
Felix menghela napasnya, dia menatap Devan dengan seksama, berharap apa yang dia ceritakan nantinya, tidak membuat Devan berpikir terlalu jauh.
"Tadi, sebenarnya saya dibantu oleh Nabilla, Tuan." jawab Felix dengan hati-hati.
"Nabila? Teman istriku?" tanya Devan dengan raut wajah serius.
"Iya, dia bahkan memberikan aku informasi, dan membantu ku mendapatkan bukti tersebut," Felix mulai menjelaskan awal pertemuannya dengan Anyelir.
"Saya merasa, saya harus berterimakasih. Jadi, saya membayar buah yang sudah dia beli. Tapi, hal itu membuat Nabilla kesal, Tuan." jelas Felix lagi, dia kembali menceritakan bagaimana Nabila yang kesal padanya, dan menyerahkan sejumlah uang ganti.
"Kau memang salah," jawab Devan seraya bersedekap dada.
"Harusnya, kamu tetap mengucapkan terimakasih, dan baru bayarkan belanjaan," ujar Devan memberikan saran.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan, Tuan?" tanya Felix lagi dengan raut wajah yang cukup memelas.
"Kamu kenapa? Sepertinya sangat memikirkan perasaan Nabila," Devan menatap Felix dengan penuh curiga.
"Saya cuman merasa bersalah, Tuan. Saya nggak mau, kalau nantinya Nabila berpikir bahwa saya merendahkan dia," jelas Felix meralat apa yang dikatakan oleh Devan barusan.
"Benarkah?" tanya Devan memastikan.
"Iya, Tuan. Masa saya bohong," jawab Felix dengan sangat yakin.
"Begini saja, kan saat ini Nabila sedang bersama istri saya. Kamu belikan mangga muda di toko buah. Soalnya, tadi Anyelir bilang dia ingin itu. Dan kamu sempatkan untuk meminta maaf pada Nabila nanti," Devan memberikan ide, supaya Felix masih bisa bertemu dengan Nabila.
"Tapi, nanti kalau saya lama gimana, Tuan? Anda juga kan, harus pulang sebentar lagi," Felix nampaknya bingung dengan posisinya saat ini.
"Aku akan bertemu dengan Ibu Rose, tapi tolong, jangan bilang pada Anyelir. Katakan saja, aku sedang bertemu dengan client," Devan, belum mendapatkan alasan kenapa Rose menutupi dirinya yang sebenarnya perduli dengan Anyelir. Dan Devan ingin tahu, ada apa sebenarnya.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi, Tuan." Felix pamit, karena dia juga harus mencari mangga muda, pesanan dari nyonya mudanya.
Devan sendiri, juga langsung bersiap menuju tempat yang sudah dia janjikan untuk bertemu, dengan ibu mertuanya. Devan sudah membawa bukti, supaya nantinya Rose tidak bisa lagi berkilah.
__ADS_1
.
.
Felix sudah mendapatkan apa yang dia mau, dia juga sudah dalam perjalan menuju kediaman Devan. Bahkan, sebentar lagi hampir sampai. Felix menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan Nabila nanti. Tidak biasanya, Felix harus meminta maaf kepada seorang wanita, karena selama ini kehidupan Felix memang sangat jauh dari wanita.
"Felix?" Anyelir melihat kedatangan Felix dengan menentang buah mangga muda beserta tangkai yang masih ikut serta, sesuai dengan pesanan Anyelir.
"Kak Devan mana?" tanya Anyelir dengan antusias.
"Maaf Nyonya, dalam perjalan pulang, Tuan Devan mendapatkan telepon, dari salah satu client penting, dan Tuan Devan diminta untuk datang," ucap Felix berbohong.
"Oh begitu," Anyelir tidak menaruh curiga sama sekali, karena memang hal ini juga biasa terjadi pada Devan.
"Ini Nyonya, buah mangga pesanan anda." Felix menyerahkan buah mangga milik Anyelir.
"Terimakasih," Anyelir menerimanya dengan senang hati.
"Sama-sama Nyonya," jawab Felix. Dia nampak ragu.
"Ada apa? Felix? Ada sesuatu yang kamu perlukan?" tanya Anyelir, sebab nampak sekali ada sesuatu yang ingin Felix sampaikan.
