Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Hal tidak biasa


__ADS_3

"Tuan, berkas yang anda minta." Felix menyerahkan berkas yang tadi diminta oleh Devan. Devan menerimanya sembari tersenyum meledek.


"Anda kenapa, Tuan?" tanya Felix yang merasa aneh dengan sikap Devan.


"Tuan, saya bicara dengan Nabila, hanya untuk meminta maaf, nggak lebih," jawab Felix dengan sungguh-sungguh.


"Tapi, aku seperti tidak melihat diri kamu, Felix," ujar Devan, membuat dahi Felix mengernyit.


"Maksud anda, Tuan?" tanya Felix.


"Karena biasanya kamu tidak begitu perduli dengan hal seperti ini, tapi saat kamu belum mengucapkan maaf kepada Nabila, kamu sepertinya terus merasa cemas," terang Devan.


Felix terdiam,memikirkan perkataan Devan. 'Benar juga apa kata, Tuan Devan. Sejak kapan, aku jadi begitu memikirkan perasaan orang lain, terutama wanita?' batin Felix


"Bagaimana sudah sadar?" tanya Devan dengan senyum meledek.


"Saya rasa, itu hanya perasaan tidak enak saya, Tuan. Karena Nabila sudah membantu saya," elak Felix, "kalau begitu saya permisi, Tuan. Ada hal lain yang harus saya kerjakan," Felix seegar menghindar, sebelum nantinya dia kembali diberondong dengan pertanyaan yang lainnya lagi, dan semakin menjebak dirinya.


-//-


"Nye, gimana rasanya hidup berumah tangga?" Dinda salah satu sahabat Anyelir, yang memang sangat ingin nikah muda, memberikan pertanyaan soal pernikahan.


"Menikah itu, ibadah paling lama, saat kamu memutuskan untuk menikah, itu berarti kamu sudah mengambil keputusan yang paling besar dalam hidup kamu," jawab Anyelir dengan begitu tenang.


"Menikah, bukan soal mencari kebahagiaan, tapi menikah, menjalani kehidupan berdua dengan pasangan kita, mengharap ridho Yang Maha Kuasa," jelasnya lagi, "jangan jadikan menikah karena pelarian."


"Pelarian?" Nina sepertinya tidak begitu paham dengan perkataan Anyelir.


"Iya, kan banyak yang bilang, capek kuliah mau nikah aja, capek kerja mau nikah aja. Menikah bukan solusi dari semua masalah kalian, menikah itu ibadah paling lama, jadi jangan berpikir bahwa kehidupan menikah itu sangat indah. Ujian dalam pernikahan itu, lebih besar dari pada ujian ketika kalian pacaran," jelas Anyelir.


"Jadi Dinda, kalau lo mau nikah muda, usahakan lo udah siap lahir dan batin," celetuk Nabila.


"Iya ya,gue jadi inget gimana lo waktu di awal pernikahan, Nye. Banyak banget rumor yang bersebaran di luar sana, banyak fitnah yang terus menimpa lo, padahal lo istri dari seorang Devan Willson," sahabat Anyelir, menjadi saksi bagaimana kisah perjalanan Anyelir menjadi istri Devan sampai akhirnya berada di titik ini. Bukan hal mudah karena dulu, Anyelir juga harus bersaing dengan Laura, dan sempat dibenci oleh Laura.


Anyelir mengingat masa-masanya dulu, dia tahu hubungan rumah tangga memang tidak selalu mudah. Mengingat hal ini, Anyelir jadi teringat dengan kedua orang tuanya, yang juga menyembunyikan satu hal besar.


Pukul 13.00 siang, sahabat Anyelir berpamitan untuk pulang. Karena takut, jika Anyelir ingin beristirahat. Anyelir sebenarnya masih sangat keberatan melepas sahabatnya pulang, tapi Anyelir memang harus beristirahat sesuai anjuran dari Dokternya. Selepas mengantarkan semua sahabatnya sampai di depan pintu, Anyelir melangkah masuk, sampai tiba-tiba suara dering ponsel mengehentikan langkah kaki Anyelir.


"Kak Gita?" gumam Anyelir, setelah melihat nama yang tertera di layar ponsel miliknya. Anye mencoba menenangkan dirinya dulu, lalu menjawab panggilan telepon dari Gita.


["Halo adikku sayang,"] nada yang tidak biasa terdengar menyapa pendengaran Anyelir.


'Kak Gita kenapa? Tumben suaranya ramah begini?' batin Anyelir.


["Halo kak,"] jawab Anyelir, dia masih menerka kiranya apa yang membuat Gita menghubungi dirinya.


