Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Desi mulai was-was


__ADS_3

Devan memberikan waktu kepada Arman untuk menenangkan dirinya lebih dulu, Agam di samping Arman juga terus memberikan wejangan dan terus mengusap punggung Arman, berharap sang menantu bisa lebih bersabar.


"Kamu sudah bisa mendengar rencana yang sudah ku buat, Arman?" tanya Devan, setelah dia melihat Arman yang jauh lebih tenang.


"Baiklah, bunda kamu memang tidak menjalankan rencananya sendirian, ada orang lain yang membantu. Dia memanfaatkan seseorang yang sedang terdesak dan sangat membutuhkan uang," terang Devan.


"Nanti malam, kamu harus pastikan bahwa kedua orang tua kamu datang, dan kita akan bongkar semuanya," kata Devan dan diangguki dengan begitu yakin oleh ARrman.


-//-


Sedangkan kini, Desi baru saja tiba di rumah sakit, di mana Indah di rawat, akan tetapi, saat Desi sampai di kamawa rawat Indah, dia tidak menemukan siapapun. Desi pun mencoba menanyakan kepada suster.


"Maaf Bu, kemarin pak Adi sudah mengurus kepindahan ibu Indah, katanya supaya lebih dekat dengan tempat kerja pak Adi," terang suster, karena itu memang jawaban yang diberikan oleh Adi.


'Sial, bisa-bisanya dia mengatakan hal itu, padahal jelas Adi tidak punya pekerjaan sekarang,' batin Desi.


"Lalu, apa dia memberitahukan kemana dia pindah?" tanya Desi, dia benar-benar mengulik informasi sekecil apapun, karena Desi harus memastikan semua rencananya tidak dibongkar oleh Adi.


"Maaf Bu, pak Adi tidak memberikan info apapun." Desi jelas tidak puas mendengar jawaban dari pihak rumah sakit, tapi setahu Desi, Adi tidak punya uang, dan Desi belum membayar lunas tagihan rumah sakit, karena Desi masih berjaga-jaga supaya Adi tidak kabur.


"Tapi Sus, bukannya tagihan atas nama bu Indah belum lunas?" tanya Desi lagi.


"Kemarin langsung dilunasi oleh pak Adi dan atasannya, Bu." jawab Suster.


'Atasan? Apa ada yang membantu Adi? Tapi siapa?' Desi dibuat semakin was-was sekarang, dia tidak bisa mengambil enteng soal Adi yang sempat menghhilang dan kini justru membawa istri dan anaknya pergi.


Desi mengeluarkan sebuah foto. "Apa dia orangnya?" tanya Desi, itu adalah foto keluarga Rose, di mana ada Devan juga di sana.


Suster melihat foto itu dengan seksama. "Bukan, Bu." Suster menggelengkan kepalanya, bukan Devan lelaki yang diterngarai atasan Adi, karena memang Devan sama sekali tidak masuk ke dalam rumah sakit, dia mengutus Felix dan anak buahnya yang lain. Devan memang sangat berhati-hati, dia tidak mau menganggap remeh Desi.


"Baiklah, kalau begitu terimakasih," Desi pun pergi dari sana. Tapi, saat Desi hendak masuk dalam mobil, dia mendapatkan telepon dari sang suami.


"Bun, nanti malam kita datang ya ke acara makan malam yang diadakan oleh besan kita," kata Dika.


Desi menghela napasnya. "Memangnya kita harus datang, Yah?" tanya Desi, sebab dia ingin sekali mencari Adi, dia ingin memastikan bahwa rahasianya aman, bila perlu Desi ingin melenyapkan Adi, supaya jejak kejahatannya menghilang.


"Ya iyalah, Arman tadi hubungin Ayah dan dia minta supaya kita datang, Arman nggak enak kalau sampai kita nggak datang, karena hanya sekali kita jenguk ibu Rose waktu di rumah sakit," terang Dika lagi, dia merasa heran dengan sikap Desi yang seolah begitu malas menghadiri acara makan malam.


"Pokoknya kita harus datang, karena itu juga acara syukuran karena bu Rose sudah kembali sehat atas kecelakaan yang dialaminya, Ayah cuman mau kabari itu," ucap Dika.


"Iya Yah, nanti malam kita datang," mau tidak mau Desi pun mengiyakan ajakan suaminya.


Desi menghentakkan kakinya kesal. 'Sial, target ku bukan Rose, malah jadi dia yang kena. Gita nggak mati, tapi aku jadi ketakutakan setengah mati karena Adi menghilang, bahkan sekarang dia kabur, dan aku yakin dia juga punya seseorang yang membantunya,' batin Desi. Desi pun menghubungi seseorang, dan memintanya untuk mencari Adi.


