Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Akhirnya, mengakui


__ADS_3

"Baiklah, Ibu akan akui, bahwa benar Ibu yang mengirim parsel buah itu," jawab Rose, seraya menundukkan wajahnya. Devan tersenyum, karena akhirnya Rose sudah mau terbuka dengannya, tinggal mencari tahu. Kenapa Rose menyembunyikan semuanya dari suami bahkan dari Anyelir sendiri.


"Kenapa Ibu sembunyikan semuanya? Apakah Ibu tahu, kalau Anyelir tahu bahwa Ibu memberikan perhatian sepeti ini, pasti dia sangat bahagia, dan itu memberikan semangat tersendiri untuk Anyelir, Bu." ucap Devan dengan senyum yang mengembang, matanya menunjukkan penuh harap, bahwa hubungan yang selama ini sudah cukup renggang, bisa kembali terjalin dengan baik.


"Saya nggak bisa," tolak Rose dengan sendu, bahkan matanya sudah berkaca-kaca.


"Kenapa, Bu?" tanya Devan bingung.


"Sa-saya diancam," jawab Rose kemudian, membuat Devan tertegun.


"Diancam? Oleh siapa?" tanya Devan penasaran.


"Gita, putri sambung saya," jawaban Rose, tentu membuat Devan terkejut bukan main, dia bahkan tidak menyangka, kalau Gita bisa mengancam Rose sampai Rose benar-benar menuruti perintahnya.


"Apa ancaman Gita, sampai Ibu benar-benar mengikuti apa yang dia inginkan?" tanya Devan penasaran.


Flashback


Hari ini, Gita mengajak Rose untuk pergi bersama. Dengan alibi untuk ke mall, tentu saja Agam, sang ayah yang selama ini memang sangat ingin, melihat Gita bisa menerima Rose, begitu bahagia. Tanpa menaruh curiga sedikitpun, Agam mengizinkan mereka untuk pergi.


"Gita? Kita mau ke mana, Nak?" tanya Rose dengan raut wajah bingung. Karena jalan yang dilewati mereka bukan menuju ke salah satu pusat perbelanjaan.


"Ibu lihat saja nanti," jawab Gita dengan senyum menyeringai.


"Ibu sangat ingin bisa dekat dengan ku?" tanya Gita seraya masih fokus pada kemudi.


"Tentu, Nak. Bagaimana pun, Ibu sudah menganggap kamu sebagai anak Ibu," jawab Rose dengan. Senyum yang mengembang.


"Aku bisa saja, langsung menerima Ibu. Tapi, ada syaratnya," ucap Gita penuh makna.


Mendengar kata syarat, mulanya Rose juga merasa heran. Namun, pada akhirnya Rose menanyakan juga, kiranya syarat apa yang diajukan oleh Gita.


"Bersikap lah seolah Ibu tidak menyukai Anyelir, dan Ibu sangat membenci Anyelir," ucap Gita dengan begitu enteng.


"A-apa? Bagaimana mungkin?" tanya Rose dengan raut wajah bingung. Biar bagaimanapun, Anyelir adalah putrinya.


"Jadi, Ibu nggak mau?" nada suara Gita, berubah. Membuat Rose merinding.


"Nak, bukan begitu. Kalian adalah putri Ibu, jadi sulit bagi Ibu untuk memilih diantara kalian," rose mencoba menjelaskan semuanya kepada Gita.


"Bohong! Aku nggak mau melihat dia bahagia, dia sudah merebut semuanya dari ku. Dan dia harus merasakan kepedihan aku juga!" seru Gita menjadi-jadi, membuat Rose semakin takut. Apalagi saat ini mereka tengah dalam mobil. Tidak sengaja, mereka melewati depan kampus Anyelir.


"Ibu tidak mau menuruti syarat dari aku? Maka jangan salahkan aku," Gita menambah laju mobilnya, Rose melihat ada Anyelir yang tengah menyebrang jalan. Sontak Rose berteriak, meminta Gita menghentikan laju mobil namun tidak dihiraukan.

