Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Syarat?


__ADS_3

Gita, begitu penasaran, ada apan sebenarnya, sampai sang ibu mertua menghuhungi suaminy, mungkinkah ada sesuatu yang terjadi? Gita, menatap pintu kamar mandi, sepertinya Arman masih cukup lama berada dalam kamar mandi. Akhirnya Gita pun mendekati ponsel suaminya dan mengambil ponsel tersebut, dia menggeser layar hijau dan mengangkat telepone dari Desi.


"Bagaimana Arman, apakah kamu sudah memikirka keputusannya? Kamu mau, kan melihat rumah tangga orang tua kamu kembali akur? Sesuai janji bunda, bunda akan meminta maaf kepada ayah dengan sungguh-sungguh, bahkan Bund akan menemui pak Agam dan bu Rose, taopoi dengan syarat kamu berjanji akan meninggalkan istri kamu," Kata Desin tanpa rasa malu sedikitpun, padahal dia yang sudah membuat kesalahan fatal, tapi masih saja Arman diminta untuk mninggalkan Gita.


"Anda terkejut?" tanya Gita, karena tidak mendengar suara Desi.


"Mana Arman?" Desi tidak mau me jawab apapun, dia justru mencari keberadaan Arman.


"Nggak penting di mana mas Arman sekarang, yang penting kita selesaikan apa mau anda sebenarnya. Kenapa sih, Bunda nggak bisa introspeksi diri, di sini yang bersalah itu Bunda. Bunda hanya diminta untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan saja begitu angkuh, justru memberikan syarat yabg tidak masuk akal, yaitu meminta mas Arman meninggalkan aku, " kata Gita dengan nada kecewa.


"Kamu masih tanya kenapa? Karena semua kejadian ini bermula dari kamu, andai kamu tidak hadir dalam kehidupan anak saya, pasti saya tidak akan seperti ini, saya tidak akan menjadi orang jahat seperti kamu " Ketus Desi.


"Sejahatnya saya, tapi saya sudah sadar dengan apa yang saya lakukan selama ini, saya sudah mengakui kesalahan saya dan saya sudah berubah. Bisakah Bunda juga melakukannya, ini semua juga demi Bunda, bukan demi aku," ujar Gita mengiba, dia harap dengan begini perasaan Desi bisa sedikit tersentuh dan bisa merubah pendiriannyz yang angkuh itu.


"Jangan mimpi aku mau menerima kamu sebagai menantuku, aku tidak sudi," desis Desi.

__ADS_1


"Bun, apakah Bunda sadar dengab apa yang Bunda lakukan, dengan berusaha untuk memisahkah aku dan mas Arman, itu sama saja Bunda ingin menghancurkan kebahagiaan anak Bunda sendiri. Aku dan mas Arman saling mencintai, dan kamu sudah berjanji untuk sehidup semati" terang Gita. Akan tetapi, Desi justru tertawa tebahak-bahak mendengar perkataan Gita, seolah apa yang Gita ucapkan, hanyalah lelucon belaka.


"Nggak usah ngarang kamu, saya yakin Arman akan kembali menemukan cintanya, cinta yang sesungguhnya, yang jelas bukan kamu. Saya yakin, Arman akan bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari pada kamu, jadi memang jalan terbaiknya sdalah kalian berpisah," ujar Desi dengan begitu enteng.


"Kamu harus tahu, Arman sangat sedih mendengar kedua orang tuanya, berpisah, akunyakin Arman akan lebih memilih untuk meninggalkan kamu dari pada melihat kedua orang tuanya hancur," Desi begitu percaya diri mengatakan hal itu. Memang, sore tadi, saat Arman pulang dari rumah sakit, dia kembaki menjenguk ibunya, dan melihat keadaan Desi yang semakin mengkhawatirkan. Arman mengatakan kepada Desi, supaya meminta maaf kepada ayahnya juga kepada orang tua Gita dengan bersungguh-sungguh, supaya ayahnya mau mencabut lagi perkataannya, dan tidak jadi bercerai. Akan tetapi, jawaban yang didengar oleh Armab benar-benar membuatnya terkejut. Desi justru memberikan sebuah syarat, supaya Desi mau melakukan semua perkataan Arman, syaratnya yaitu, Arman diminta meninggalkan Gita.


"Kalau memang mas Arman, mau meninggalkan aku, maka saat aku mendengar keputusannya, maka saat itu juga mas Arman akan kehilangan aku dan calon anak kami. Aku nggak mau kehilangan mas Arman, aku sangat mencintai dia, aku juga tidak mau anakku lahir dalam keluarga yang tidak utuh. Dari pada, aku hidup menderita karena kehilangan suamiku, dan anaku kehilangan ayahnya, sebaiknya aku dan anakku pergi dari dunia ini, setidaknya kami tidak akan merasakan sakit hati berkepanjangan," ucap Gita dengan bersungguh-sungguh, bagi Gita Armab adalah separuh jiwanya, dia tidak akan bisa kehilangan sosok suami seperti Arman, karena selama ini, Arman yang selalu ada untuknya.


Desi justru semakin merasa menag, karena dia berhasil membuat Gita menjadi cemas. "Baguslah, itu yang aku harapkan, sebentar lagi, aku yakin kamu akan ditinggalkan oleh Arman."