Devan memberikan waktu kepada Arman untuk menenangkan dirinya lebih dulu, Agam di samping Arman juga terus memberikan wejangan dan terus mengusap punggung Arman, berharap sang menantu bisa lebih bersabar.


"Kamu sudah bisa mendengar rencana yang sudah ku buat, Arman?" tanya Devan, setelah dia melihat Arman yang jauh lebih tenang.


"Baiklah, bunda kamu memang tidak menjalankan rencananya sendirian, ada orang lain yang membantu. Dia memanfaatkan seseorang yang sedang terdesak dan sangat membutuhkan uang," terang Devan.


"Nanti malam, kamu harus pastikan bahwa kedua orang tua kamu datang, dan kita akan bongkar semuanya," kata Devan dan diangguki dengan begitu yakin oleh ARrman.


-//-


Sedangkan kini, Desi baru saja tiba di rumah sakit, di mana Indah di rawat, akan tetapi, saat Desi sampai di kamawa rawat Indah, dia tidak menemukan siapapun. Desi pun mencoba menanyakan kepada suster.


"Maaf Bu, kemarin pak Adi sudah mengurus kepindahan ibu Indah, katanya supaya lebih dekat dengan tempat kerja pak Adi," terang suster, karena itu memang jawaban yang diberikan oleh Adi.

__ADS_1


'Sial, bisa-bisanya dia mengatakan hal itu, padahal jelas Adi tidak punya pekerjaan sekarang,' batin Desi.


"Lalu, apa dia memberitahukan kemana dia pindah?" tanya Desi, dia benar-benar mengulik informasi sekecil apapun, karena Desi harus memastikan semua rencananya tidak dibongkar oleh Adi.


"Maaf Bu, pak Adi tidak memberikan info apapun." Desi jelas tidak puas mendengar jawaban dari pihak rumah sakit, tapi setahu Desi, Adi tidak punya uang, dan Desi belum membayar lunas tagihan rumah sakit, karena Desi masih berjaga-jaga supaya Adi tidak kabur.


"Tapi Sus, bukannya tagihan atas nama bu Indah belum lunas?" tanya Desi lagi.


"Kemarin langsung dilunasi oleh pak Adi dan atasannya, Bu." jawab Suster.


'Atasan? Apa ada yang membantu Adi? Tapi siapa?' Desi dibuat semakin was-was sekarang, dia tidak bisa mengambil enteng soal Adi yang sempat menghhilang dan kini justru membawa istri dan anaknya pergi.


Desi mengeluarkan sebuah foto. "Apa dia orangnya?" tanya Desi, itu adalah foto keluarga Rose, di mana ada Devan juga di sana.


Suster melihat foto itu dengan seksama. "Bukan, Bu." Suster menggelengkan kepalanya, bukan Devan lelaki yang diterngarai atasan Adi, karena memang Devan sama sekali tidak masuk ke dalam rumah sakit, dia mengutus Felix dan anak buahnya yang lain. Devan memang sangat berhati-hati, dia tidak mau menganggap remeh Desi.


"Baiklah, kalau begitu terimakasih," Desi pun pergi dari sana. Tapi, saat Desi hendak masuk dalam mobil, dia mendapatkan telepon dari sang suami.


"Bun, nanti malam kita datang ya ke acara makan malam yang diadakan oleh besan kita," kata Dika.


Desi menghela napasnya. "Memangnya kita harus datang, Yah?" tanya Desi, sebab dia ingin sekali mencari Adi, dia ingin memastikan bahwa rahasianya aman, bila perlu Desi ingin melenyapkan Adi, supaya jejak kejahatannya menghilang.


"Ya iyalah, Arman tadi hubungin Ayah dan dia minta supaya kita datang, Arman nggak enak kalau sampai kita nggak datang, karena hanya sekali kita jenguk ibu Rose waktu di rumah sakit," terang Dika lagi, dia merasa heran dengan sikap Desi yang seolah begitu malas menghadiri acara makan malam.


"Pokoknya kita harus datang, karena itu juga acara syukuran karena bu Rose sudah kembali sehat atas kecelakaan yang dialaminya, Ayah cuman mau kabari itu," ucap Dika.


"Iya Yah, nanti malam kita datang," mau tidak mau Desi pun mengiyakan ajakan suaminya.


Desi menghentakkan kakinya kesal. 'Sial, target ku bukan Rose, malah jadi dia yang kena. Gita nggak mati, tapi aku jadi ketakutakan setengah mati karena Adi menghilang, bahkan sekarang dia kabur, dan aku yakin dia juga punya seseorang yang membantunya,' batin Desi. Desi pun menghubungi seseorang, dan memintanya untuk mencari Adi.


