
Malam ini Devan memutuskan untuk tidur di ruang keluarga, besok rencananya dia akan meminta pada pelayan rumah untuk menyiapkan kamar lain untuk dia tempati. Sudah satu jam Devan berbaring, namun matanya belum juga bisa terpejam, pikirannya malah melayang mengingat kejadian siang tadi, di mana dia bercumbu dengan Anyelir, meskipun hanya sekedar ciuman, namun itu bisa membuat Devan melayang.
‘Kenapa aku merasa seperti remaja yang baru saja masa puber?’ batin Devan, ketika dia mengingat momen bersama Anyelir, dia merasa sangat bahagia, dan dia juga tidak sabar untuk bertemu dengan Anyelir di kantor besok. Nampaknya, Anyelir menjadi semangat tersendiri bagi Devan. Devan mencoba membuka aplikasi whatsappnya, dan melihat kontak Anyelir tengah aktif, iya Devan sudah memiliki nomor telepon istrinya, tadi siang dia meminta langsung pada Anyelir dengan alasan siapa tahu dia butuh sesuatu.
Devan mencoba mengirim pesan singkat kepada Anyelir, sekedar basa-basi untuk mencari topic obrolan. Dia menanyakan kenapa dia Anyelir belum juga tidur? Padahal malam sudah cukup larut.
[Aku belum bisa tidur kak] hanya itu jawaban dari Anyelir.
[Kenapa? memikirkan ku?] tanya Devan dengan penuh percaya diri.
“Kok dia bisa tahu?” ucap Anyelir seraya tersenyum kearah layar ponselnya, namun dia tidak akan menjawab dengan jujur bahwa apa yang Devan katakana itu benar, Anyelir terlalu malu untuk mengakui semua itu.
[Kak Devan terlalu percaya diri] Anyelir akhirnya mengirim pesan tersebut.
[Sudah larut, tidurlah, besok kita akan bertemu di kantor] titah Devan.
[Baik kak, kakak juga istirahat ya, salam untuk kak Laura,] mengingat nama Laura, Anyelir yakin saat ini Devan tengah bersama dengan istri pertamanya. Namun, ini sudah menjadi konsekuensi Anyelir, dia manu menikah dengan lelaki yang sudah beristri dan dia juga bersedia menjadi istri kedua, maka ini dia juga harus siap berbagi waktu, cinta dan juga suami. Anyelir paham, pernikahan yang terjadi antara dirinya dengan Devan bukan karena cinta, jadi Anyelir akan lebih banyak mengalah.
Anyelir menatap layar ponselnya, di mana Devan mengirimkan sebuah foto dirinya yang tengah berbaring, Anyelir tersenyum lucu melihat Devan yang terlalu narsir, Devan begitu percaya diri.
__ADS_1
‘Kalau begini terus aku bisa jatuh cinta padanya,’ batin Anyelir. Pikiran Anyelir melayang jauh, dia akui sikap Devan memang begitu manis, namun ada hal yang masih mengganjal pikirannya, tentang siapa sebenarnya Devan, di mana keluarganya, itu semua tidak memiliki kejelasan, dan Devan juga tidak pernah menyinggung soal itu, membuat Anyelir akhirnya berpikir bahwa Devan tidak bisa percaya padanya.
‘Bagaimana kalau aku sampai jatuh cinta? Bagaimana kalau aku jatuh cinta? Apa tidak masalah? Bagaimana kalau aku sampai terbuai oleh semua perkataannya? Aku takut kalau suatu saat nanti semua ini akan berakhir, karena bagiku ini semua hanya semu belaka,’ Anyelir menatap sendu kerlipan bintang di langit, dia mencoba mencurahkan segala kegundahan hatinya selama ini.
Disisi lain, Devan juga masih menatap balasan pesannya bersama Anyelir, dia tersneyum senang kala Anyelir memuji ketampanannya, lebih tepatnya Devan memaksa.
‘Jatuh cintalah padaku Anyelir, karena aku pria yang pantas kau cintai, aku adalah suamimu. Terbuailah dan terbang bersama ku menuju syurga cinta kita, yang di mana hanya akan ada kita, aku dan kamu. Tepislah segala kegundahan hatimu, dan ayo kita bersama mengarungi mahligai cinta kita,’ batin Devan, dia memejamkan matanya mengistirahatan tubuhnya yang lelah akan besok bisa kembali segar, Devan ingin selalu berpenampilan menarik di depan Anyelir.