__ADS_1


"Baik, Ibu akan turuti perintah kamu!" seru Rose, dan saat itu Gita langsung mengerem mobinya.


"Benarkah?" Gita menatap Rose dengan penuh makna.


"I-iya, Ibu akan lakukan apa pun perintah kamu," jawab Rose.


Gita tersenyum. "Itu baru Ibu yang baik. Baiklah, ayo sekarang kita belanja. Aku juga ingin mengenalkan seseorang pada, Ibu." Gita tanpa rasa bersalah dan seolah tidak terjadi apapun tadi, dia langsung membawa mobilnya menuju ke pusat perbelanjaan. Kali ini, Gita membawa mobilnya dengan hati-hati.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Gita? Kenapa jadi begini?" gumam Rose.


Saat tiba di pusat perbelanjaan, Gita membawa Rose ke salah satu food court, Gita nampak mencari seseorang.


"Itu dia." Gita langsung menarik tangan Rose, menuju salah satu meja.


"A-Arman?" Rose, menatap lelaki dihadapan nya. Rose sangat ingat, kalau Arman ini adalah kekasih Anyelir.


"Bu, kenalkan ini Arman, pacar ku." ucap Gita dengan begitu bangga.


"Kita sudah kenal Gita, " jawab Rose.


"Gita, kenapa kamu berhubungan dengan dia? Dia sudah memiliki kekasih yaitu A-" ucapan Rose terpotong, karena Gita langsung menghentikannya.


"Iya, kekasih Anyelir kan?" tanya Gita, "Tapi Arman, lebih nyaman sama aku, Bu." jawab Gita penuh penekanan. Membuat Rose seketika terdiam. Rose tidak mau sesuatu terjadi pada Anyelir, karena Rose tahu bahwa Gita tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.


"Sejak saat itu, Ibu selalu menuruti perkataan Gita, karena demi melindungi Anyelir. Membela Gita meskipun dia salah, mencoba menjadi garda terdepan Gita dalam segala hal, satu hal. Saya hanya tidak mau kalau terjadi sesuatu pada Anyelir," Isak Rose, dia menceritakan semuanya di hadapan Devan. Devan, menatap wajah ibu mertuanya, dia paham kalau saat ini Rose jujur.


"Kemarin, saat Ibu diundang makan malam, Ibu ingin hadir. Namun, Ibu takut kalau kehadiran Ibu justru mengacaukan acara kalian, sebaiknya Ibu menjauh. Tapi, Ibu turut bahagia saat mendengar bahwa Anyelir hamil dan tengah mengandung calon cucu Ibu. Ibu berpikir, untuk memberikan dia buah, dan semoga dengan begini, Ibu bisa menyalurkan rasa kasih sayang Ibu kepada Anyelir, meskipun tidak secara langsung," ucapan Rose, membuat Devan tersentuh. Bagaimana tidak? Rose hanya ingin dekat dengan sang putri dan memberikan kasih sayang yang untuk putrinya sendiri, namun tidak diberi kesempatan. Karena teringat dengan ancaman yang diberikan oleh Gita.


'Kau benar-benar wanita gila Gita, kau haus akan dendam, sampai kau menjauhkan hubungan antara Ibu dan anak. Mereka, sama-sama tersiksa dalam rindu yang tak pernah terobati,' batin Devan.


"Bu, mulai saat ini tunjukkan saja , bahwa Ibu menyayangi Anyelir, tunjukkan betapa Ibu menyayangi mereka berdua," ucap Devan.


Rose menggeleng dengan keras, "Tidak, Nak. Ibu tidak bisa, Ibu takut sesuatu hal buruk akan terjadi pada Anyelir nantinya," ucap Rose dengan sendu.


