Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Menceritakan


__ADS_3

Rose banyak bercerita soal Anyelir, putrinya yang paling dia sayangi, dia juga menceritakan soal Gita, putri sambungnya, yang belakangan ini selalu membuat perasaan Rose terus saja cemas. Winda mendengarkan dengan seksama, semua keluh kesah Rose.


"Saya sangat takut, kalau Gita benar-benar akan melakukan ancamannya, Bu Winda, setiap kali saya melihat Gita, sekujur tubuh saya langsung keringat dingin," ucap Rose.


Winda menggenggam jemari Rose. "Bu, saya tahu Ibu sangat takut, tapi sekarang putri Ibu sudah berada di tangan yang tepat, semua orang akan menjaganya. Jangan terus terlihat lemah di hadapan Gita. Karena itu akan semakin membuat Gita merasa, bahwa dia bisa berlaku semena-mena terhadap Ibu."


Winda terus memberikan semangat, dan beberap saran. Dari apa yang Rose tangkap dari perbincangan mereka, Rose manangkap bahwa  dia harus mulai melawan rasa takutnya perlahan, dia harus mulai percaya, bahwa Anyelir sekarang bersama dengan orang yang tepat.


Setelah bertemu dengan Winda, Rose memutuskan untuk pulang, sebelum Agam pulang lebih dulu darinya. Saat Rose baru sampai, dia melihat Gita yang datang dengan menenteng beberapa barang belanjaannya.


"Gita, kamu belanja banyak banget," tegur Rose.


"Ya ampun, Bu masa segini banyak, ini justru kurang, tadi aku lihat ada tas bagus banget, tapi aku malah nggak bisa beli," keluh Gita, uang 10 juta yang Rose berikan, langsung habis dalam hitungan jam.


Rose hanya bisa menghela napasnya dang menggelengkan kepala, dia tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat.

__ADS_1


"Bu, bagi uang lagi dong," Gita menengadahkan tangannya, tanpa tahu malu.


"Ibu nggak punya uang gita, Ibu sudah dibatasi. Pengeluaran Ibu hanya 30 juta perbulan, dan 10 juta sudah sama kamu, dan 20 juta sama ayah, beberapa hari ke depan, Ibu nggak bisa minta uang," Rose berbohong, hanya ini cara yang dia bisa pakai, supaya Gita tidak terus merong-rongnya.


"Ck," Gita berdecak kesa, "ya udah, aku balik aja, gak guna di sini," ucap Gita seraya menghentakkan kakinya kesal.


Rose mengusap dadanya setelah Gita pergi. "Sampai kapan kamu akan begini Gita? Tidak kah kamu kasihan pada bunda kamu?" gumam Rose.


-//-


"Ah, iya sayang?" Devan, yang memang tengah melamun tersentak, dia menatap Anyelir.


"Kamu kenapa?" tanya Anyelir dengan tatapan menyelidik.


"Aku nggak apa-apa sayang," ucap Devan mencoba menutupi.

__ADS_1


"Aku istri kamu, dan aku tahu mana kamu lagi bohong, mana kamu yang lagi jujur," Anyelir tidak semudah itu dibohongi, dia mendesak Devan, untuk berbicara jujur dengannya.


Devna menghela napasnya, memang berat membohongi Anyelir. Karena dia wanita yang begitu peka terhadap keadaan sekitar.


"Tadi siang, aku bertemu client sayang," ucap Devan mulai menjelaskan pertemuannya dengan salah satu mantan tetangga Rose dan Agam.


"Apa? Jadi maksud kamu, selama ini bukan ibu yang jadi istri kedua?" tanya Anyelir memastikan.


"Iya, tapi bunda dari Gita. Awalnya, itu juga perjanjiannya, mereka akan berpisah, setelah ibunda Gita, melahirkannya," jelas Devan. Anyelir merasa bersalah karena selama ini, dia juga pernah menyalahkan Rose atas meninggalnya ibunda dari Gita.


"Tapi kenapa ibu dan ayah nggak pernah cerita?" tanya Anyelir heran.


"Mungkin, ibu mau menjaga perasaan Gita. Seandainya Gita tahu ibunya yang sudah meninggal, yang sebenarnya merebut ayah, pasti dia akan semakin terpukul," pungkas Devan.


"Tapi, mungkin kak Gita akan bersikap jauh lebih baik, nggak seperti sekarang," Anyelir cukup kesal, atas rahasia yang selama ini disembunyikan darinya.

__ADS_1


__ADS_2