Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Ajakan makan siang


__ADS_3

"Keluarga Pak Felix, sepertinya dekat dengan pak Devan," ucap Nabila, mencoba membuka perbincangan.


"Ayah ku, dulu adalah asisten pribadi mendiang ayah Tuan Devan, mereka meninggal bersamaan karena kecelakaan. Ayah selalu berpasan, agar aku selalu bersama Tuan Devan apapun yang terjadi dan memastikan bahwa Tuan Devan akan selalu baik-baik saja," jawab Felix.


"Saya juga salut dengan ayah saya, harapan saya, bisa bekerja lebih baik dari ayah, bisa menjaga keluarga Tuan Devan dengan baik," harap Felix. Mobil terus melaju, dan akhirnya mereka sampai di kediaman Nabila.


"Makasih banyak ya, Pak Felix, sudah anterin saya," ucap Nabila sebelum turun dari mobil.


"Sama-sama," jawab Felix seadanya, saat Nabila baru saja turun dari mobil, tiba-tiba saja ibu Nabila datang. Felix tidak enak hati jika harus pergi begitu saja, dia pun turun dari mobil dan menyapa ibu Nabila.


"Siang Tante," sapa Felix.


"Siang, wah ini siapa Nabila?" tanya Yuli, ibu Nabila. Baru kali ini dia melihat putrinya membawa teman yang nampaknya tidak seumuran.


"Ini, Pak Felix, Mah. Atasan aku di tempat magang dulu," jawab Nabila.


"Oh Pak Felix, salam kenal ya, Pak," dengan ramah, Yuli menyambut Felix. Di kalangan sahabat putrinya, Yuli menjadi ibu bagi mereka semua, bahkan YUli juga sangat dengannya, terkadang mereka juga tidak jarang, bercerita seputar kisah cinta mereka yang tidak jauh dengan kegalauan.


"Tante, saya permisi mau pulang dulu," pamit Felix.


"Aduh, jangan pulang dulu. Ayo makan siang dulu, Tante udah masak, kita makan-makan sama-sama," ajak Yuli.


"Eem, Tante nggak perlu repot-repot," Felix tidak enak hati menerima ajakan Yuli, tapi dia juga tiak enak untuk menolaknya.


"Udah nggak apa-apa, ayo Nabila ajak, Nak Felix masuk ke dalaa." titah Yuli kepada sang putri.


"Ayo, Pak Felix, jangan sungkan. Meskipun Mamah saya bukan chef, tapi masakannya paling enak loh," ujar Nabila membanggakan masakan sang ibu. Akhirnya, karena tidak enak menolak ajakan makan siang dari Yuli dan Nabila, Felix pun mengikuti Nabila dan ibunya. Semua hidangan makan siang sudah tersaji di meja makan dengan rapih.


"Ayo, Nak Felix silahkan, jangan sungkan," ucap Yuli dan kembali dibalas senyum ramah oleh Felix.


'Aku baru merasakan kembali, makan siang dengan suasana hangat keluarga,' batin Felix. Suasa makan siang hari ini, membuat Felix seolah merasakan kembali suasana yang lama hilang dan dia rindukan,Yuli yang memang suka bercerita membuat suasana makan siang ini, menjadi tidak sepi. Setelah makan siang dan mengobrol sebentar, Felix pun berpamitan karena dia harus kembali ke kantor. Nabila dan Yuli pun mengantarkan Felix sampai ke depan rumah.


"Terimakasih ya, Tante sekali lagi, sudah diajak makan siang dan diberi kesempatan untuk mencicipi masakan Tante yang sangat enak," puji Felix.

__ADS_1


"Sama-sama, Nak Felix, semangat ya kerjanya, kapan-kapan main lagi ke sini," pesan Yuli dan disambut senyum hangat dari Felix. Akhirnya Felix pun berpamitan dengan Yuli dan Nabila.


"Bil, itu pacar kamu, kan?" tanya Yuli setelah Felix pergi.


"Ih Mamah apaan sih, bukan kok," jawab Nabila disertai dengan cebikkan bibirnya.


"Ya terus, masa atasan mau sih nganterin bawahan? Berarti dia perhatian, apalagi kamu udah nggak magang di sana," ujar Yuli semakin mencecar.


"Tadi mobil ku mogok, Mah," ucap Nabila, dan seketika Yuli pun ingat, bahwa putri satu-satunya itu tadi pagi membawa mobil, tapi pulang justru diantar oleh Felix.


"Oh iya, mobil kamu ke mana?" tanya Yuli setelah sadar. Nabila pun menjelaskan soal mobilnya yang terpaksa di bawa ke bengkel, karena mogok. Nabila juga menceritakan tentang pertemuannya dengan Felix.


"Oh iya Mah, aku juga tadi diajak pak Felix ke makam kedua orang tuanya," tutur Nabila.


"Oh iya? Jadi orang tua Felix sudah meninngal?" tanya Yuli, dia memang tidak tahu menahu soal hal itu.


"Iya Mah, aku terharu banget karena pak Felix ternyata sosok asisten yang sangat setia, bahkan dia juga masih sering menceritakan kabar pak Devan pada mendiang kedua orang tuanya," jelas Nabila. Yuli memang sudah tahu soal Anyelir yang menikah dengan Devan, CEO muda. Yuli bahkan masih sering bertukar kabar dengan Anyelir.