Gita, begitu penasaran, ada apan sebenarnya, sampai sang ibu mertua menghuhungi suaminy, mungkinkah ada sesuatu yang terjadi? Gita, menatap pintu kamar mandi, sepertinya Arman masih cukup lama berada dalam kamar mandi. Akhirnya Gita pun mendekati ponsel suaminya dan mengambil ponsel tersebut, dia menggeser layar hijau dan mengangkat telepone dari Desi.


"Bagaimana Arman, apakah kamu sudah memikirka keputusannya? Kamu mau, kan melihat rumah tangga orang tua kamu kembali akur? Sesuai janji bunda, bunda akan meminta maaf kepada ayah dengan sungguh-sungguh, bahkan Bund akan menemui pak Agam dan bu Rose, taopoi dengan syarat kamu berjanji akan meninggalkan istri kamu," Kata Desin tanpa rasa malu sedikitpun, padahal dia yang sudah membuat kesalahan fatal, tapi masih saja Arman diminta untuk mninggalkan Gita.


"Anda terkejut?" tanya Gita, karena tidak mendengar suara Desi.

__ADS_1


"Mana Arman?" Desi tidak mau me jawab apapun, dia justru mencari keberadaan Arman.


"Nggak penting di mana mas Arman sekarang, yang penting kita selesaikan apa mau anda sebenarnya. Kenapa sih, Bunda nggak bisa introspeksi diri, di sini yang bersalah itu Bunda. Bunda hanya diminta untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan saja begitu angkuh, justru memberikan syarat yabg tidak masuk akal, yaitu meminta mas Arman meninggalkan aku, " kata Gita dengan nada kecewa.


"Kamu masih tanya kenapa? Karena semua kejadian ini bermula dari kamu, andai kamu tidak hadir dalam kehidupan anak saya, pasti saya tidak akan seperti ini, saya tidak akan menjadi orang jahat seperti kamu " Ketus Desi.


"Sejahatnya saya, tapi saya sudah sadar dengan apa yang saya lakukan selama ini, saya sudah mengakui kesalahan saya dan saya sudah berubah. Bisakah Bunda juga melakukannya, ini semua juga demi Bunda, bukan demi aku," ujar Gita mengiba, dia harap dengan begini perasaan Desi bisa sedikit tersentuh dan bisa merubah pendiriannyz yang angkuh itu.


"Jangan mimpi aku mau menerima kamu sebagai menantuku, aku tidak sudi," desis Desi.


"Bun, apakah Bunda sadar dengab apa yang Bunda lakukan, dengan berusaha untuk memisahkah aku dan mas Arman, itu sama saja Bunda ingin menghancurkan kebahagiaan anak Bunda sendiri. Aku dan mas Arman saling mencintai, dan kamu sudah berjanji untuk sehidup semati" terang Gita. Akan tetapi, Desi justru tertawa tebahak-bahak mendengar perkataan Gita, seolah apa yang Gita ucapkan, hanyalah lelucon belaka.


"Nggak usah ngarang kamu, saya yakin Arman akan kembali menemukan cintanya, cinta yang sesungguhnya, yang jelas bukan kamu. Saya yakin, Arman akan bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari pada kamu, jadi memang jalan terbaiknya sdalah kalian berpisah," ujar Desi dengan begitu enteng.


"Kamu harus tahu, Arman sangat sedih mendengar kedua orang tuanya, berpisah, akunyakin Arman akan lebih memilih untuk meninggalkan kamu dari pada melihat kedua orang tuanya hancur," Desi begitu percaya diri mengatakan hal itu. Memang, sore tadi, saat Arman pulang dari rumah sakit, dia kembaki menjenguk ibunya, dan melihat keadaan Desi yang semakin mengkhawatirkan. Arman mengatakan kepada Desi, supaya meminta maaf kepada ayahnya juga kepada orang tua Gita dengan bersungguh-sungguh, supaya ayahnya mau mencabut lagi perkataannya, dan tidak jadi bercerai. Akan tetapi, jawaban yang didengar oleh Armab benar-benar membuatnya terkejut. Desi justru memberikan sebuah syarat, supaya Desi mau melakukan semua perkataan Arman, syaratnya yaitu, Arman diminta meninggalkan Gita.

__ADS_1


"Kalau memang mas Arman, mau meninggalkan aku, maka saat aku mendengar keputusannya, maka saat itu juga mas Arman akan kehilangan aku dan calon anak kami. Aku nggak mau kehilangan mas Arman, aku sangat mencintai dia, aku juga tidak mau anakku lahir dalam keluarga yang tidak utuh. Dari pada, aku hidup menderita karena kehilangan suamiku, dan anaku kehilangan ayahnya, sebaiknya aku dan anakku pergi dari dunia ini, setidaknya kami tidak akan merasakan sakit hati berkepanjangan," ucap Gita dengan bersungguh-sungguh, bagi Gita Armab adalah separuh jiwanya, dia tidak akan bisa kehilangan sosok suami seperti Arman, karena selama ini, Arman yang selalu ada untuknya.


Desi justru semakin merasa menag, karena dia berhasil membuat Gita menjadi cemas. "Baguslah, itu yang aku harapkan, sebentar lagi, aku yakin kamu akan ditinggalkan oleh Arman."


__ADS_2