
"Bagaimana, Dok?" saat ini Agam dan Rose tengah memeriksakan kondisi Gita.
"Selamat, Ibu Gita sedang hamil, usianya 3 minggu," jelas Dokter, membuat Agam dan Rose seketika sangat bahagia, tidak terkecuali Gita.
"Iya, Yah. Tapi, sayangnya Arman nggak ada di sini," ditengah berita bahagianya, Gita teringat dengan Arman, membuat Agam dan Rose merasa bersalah, tidak menghubungi Arman sedari tadi.
"Gita?" Arman datang, dengan napas yang masih tersengal-sengal, sepertinya Arman berlari, dia mendekati sang istri dengan tatapan binar bahagia.
"Kamu, kok tahu aku di sini?" tanya Gita.
"Aku dengar dari teman-teman di sini, katanya kamu di rawat," gita memang di bawa ke rumah sakit milik keluarga Arman, karena itu adalah rumah sakit terdekat dari kediaman Agam.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Arman nampak begitu antusias, Dokter pun menjelaskan kepada Arman, soal keadaan Gita yang kini tengah berbadan dua.
"Tapi perlu diingat ya Pak Arman, usia kandungan istri anda masih sangat muda, masih sangat rawan. Jadi, usahakan jangan terlalu lelah dan janga banyak stress, karena itu juga akan berakibat pada janin, Bu Gita," saran Dokter.
"Baik, Dok, saya janji akan menjaga istri saya," Arman terlihat begitu bahagia, apalagi Gita. Dia bisa bernapas lega sekarang. Karena ketakutannya akan di gugat cerai oleh Arman, tidak akan terjadi.
"Kamu maafin aku?" tanya Gita dengan raut wajah sok polos.
"Tentu sayang, nanti kita pulang ya ke apartement," Arman menatap Gita dengan penuh sayang, dia bahkan memeluk Gita dengan hati-hati.
"Anda sudah benar-benar memeriksakan kondisi menantu saya, kan Dok?" tiba-tiba saja, dari arah pintu masuk, Desi datang dengan raut wajah angkuhnya.
"Sudah, Bu. Saya sudah pastikan bahwa Ibu Gita saat ini, benar-benar sedang mengandung," jawab Dokter dengan sangat yakin.
"Kamu beruntung, Gita. Karena kamu tidak jadi menjadi janda, kamu hamil dan hal itu membuat Arman nggak jadi ceraikan kamu," ketus Desi.
Gita, langsung memasang wajah memelasnya. "Bunda, apa Bunda nggak tersentuh, apa Bunda nggak bahagia? Ini, kan cucu pertama Bunda juga," ujar Gita dengan tatapan sendu.
"Bu Desi, saya harap sekarang ini, tolong jaga perasaan Gita. Karena Gita sedang hamil muda," saran Rose dengan sopan.
"Jaga perasaan? Apa dia bisa jaga perasaan anak saya?" suara Desi naik satu oktaf.
"Bu Desi, tolong jaga sikap, anda ini istri dari pemilik rumah sakit, harusnya anda bisa menjaga sikap karena ini adalah rumah sakit yang butuh ketenangan," Agam ikut bersuara.
Desi hendak menjawab, tapi suara Arman lebih dulu mencegah. "Udahlah, Bun. Tolong sekarang Bunda pulang aja, kalau Bunda cuman mau bikin keributan," ucap Arman.
"Kamu usir Bunda?" Desi nampak tidak percaya, Arman lebih membela istrinya, dia begitu kesal karena Arman tidak memihaknya.
"Bukan begitu, Bun. Ini rumah sakit, dan sekarang keadaan Gita sedang lemah, tolong Bunda pahami," Arman meminta pengertian dari bundanya, dia tidak mau hal buruk menimpa istri dan juga calon janinnya.
"Kamu akan menyesal Arman," ketus Desi, dia menghentakkan kakinya dan pergi dari sana. Diam-diam Gita tertawa dalam hatinya. Karena sudah bisa mengusir mertuanya.
"Sayang kamu istirahat ya?" Arman meminta Gita untuk beristirahat, dia menjaga Gita dan memperlakukan Gita dengan sangat baik. Agam dan Rose yang melihatnya pun sangat lega, hanya saja Agam dan Rose berharap, Gita bisa merubah sikapnya jauh lebih baik.
