Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Bercengkrama dengan Ibu


__ADS_3

"Ibu ...." Anyelir langsung memeluk Rose dengan begitu erat, nampaknya dia sangat merindukan ibunya.


"Bagaimana kabar anak Ibu?" Rose memeluk sang putri, Rose mendekap dengan erat, rasanya melihat putrinya, dalam keadaan baik-baik saja, menjadi obat tersendiri bagi Rose.


"Anyelir baik, Bu." jawab Anyelir seraya melepaskan pelukannya.


"Ayo Bu, kita masuk." Anyelir, karena sangkin bahagianya, dia langsung menunggu Rose di teras rumah.


"Ibu bawakan makanan kesukaan kamu," Rose menyerahkan rantang makanan kepada Anyelir.


"Wah, harum banget Bu, Anyelir jadi laper," ucap Anyelir seraya tersenyum.


"Ya sudah, kamu makan, biar Ibu temani," ucap Rose, dan Anyelir langsung mengangguk semangat.

__ADS_1


Anyelir menyantap makanan yang dibawa oleh Rose dengan lahap. Rose begitu bahagia, melihat Anyelir yang nampak sangat baik. Masih teringat jelas di ingatan Rose, saat dia mengajukan Anyelir untuk dinikahkan dengan Devan, bukan Gita. Salah satu alasannya, supaya Anyelir tidak satu rumah dengan Gita, dan menjauhkan Anyelir dari Gita. Karena Rose begitu takut, kalau nantinya Gita akan berbuat hal nekad kepada Anyelir.


"Kamu baik-baik saja, kan di sini, Nak?" tanya Rose tiba-tiba.


Anyelir tersenyum hangat, "Anyelir sangat baik kok, Bu."


Rose tersenyum lega, "Syukurlah, Ibu sangat khawatir, apalagi saat tahu Devan punya istri lain," jawab Rose mulai mengungkapkan isi hatinya.


"Dulu, Ibu merasa sangat bersalah, setiap hari tidak ada hari Ibu tidak memikirkan kamu, Ibu terus ingin mendengar kabar kamu, bahkan saat semua orang mencaci kamu dan memaki kamu. Ingin rasanya Ibu berteriak, kepada mereka, mengatakan bahwa putri Ibu adalah anak yang baik," ujar Rose.


"Anyelir terharu, dia tidak menyangka kalau selama ini ibunya terus memikirkan Anyelir. Semua tanggapan Anyelir hari ini, soal ibuya akhirnya tarpatahkan hari ini. Sekarang Anyelir tahu isi hati ibunya yang sesungguhnya.


"Ibu terpaksa, meminta kamu menjadi istri Devan, Ibu berpikir bahwa akan lebih baik jika kamu tidak tinggal satu rumah dengan Gita, karena satu hal. Ibu terlalu takut, jika saja Gita akan berbuat nekad kepada kamu, Nak." Rose menitikkan air matanya, dia merasa sangat lemah tidak bisa melindungi Anyelir.

__ADS_1


"Maafkan Ibu," isak Rose.


Anyelir menggelengkan kepalanya, dia bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Rose. "Ini bukan salah Ibu, ini semua sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa," ujar Anyelir.


Anyelir duduk di samping Rose. "Ibu tidak perlu merasa bersalah. Ibu harus tahu, bahwa Anyelir sangat bersyukur bisa menikah dengan kak Devan, Ibu tahu? Anyelir sangat bahagia menjadi istrinya, dan Ibu harus percaya itu, Ibu harus bahagia karena sekarang putri Ibu sudah memiliki suami yang tepat, dan itu berkat Ibu," ucap Anyelir seraya tersenyum lembut.


"Ibu bangga memiliki kamu, Nak. Ibu sangat bahagia, karena kamu tumbuh menjadi wanita yang tegar dan menjadi wanita yang begitu baik hati," tutur Rose.


"Karena aku lahir dari seorang wanita yang hebat," jawab Anyelir.


Diam-diam, ada seseorang yang memperhatikan mereka, yaitu Devan. Mulanya, Devan pulang ke rumah untuk menemani Anyelir makan siang, sebab semenjak hamil, Anyelir tidak bisa makan sendirian. Devan juga sangat merindukan wajah istrinya yang begitu cantik. Devan tersenyum lega, melihat hubungan Anyelir dengan ibunya yang sudah membaik. Devan berharap seterusnya hubungan keluarga mereka akan selalu baik-baik saja, akan tetapi ada yang menjadi kendala dalam hati Devan, yaitu Gita.


'Gita tidak bisa dianggap remeh, wanita psikopat itu bisa saja melakukan hal yang diluar pikiran ku,' batin Devan, menatap lurus ke depan.

__ADS_1


__ADS_2