarang kondisi Gita juga tengah tidak stabil.
"Ibu?" Devan tersentak keget, saat dia melihat ibunya sudha berada di rumah.
"Bawa Anyelir ke kamar dulu," bisik Mayang, yang melihat menantunya tertidur begitu lelap. Devan pun menganggukkan kepalanya dan kembali melangkah menuju kamar. Devan membaringkan tubuh Anyelir di atas ranjang king size mereka, tidak lupa melepaskan flat shoes yang dikenakan oleh Anyelir, membenarkan posisi tubuh sang istri dan memastikan istrinya tidur dengan nyaman.
"Istirahat ya sayang," bisik Devan, dia mengecup kening sang istri, setelah menyelimuti sebatas pinggang. Setelah itu keluar dari kamar dengan perlahan.
"Ibu kapan pulang?" tanya Devan, saat ini dia sudah duduk bersama dengan Mayang.
"Baru aja, kata pelayan rumah kalian sedang menjenguk Gita, jadi Ibu nggak kabari kalian." jelas Mayang.
"Iya, Bu. Gita di rumah sakit, karena ternyata dia sedang hamil muda," Devan menjelaskan keadaan Gita juga.
"Hamil? Jadi kakak beradik hamil dalam waktu yang bersamaan?" tanya Mayang nampak senang mendengar kabar baik itu. "Lalu, kenapa Anyelir terlihat habis menangis? Ibu lihat matanya agak sembab dan basah," ternyata Mayang memperhatikan Anyelir tadi.
"Begini Bu, aku dan ANyelir sudah mengetahui sebuah rahasia besar," jawab Devan, membuat Mayang semakin penasaran.
"Rahasia apa itu?" tanya Mayang penasaran. Akhirnya Devan pun menceritakan rahasia yang menangkut kedua mertuanya dan tidak lain besan Mayang. Mayang mendengar dengan seksama. Devan bercerita sampai pada kedatangannya di rumah sakit hari ini, dan juga soal perlakuan buruk Gita. Devan juga bercerita tentang pertemuan Anyelir dengan kedua orang tuanya.
"Pasti berat untuk kedua orang tua Anyelir, mereka bagaikan buah simalakama sekarang," ujar Mayang, "tapi, Anyelir juga pasti tidak nyaman terus menjadi bahan balas dendam Gita, yang terus saja salah paham. Memang sebaiknya kesalah pahaman ini diluruskan, akna tetapi melihat kondisi Gita yang sekarang masih agak labil, sebaiknya ditunda sampai kondisinya benar-benar membaik. Mungkin bisa bertanya pada dokter yang menangani," saran Mayang.
"Bukankah, ini masih belum terlambat, Bu? Kita bisa menjelaskan semuanya kepada Gita sekarang," saran Devan.
"Jangan," cegah Agam dan Rose.
"Karena saat ini Gita sedang hamil, Nak. Dan Dokter sudah berpesan bahwa Gita tidak boleh stres, karena Gita sudah cukup dipusingkan dengan sikap mertuanya yang tidak bisa menerima Gita. Kami mohon, beri kami waktu, Nak sampai Gita malahirkan," pinta Agam.
"Lalu, akan sampai kapan Anyelir menanggung semua kebencian kak Gita, Yah? Anyelir harus terus memaafkan dan memaklumi semua kebencian dan perbuatan kak Gita. Hari ini, dengan sengaa kak Gita ingin mencelakai kandungan aku, dan besok-besok apa? Dalam keadaan sakit, kak Gita masih saja menaruh dendam padaku begitu besar," isak Anyelir. Devan pun membawa Anyelir ke dalam dekapannya.