"Ti-tidak Nyonya, saya permisi." Felix akhirnya memilih untuk pergi.
"Felix kenapa ya?" tanya Anyelir pada Nabila.
"Nggak tahu, dasar aneh," jawab Nabila dengan raut wajah malas.
'Gue kira, mau minta maaf,' batin Nabila berharap.
"Bodoh kau Felix, tinggal bilang maaf apa susah sih," di dalam mobil, justru Felix merutuki kebodohannya.
"Habislah kesempatan mu Felix," Felix merasa sudah menyia-nyiakan kesempatannya.
__ADS_1
.
.
Sedangkan kini, Devan tengah berada di salah satu restauran, di mana dia sudah membuat janji temu dengan Rose. Devan masih menunggu ibu mertuanya datang.
"Devan?" akhirnya, wanita yang Devan tunggu, sudah datang.
"Selamat sore, Bu." Devan masih bersikap sopan dengan Rose.
"Ada apa kamu meminta untuk bertemu? Mau mengancam lagi?" tanya Rose dengan raut wajah ketus.
"Tidak sama sekali, Bu. Pertemuan kali ini, saya ingin berbicara dengan Ibu dari hati ke hati, tanpa ada paksaan. Bahkan, keputusannya nanti, ada di tangan Ibu, saya tidak akan ikut campur, dan tidak ada ancaman apapun itu," ucap Devan dengan yakin.
"Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan?" akhirnya, Rose menanyakan perihal apa yang membuat Devan, ingin bertemu dengannya.
"Soal Anyelir, dan soal parsel buah. Saya yakin, Ibu sudah tahu bukan?" tanya Devan dengan raut wajah serius.
Rose nampak gelisah, "iya, saya tahu. Dan saya sudah memberikan jawaban, bahwa bukan saya yang mengirim nya," Rose, masih kekeuh dengan jawabannya.
"Saat Anyelir menghubungi Ibu, saya tidak berada di sana, tapi saya tahu Anyelir menghubungi Ibu untuk membicarakan soal ini. Dan Anyelir, punya feeling bahwa Ibu adalah orang yang sudah memberikan buah tersebut. Saya juga awalnya nggak percaya, kalau Ibu memberikan itu semua kepada Anyelir, karena saya paham perangai Ibu yang tidak bisa adil dengan anak kandung Ibu sendiri," ujar Devan.
"Tapi, tidak etis rasanya kalau saya menuduh tanpa bukti. Akhirnya, saya sudah dapatkan semua buktinya. Lihat ini, Bu." Devan, memberikan salinan bukti bahwa Rose yang mengirimkan buah tersebut.
"Ibu ingin mengelak apa lagi?" tanya Devan, setelah melihat raut wajah Rose yang nampak berubah.
"Itu pasti salah orang, itu orang iseng." Rose masih bersikeras, membuat Devan tertawa hambar.
"Kenapa sih Bu? Memberikan perhatian kepada anak sendiri bukan hal dosa Bu. Justru ini sangat dinantikan oleh Anyelir, dan sangat dirindukan oleh dia. Anyelir sangat percaya, bahwa ini adalah Ibu yang mengirimkan nya, karena Ibu sangat tahu, buah apa saja yang tidak disukai oleh Anyelir. Lantas, kenapa Ibu sembunyikan?" Devan, akhirnya menanyakan hal ini.
"Baiklah, kalau Ibu tidak mau mengakuinya. Tapi tolong Bu, jangan buat istri saya memiliki beban pikiran yang berat. Ibu tahu, kondisi kehamilan Anyelir sangat lemah, bahkan Anyelir harus cuti kuliah dan dia harus istirahat total Bu, demi keselamatan calon buah hati kami, yaitu calon cucu Ibu." ucap Devan, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Mendengar kata cucu, entah kenapa ada sesuatu yang semakin menyentuh perasaan Rose. Dia juga khawatir dengan kondisi anak dan calon cucunya.
__ADS_1
"Baiklah, Ibu akan akui, bahwa benar Ibu yang mengirim parsel buah itu," jawab Rose, seraya menundukkan wajahnya. Devan tersenyum, karena akhirnya Rose sudah mau terbuka dengannya, tinggal mencari tahu. Kenapa Rose menyembunyikan semuanya dari suami bahkan dari Anyelir sendiri.