Devan memberikan waktu kepada Arman untuk menenangkan dirinya lebih dulu, Agam di samping Arman juga terus memberikan wejangan dan terus mengusap punggung Arman, berharap sang menantu bisa lebih bersabar.


"Kamu sudah bisa mendengar rencana yang sudah ku buat, Arman?" tanya Devan, setelah dia melihat Arman yang jauh lebih tenang.


"Baiklah, bunda kamu memang tidak menjalankan rencananya sendirian, ada orang lain yang membantu. Dia memanfaatkan seseorang yang sedang terdesak dan sangat membutuhkan uang," terang Devan.


"Nanti malam, kamu harus pastikan bahwa kedua orang tua kamu datang, dan kita akan bongkar semuanya," kata Devan dan diangguki dengan begitu yakin oleh ARrman.


-//-


Sedangkan kini, Desi baru saja tiba di rumah sakit, di mana Indah di rawat, akan tetapi, saat Desi sampai di kamawa rawat Indah, dia tidak menemukan siapapun. Desi pun mencoba menanyakan kepada suster.


"Maaf Bu, kemarin pak Adi sudah mengurus kepindahan ibu Indah, katanya supaya lebih dekat dengan tempat kerja pak Adi," terang suster, karena itu memang jawaban yang diberikan oleh Adi.


'Sial, bisa-bisanya dia mengatakan hal itu, padahal jelas Adi tidak punya pekerjaan sekarang,' batin Desi.


"Lalu, apa dia memberitahukan kemana dia pindah?" tanya Desi, dia benar-benar mengulik informasi sekecil apapun, karena Desi harus memastikan semua rencananya tidak dibongkar oleh Adi.


"Maaf Bu, pak Adi tidak memberikan info apapun." Desi jelas tidak puas mendengar jawaban dari pihak rumah sakit, tapi setahu Desi, Adi tidak punya uang, dan Desi belum membayar lunas tagihan rumah sakit, karena Desi masih berjaga-jaga supaya Adi tidak kabur.


"Tapi Sus, bukannya tagihan atas nama bu Indah belum lunas?" tanya Desi lagi.


"Kemarin langsung dilunasi oleh pak Adi dan atasannya, Bu." jawab Suster.


'Atasan? Apa ada yang membantu Adi? Tapi siapa?' Desi dibuat semakin was-was sekarang, dia tidak bisa mengambil enteng soal Adi yang sempat menghhilang dan kini justru membawa istri dan anaknya pergi.


Desi mengeluarkan sebuah foto. "Apa dia orangnya?" tanya Desi, itu adalah foto keluarga Rose, di mana ada Devan juga di sana.

__ADS_1


Suster melihat foto itu dengan seksama. "Bukan, Bu." Suster menggelengkan kepalanya, bukan Devan lelaki yang diterngarai atasan Adi, karena memang Devan sama sekali tidak masuk ke dalam rumah sakit, dia mengutus Felix dan anak buahnya yang lain. Devan memang sangat berhati-hati, dia tidak mau menganggap remeh Desi.


"Baiklah, kalau begitu terimakasih," Desi pun pergi dari sana. Tapi, saat Desi hendak masuk dalam mobil, dia mendapatkan telepon dari sang suami.


"Bun, nanti malam kita datang ya ke acara makan malam yang diadakan oleh besan kita," kata Dika.


Desi menghela napasnya. "Memangnya kita harus datang, Yah?" tanya Desi, sebab dia ingin sekali mencari Adi, dia ingin memastikan bahwa rahasianya aman, bila perlu Desi ingin melenyapkan Adi, supaya jejak kejahatannya menghilang.


"Ya iyalah, Arman tadi hubungin Ayah dan dia minta supaya kita datang, Arman nggak enak kalau sampai kita nggak datang, karena hanya sekali kita jenguk ibu Rose waktu di rumah sakit," terang Dika lagi, dia merasa heran dengan sikap Desi yang seolah begitu malas menghadiri acara makan malam.


"Pokoknya kita harus datang, karena itu juga acara syukuran karena bu Rose sudah kembali sehat atas kecelakaan yang dialaminya, Ayah cuman mau kabari itu," ucap Dika.


"Iya Yah, nanti malam kita datang," mau tidak mau Desi pun mengiyakan ajakan suaminya.


Desi menghentakkan kakinya kesal. 'Sial, target ku bukan Rose, malah jadi dia yang kena. Gita nggak mati, tapi aku jadi ketakutakan setengah mati karena Adi menghilang, bahkan sekarang dia kabur, dan aku yakin dia juga punya seseorang yang membantunya,' batin Desi. Desi pun menghubungi seseorang, dan memintanya untuk mencari Adi.


