Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Datang tak terduga


__ADS_3

“Kamu sudah makan malam Nak?” Agam mengajak Anyelir dan Devan menuju ruang keluarga, dan mereka duduk berkumpul bersama.


Sedangkan kini Gita tengah kesal dan tengah ditenangkan oleh Arman, meskipun itu tidak berpengaruh sama sekali, karena Gita malah semakin terbakar api cemburu, sebab Gita takut Arman akan kembali jatuh cinta dengan Anyelir.


“Kamu pasti seneng kan? Anyelir di sini,” tuduh Gita.


“Kamu tuh ngomong apa sih? Aku sama sekali nggak paham dengan cara berpikir kamu Gita, aku udah nikah sama kamu dan bagi aku Anyelir bukan siapa-siapa,” ujar Arman, dia kesal karena Gita selalu saja mencari-cari kesalahannya.


“Oh iya? Bukankah kalian pernah memiliki perasaan satu sama lain?” ujar Gita lagi semakin menyudutkan Arman, “mana mungkin perasaan itu langsung hilang begitu saja.”


“Denger ya Git, semua orang memiliki masa lalu, dan kamu sendiri tahu bagaimana masa lalu aku dengan Anyelir. Kalau memang kamu nggak bisa menerima masa lalu aku, kenapa waktu  itu kamu mendekati aku, padahal kamu tahu kan aku kekasih adik kamu sendiri?” ucapan Arman menyinggung perasaan Gita, dia tidak terima dengan perkataan suaminya.


“Jadi, maksud kamu, aku wanita nggak baik? Aku wanita wanit penggod adan perebut kekasih adik tiri ku sendiri?!” seru Gita.


“Iya!” suara Arman naik satu oktaf, dan suara pertengkaran suami dan istri itu sampai terdengar di ruang tamu, membuat Agam dan Rose merasa tidak enak. Agam memberikan kode pada Rose, untuk melihat apa yang terjadi dengan Arman dan Gita, kenapa mereka bisa berbicara sekeras itu.


“Maaf ya Nak Devan, maklum masih labil,” Agam merasa tidak enak, dan meminta maaf atas nama Gita.


“Nggak apa-apa kok Yah, kami paham,” ujar Devan.


Rose sendiri kini langsung masuk dan melerai pertengkaran suami istri itu, apalagi pertengkaran mereka terjadi di malam hari, takut tetangga sebelah mendengar dan malah menjadi omongan.


“Gita, Arman, kalian apa-apaan sih,” ujar Rose menghentikan pertengkaran mereka berdua, saat masuk ke dalam kamar, Rose melihat Gita yang tengah terisak.

__ADS_1


“Gita? Kamu kenapa sayang? apa yang Arman lakukan?” lagi-lagi Rose terus memihak Gita, tanpa menyanyakan lebih dulu awal mula kejadian dan apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua.


“Arman menyakiti kamu?” tanya Rose, dan membuat Arman tersinggung.


“Nggak Bu, tapi Arman membentak aku, dan mengatakan aku wanita murahan,” isak Gita, membuat darah Rose seketika mendidih. Dia tidak terima Arman mengatakan hal demikian kepada Gita.


“Bukan begitu Bu, aku sama sekali nggak bilang kalau Gita wanita tidak baik, kalau membentak mungkin iya,” ujar Arman mencoba menjelaskan, tapi tetap saja Rose sama sekali tidak mau mendengar dan malah menyudutkan Arman dan menyalahkan Arman.


“Saya nggak percaya! Saya lebih percaya kepada Gita! Bisa-bisanya kamu mengatakan kepada Gita? Yang sekarang sudah resmi menjadi istri kamu?” Rose tidak terima dan menyeret Arman sampai di ruang keluarga, dimana Agam, Anyelir dan Devan berada di sana juga.


“Ada apa ini Bu?” tanya Agam bingung, karena Rose membawa Arman ke hadapan Agam.


“Aku mau kamu lebih tegas kepada Arman, apa kamu tahu mas? Dia sudah mengatakan hal yang tidak seharusnya kepada putri kita!” adu Rose seraya menatap Arman dengan memicing.


“Maksudnya? memang apa yang Arman katakan?” Agam masih sabar dan mencoba berpikir positif, dia yakin pasti ada alasan kenapa Arman melakukan hal demikian.