"Ayah tahu, Nak. Pasti kamu sangat kecewa, tapi Ayah juga tidak bisa berbuat banyak, biar bagaimanapun kakak kamu sekarang sedang mengandung. Ayah harap dengan sangat, kali ini kamu masih mau bersabar," pinta Agam dengan raut wajah memohon. Devan memberikan isyarat menganggukan kepalanya, seolah dia mengatakan supaya Agam berhenti membujuk Anyelir, dan nantinya Devan yang akan berbicara dengan sang istri. Karena Anyelir terus terisak, membuat Devan khawatir dengan kondisi Anyelir, hal itu membuat Devan akhirnya memilih berpamitan kepada kedua mertuanya. Anyelir juga tidak menolak, tapi saat pergi, Anyelir hanya diam dan terus menundukkan wajahnya.
"Mas," Rose menatap sang suami, dia juga takut kalau Anyelir kecewa dengan sikap mereka, dan takut kalau ANyelir berpikir bahwa mereka berat sebelah kepada Gita, tapi memang keadaan yang sedang tidak mendukung.
__ADS_1
"Kita percayakan pada Devan, dia pasti bisa membuat Anyelir percaya pada kita," ujar Agam menenangkan Rose.
"Iya, Mas. Semoga saja Devan bisa membantu kita," harap Rose. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang, lagi pula mereka jua merasa sangat lelah. Banyak permasalahan yang mereka hadapi akhir-akhir ini.
Sedangkan ANyelir, dia kelelahan menangis sampai ketiduran. Devan sigap menggendong istrinya dan sampai ke kamar, dengan langkah yang pelan Devan membawa tubuh sang istri dengan hati-hati. Dia bahkan meminta pelayan yang berpapasan dengannya untuk tidak mengeluarkan suara, karena takut Anyelir terganggu tidurnya dan justru terbangun. Devan ingin Anyelir istirahat lebih dulu, dia tahu Anyelir pasti tenah kecewa atas keputusan orang tuanya. Tapi, Devan juga memahami di posisi kedua mertuanya, mereka pasti bingung karena sekarang kondisi Gita juga tengah tidak stabil.
"Ibu?" Devan tersentak keget, saat dia melihat ibunya sudha berada di rumah.
"Bawa Anyelir ke kamar dulu," bisik Mayang, yang melihat menantunya tertidur begitu lelap. Devan pun menganggukkan kepalanya dan kembali melangkah menuju kamar. Devan membaringkan tubuh Anyelir di atas ranjang king size mereka, tidak lupa melepaskan flat shoes yang dikenakan oleh Anyelir, membenarkan posisi tubuh sang istri dan memastikan istrinya tidur dengan nyaman.
"Istirahat ya sayang," bisik Devan, dia mengecup kening sang istri, setelah menyelimuti sebatas pinggang. Setelah itu keluar dari kamar dengan perlahan.
"Ibu kapan pulang?" tanya Devan, saat ini dia sudah duduk bersama dengan Mayang.
"Baru aja, kata pelayan rumah kalian sedang menjenguk Gita, jadi Ibu nggak kabari kalian." jelas Mayang.
"Iya, Bu. Gita di rumah sakit, karena ternyata dia sedang hamil muda," Devan menjelaskan keadaan Gita juga.
"Hamil? Jadi kakak beradik hamil dalam waktu yang bersamaan?" tanya Mayang nampak senang mendengar kabar baik itu. "Lalu, kenapa Anyelir terlihat habis menangis? Ibu lihat matanya agak sembab dan basah," ternyata Mayang memperhatikan Anyelir tadi.
"Begini Bu, aku dan ANyelir sudah mengetahui sebuah rahasia besar," jawab Devan, membuat Mayang semakin penasaran.
"Rahasia apa itu?" tanya Mayang penasaran. Akhirnya Devan pun menceritakan rahasia yang menangkut kedua mertuanya dan tidak lain besan Mayang. Mayang mendengar dengan seksama. Devan bercerita sampai pada kedatangannya di rumah sakit hari ini, dan juga soal perlakuan buruk Gita. Devan juga bercerita tentang pertemuan Anyelir dengan kedua orang tuanya.