"Bagaimana, Dok?" saat ini Agam dan Rose tengah memeriksakan kondisi Gita.
"Selamat, Ibu Gita sedang hamil, usianya 3 minggu," jelas Dokter, membuat Agam dan Rose seketika sangat bahagia, tidak terkecuali Gita.
"Iya, Yah. Tapi, sayangnya Arman nggak ada di sini," ditengah berita bahagianya, Gita teringat dengan Arman, membuat Agam dan Rose merasa bersalah, tidak menghubungi Arman sedari tadi.
"Gita?" Arman datang, dengan napas yang masih tersengal-sengal, sepertinya Arman berlari, dia mendekati sang istri dengan tatapan binar bahagia.
"Kamu, kok tahu aku di sini?" tanya Gita.
"Aku dengar dari teman-teman di sini, katanya kamu di rawat," gita memang di bawa ke rumah sakit milik keluarga Arman, karena itu adalah rumah sakit terdekat dari kediaman Agam.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Arman nampak begitu antusias, Dokter pun menjelaskan kepada Arman, soal keadaan Gita yang kini tengah berbadan dua.
__ADS_1
"Tapi perlu diingat ya Pak Arman, usia kandungan istri anda masih sangat muda, masih sangat rawan. Jadi, usahakan jangan terlalu lelah dan janga banyak stress, karena itu juga akan berakibat pada janin, Bu Gita," saran Dokter.
"Baik, Dok, saya janji akan menjaga istri saya," Arman terlihat begitu bahagia, apalagi Gita. Dia bisa bernapas lega sekarang. Karena ketakutannya akan di gugat cerai oleh Arman, tidak akan terjadi.
"Kamu maafin aku?" tanya Gita dengan raut wajah sok polos.
"Tentu sayang, nanti kita pulang ya ke apartement," Arman menatap Gita dengan penuh sayang, dia bahkan memeluk Gita dengan hati-hati.
"Anda sudah benar-benar memeriksakan kondisi menantu saya, kan Dok?" tiba-tiba saja, dari arah pintu masuk, Desi datang dengan raut wajah angkuhnya.
"Sudah, Bu. Saya sudah pastikan bahwa Ibu Gita saat ini, benar-benar sedang mengandung," jawab Dokter dengan sangat yakin.
"Kamu beruntung, Gita. Karena kamu tidak jadi menjadi janda, kamu hamil dan hal itu membuat Arman nggak jadi ceraikan kamu," ketus Desi.
Gita, langsung memasang wajah memelasnya. "Bunda, apa Bunda nggak tersentuh, apa Bunda nggak bahagia? Ini, kan cucu pertama Bunda juga," ujar Gita dengan tatapan sendu.
"Bu Desi, saya harap sekarang ini, tolong jaga perasaan Gita. Karena Gita sedang hamil muda," saran Rose dengan sopan.
"Jaga perasaan? Apa dia bisa jaga perasaan anak saya?" suara Desi naik satu oktaf.
"Bu Desi, tolong jaga sikap, anda ini istri dari pemilik rumah sakit, harusnya anda bisa menjaga sikap karena ini adalah rumah sakit yang butuh ketenangan," Agam ikut bersuara.
Desi hendak menjawab, tapi suara Arman lebih dulu mencegah. "Udahlah, Bun. Tolong sekarang Bunda pulang aja, kalau Bunda cuman mau bikin keributan," ucap Arman.
"Kamu usir Bunda?" Desi nampak tidak percaya, Arman lebih membela istrinya, dia begitu kesal karena Arman tidak memihaknya.
"Bukan begitu, Bun. Ini rumah sakit, dan sekarang keadaan Gita sedang lemah, tolong Bunda pahami," Arman meminta pengertian dari bundanya, dia tidak mau hal buruk menimpa istri dan juga calon janinnya.
"Kamu akan menyesal Arman," ketus Desi, dia menghentakkan kakinya dan pergi dari sana. Diam-diam Gita tertawa dalam hatinya. Karena sudah bisa mengusir mertuanya.
"Sayang kamu istirahat ya?" Arman meminta Gita untuk beristirahat, dia menjaga Gita dan memperlakukan Gita dengan sangat baik. Agam dan Rose yang melihatnya pun sangat lega, hanya saja Agam dan Rose berharap, Gita bisa merubah sikapnya jauh lebih baik.