**
Keesokan harinya, Devan dan Laura tengah sarapan bersama, bahkan sekarang ini Mayang juga ikut bergabung di meja makan. Kesehatan Mayang semakin hari memang semakin membaik, namun dia masih menggunakan kursi roda, akan tetapi, semua itu juga termasuk perubahan yang sangat besar, karena sudah cukup lama Mayang berbaring di ranjang rumah sakit. Devan pernah berjanji pada Mayang, bahwa dia akan sebisa mungkin menyembuhkan Mayang dengan segala cara, Devan juga berjanji akan mencari dokter terbaik.
Devan sendiri sudah memindahkan semua barang-barang miliknya, ke kamar tamu. Dia meminta kepada para pekerja untuk merahasiakan semua hal ini dari Mayang, karena Devan tidak mau kalu Mayang tahu bahwa pernikahannya dengan Laura bermasalah.
“Iya Nak, kamu hati-hati ya?” Mayang mengelus puncak kepala Devan dengan sayang.
“Kabari aku kalau ada apa-apa,” Devan menitip pesan pada Laura, dan diangguki oleh istri pertamanya.
Felix rupanya sudah datang menjemput Devan, dia bergegas membukakan pontu untuk atasannya.
__ADS_1
“Pagi Tuan,” sapa Felix, dan diangguki oleh Devan.
“Anyelir sudah berangkat?” Devan memang meminta Felix untuk mengawasi Anyelir, apalagi sekarang ini Devan berada jauh dari Anyelir.
“Sudah tuan, nona Anyelir menerima saran saya untuk berangkat diantar supir,” jawab Felix. Hari ini, Devan berencana untuk mengantarkan Anyelir pulang, namun lebih dulu Devan meminta Felix untuk mencari tempat yang aman untuk Devan dan Anyelir bertemu pulang kantor nanti. Felix memang selalu bisa diandalkan dalam hal apapun, maka dari itu, tidak kaget kalu Devan mau membayar mahal asisten pribadinya itu.
“Anda sudah mencari alasan kepada nyonya Mayang? Untuk nanti anda menginap bersama nona Anyelir?” tanya Felix, mendengar pertanyaan Felix, Devan langsung menepuk jidatnya. Sepertinya dia lupa hal sepenting ini.
“Aku lupa, untung kau mengingatkan. Sejujurnya aku belum memikirkan hal ini,” jawab Devan lesu.
“Anda harus mulai mencari alasannya Tuan, anda tentu tahu seperti apa nyonya besar kan?” Felix mencoba mengingat kan Devan dan memberikan saran, karena Mayang salah satu orang yang tidak mudah untuk di tipu.
“Kau benar, tapi apa ya?” Devan nampak berpikir, apa kiranya alasan yang tepat supaya Mayang tidak curiga.
“Bilang saja perjalanan dinas Tuan, nanti saya akan bantu menjelaskan kepada nyonya besar,” Devan tersenyum mendengar ide brilliant yang dicetuskan oleh Felix, tidak sia-sia Devan memberikan kepercayaan kepada asistennya, Felix benar-benar sangat membantu Devan dan bisa selalu diandalkan .
Felix yang melihat senyum semangat Devan, ikut merasa bahagia, semenjak kedatangan Anyelir, Felix merasa banyak hal yang berubah dalam diri Devan. Sikap dingin yang selama ini Devan tunjukkan, kali ini tidak berlaku untuk Anyelir, justru Devan selalu saja bertingkah polos dan manis, yang Felix yakini Anyelir pun mulai menaruh rasa pada Devan.
“Anda mulai jatuh cinta Tuan?” tiba-tiba saja Felix membahas soal perasaan, memang hanya Felix yang bisa berbicara sedekat dan pribadi ini dengan Devan.
__ADS_1
Devan nampak menimang sebelum dia menjawab, dia sendiri masih ragu apakah hal ini bisa dinamakan cinta? Benarkah dia mulai jatuh cinta? Selama ini Devan bepikir kalau hatinya sudah mati karena kekecewaan yang teramat dalam.