"Pasti berat untuk kedua orang tua Anyelir, mereka bagaikan buah simalakama sekarang," ujar Mayang, "tapi, Anyelir juga pasti tidak nyaman terus menjadi bahan balas dendam Gita, yang terus saja salah paham. Memang sebaiknya kesalah pahaman ini diluruskan, akna tetapi melihat kondisi Gita yang sekarang masih agak labil, sebaiknya ditunda sampai kondisinya benar-benar membaik. Mungkin bisa bertanya pada dokter yang menangani," saran Mayang.
"Bukankah, ini masih belum terlambat, Bu? Kita bisa menjelaskan semuanya kepada Gita sekarang," saran Devan.
"Jangan," cegah Agam dan Rose.
"Karena saat ini Gita sedang hamil, Nak. Dan Dokter sudah berpesan bahwa Gita tidak boleh stres, karena Gita sudah cukup dipusingkan dengan sikap mertuanya yang tidak bisa menerima Gita. Kami mohon, beri kami waktu, Nak sampai Gita malahirkan," pinta Agam.
"Lalu, akan sampai kapan Anyelir menanggung semua kebencian kak Gita, Yah? Anyelir harus terus memaafkan dan memaklumi semua kebencian dan perbuatan kak Gita. Hari ini, dengan sengaa kak Gita ingin mencelakai kandungan aku, dan besok-besok apa? Dalam keadaan sakit, kak Gita masih saja menaruh dendam padaku begitu besar," isak Anyelir. Devan pun membawa Anyelir ke dalam dekapannya.
"Ayah tahu, Nak. Pasti kamu sangat kecewa, tapi Ayah juga tidak bisa berbuat banyak, biar bagaimanapun kakak kamu sekarang sedang mengandung. Ayah harap dengan sangat, kali ini kamu masih mau bersabar," pinta Agam dengan raut wajah memohon. Devan memberikan isyarat menganggukan kepalanya, seolah dia mengatakan supaya Agam berhenti membujuk Anyelir, dan nantinya Devan yang akan berbicara dengan sang istri. Karena Anyelir terus terisak, membuat Devan khawatir dengan kondisi Anyelir, hal itu membuat Devan akhirnya memilih berpamitan kepada kedua mertuanya. Anyelir juga tidak menolak, tapi saat pergi, Anyelir hanya diam dan terus menundukkan wajahnya.
"Mas," Rose menatap sang suami, dia juga takut kalau Anyelir kecewa dengan sikap mereka, dan takut kalau ANyelir berpikir bahwa mereka berat sebelah kepada Gita, tapi memang keadaan yang sedang tidak mendukung.
"Kita percayakan pada Devan, dia pasti bisa membuat Anyelir percaya pada kita," ujar Agam menenangkan Rose.
"Iya, Mas. Semoga saja Devan bisa membantu kita," harap Rose. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang, lagi pula mereka jua merasa sangat lelah. Banyak permasalahan yang mereka hadapi akhir-akhir ini.
Sedangkan ANyelir, dia kelelahan menangis sampai ketiduran. Devan sigap menggendong istrinya dan sampai ke kamar, dengan langkah yang pelan Devan membawa tubuh sang istri dengan hati-hati. Dia bahkan meminta pelayan yang berpapasan dengannya untuk tidak mengeluarkan suara, karena takut Anyelir terganggu tidurnya dan justru terbangun. Devan ingin Anyelir istirahat lebih dulu, dia tahu Anyelir pasti tenah kecewa atas keputusan orang tuanya. Tapi, Devan juga memahami di posisi kedua mertuanya, mereka pasti bingung karena sekarang kondisi Gita juga tengah tidak stabil.
"Ibu?" Devan tersentak keget, saat dia melihat ibunya sudha berada di rumah.
"Bawa Anyelir ke kamar dulu," bisik Mayang, yang melihat menantunya tertidur begitu lelap. Devan pun menganggukkan kepalanya dan kembali melangkah menuju kamar. Devan membaringkan tubuh Anyelir di atas ranjang king size mereka, tidak lupa melepaskan flat shoes yang dikenakan oleh Anyelir, membenarkan posisi tubuh sang istri dan memastikan istrinya tidur dengan nyaman.