“Bukan begitu Yah,” Arman langsung menyela, karena apa yang Rose sampaikan memang salah, dia sama sekali tidak bermaksud mengatakan hal demikian kepada Gita, istrinya sendiri. Namun Gita malah salah mengartikan dan menganggap Arman sudah mengatakan kata-kata buruk itu. Arman mencoba menjelaskan dan meluruskan apa yang sebenarnya terjadi, di sini Agam menyimak dengan seksama, dia tahu kalau Gita tengah dibakar cemburu karena ada Anyelir juga yang akan menginap.


“Bukankah itu benar? Kalau Gita memang merebut Arman? Dan harusnya Gita sadar, jika Arman bersama dirinya itu berarti Arman akan menjadi kakak ipar Anyelir, dan Gita harus terima itu,” jelas Agam.


“Kamu kenapa sih Yah, nggak bisa membela Gita?” Rose nampak tidak suka, karena Agam nampak tidak bisa membela Gita, dan Agam tentu membela diri dengan berkata.


“Aku akan membela Gita, jika dia benar, nyatanya dia sudah bersalah dan aku harus meluruskannya,” jawab Agam yang seketika membuat Rose terdiam malu.

__ADS_1


“Ya sudah Anyelir, Nak Devan … sebaiknya kalian beristirahat, sudah malam, pasti kalian lelah kan?” ujar Agam, dia sudah meminta pelayan membersihkan kamar Anyelir, supaya bisa nyaman ditempati.


“Ayo Anyelir, ajak suami kamu istirhata Nak,” titah Agam lagi, dan diangguki oleh Anyelir. Anyelir pun membawa Devan untuk masuk ke dalam kamarnya.


“Untung saja aku datang, kalau tidak …” baru saja masuk ke dalam kamar, Devan sudah menyindir Anyelir, dan tentu saja Anyelir paham dengan sindiran itu.


“Maksudnya apa? kamu nyindir aku?” ucap Anyelir, dan Devan hanya tersenyum.


“Aku sama sekali nggak tahu kalau ada kaka Gita juga,” Anyelir mencoba menjelaskan, karena dia tidak mau Devan berpikir bahwa Anyelir datang untuk Arman.


“Iya sayang, aku percaya kok,” Devan menangkup kedua pipi Anyelir.


“AKu minta maaf ya?”  Devan memeluk Anyelir, dia merasa bersalah ketika teringat dengan acara makan malam yang terbilang tidak berjalan lancar karena adanya Laura.


“Kenapa meminta maaf? Aku tahu kok, dan aku ikhlas menjalani semuanya, aku yakin ada saatnya nanti kita akan bahagia,” Anyelir mencoba memahami kondisi Devan, Anyelir tahu, sebenarnya Devan juga tidak ingin di posisi ini, hanya saja takdir yang suah menempatkan Devan berada di sini sekarang, dan Devan mencoba belajar untuk ikhlas.


“Aku tidak marah sama sekali, karena aku tahu kak Laura juga sama seperti ku, dia juga masih sah menjadi istri kamu, jadi wajar kalau dia ingin bermanja dengan kamu mas,” Anyelir juga memberikan saran kepada Devan, supaya Devan bisa sedikit bersikap lembut kapada Laura, sebab dari apa yang Anyelir lihat, Devan memang sangat kaku kepada istri pertamanya itu.


“aku tidak akan pernah bisa bersikap lembut padanya lagi,” tolak Devan, kali ini Anyelir tidak bisa memaksa, karena Anyelir tahu Devan masih sakit hati dengan kesalahan yang sudah Laura buat di masa lalau. Yang terpenting, Anyelir sudah berusaha mengingatkan Devan agar bisa berlaku adil pada  Lauara juga.


“Sayang, aku keluar dulu ya?” pamit Devan setelah Anyelir bersih-bersih.


“Ngapain?” tanya Anyelir, sebab ini sudah cukup larut.

__ADS_1


“Cari angin, bentar kok,” pamit Devan lagi, dan diangguki oleh Anyelir, namun Anyelir akan mengunci pintu, dan Devan memegang kunci pintu cadangan, karena Anyelir takut kalau nanti dia ketiduran. Dan lagi Devan juga takut kalau nanti Arman diam-diam masuk ke dalam istrinya, jadi dia berjaga-jaga dengan cara Anyelir harus mengunci pintu.



__ADS_2