Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Berani


__ADS_3

Siang hari ini, Anyelir begitu bersemangat, karena dia diajak makan siang oleh ibu mertuanya, di tambah lagi Anyelir tahu kalau Laura tidak bisa ikut. Meskipun Mayang belum tahu bahwa Anyelir bukanlah menantunya, namun bisa menjalin kedekatan bersama Mayang, sudah lebih dari cukup bagi Anyelir.


“Assalammualaikum Bu,” Anyelir mencium tangan Mayang dengan sopan.


“Ibu sudah tunggu lama?” tanya Anyelir tidak enak.


“Belum kok Nak, Ibu baru datang,” jawab Mayang dengan senyum yang terus mengembang. Mereka pun mulai mengobrol untuk memecahkan kecanggungan, sembari menunggu makanan datang. Disaat Anyelir tengah mengobrol santai dengan Mayang, tiba-tiba saja seseorang yang Anyelir tidak harapkan kedatangannya muncul.


“Bu?” Laura langsung duduk bergabung dengan Mayang dan Anyelir.


“Syukurlah kamu datang Nak,” Laura sengaja tidak memberitahukan bahwa dia bisa datang, supaya dia bisa bertemu dengan Anyelir.


“Iya Bu, aku sengaja datang karena aku juga mau ketemu Anyelir, yang sudah menyelamatkan ibuku tersayang,” Laura seolah menujukkan pada Anyelir, bahwa dirinya begitu dekat dengan ibu mertuanya, yaitu Mayang. Dan seolah mengtakan, bahwa di sini yang benar-benar menjadi menantu Mayang hanyalah dirinya, Laura.


“Bu, saya permisi ke toilet dulu ya?” pamit Anyelir, dia bergegas pergi ke toilet dan ternyata Laura pun mengikuti.


“Bagaimana? Kau sudah melihatnya bukan?” ujar Laura yang kini berdiri di samping Anyelir yang tengah bercermin.


“Maksudnya?” Anyelir berpura-pura tidak tahu apa maksud dari perkataan Laura.


“Aku dan Ibu, kau lihat? Hanya aku menantunya dan satu-satunya menantu di mata ibu,” Laura hanya menatap Anyelir lewat cermin. Anyelir yang mendengar semua itu hanya tersenyum.


“Jangan lupa, aku yang memenangkan hati kak Devan,” Anyelir balik menatap Laura dengan berani, “seharusnya kak Laura lebih hati-hati sekarang, karena setelah ibu sembuh, pasti semua akan terbongkar,” kali ini Mayang tidak akan tinggal diam saat Laura mencoba membuat mencuci otak Anyelir dan ingin menyerang Anyelir lewat perasaan. Laura menatap Anyelir dengan kesal, dia mulai terpancing emosi.


“Sepertinya, aku terlalu berbaik hati, sampai-sampai kau menjadi wanita yang tidak tahu malu. Ingat Anyelir, aku juga istri Devan dan aku berhak atas dia, bukan hanya kau!” sentak Laura.


“Bukankah seharusnya kak Laura malu? Kakak pergi meninggalkan kak Devan tepat di hari pernikahan, dan dengan tidak tahu malunya Kakak datang meminta kembali?” tanya Anyelir.


“Kau!” Laura hendak menampar Anyelir, namun Anyelir langsung menepis tangan Laura.

__ADS_1


“Aku tidak selemah itu,” ucap Anyelir dan dia meninggalkan Laura begitu saja.


‘Akan aku tunjukkan sedang bersama siapa kau berhadapan,’ batin Laura, tangannya terkepal eratm seolah dia mengumpulkan emosinya.


Anyelir dan Laura kembali ke meja, dan seolah tidak terjadi apapun, makanan juga sudah sampai, mereka pun mulai menyantap hidangan makan siang dengan sesekali mengobrol.


“Anyelir, apakah itu cincin pernikahan?” tiba-tiba saja Mayang menanyakan soal cincin yang dipakai oleh Anyelir.


“Uhuk … uhuk …” karena terkejut, Anyelir tersedak, dan hendak mengambil minum.


“Kau salah ambil minum Anyelir, harunya itu milikku,” ucap Laura, memberitahukan bahwa minuman yang dipegang oleh Anyelir adalah miliknya.


“Oh maaf,” Anyelir menaruh kembali dan meminum miliknya.


“Sepertinya kau sangat suka mengambil milik orang lain,” sindir Laura secara terang-terangan, membuat Mayang langsung menatap Laura.


“Laura, jaga bicara kamu,” Mayang mencoba menasehati menantunya, namun Laura nampak enggan.


“Bukan begitu Anyelir? Kamu suka kan, mengambil milik orang lain?” tanya Laura, membuat Anyelir bingung harus berekspresi bagaimana.