"Keluarga Pak Felix, sepertinya dekat dengan pak Devan," ucap Nabila, mencoba membuka perbincangan.


"Ayah ku, dulu adalah asisten pribadi mendiang ayah Tuan Devan, mereka meninggal bersamaan karena kecelakaan. Ayah selalu berpasan, agar aku selalu bersama Tuan Devan apapun yang terjadi dan memastikan bahwa Tuan Devan akan selalu baik-baik saja," jawab Felix.


"Saya juga salut dengan ayah saya, harapan saya, bisa bekerja lebih baik dari ayah, bisa menjaga keluarga Tuan Devan dengan baik," harap Felix. Mobil terus melaju, dan akhirnya mereka sampai di kediaman Nabila.


"Makasih banyak ya, Pak Felix, sudah anterin saya," ucap Nabila sebelum turun dari mobil.


"Sama-sama," jawab Felix seadanya, saat Nabila baru saja turun dari mobil, tiba-tiba saja ibu Nabila datang. Felix tidak enak hati jika harus pergi begitu saja, dia pun turun dari mobil dan menyapa ibu Nabila.


"Siang Tante," sapa Felix.


"Siang, wah ini siapa Nabila?" tanya Yuli, ibu Nabila. Baru kali ini dia melihat putrinya membawa teman yang nampaknya tidak seumuran.


"Ini, Pak Felix, Mah. Atasan aku di tempat magang dulu," jawab Nabila.

__ADS_1


"Oh Pak Felix, salam kenal ya, Pak," dengan ramah, Yuli menyambut Felix. Di kalangan sahabat putrinya, Yuli menjadi ibu bagi mereka semua, bahkan YUli juga sangat dengannya, terkadang mereka juga tidak jarang, bercerita seputar kisah cinta mereka yang tidak jauh dengan kegalauan.


"Tante, saya permisi mau pulang dulu," pamit Felix.


"Aduh, jangan pulang dulu. Ayo makan siang dulu, Tante udah masak, kita makan-makan sama-sama," ajak Yuli.


"Eem, Tante nggak perlu repot-repot," Felix tidak enak hati menerima ajakan Yuli, tapi dia juga tiak enak untuk menolaknya.


"Udah nggak apa-apa, ayo Nabila ajak, Nak Felix masuk ke dalaa." titah Yuli kepada sang putri.


"Ayo, Pak Felix, jangan sungkan. Meskipun Mamah saya bukan chef, tapi masakannya paling enak loh," ujar Nabila membanggakan masakan sang ibu. Akhirnya, karena tidak enak menolak ajakan makan siang dari Yuli dan Nabila, Felix pun mengikuti Nabila dan ibunya. Semua hidangan makan siang sudah tersaji di meja makan dengan rapih.


"Ayo, Nak Felix silahkan, jangan sungkan," ucap Yuli dan kembali dibalas senyum ramah oleh Felix.


'Aku baru merasakan kembali, makan siang dengan suasana hangat keluarga,' batin Felix. Suasa makan siang hari ini, membuat Felix seolah merasakan kembali suasana yang lama hilang dan dia rindukan,Yuli yang memang suka bercerita membuat suasana makan siang ini, menjadi tidak sepi. Setelah makan siang dan mengobrol sebentar, Felix pun berpamitan karena dia harus kembali ke kantor. Nabila dan Yuli pun mengantarkan Felix sampai ke depan rumah.


"Terimakasih ya, Tante sekali lagi, sudah diajak makan siang dan diberi kesempatan untuk mencicipi masakan Tante yang sangat enak," puji Felix.


"Sama-sama, Nak Felix, semangat ya kerjanya, kapan-kapan main lagi ke sini," pesan Yuli dan disambut senyum hangat dari Felix. Akhirnya Felix pun berpamitan dengan Yuli dan Nabila.


"Bil, itu pacar kamu, kan?" tanya Yuli setelah Felix pergi.


"Ih Mamah apaan sih, bukan kok," jawab Nabila disertai dengan cebikkan bibirnya.


"Ya terus, masa atasan mau sih nganterin bawahan? Berarti dia perhatian, apalagi kamu udah nggak magang di sana," ujar Yuli semakin mencecar.


"Tadi mobil ku mogok, Mah," ucap Nabila, dan seketika Yuli pun ingat, bahwa putri satu-satunya itu tadi pagi membawa mobil, tapi pulang justru diantar oleh Felix.


"Oh iya, mobil kamu ke mana?" tanya Yuli setelah sadar. Nabila pun menjelaskan soal mobilnya yang terpaksa di bawa ke bengkel, karena mogok. Nabila juga menceritakan tentang pertemuannya dengan Felix.


"Oh iya Mah, aku juga tadi diajak pak Felix ke makam kedua orang tuanya," tutur Nabila.


"Oh iya? Jadi orang tua Felix sudah meninngal?" tanya Yuli, dia memang tidak tahu menahu soal hal itu.

__ADS_1


"Iya Mah, aku terharu banget karena pak Felix ternyata sosok asisten yang sangat setia, bahkan dia juga masih sering menceritakan kabar pak Devan pada mendiang kedua orang tuanya," jelas Nabila. Yuli memang sudah tahu soal Anyelir yang menikah dengan Devan, CEO muda. Yuli bahkan masih sering bertukar kabar dengan Anyelir.


__ADS_2