["Kamu apa kabar? Lama kita nggak ketemu,"] Gita berbasa-basi menanyakan seputar kabar Anyelir, hal itu membuat Anyelir semakin curiga.


["Aku baik Kak, Kak gita sendiri, bagaimana?"] Anyelir mencoba bersikap biasa saja, meskipun dalam hatinya terus bertanya, apa yang sebenarnya sedang Gita rencanakan.


["Kabar aku sangat baik, kamu tahu kenapa?"] Gita menggantung ucapannya.


'Mana ku tahu, kak Gita, kan belum kasih tahu,' batin Anyelir.


["Enggak Kak, sepertinya ada kabar bahagia ya?"] tebak Anyelir.

__ADS_1


["Tepat, sekarang aku hamil jalan 3 minggu,"] Gita memberikan kabar bahagia itu, Anyelir yang mendengar pun sangat terkejut, dia ikut bahagia mendengar kabar kehamilan kakaknya.


["Wah, Kak Gita, aku ikut bahagia, selamat ya Kak. Kak Gita harus jaga kandungan Kakak dengan baik,"] ucap Anyelir.


["Tentu, dan kamu tahu? Ibu dan Ayah sangat bahagia, kata Ibu dia tidak sabar menantikan cucu pertamanya lahir. Padahal, kan kamu yang akan melahirkan lebih dulu,"] dari peerkataan Gita, Anyelir sudah bisa menebak, apa alasan Gita sebenarnya menghubungi Anyelir. Bukan benar-benar ingin menanyakan kabar, tapi lebih tepatnya ingin membuat Anyelir panas hati.


["Syukurlah Kak, ibu mertuaku juga sangat bahagia atas kehamilan ku, aku yakin itu juga terjadi pada ibu mertua Kakak, kan?"] balas Anyelir, dia tahu kalau hubungan Gita dengan ibu mertuanya tidak baik.


'Sial, dia memakai ibu mertuanya untuk membalas ku. Eh tapi, apa Anyelir tahu bahwa aku dan bunda Desi nggak akur?' batin Gita kesal.


["Iya dong, kan ini calon penerus keluarga Herlambang, jadi mereka sangat menantikan kelahirannya,"] Gita tidak mau kalah, dia berbohong soal janinnya yang diterima oleh keluarga Arman.


"Sayang, kamu telepone siapa?" Arman yang baru saja makan siang, menghampiri istrinya, dia mendengar GIta yang tengah menghubungi seseorang.


["Anyelir, sudah dulu ya? Suamiku sudah datang, kamu jaga kesehatan ya, nanti kalau aku sudah keluar dari rumah sakit, kita saaling berbagi info kehamilan ya?"] Gita pun segera menutup teleponnya dan menatap sang suami.


"Aku hubungin Anyelir sayang, biar bagaimanapun dia adalah adik ku, jadi dia berhak tahu soal kabar kehamilanku," jawab Gita, padahal lebih tepatnya dia ingin menunjukkan pada Anyelir, bahwa dirinya juga tidak mau kalah dari adik tirinya itu.


"Syukurlah, aku sangat bersyukur dengan sikap kamu yang sekarang, semoga ke depannya hubungan keluarga kita bisa semakin lebih baik," Arman mencium tangan Gita dan menatap sang istri dengan kagum.


'Menjalin hubungan baik dengan Anyelir? Jangan mimpi!Aku nggak sudi menjalin hubungan baik dengan anak pelakor, dia sudah merebut semua kebahagiaan ku. Bahkan karena dia dan ibunya, bundaku meninggal," Gita masih menaruh dendam yang begitu besar atas meninggalnya ibunya, dan Gita juga menganggap bahwa Rose adalah dalang di balik kematian ibunya.


"Ya sudah, kamu sekarang istirahat ya, jangan main ponsel terus," saran Arman, dia menjaga istrinya dengan sangat baik.


"Kamu di sini terus, nggak dimarahin ayah atau bunda?" tanya Gita, dia tahu kalau ibu mertuanya sangat tidak suka dengannya.


"Ayah justru minta aku buat jagain kamu, dia bilang aku harus memastikan calon cucunya baik-baik saja," Arman sama sekali tidak menyinggung ibunya. Karena Desi memang terlihat tidak perduli sedikit pun.


'Ayah Dika bersikap perhatian karena aku mengandung, maka dari itu aku akan manfaatkan anak ini, aku nggak boleh sia-siakan. Bila perlu, aku akan buat bunda Desi bertekuk lutut di hadapanku, akan aku turunkan dagunya itu yang selalu terangkat ketika berhadapan dengan ku,' batin Gita.


