
“Ini baru rumah sakit milik keluarga Pak Dika, bagaimana kalau perusahaan Ayah juga kena? Apa kalian mau hidup susah Bu, Gita?” tanya Agam pada istri dan anaknya, Gita. Mendengar pertanyaan dari Agam, Gita dan Rose hanya diam membisu, kini mereka tengah memikirkan kiranya bagaimana caranya supaya Devan mau berbai hati untuk tidak memperkarakan hal ini.
“Apa yang kalian pikirkan sekarang?” tanya Agam, “terutana kamu Gita!” tunjuk Agam pada Gita yang masih menunduk.
“Gita capek Yah, Ayah terus aja salahin Gita, selama ini Gita emang nggak ada benarnya di mata Ayah!” kali ini Gita berani menjawab.
“Kamu sudah salah, berani menjawab!” kali ini Arman bersuara, karena Arman juga merasa, kalau istrinya sudah sangat kelewatan.
“Kalau sampai terjadi sesuatu pada rumah sakit, maka kamu yang akan menanggung akibatnya!” seru Arman, setelah mengatakan hal demikian, Arman berlalu pergi keluar rumah dan dikejar oleh Gita.
“Aku butuh waktu sendiri,” Arman berdiri di tepi kolam renang, akhirnya Gita tidak berani mendekati Arman, dia pun menjauh dari suaminya dan mengambil ponsel. Nampaknya, Gita tengah mencoba menghubungi seseorang.
[“Hallo, mana janji kamu yang bilang kalau aku akan selamat dari semuanya kalau aku bernai memposting soal Anyelir!”] Gita langsung memaki seseornag di sebrang telepon.
[“Sabar, aku juga sedang berusaha.”]
[Berusaha apanya! Kamu bilang Devan dan Anyelir tidak saling mencintai, tapi kamu tahu, sekarang mereka berdua sedang berada di kamar, karena Anyelir tengah mencoba membujuk Devan. Sebagai orang yang sudah dewasa dan berpengalaman, tentu kamu paham kan apa maksudku, Ibu Laura?”]
Wanita yang dihubungi oleh Gita, rupanya Laura, yang tidak lain istri pertama Devan. Laura mengepalkan tangannya kuat, dia teramat panas hati ketika mendengar bahwa saat ini Devan tengah bersama Anyelir. Niat Laura membuat Gita memposting soal pernikahan Anyelir dan Devan, adalah untuk membuat Devan malu dan akhirnya meninggalkan Anyelir. Namun, ternyata salah, bahkan sekarang Anyelir secara terang-terangan menunjukkan kemesraannya.
[“Halo! Halo!”] Gita bersuara di sebrang telepon, namun Laura malah lebih memilih mematikan panggilan telepon.
“Arrrggghhhh!!!!” Gita menghancurkan apapun itu yang berada di dekatnya, susah payah dia mengelabui Gita, namun itu semua sia-sia, apapun yang Laura lakukan untuk menjauhkan Devan dan Anyelir, tidak pernah berhasil.
“Arrgghhh sialan!!” seru Laura lagi, barang-barang yang berada di kamarnya sudah 85% pecah karena amukannya.
__ADS_1
.
.
Sedangkan kini, Devan dan Anyelir sudah kembali berkumpul dengan yang lain, sedari tadi Anyelir harus terus bergelayut manja di lengan suaminya, supaya mood Devan tidak lagi buruk. Ini semua juga Anyelir tahu dari Felix, asisten Devan.
“Baiklah, aku tidak menghancurkan rumah sakit kecil itu,” ujar Devan dengan sombongnya, padahal rumah sakit milik keluarga Arman termasuk rumah sakit yang elit, meskipun belum sebesar milik Devan. Semua orang tersenyum lega, dan terus mengucapkan terimakasih, bahkan Gita nampak bernapas lega sekarang, karena dia berpikir dia sudah selamat sekarang.
“Tapi, hukumannya tidak serta merta berakhir,” ujar Devan seraya menatap tajam kearah Gita, sontak saja senyum Gita yang semula sudah luntur kembali meredup.
“Aku?” tanya Gita memastikan.
“Siapa lagi kalau bukan kau,” Devan mulai berbicara semakin ketus, dia merasa muak dengan Gita yang terus saja mencari masalah dengannya lewat Anyelir.
“Ta-tapi aku melakukan ini bukan karena keinginanku,” elak Gita, namun Devan hanya tersenyum remeh.
“Tapi, aku juga yakin, ada orang lain yang memanfaatkan situasi itu kan?” tebakan Devan benar, karena sekarang Gita mulai menggigit bibir bawahnya, dia khawatir dan bingung, apakah dia harus membongkar bahwa yang memerintahnya adalah Laura?
“Katakan siapa?” Devan masih berusaha bersabar, sebenarnya dia sudah tahu siapa dalang di balik semua ini, namu Devan masih ingin melihat, apakah Gita bisa diajak kerja sama.
“Di-dia istri pertama anda Tuan Devan, yaitu ibu Laura,” akhirnya Gita benar-benar buka suara, nampaknya dia masih sayang dengan nyawanya sendiri.