"Anyelir, akan aman dalam pengawasan ku Bu, aku janji," ucap Devan dengan bersungguh-sungguh.


"Nanti malam, datanglah makan malam dengan Ayah," Devan mengundang kedua mertuanya untuk makan malam bersama. Kali ini, hanya akan ada keluarga inti.


"Tapi ...." Rose nampak ragu.


"Bu, jangan ragu, kapan lagi Ini akan bisa memulai hubungan Ibu dengan Anyelir. Ibu harus bisa bangkit Bu." ujar Devan mencoba memberikan semangat kepada ibu mertuanya.


"Baiklah, Ibu mau." Akhirnya, Rose mau datang ke acara makan malam nanti. Devan berharap, nanti malam akan menjadi awal yang baik, bagi Anyelir dan Rose, dan beharap hubungan Ibu dan anak bisa kembali seperti dahulu.

__ADS_1


Devan yakin, dengan begini keadaan kandungan Anyelir, akan lebih baik. Dan berharap, hubungan kekeluargaan bisa terjalin dengan erat. Bahkan lebih baik dari sedia kala.


Masih ada harapan dalam hati Rose, kalau Gita mau berubah dan bisa menerima semua yang sudah terjadi antara Rose dengan Agam terdahulu. Dan berharap, bahwa Gita bisa menerimanya juga Anyelir, supaya mereka bisa menjadi keluarga.


.


.


Devan, kembali ke rumah nya dengan suasana hati yang bahagia. Keinginan Devan, melihat istrinya kembali bahagia karena mendapat cinta dan kasih sayang dari ibunya, nampaknya akan benar-benar berhasil. Devan harap, Gita bisa menerima semua keputusan ini dengan lapang dada, dan bisa menepiskan dendam yang selama ini sudah terpatri dalam hatinya.


Saat tiba di rumah, Devan memberikan pengumuman kepada semua pelayan, bahwa malam ini mereka akan mengadakan makan malam. Devan menyebutkan, jumlah tamunya yang memang tidak sebanyak beberapa waktu lalu.


"Makan malam? Kali ini, kamu mengundang siapa aja?" tanya Anyelir penasaran.


"Hanya dua orang, dan itu adalah tamu yang sangat penting," jawab Devan.


"Siapa?" Anyelir penasaran, siapa tamu penting yang dimaksud suaminya.


"Rahasia, intinya nanti malam kamu harus bersiap ya?" ucap Devan seraya menangkup kedua pipi Anyelir.


"Iya," jawab Anyelir dengan senyum mengembang.


Devan berjongkok di hadapan perut sang istri, dan memberikan kecupan di sana.


"Bagaimana anak Papah hari ini? Tidak nakal, kan?" tanya Devan. Dia kembali memberikan kecupan untuk calon buah hatinya.


"Oh iya, bagaiman mangganya?" Devan kembali teringat dengan mangga yang dia titipkan kepada Felix


"Sudah, tadi dibawakan Felix," Jawab Anyelir.


"Felix ada menyampaikan sesuatu?" tanya Devan.


"Ada, soal kamu yang menemui client," jawab Anyelir.


'Kok itu sih?' batin Devan.


"Waktu dia ke sini, kamu ada tamu nggak?" tanya Devan.


"Ada, Nabila. Eh kok kamu bisa tahu? Kamu mata-matain aku ya?" Anyelir menaruh curiga pada suaminya.


"Bukan sayang, tadi Felix bilang katanya ada tamu kamu gitu, waktu dia datang ke sini," bohong Devan, padahal Felix tidak mengatakan apapun.


"Oh iya, ada Nabila. Tapi, Felix nggak ngomong apapun," jawab Anyelir dengan jujur.

__ADS_1


'Berarti, dia belum minta maaf?' batin Devan gemas. Devan akhi, Felix memang selalu bisa dalam hal pekerjaan, namun Devan tidak menyangka kalau Felix payah dalam urusan seperti ini.


__ADS_2