
Hari ini, Anyelir dan Devan akan datang menjenguk Gita, bahkan Anyelir sudah membawa parsel buah untuk kakaknya, tidak lupa rainbow cake yang menjadi favorit Gita. Anyelir benar-benar mempersiapkan semuanya, bahkan dia juga memastikan buah yang dia bawa baik untuk ibu hamil.
"Ayo sayang." Devan membukakan pintu mobil dan memapah Anyelir, memastikan kalau istri tercintanya akan baik-baik saja.
"Semoga kak Gita suka ya?" Anyelir tidak sabar bertemu dengan Gita dan memberikan buah tangannya.
"Seharusnya, dia suka," jawab Xavier, sebenarnya dia masih sangat malas bertemu dengan Gita, tapi mengingat keselamatan sang istri, Devan harus mendampinginya. Devan dan Anyelir akhirnya sampai di depan kamar Gita, saat mereka hendak membuka secara bersamaan, Arman juga hendak keluar. Devan sigap, menarik mundur Anyelir agar menjauh dari Arman.
'Mulai deh, posesivenya,' batin Anyelir.
"Di dalem ada siapa?" tanya Devan tanpa basa-basi.
"Ibu sama ayah," jawab Arman singkat.
"Minggir, istriku mau lewat," titah Devan tanpa basi-basi, dia bahkan tidak segan menekan kata istri. Arman yang memang malas berdebat, memilih untuk mengalah, dia pun menyingkir cukup jauh.
"Anyelir?" Agam dan Rose menyambut kedatangan Anyelir dengan Devan. Melihat Rose dan Agam yang nampak sangat bahagia melihat Anyelir, membuat Gita merasa kesal.
"Bagaimana kabarnya Kak Gita?" Anyelir mendakti Gita.
"Seperti yang kamu lihat, aku sangat baik. Aplagi ditemani oleh Ibu, Ayah dan juga suami," jawab Gita dengan senyumannya, dia seolah tengah menunjukkan bahwa Rose dan Agam lebih perduli padanya.
"Syukurlah Kak, oh iya aku bawakan ini untuk Kak Gita, semoga Kakak suka ya?" Anyelir menaruh buah tangannya di atas nakas.
"Makasih ya, harusnya nggak usah repot-repot loh," ucap Gita dengan basa-basi.
"Nggak apa-apa kok, Kak. Nggak repot juga," Anyelir masih berusaha untuk bersikap tenang, dan kelihatan nyaman, meski sebenarnya dari cara tatapan Gita jelas terlihat kalau Gita tidak suka dengan kehadiran Anyelir.
Devan terlihat terus mengawasi Anyelir yang tengah bercengkrama dengan Gita, dia mengawasi setiap gerak -geriknya, entah kenapa Devan tidak bisa begitu saja percaya dengan Gita.
"Memang benar," gumam Devan.
"Apa kamu bilang?" suara Gita naik satu oktaf, dia mendengar Devan mengucapkan sesuatu tapi tidak begitu jelas.
"Gita, jangan marah-marah, kamu harus ingat kandungan kamu," Rose sigap menenangkan Gita.
"Bu, kayaknya mereka sangaja mau bikin aku marah dan stress. Pasti Anyelir nggak suka aku hamil, dan dia mau celakain aku," adu Gita dengan berpura-pura terisak.
"Kak, suami aku cuman lagi jagain aku, nggak lebih kok. Akua bahkan senang sekali mendengar kabar kehamilan Kakak, karena aku mau punya keponakan, kenapa sih Kakak terus berpirik negatif sama aku?" tanya Anyelir, dia ingin hubungannya dengan Gita bisa akrab seperti saudara pada umumnya, tapi Gita sepertinya tidak akan sudi melakukan itu.
"Kamu bohong!" Gita melemparkan bantalnya, ke arah perut Anyelir, dan sigap Devan langsung menepisnya.
"Sebenarnya siapa yang ingin mencelakai siapa? Kamu adalah wanita jahat, kamu jelas mengincar perut istri saya, untuk mencelakai anak saya, kan?" Devan sudah bisa membaca arah pikiran Gita. Anyelir sepertinya sangat syok, dia bahkan hanya diam, dan memegang perutnya melindungi calon buah hatinya.
"Ayo kita pulang," Devan memapah Anyelir dengan perlahan, dan membawanya keluar dari ruangan Gita.
"Kamu keterlaluan Gita!"