"Tuan, berkas yang anda minta." Felix menyerahkan berkas yang tadi diminta oleh Devan. Devan menerimanya sembari tersenyum meledek.


"Anda kenapa, Tuan?" tanya Felix yang merasa aneh dengan sikap Devan.


"Tuan, saya bicara dengan Nabila, hanya untuk meminta maaf, nggak lebih," jawab Felix dengan sungguh-sungguh.


"Tapi, aku seperti tidak melihat diri kamu, Felix," ujar Devan, membuat dahi Felix mengernyit.


"Maksud anda, Tuan?" tanya Felix.


"Karena biasanya kamu tidak begitu perduli dengan hal seperti ini, tapi saat kamu belum mengucapkan maaf kepada Nabila, kamu sepertinya terus merasa cemas," terang Devan.


Felix terdiam,memikirkan perkataan Devan. 'Benar juga apa kata, Tuan Devan. Sejak kapan, aku jadi begitu memikirkan perasaan orang lain, terutama wanita?' batin Felix


"Bagaimana sudah sadar?" tanya Devan dengan senyum meledek.


"Saya rasa, itu hanya perasaan tidak enak saya, Tuan. Karena Nabila sudah membantu saya," elak Felix, "kalau begitu saya permisi, Tuan. Ada hal lain yang harus saya kerjakan," Felix seegar menghindar, sebelum nantinya dia kembali diberondong dengan pertanyaan yang lainnya lagi, dan semakin menjebak dirinya.


-//-


"Nye, gimana rasanya hidup berumah tangga?" Dinda salah satu sahabat Anyelir, yang memang sangat ingin nikah muda, memberikan pertanyaan soal pernikahan.


"Menikah itu, ibadah paling lama, saat kamu memutuskan untuk menikah, itu berarti kamu sudah mengambil keputusan yang paling besar dalam hidup kamu," jawab Anyelir dengan begitu tenang.


"Menikah, bukan soal mencari kebahagiaan, tapi menikah, menjalani kehidupan berdua dengan pasangan kita, mengharap ridho Yang Maha Kuasa," jelasnya lagi, "jangan jadikan menikah karena pelarian."

__ADS_1


"Pelarian?" Nina sepertinya tidak begitu paham dengan perkataan Anyelir.


"Iya, kan banyak yang bilang, capek kuliah mau nikah aja, capek kerja mau nikah aja. Menikah bukan solusi dari semua masalah kalian, menikah itu ibadah paling lama, jadi jangan berpikir bahwa kehidupan menikah itu sangat indah. Ujian dalam pernikahan itu, lebih besar dari pada ujian ketika kalian pacaran," jelas Anyelir.


"Jadi Dinda, kalau lo mau nikah muda, usahakan lo udah siap lahir dan batin," celetuk Nabila.


"Iya ya,gue jadi inget gimana lo waktu di awal pernikahan, Nye. Banyak banget rumor yang bersebaran di luar sana, banyak fitnah yang terus menimpa lo, padahal lo istri dari seorang Devan Willson," sahabat Anyelir, menjadi saksi bagaimana kisah perjalanan Anyelir menjadi istri Devan sampai akhirnya berada di titik ini. Bukan hal mudah karena dulu, Anyelir juga harus bersaing dengan Laura, dan sempat dibenci oleh Laura.


Anyelir mengingat masa-masanya dulu, dia tahu hubungan rumah tangga memang tidak selalu mudah. Mengingat hal ini, Anyelir jadi teringat dengan kedua orang tuanya, yang juga menyembunyikan satu hal besar.


Pukul 13.00 siang, sahabat Anyelir berpamitan untuk pulang. Karena takut, jika Anyelir ingin beristirahat. Anyelir sebenarnya masih sangat keberatan melepas sahabatnya pulang, tapi Anyelir memang harus beristirahat sesuai anjuran dari Dokternya. Selepas mengantarkan semua sahabatnya sampai di depan pintu, Anyelir melangkah masuk, sampai tiba-tiba suara dering ponsel mengehentikan langkah kaki Anyelir.


"Kak Gita?" gumam Anyelir, setelah melihat nama yang tertera di layar ponsel miliknya. Anye mencoba menenangkan dirinya dulu, lalu menjawab panggilan telepon dari Gita.


["Halo adikku sayang,"] nada yang tidak biasa terdengar menyapa pendengaran Anyelir.


'Kak Gita kenapa? Tumben suaranya ramah begini?' batin Anyelir.


["Halo kak,"] jawab Anyelir, dia masih menerka kiranya apa yang membuat Gita menghubungi dirinya.


