
Pagi ini, di kediaman Devan sudah cukup ramai, karena banyak anak buah Devan yang datang dan berkumpul di sana. Jelas ini bukan salah satu hal yang biasa, para pekerja di kediaman Devan yakin, pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Devan, kok anak buah kamu ada di depan rumah? Jumlahnya juga lumayan banyak," ujar Mayang, yang memang melihatnya.
"Loh, kenapa? Apa ini ada kaitannya dengan kecelakaan, bu Rose?" tanya Mayang memastikan.
"Iya Bu, aku yakin ini adalah suatu kesengajaan, makanya aku mau baik Ibu maupun Anyelir, jika memang ada kepentingan dan ingin pergi, harus didampingi dengan anak buah ku," pesan Devan dan diangguki oleh Mayang.
"Ya sudah, kamu tenang saja, biar Anyelir di rumah, Ibu yang jaga, atau nanti dia mau menjenguk ibunya, biar Ibu yang temani," Mayang pun jadi ikut was-was dengan keselamatan sang menantu, namun Mayang tahu, keamanan dari para anak buah Devan, tidak bisa diragukan lagi.
Sedangkan di sisi lain, di apartement Arman juga sudah ada beberapa anak buah yang baru saja datang, Arman sudah mengetahuinya karena Devan sebelumnya sudha berbicara lewat telepone lebih dulu dengannya. Kini, Arman tengah mengumpulkan dua pelayan di rumahnya.
"Ada apa, Tuan Arman mengumpulkan kami?" tanya salah satu pelayan, yang memang ditugaskan oleh Dika untuk bekerja di apartement.
"Saya mengumpulkan kalian, dengan maksud, bahwa mulai hari ini, kalian bisa kembali pada ayah saya. Karena untuk saat ini, saya rasa, belum terlalu memerlukan jasa kalian," ucap Arman tiba-tiba, membuat dua asiten rumah tangganya terkejut.
"Tuan, kenapa mendadak begini, apakah ada kesalahan yang kami lakukan?" tanya salah satu asisten rumah tangga lagi.
"Tidak, pekerjaan kalian sangat baik, dan saya sangat puas. Tapi untuk saat ini, memang saya belum membutuhkannya," jawab Arman beralasan. AKhirnya, dua asisten rumah tangga itupun mengerti dan mereka segera mengemas barang-barang mereka. Tidak lupa Arman meminta maaf jika memang dia mempunyai salah. Setelah dua asisten rumah tangganya itu pulang, Arman pun meminta dua anak buah Devan untuk masuk.
"Lalu bagaimana sekarang?" bisik Arman, karena dua orang utusan Devan memberikan isyarat supaya mereka berbicara seraya berbisik.
__ADS_1
"Kita akan berkeliling dulu, Pak Arman, apakah di sini ada cctv atau penyadap suara," jawab salah satu orang utusan Devan. Akhirnya mereka menggunakan slaah satu alat untuk mengecek, apakah di rumah itu ada cctv atau penyada suara. Tujuan pertama mereka adalah ruang tamu. Benar saja, alat itu mendeteksi ada salah satunya, mereka menemukan penyadap suara yang terpasang di bawa meja.
Arman begitu terkejut, dan langsung saat itu juga, mereka menghancurkan alat sadap suara itu. Pencarian berlanjut, dan mereka juga menemukan sadap suara itu di ruang kerja Arman. Hanya ada dua, setelah mereka mencari ke semua ruangan lain, ternyata aman.
"Dari bukti yang kami dapat, kira-kira Pak Arman tahu, siapa yang memasangnya?" tanya salah satu anak buah Devan.
"Aku tidak tahu, tapi ini juga bukan Gita, jadi mungkin, yang memasang ini adalah salah satu pelayan rumahku tadi," jawab Devan was-was.
"Siapa yang mencarikan pelayan untuk anda saat itu? Atau mungkin mereka adalah rekomendasi dari seseorang?"
"Iya, mereka adalah pelayan yang dulu bekerja di rmah ayah ku, lalu mereka dimiinta untuk bekerja di sini," terang Arman lagi.