Devan memberikan waktu kepada Arman untuk menenangkan dirinya lebih dulu, Agam di samping Arman juga terus memberikan wejangan dan terus mengusap punggung Arman, berharap sang menantu bisa lebih bersabar.


"Kamu sudah bisa mendengar rencana yang sudah ku buat, Arman?" tanya Devan, setelah dia melihat Arman yang jauh lebih tenang.


"Baiklah, bunda kamu memang tidak menjalankan rencananya sendirian, ada orang lain yang membantu. Dia memanfaatkan seseorang yang sedang terdesak dan sangat membutuhkan uang," terang Devan.


"Nanti malam, kamu harus pastikan bahwa kedua orang tua kamu datang, dan kita akan bongkar semuanya," kata Devan dan diangguki dengan begitu yakin oleh ARrman.


-//-


Sedangkan kini, Desi baru saja tiba di rumah sakit, di mana Indah di rawat, akan tetapi, saat Desi sampai di kamawa rawat Indah, dia tidak menemukan siapapun. Desi pun mencoba menanyakan kepada suster.


"Maaf Bu, kemarin pak Adi sudah mengurus kepindahan ibu Indah, katanya supaya lebih dekat dengan tempat kerja pak Adi," terang suster, karena itu memang jawaban yang diberikan oleh Adi.


'Sial, bisa-bisanya dia mengatakan hal itu, padahal jelas Adi tidak punya pekerjaan sekarang,' batin Desi.


"Lalu, apa dia memberitahukan kemana dia pindah?" tanya Desi, dia benar-benar mengulik informasi sekecil apapun, karena Desi harus memastikan semua rencananya tidak dibongkar oleh Adi.


"Maaf Bu, pak Adi tidak memberikan info apapun." Desi jelas tidak puas mendengar jawaban dari pihak rumah sakit, tapi setahu Desi, Adi tidak punya uang, dan Desi belum membayar lunas tagihan rumah sakit, karena Desi masih berjaga-jaga supaya Adi tidak kabur.


"Tapi Sus, bukannya tagihan atas nama bu Indah belum lunas?" tanya Desi lagi.


"Kemarin langsung dilunasi oleh pak Adi dan atasannya, Bu." jawab Suster.


'Atasan? Apa ada yang membantu Adi? Tapi siapa?' Desi dibuat semakin was-was sekarang, dia tidak bisa mengambil enteng soal Adi yang sempat menghhilang dan kini justru membawa istri dan anaknya pergi.


Desi mengeluarkan sebuah foto. "Apa dia orangnya?" tanya Desi, itu adalah foto keluarga Rose, di mana ada Devan juga di sana.


Suster melihat foto itu dengan seksama. "Bukan, Bu." Suster menggelengkan kepalanya, bukan Devan lelaki yang diterngarai atasan Adi, karena memang Devan sama sekali tidak masuk ke dalam rumah sakit, dia mengutus Felix dan anak buahnya yang lain. Devan memang sangat berhati-hati, dia tidak mau menganggap remeh Desi.


"Baiklah, kalau begitu terimakasih," Desi pun pergi dari sana. Tapi, saat Desi hendak masuk dalam mobil, dia mendapatkan telepon dari sang suami.


"Bun, nanti malam kita datang ya ke acara makan malam yang diadakan oleh besan kita," kata Dika.


Desi menghela napasnya. "Memangnya kita harus datang, Yah?" tanya Desi, sebab dia ingin sekali mencari Adi, dia ingin memastikan bahwa rahasianya aman, bila perlu Desi ingin melenyapkan Adi, supaya jejak kejahatannya menghilang.


"Ya iyalah, Arman tadi hubungin Ayah dan dia minta supaya kita datang, Arman nggak enak kalau sampai kita nggak datang, karena hanya sekali kita jenguk ibu Rose waktu di rumah sakit," terang Dika lagi, dia merasa heran dengan sikap Desi yang seolah begitu malas menghadiri acara makan malam.


"Pokoknya kita harus datang, karena itu juga acara syukuran karena bu Rose sudah kembali sehat atas kecelakaan yang dialaminya, Ayah cuman mau kabari itu," ucap Dika.


"Iya Yah, nanti malam kita datang," mau tidak mau Desi pun mengiyakan ajakan suaminya.

__ADS_1


Desi menghentakkan kakinya kesal. 'Sial, target ku bukan Rose, malah jadi dia yang kena. Gita nggak mati, tapi aku jadi ketakutakan setengah mati karena Adi menghilang, bahkan sekarang dia kabur, dan aku yakin dia juga punya seseorang yang membantunya,' batin Desi. Desi pun menghubungi seseorang, dan memintanya untuk mencari Adi.


__ADS_2