"Bagaimana, Dok?" saat ini Agam dan Rose tengah memeriksakan kondisi Gita.
"Selamat, Ibu Gita sedang hamil, usianya 3 minggu," jelas Dokter, membuat Agam dan Rose seketika sangat bahagia, tidak terkecuali Gita.
"Iya, Yah. Tapi, sayangnya Arman nggak ada di sini," ditengah berita bahagianya, Gita teringat dengan Arman, membuat Agam dan Rose merasa bersalah, tidak menghubungi Arman sedari tadi.
"Gita?" Arman datang, dengan napas yang masih tersengal-sengal, sepertinya Arman berlari, dia mendekati sang istri dengan tatapan binar bahagia.
"Kamu, kok tahu aku di sini?" tanya Gita.
"Aku dengar dari teman-teman di sini, katanya kamu di rawat," gita memang di bawa ke rumah sakit milik keluarga Arman, karena itu adalah rumah sakit terdekat dari kediaman Agam.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Arman nampak begitu antusias, Dokter pun menjelaskan kepada Arman, soal keadaan Gita yang kini tengah berbadan dua.
"Tapi perlu diingat ya Pak Arman, usia kandungan istri anda masih sangat muda, masih sangat rawan. Jadi, usahakan jangan terlalu lelah dan janga banyak stress, karena itu juga akan berakibat pada janin, Bu Gita," saran Dokter.
"Baik, Dok, saya janji akan menjaga istri saya," Arman terlihat begitu bahagia, apalagi Gita. Dia bisa bernapas lega sekarang. Karena ketakutannya akan di gugat cerai oleh Arman, tidak akan terjadi.
"Kamu maafin aku?" tanya Gita dengan raut wajah sok polos.
"Tentu sayang, nanti kita pulang ya ke apartement," Arman menatap Gita dengan penuh sayang, dia bahkan memeluk Gita dengan hati-hati.
"Anda sudah benar-benar memeriksakan kondisi menantu saya, kan Dok?" tiba-tiba saja, dari arah pintu masuk, Desi datang dengan raut wajah angkuhnya.
"Sudah, Bu. Saya sudah pastikan bahwa Ibu Gita saat ini, benar-benar sedang mengandung," jawab Dokter dengan sangat yakin.
"Kamu beruntung, Gita. Karena kamu tidak jadi menjadi janda, kamu hamil dan hal itu membuat Arman nggak jadi ceraikan kamu," ketus Desi.
__ADS_1
Gita, langsung memasang wajah memelasnya. "Bunda, apa Bunda nggak tersentuh, apa Bunda nggak bahagia? Ini, kan cucu pertama Bunda juga," ujar Gita dengan tatapan sendu.
"Bu Desi, saya harap sekarang ini, tolong jaga perasaan Gita. Karena Gita sedang hamil muda," saran Rose dengan sopan.
"Jaga perasaan? Apa dia bisa jaga perasaan anak saya?" suara Desi naik satu oktaf.
"Bu Desi, tolong jaga sikap, anda ini istri dari pemilik rumah sakit, harusnya anda bisa menjaga sikap karena ini adalah rumah sakit yang butuh ketenangan," Agam ikut bersuara.
Desi hendak menjawab, tapi suara Arman lebih dulu mencegah. "Udahlah, Bun. Tolong sekarang Bunda pulang aja, kalau Bunda cuman mau bikin keributan," ucap Arman.
"Kamu usir Bunda?" Desi nampak tidak percaya, Arman lebih membela istrinya, dia begitu kesal karena Arman tidak memihaknya.
"Bukan begitu, Bun. Ini rumah sakit, dan sekarang keadaan Gita sedang lemah, tolong Bunda pahami," Arman meminta pengertian dari bundanya, dia tidak mau hal buruk menimpa istri dan juga calon janinnya.
"Kamu akan menyesal Arman," ketus Desi, dia menghentakkan kakinya dan pergi dari sana. Diam-diam Gita tertawa dalam hatinya. Karena sudah bisa mengusir mertuanya.
"Sayang kamu istirahat ya?" Arman meminta Gita untuk beristirahat, dia menjaga Gita dan memperlakukan Gita dengan sangat baik. Agam dan Rose yang melihatnya pun sangat lega, hanya saja Agam dan Rose berharap, Gita bisa merubah sikapnya jauh lebih baik.