“Laura hentikan, kamu membuat Nak Anyelir tidak nyaman, lagi pula cuman perkara minum,” Mayang yang tidak tahu apapun, berpikir mungkin Laura tidak suka karena Anyelir mengambil minuman Laura.


“Aku tidak apa-apa Bu,” Anyelir masih mencoba tersenyum, di hadapan Mayang.


“Tentu saja kamu tidak apa-apa, karena di sini aku korbannya,” sekali lagi, perkataan Laura membuat  Anyelir menjadi was-was. Anyelir takut jika sampai Laura mengatakan hal yang membuat Mayang terkejut.


“Maksud kamu Laura?” Mayang menaruh curiga, entah kenapa Mayang merasa kalau setiap perkataan Laura mengandung makna yang dia sendiri tidak tahu apa maksudnya.


“Ibu mau tahu, rahasia apa yang disembunyikan oleh putra Ibu?” tanya Laura, kali ini Anyelir menatap Laura dengan tatapan memohon, agar Laura tidak mengatakan apapun kepada Mayang.

__ADS_1


“Apa yang Ibu tidak tahu?” firasat Mayang mengatakan, bahwa ini bukan hal yang baik.


“Putra Ibu sudah menduakan saya, bahkan kalau Ibu mau tahu, aku dinikahi secara siri,” akhirnya Laura mengatakan hal yang seharusnya dia sembunyikan, Anyelir manatap Mayang, memastikan kondisi ibu mertuanya baik-baik saja.


“Ibu tahu? Wanita ini adalah maduku, dia adalah istri kedua Devan,” ungkap Laura, Anyelir menatap Laura dengan tatapan tidak percaya, bagaimana bisa Laura mengatakan hal ini, sedangkan dia sendiri tahu bagaimana kondisi Mayang saat ini, yang masih belum stabil.


“Be-benarkah?” Mayang begitu terkejut dengan pengakuan Laura, “i-ini pasti mimpi,” Mayang menggelengkan kepalanya, dia yakin putranya tidak akan melakukan hal iu, kepada orang yang begitu dia cintai.


“Ini buktinya Bu,” Laura memperlihatkan sebuah foto pernikahan, Devan dengan Anyelir. Mayang menggelengkan kepalanya, dia merasa tertipu oleh Devan dan Anyelir.


“Bu, a-aku …”


Plaaaakkk!!! Suara tamparan yang nyaring, tangan Mayang mendarat mulus di pipi kanan Anyelir, membuat Anyelir yang semula ingin menjelaskan kepada Mayang, soal pernikahan ini, menjadi terdiam. Rasa panas di pipi Anyelir, tidak sebanding dengan sakit hati yang Anyelir rasakan oleh perkataan Mayang setelah ini.


“Aku tidak mau memiliki menantu selain Laura, karena kamu hanyalah wanita murahan, perusak rumah tangga orang, dan kamu tidak lain wanita yang hanya mengincar harta putraku !” seru Mayang, seketika dada Anyelir terasa sesak, air matanya mengalir deras membasahi pipi Anyelir. Hal ini menjadi tontonan yang begitu menghibur bagi Laura.


‘Kalau tahu semenyenangkan ini, aku harus nya melakukan ini lebih awal,’ batin Laura tersenyum devil, “soal Devan, bisa aku pikirkan nanti,’ batinnya lagi.


“Bu, saya tahu, Ibu tidak akan bisa menerima saya, dan saya tahu apa yang Ibu pikirkan, tapi percayalah Bu, aku tidak seperti apa yang Ibu kira,” Anyelir mencoba meyakinkan Mayang, untun saja mereka berada di ruang VIP, jadi pengunjung lain tidak mendengar dan tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi.


“Jangan panggil aku Ibu! Karena aku bukan Ibu kamu, aku juga jijik dipanggil Ibu oleh wanita seperti kamu!!” penolakan Mayang begitu menyakitkan Anyelir. Laura maju, seraya membawa jus ditangannya, dia mendekat dan mengarahkan gelas di kepala Anyelir. Namun, belum sempat Laura menumpahkan minumannya, sebuah tangan mengcengkram erat pergelangan tangan Laura dan merebut dengan paksa gelas itu.


“De-Devan?” lirih Laura, dia tidak meyangka kalau Devan akan ada di hadapannya saat ini, karena setahu Laura, Devan seharusnya berada di luar kota. Devan membantu Anyelir untuk berdiri.


“Devan?” Mayang juga tidak percaya, putranya ada dihadapannya saat ini.


“Kamu tidak apa-apa?” Devan menanyakan keadaan Anyelir, hal ini membuat Mayang tidak suka, karena Mayang beranggapan Devan mengabaikannya.


“Masuklah ke mobil,” titah Devan, namun Anyelir menggeleng dengan pelan.

__ADS_1


“Aku harus jelaskan kepada Ibu lebih dulu,” pinta Anyelir seraya terisak.


__ADS_2