"Istirahat ya sayang," bisik Devan, dia mengecup kening sang istri, setelah menyelimuti sebatas pinggang. Setelah itu keluar dari kamar dengan perlahan.
__ADS_1
"Ibu kapan pulang?" tanya Devan, saat ini dia sudah duduk bersama dengan Mayang.
"Baru aja, kata pelayan rumah kalian sedang menjenguk Gita, jadi Ibu nggak kabari kalian." jelas Mayang.
"Iya, Bu. Gita di rumah sakit, karena ternyata dia sedang hamil muda," Devan menjelaskan keadaan Gita juga.
"Hamil? Jadi kakak beradik hamil dalam waktu yang bersamaan?" tanya Mayang nampak senang mendengar kabar baik itu. "Lalu, kenapa Anyelir terlihat habis menangis? Ibu lihat matanya agak sembab dan basah," ternyata Mayang memperhatikan Anyelir tadi.
"Begini Bu, aku dan ANyelir sudah mengetahui sebuah rahasia besar," jawab Devan, membuat Mayang semakin penasaran.
"Rahasia apa itu?" tanya Mayang penasaran. Akhirnya Devan pun menceritakan rahasia yang menangkut kedua mertuanya dan tidak lain besan Mayang. Mayang mendengar dengan seksama. Devan bercerita sampai pada kedatangannya di rumah sakit hari ini, dan juga soal perlakuan buruk Gita. Devan juga bercerita tentang pertemuan Anyelir dengan kedua orang tuanya.
"Pasti berat untuk kedua orang tua Anyelir, mereka bagaikan buah simalakama sekarang," ujar Mayang, "tapi, Anyelir juga pasti tidak nyaman terus menjadi bahan balas dendam Gita, yang terus saja salah paham. Memang sebaiknya kesalah pahaman ini diluruskan, akna tetapi melihat kondisi Gita yang sekarang masih agak labil, sebaiknya ditunda sampai kondisinya benar-benar membaik. Mungkin bisa bertanya pada dokter yang menangani," saran Mayang.
"Bukankah, ini masih belum terlambat, Bu? Kita bisa menjelaskan semuanya kepada Gita sekarang," saran Devan.
"Jangan," cegah Agam dan Rose.
"Karena saat ini Gita sedang hamil, Nak. Dan Dokter sudah berpesan bahwa Gita tidak boleh stres, karena Gita sudah cukup dipusingkan dengan sikap mertuanya yang tidak bisa menerima Gita. Kami mohon, beri kami waktu, Nak sampai Gita malahirkan," pinta Agam.
"Lalu, akan sampai kapan Anyelir menanggung semua kebencian kak Gita, Yah? Anyelir harus terus memaafkan dan memaklumi semua kebencian dan perbuatan kak Gita. Hari ini, dengan sengaa kak Gita ingin mencelakai kandungan aku, dan besok-besok apa? Dalam keadaan sakit, kak Gita masih saja menaruh dendam padaku begitu besar," isak Anyelir. Devan pun membawa Anyelir ke dalam dekapannya.
"Ayah tahu, Nak. Pasti kamu sangat kecewa, tapi Ayah juga tidak bisa berbuat banyak, biar bagaimanapun kakak kamu sekarang sedang mengandung. Ayah harap dengan sangat, kali ini kamu masih mau bersabar," pinta Agam dengan raut wajah memohon. Devan memberikan isyarat menganggukan kepalanya, seolah dia mengatakan supaya Agam berhenti membujuk Anyelir, dan nantinya Devan yang akan berbicara dengan sang istri. Karena Anyelir terus terisak, membuat Devan khawatir dengan kondisi Anyelir, hal itu membuat Devan akhirnya memilih berpamitan kepada kedua mertuanya. Anyelir juga tidak menolak, tapi saat pergi, Anyelir hanya diam dan terus menundukkan wajahnya.