"Bagaimana, Dok?" saat ini Agam dan Rose tengah memeriksakan kondisi Gita.
"Selamat, Ibu Gita sedang hamil, usianya 3 minggu," jelas Dokter, membuat Agam dan Rose seketika sangat bahagia, tidak terkecuali Gita.
"Iya, Yah. Tapi, sayangnya Arman nggak ada di sini," ditengah berita bahagianya, Gita teringat dengan Arman, membuat Agam dan Rose merasa bersalah, tidak menghubungi Arman sedari tadi.
"Gita?" Arman datang, dengan napas yang masih tersengal-sengal, sepertinya Arman berlari, dia mendekati sang istri dengan tatapan binar bahagia.
"Kamu, kok tahu aku di sini?" tanya Gita.
"Aku dengar dari teman-teman di sini, katanya kamu di rawat," gita memang di bawa ke rumah sakit milik keluarga Arman, karena itu adalah rumah sakit terdekat dari kediaman Agam.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Arman nampak begitu antusias, Dokter pun menjelaskan kepada Arman, soal keadaan Gita yang kini tengah berbadan dua.
"Tapi perlu diingat ya Pak Arman, usia kandungan istri anda masih sangat muda, masih sangat rawan. Jadi, usahakan jangan terlalu lelah dan janga banyak stress, karena itu juga akan berakibat pada janin, Bu Gita," saran Dokter.
"Baik, Dok, saya janji akan menjaga istri saya," Arman terlihat begitu bahagia, apalagi Gita. Dia bisa bernapas lega sekarang. Karena ketakutannya akan di gugat cerai oleh Arman, tidak akan terjadi.
"Kamu maafin aku?" tanya Gita dengan raut wajah sok polos.
"Tentu sayang, nanti kita pulang ya ke apartement," Arman menatap Gita dengan penuh sayang, dia bahkan memeluk Gita dengan hati-hati.
"Anda sudah benar-benar memeriksakan kondisi menantu saya, kan Dok?" tiba-tiba saja, dari arah pintu masuk, Desi datang dengan raut wajah angkuhnya.
"Sudah, Bu. Saya sudah pastikan bahwa Ibu Gita saat ini, benar-benar sedang mengandung," jawab Dokter dengan sangat yakin.
"Kamu beruntung, Gita. Karena kamu tidak jadi menjadi janda, kamu hamil dan hal itu membuat Arman nggak jadi ceraikan kamu," ketus Desi.
Gita, langsung memasang wajah memelasnya. "Bunda, apa Bunda nggak tersentuh, apa Bunda nggak bahagia? Ini, kan cucu pertama Bunda juga," ujar Gita dengan tatapan sendu.
"Bu Desi, saya harap sekarang ini, tolong jaga perasaan Gita. Karena Gita sedang hamil muda," saran Rose dengan sopan.
"Jaga perasaan? Apa dia bisa jaga perasaan anak saya?" suara Desi naik satu oktaf.
"Bu Desi, tolong jaga sikap, anda ini istri dari pemilik rumah sakit, harusnya anda bisa menjaga sikap karena ini adalah rumah sakit yang butuh ketenangan," Agam ikut bersuara.
Desi hendak menjawab, tapi suara Arman lebih dulu mencegah. "Udahlah, Bun. Tolong sekarang Bunda pulang aja, kalau Bunda cuman mau bikin keributan," ucap Arman.
"Kamu usir Bunda?" Desi nampak tidak percaya, Arman lebih membela istrinya, dia begitu kesal karena Arman tidak memihaknya.
"Bukan begitu, Bun. Ini rumah sakit, dan sekarang keadaan Gita sedang lemah, tolong Bunda pahami," Arman meminta pengertian dari bundanya, dia tidak mau hal buruk menimpa istri dan juga calon janinnya.
__ADS_1
"Kamu akan menyesal Arman," ketus Desi, dia menghentakkan kakinya dan pergi dari sana. Diam-diam Gita tertawa dalam hatinya. Karena sudah bisa mengusir mertuanya.
"Sayang kamu istirahat ya?" Arman meminta Gita untuk beristirahat, dia menjaga Gita dan memperlakukan Gita dengan sangat baik. Agam dan Rose yang melihatnya pun sangat lega, hanya saja Agam dan Rose berharap, Gita bisa merubah sikapnya jauh lebih baik.