Pagi ini, di kediaman Devan sudah cukup ramai, karena banyak anak buah Devan yang datang dan berkumpul di sana. Jelas ini bukan salah satu hal yang biasa, para pekerja di kediaman Devan yakin, pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Devan, kok anak buah kamu ada di depan rumah? Jumlahnya juga lumayan banyak," ujar Mayang, yang memang melihatnya.
"Loh, kenapa? Apa ini ada kaitannya dengan kecelakaan, bu Rose?" tanya Mayang memastikan.
"Iya Bu, aku yakin ini adalah suatu kesengajaan, makanya aku mau baik Ibu maupun Anyelir, jika memang ada kepentingan dan ingin pergi, harus didampingi dengan anak buah ku," pesan Devan dan diangguki oleh Mayang.
"Ya sudah, kamu tenang saja, biar Anyelir di rumah, Ibu yang jaga, atau nanti dia mau menjenguk ibunya, biar Ibu yang temani," Mayang pun jadi ikut was-was dengan keselamatan sang menantu, namun Mayang tahu, keamanan dari para anak buah Devan, tidak bisa diragukan lagi.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, di apartement Arman juga sudah ada beberapa anak buah yang baru saja datang, Arman sudah mengetahuinya karena Devan sebelumnya sudha berbicara lewat telepone lebih dulu dengannya. Kini, Arman tengah mengumpulkan dua pelayan di rumahnya.
"Ada apa, Tuan Arman mengumpulkan kami?" tanya salah satu pelayan, yang memang ditugaskan oleh Dika untuk bekerja di apartement.
"Saya mengumpulkan kalian, dengan maksud, bahwa mulai hari ini, kalian bisa kembali pada ayah saya. Karena untuk saat ini, saya rasa, belum terlalu memerlukan jasa kalian," ucap Arman tiba-tiba, membuat dua asiten rumah tangganya terkejut.
"Tuan, kenapa mendadak begini, apakah ada kesalahan yang kami lakukan?" tanya salah satu asisten rumah tangga lagi.
"Tidak, pekerjaan kalian sangat baik, dan saya sangat puas. Tapi untuk saat ini, memang saya belum membutuhkannya," jawab Arman beralasan. AKhirnya, dua asisten rumah tangga itupun mengerti dan mereka segera mengemas barang-barang mereka. Tidak lupa Arman meminta maaf jika memang dia mempunyai salah. Setelah dua asisten rumah tangganya itu pulang, Arman pun meminta dua anak buah Devan untuk masuk.
"Lalu bagaimana sekarang?" bisik Arman, karena dua orang utusan Devan memberikan isyarat supaya mereka berbicara seraya berbisik.
"Kita akan berkeliling dulu, Pak Arman, apakah di sini ada cctv atau penyadap suara," jawab salah satu orang utusan Devan. Akhirnya mereka menggunakan slaah satu alat untuk mengecek, apakah di rumah itu ada cctv atau penyada suara. Tujuan pertama mereka adalah ruang tamu. Benar saja, alat itu mendeteksi ada salah satunya, mereka menemukan penyadap suara yang terpasang di bawa meja.
Arman begitu terkejut, dan langsung saat itu juga, mereka menghancurkan alat sadap suara itu. Pencarian berlanjut, dan mereka juga menemukan sadap suara itu di ruang kerja Arman. Hanya ada dua, setelah mereka mencari ke semua ruangan lain, ternyata aman.
"Dari bukti yang kami dapat, kira-kira Pak Arman tahu, siapa yang memasangnya?" tanya salah satu anak buah Devan.
"Aku tidak tahu, tapi ini juga bukan Gita, jadi mungkin, yang memasang ini adalah salah satu pelayan rumahku tadi," jawab Devan was-was.
"Siapa yang mencarikan pelayan untuk anda saat itu? Atau mungkin mereka adalah rekomendasi dari seseorang?"
__ADS_1
"Iya, mereka adalah pelayan yang dulu bekerja di rmah ayah ku, lalu mereka dimiinta untuk bekerja di sini," terang Arman lagi.