__ADS_1
Hari ini, Anyelir dan Devan akan datang menjenguk Gita, bahkan Anyelir sudah membawa parsel buah untuk kakaknya, tidak lupa rainbow cake yang menjadi favorit Gita. Anyelir benar-benar mempersiapkan semuanya, bahkan dia juga memastikan buah yang dia bawa baik untuk ibu hamil.
"Ayo sayang." Devan membukakan pintu mobil dan memapah Anyelir, memastikan kalau istri tercintanya akan baik-baik saja.
"Semoga kak Gita suka ya?" Anyelir tidak sabar bertemu dengan Gita dan memberikan buah tangannya.
"Seharusnya, dia suka," jawab Xavier, sebenarnya dia masih sangat malas bertemu dengan Gita, tapi mengingat keselamatan sang istri, Devan harus mendampinginya. Devan dan Anyelir akhirnya sampai di depan kamar Gita, saat mereka hendak membuka secara bersamaan, Arman juga hendak keluar. Devan sigap, menarik mundur Anyelir agar menjauh dari Arman.
'Mulai deh, posesivenya,' batin Anyelir.
"Di dalem ada siapa?" tanya Devan tanpa basa-basi.
"Ibu sama ayah," jawab Arman singkat.
"Minggir, istriku mau lewat," titah Devan tanpa basi-basi, dia bahkan tidak segan menekan kata istri. Arman yang memang malas berdebat, memilih untuk mengalah, dia pun menyingkir cukup jauh.
"Anyelir?" Agam dan Rose menyambut kedatangan Anyelir dengan Devan. Melihat Rose dan Agam yang nampak sangat bahagia melihat Anyelir, membuat Gita merasa kesal.
"Bagaimana kabarnya Kak Gita?" Anyelir mendakti Gita.
"Seperti yang kamu lihat, aku sangat baik. Aplagi ditemani oleh Ibu, Ayah dan juga suami," jawab Gita dengan senyumannya, dia seolah tengah menunjukkan bahwa Rose dan Agam lebih perduli padanya.
"Syukurlah Kak, oh iya aku bawakan ini untuk Kak Gita, semoga Kakak suka ya?" Anyelir menaruh buah tangannya di atas nakas.
"Makasih ya, harusnya nggak usah repot-repot loh," ucap Gita dengan basa-basi.
"Nggak apa-apa kok, Kak. Nggak repot juga," Anyelir masih berusaha untuk bersikap tenang, dan kelihatan nyaman, meski sebenarnya dari cara tatapan Gita jelas terlihat kalau Gita tidak suka dengan kehadiran Anyelir.
Devan terlihat terus mengawasi Anyelir yang tengah bercengkrama dengan Gita, dia mengawasi setiap gerak -geriknya, entah kenapa Devan tidak bisa begitu saja percaya dengan Gita.
"Memang benar," gumam Devan.
"Apa kamu bilang?" suara Gita naik satu oktaf, dia mendengar Devan mengucapkan sesuatu tapi tidak begitu jelas.
"Gita, jangan marah-marah, kamu harus ingat kandungan kamu," Rose sigap menenangkan Gita.
"Bu, kayaknya mereka sangaja mau bikin aku marah dan stress. Pasti Anyelir nggak suka aku hamil, dan dia mau celakain aku," adu Gita dengan berpura-pura terisak.
"Kak, suami aku cuman lagi jagain aku, nggak lebih kok. Akua bahkan senang sekali mendengar kabar kehamilan Kakak, karena aku mau punya keponakan, kenapa sih Kakak terus berpirik negatif sama aku?" tanya Anyelir, dia ingin hubungannya dengan Gita bisa akrab seperti saudara pada umumnya, tapi Gita sepertinya tidak akan sudi melakukan itu.
"Kamu bohong!" Gita melemparkan bantalnya, ke arah perut Anyelir, dan sigap Devan langsung menepisnya.
"Sebenarnya siapa yang ingin mencelakai siapa? Kamu adalah wanita jahat, kamu jelas mengincar perut istri saya, untuk mencelakai anak saya, kan?" Devan sudah bisa membaca arah pikiran Gita. Anyelir sepertinya sangat syok, dia bahkan hanya diam, dan memegang perutnya melindungi calon buah hatinya.
"Ayo kita pulang," Devan memapah Anyelir dengan perlahan, dan membawanya keluar dari ruangan Gita.
"Kamu keterlaluan Gita!"