“Baiklah, karena kamu sudah mau mengakui, aku akan meringankan hukuam mu,” sontak saja Gita terkejut, setelah mendengar ucapan Devan.
“Hu-hukuman?” tanya Gita terbata.
__ADS_1
“Iya, kau pikir kau akan lolos begitu saja? setelah membuat kekacauan ini?” ucap Devan dengan dingin.
“A-apa hukumannya Tuan?” tanya Gita takut.
“Kita lihat saja besok,” Devan tidak menjelaskan dengan detail, soal apa hukuman yang akan diberikannya kepada Gita. Namun yang pasti, Devan yakin, dengan hukuamn ini akan membuat Gita bisa belajar.
Akhirnya, Devan mengajak Anyelir untuk pulang bersamanya, rencananya, hari ini juga Devan akan segera menyelesaikan permasalahannya dan meluruskan semua pemberitaan yang melenceng seputar Anyelir. Devan sudah memerintahkan Gita untuk menghapus soal pemberitaannya tentang Anyelir, dan mengakui bahwa itu semua tidak sepenuhnya benar, dan Gita dipaksa oleh seseorang, yaitu istri pertama Devan.
“Apa tidak apa-apa kalau kak Gita, mengatakan bahwa itu semua ide kak Laura?” tanya Anyelir was-was.
“Tidak masalah bagi kita, tapi akan menjadi masalah bagi Laura. Saatnya dia bertanggung jawab atas hal yang dia lakukan,” jawab Devan dengan tegas. Nampaknya, saat ini tidak ada yang bisa menolong Laura lagi, tidak ada kesempatan lagi untuk Laura, karena dia sudah membangunkan singa yang tengah tertidur.
“Aku mohon, sekecewanya kamu dengan kak Laura, jangan sakiti dia, bagaimanapun kak Laura istri kamu dan dia juga seorang perempuan,” Anyelir memberikan pesan kepada Devan, karena Anyelir takut, jikalau Devan akan menyakiti Laura. Sangat terlihat jelas, kalau Devan begitu marah kepada Laura, belum padam amarah Devan setelah kejadian di restaurant, sampai membuat ibunya masuk ke rumah sakit, kini Laura kembali berulah.
“Iya, aku akan berusaha,” jawab Devan. Akhirnya Devan mengantarkan Anyelir sampai di rumah, Devan berpesan kepada para pelayan dan pengawal untuk menjaga keamanan rumahnya dan memastikan keselamatan Anyelir. Awalnya Anyelir memaksa ikut, namun Devan menolak, dan meminta Anyelir untuk fokus di rumah dan menunggunya pulang.
Felix sudah mempersiapkan tempat untuk Devan mengadakan konferensi perss, hari ini Devan akan menjelaskan dengan gamblang, soal hubungannya dengan Anyelir. Devan tidak mau, kalau orang-orang beranggapan, bahwa Anyelir sudah merebutnya dari Laura, sampai membuat Devan lupa akan Laura juga. Saat tiba di lokasi yang sudah ditentukan, Devan melihat para awak media yang sudah menantikan kehadirannya, mereka semua langsung mengambil foto Devan dengan tampilan terbaik.
“Saya mengucapkan terimakasih atas kedatangan para awak media, dan sudah mau meluangkan waktunya,” ujar Devan sebagai pembuka kata.
“Saya paham, saat ini tengah beredar pemberitaan yang miring seputar saya,” ujarnya lagi.
“Mungkin, sekarang ini kalian semua sedang bingung, karena yang kalian tahu, saya belum menikah. Tapi, hari ini saya akan akui, bahwa saya sudah menikah secara siri, bahkan dua kali,” semua orang terkejut dengan pengakuan Devan. Ada rasa tidak percaya, namun kali ini, yang bersangkutan sendiri sudah mengakui secara langsung.
“Saya menikah secara siri untuk pertama kalinya, dengan mantan kekasih saya, yang bernama Laura Nasution, pernikahan kami sudah berjalan 2 tahun lebih, dan yang kedua, saya menikah dengan seorang wanita bernama Anyelir Sodrajat, pernikahan kami baru berjalan beberapa bulan,” jelas Devan.
__ADS_1
“Namun, sekali lagi, saya akan tegaskan, bahwa di sini, saya merasa tidak direbut, dan saya tegaskan tidak ada yang menjadi perebut. Saya menikahi Anyelir, bukan karena Anyelir menggoda saya, namun ada sesuatu hal yang tidak bisa saya jelaskan,” ungkap Devan.
“Mungkin, kalian juga bertanya, lalu kenapa Laura memerintahkan seseorang untuk menyebarkan berita tidak benar? Jawabannya karena cemburu. Saya akui, saya tidak lagi mencintai istri pertama saya, dan itupun karena beberapa alasan, salah satunya adalah …” Devan memerintahkan Felix untuk memperlihatkan sesuatu di layar monitor. Semua orang terkejut, karena melihat foto yang ditunjukkan oleh Devan, foto itu tidak lain adalah Laura, yang tengah bersama dengan lelaki lain, yang ternyata adalah selingkuhannya.