"Mas," Rose menatap sang suami, dia juga takut kalau Anyelir kecewa dengan sikap mereka, dan takut kalau ANyelir berpikir bahwa mereka berat sebelah kepada Gita, tapi memang keadaan yang sedang tidak mendukung.
"Kita percayakan pada Devan, dia pasti bisa membuat Anyelir percaya pada kita," ujar Agam menenangkan Rose.
"Iya, Mas. Semoga saja Devan bisa membantu kita," harap Rose. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang, lagi pula mereka jua merasa sangat lelah. Banyak permasalahan yang mereka hadapi akhir-akhir ini.
Sedangkan ANyelir, dia kelelahan menangis sampai ketiduran. Devan sigap menggendong istrinya dan sampai ke kamar, dengan langkah yang pelan Devan membawa tubuh sang istri dengan hati-hati. Dia bahkan meminta pelayan yang berpapasan dengannya untuk tidak mengeluarkan suara, karena takut Anyelir terganggu tidurnya dan justru terbangun. Devan ingin Anyelir istirahat lebih dulu, dia tahu Anyelir pasti tenah kecewa atas keputusan orang tuanya. Tapi, Devan juga memahami di posisi kedua mertuanya, mereka pasti bingung karena sekarang kondisi Gita juga tengah tidak stabil.
"Ibu?" Devan tersentak keget, saat dia melihat ibunya sudha berada di rumah.
"Bawa Anyelir ke kamar dulu," bisik Mayang, yang melihat menantunya tertidur begitu lelap. Devan pun menganggukkan kepalanya dan kembali melangkah menuju kamar. Devan membaringkan tubuh Anyelir di atas ranjang king size mereka, tidak lupa melepaskan flat shoes yang dikenakan oleh Anyelir, membenarkan posisi tubuh sang istri dan memastikan istrinya tidur dengan nyaman.
"Istirahat ya sayang," bisik Devan, dia mengecup kening sang istri, setelah menyelimuti sebatas pinggang. Setelah itu keluar dari kamar dengan perlahan.
"Ibu kapan pulang?" tanya Devan, saat ini dia sudah duduk bersama dengan Mayang.
"Baru aja, kata pelayan rumah kalian sedang menjenguk Gita, jadi Ibu nggak kabari kalian." jelas Mayang.
"Iya, Bu. Gita di rumah sakit, karena ternyata dia sedang hamil muda," Devan menjelaskan keadaan Gita juga.
"Hamil? Jadi kakak beradik hamil dalam waktu yang bersamaan?" tanya Mayang nampak senang mendengar kabar baik itu. "Lalu, kenapa Anyelir terlihat habis menangis? Ibu lihat matanya agak sembab dan basah," ternyata Mayang memperhatikan Anyelir tadi.
"Begini Bu, aku dan ANyelir sudah mengetahui sebuah rahasia besar," jawab Devan, membuat Mayang semakin penasaran.
"Rahasia apa itu?" tanya Mayang penasaran. Akhirnya Devan pun menceritakan rahasia yang menangkut kedua mertuanya dan tidak lain besan Mayang. Mayang mendengar dengan seksama. Devan bercerita sampai pada kedatangannya di rumah sakit hari ini, dan juga soal perlakuan buruk Gita. Devan juga bercerita tentang pertemuan Anyelir dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Pasti berat untuk kedua orang tua Anyelir, mereka bagaikan buah simalakama sekarang," ujar Mayang, "tapi, Anyelir juga pasti tidak nyaman terus menjadi bahan balas dendam Gita, yang terus saja salah paham. Memang sebaiknya kesalah pahaman ini diluruskan, akna tetapi melihat kondisi Gita yang sekarang masih agak labil, sebaiknya ditunda sampai kondisinya benar-benar membaik. Mungkin bisa bertanya pada dokter yang menangani," saran Mayang.