__ADS_1
Hari ini, Anyelir dan Devan akan datang menjenguk Gita, bahkan Anyelir sudah membawa parsel buah untuk kakaknya, tidak lupa rainbow cake yang menjadi favorit Gita. Anyelir benar-benar mempersiapkan semuanya, bahkan dia juga memastikan buah yang dia bawa baik untuk ibu hamil.
"Ayo sayang." Devan membukakan pintu mobil dan memapah Anyelir, memastikan kalau istri tercintanya akan baik-baik saja.
"Semoga kak Gita suka ya?" Anyelir tidak sabar bertemu dengan Gita dan memberikan buah tangannya.
"Seharusnya, dia suka," jawab Xavier, sebenarnya dia masih sangat malas bertemu dengan Gita, tapi mengingat keselamatan sang istri, Devan harus mendampinginya. Devan dan Anyelir akhirnya sampai di depan kamar Gita, saat mereka hendak membuka secara bersamaan, Arman juga hendak keluar. Devan sigap, menarik mundur Anyelir agar menjauh dari Arman.
'Mulai deh, posesivenya,' batin Anyelir.
"Di dalem ada siapa?" tanya Devan tanpa basa-basi.
"Ibu sama ayah," jawab Arman singkat.
"Minggir, istriku mau lewat," titah Devan tanpa basi-basi, dia bahkan tidak segan menekan kata istri. Arman yang memang malas berdebat, memilih untuk mengalah, dia pun menyingkir cukup jauh.
"Anyelir?" Agam dan Rose menyambut kedatangan Anyelir dengan Devan. Melihat Rose dan Agam yang nampak sangat bahagia melihat Anyelir, membuat Gita merasa kesal.
"Bagaimana kabarnya Kak Gita?" Anyelir mendakti Gita.
"Seperti yang kamu lihat, aku sangat baik. Aplagi ditemani oleh Ibu, Ayah dan juga suami," jawab Gita dengan senyumannya, dia seolah tengah menunjukkan bahwa Rose dan Agam lebih perduli padanya.
"Syukurlah Kak, oh iya aku bawakan ini untuk Kak Gita, semoga Kakak suka ya?" Anyelir menaruh buah tangannya di atas nakas.
"Makasih ya, harusnya nggak usah repot-repot loh," ucap Gita dengan basa-basi.
"Nggak apa-apa kok, Kak. Nggak repot juga," Anyelir masih berusaha untuk bersikap tenang, dan kelihatan nyaman, meski sebenarnya dari cara tatapan Gita jelas terlihat kalau Gita tidak suka dengan kehadiran Anyelir.
Devan terlihat terus mengawasi Anyelir yang tengah bercengkrama dengan Gita, dia mengawasi setiap gerak -geriknya, entah kenapa Devan tidak bisa begitu saja percaya dengan Gita.
"Memang benar," gumam Devan.
"Apa kamu bilang?" suara Gita naik satu oktaf, dia mendengar Devan mengucapkan sesuatu tapi tidak begitu jelas.
"Gita, jangan marah-marah, kamu harus ingat kandungan kamu," Rose sigap menenangkan Gita.
"Bu, kayaknya mereka sangaja mau bikin aku marah dan stress. Pasti Anyelir nggak suka aku hamil, dan dia mau celakain aku," adu Gita dengan berpura-pura terisak.
"Kak, suami aku cuman lagi jagain aku, nggak lebih kok. Akua bahkan senang sekali mendengar kabar kehamilan Kakak, karena aku mau punya keponakan, kenapa sih Kakak terus berpirik negatif sama aku?" tanya Anyelir, dia ingin hubungannya dengan Gita bisa akrab seperti saudara pada umumnya, tapi Gita sepertinya tidak akan sudi melakukan itu.
"Kamu bohong!" Gita melemparkan bantalnya, ke arah perut Anyelir, dan sigap Devan langsung menepisnya.
"Sebenarnya siapa yang ingin mencelakai siapa? Kamu adalah wanita jahat, kamu jelas mengincar perut istri saya, untuk mencelakai anak saya, kan?" Devan sudah bisa membaca arah pikiran Gita. Anyelir sepertinya sangat syok, dia bahkan hanya diam, dan memegang perutnya melindungi calon buah hatinya.
"Ayo kita pulang," Devan memapah Anyelir dengan perlahan, dan membawanya keluar dari ruangan Gita.
"Kamu keterlaluan Gita!"
__ADS_1