["Kamu apa kabar? Lama kita nggak ketemu,"] Gita berbasa-basi menanyakan seputar kabar Anyelir, hal itu membuat Anyelir semakin curiga.


["Aku baik Kak, Kak gita sendiri, bagaimana?"] Anyelir mencoba bersikap biasa saja, meskipun dalam hatinya terus bertanya, apa yang sebenarnya sedang Gita rencanakan.


["Kabar aku sangat baik, kamu tahu kenapa?"] Gita menggantung ucapannya.


'Mana ku tahu, kak Gita, kan belum kasih tahu,' batin Anyelir.


["Enggak Kak, sepertinya ada kabar bahagia ya?"] tebak Anyelir.


["Tepat, sekarang aku hamil jalan 3 minggu,"] Gita memberikan kabar bahagia itu, Anyelir yang mendengar pun sangat terkejut, dia ikut bahagia mendengar kabar kehamilan kakaknya.


["Wah, Kak Gita, aku ikut bahagia, selamat ya Kak. Kak Gita harus jaga kandungan Kakak dengan baik,"] ucap Anyelir.


["Tentu, dan kamu tahu? Ibu dan Ayah sangat bahagia, kata Ibu dia tidak sabar menantikan cucu pertamanya lahir. Padahal, kan kamu yang akan melahirkan lebih dulu,"] dari peerkataan Gita, Anyelir sudah bisa menebak, apa alasan Gita sebenarnya menghubungi Anyelir. Bukan benar-benar ingin menanyakan kabar, tapi lebih tepatnya ingin membuat Anyelir panas hati.


["Syukurlah Kak, ibu mertuaku juga sangat bahagia atas kehamilan ku, aku yakin itu juga terjadi pada ibu mertua Kakak, kan?"] balas Anyelir, dia tahu kalau hubungan Gita dengan ibu mertuanya tidak baik.


'Sial, dia memakai ibu mertuanya untuk membalas ku. Eh tapi, apa Anyelir tahu bahwa aku dan bunda Desi nggak akur?' batin Gita kesal.


["Iya dong, kan ini calon penerus keluarga Herlambang, jadi mereka sangat menantikan kelahirannya,"] Gita tidak mau kalah, dia berbohong soal janinnya yang diterima oleh keluarga Arman.


"Sayang, kamu telepone siapa?" Arman yang baru saja makan siang, menghampiri istrinya, dia mendengar GIta yang tengah menghubungi seseorang.


["Anyelir, sudah dulu ya? Suamiku sudah datang, kamu jaga kesehatan ya, nanti kalau aku sudah keluar dari rumah sakit, kita saaling berbagi info kehamilan ya?"] Gita pun segera menutup teleponnya dan menatap sang suami.


"Aku hubungin Anyelir sayang, biar bagaimanapun dia adalah adik ku, jadi dia berhak tahu soal kabar kehamilanku," jawab Gita, padahal lebih tepatnya dia ingin menunjukkan pada Anyelir, bahwa dirinya juga tidak mau kalah dari adik tirinya itu.


"Syukurlah, aku sangat bersyukur dengan sikap kamu yang sekarang, semoga ke depannya hubungan keluarga kita bisa semakin lebih baik," Arman mencium tangan Gita dan menatap sang istri dengan kagum.


'Menjalin hubungan baik dengan Anyelir? Jangan mimpi!Aku nggak sudi menjalin hubungan baik dengan anak pelakor, dia sudah merebut semua kebahagiaan ku. Bahkan karena dia dan ibunya, bundaku meninggal," Gita masih menaruh dendam yang begitu besar atas meninggalnya ibunya, dan Gita juga menganggap bahwa Rose adalah dalang di balik kematian ibunya.


"Ya sudah, kamu sekarang istirahat ya, jangan main ponsel terus," saran Arman, dia menjaga istrinya dengan sangat baik.


"Kamu di sini terus, nggak dimarahin ayah atau bunda?" tanya Gita, dia tahu kalau ibu mertuanya sangat tidak suka dengannya.

__ADS_1


"Ayah justru minta aku buat jagain kamu, dia bilang aku harus memastikan calon cucunya baik-baik saja," Arman sama sekali tidak menyinggung ibunya. Karena Desi memang terlihat tidak perduli sedikit pun.


'Ayah Dika bersikap perhatian karena aku mengandung, maka dari itu aku akan manfaatkan anak ini, aku nggak boleh sia-siakan. Bila perlu, aku akan buat bunda Desi bertekuk lutut di hadapanku, akan aku turunkan dagunya itu yang selalu terangkat ketika berhadapan dengan ku,' batin Gita.


__ADS_2