
Hari ini secara tiba-tiba Devan mengajak Anyelir untuk pergi ke suatu tempat. Anyelir nampak bingung, dan menanyakan kepada Devan, kemana gerangan suaminya akan membawa Anyelir? Namun Devan hanya menjawab bahwa ini adalah kejutan. Anyelir merasa aneh, karena dia sama sekali tidak berulang tahun.
“Ayo.” Devan mengulurkan tangannya, supaya Anyelir turun dari mobil. Anyelir sempat tercengang karena mereka berhenti di salah satu rumah sakit,
“Rumah sakit?” Anyelir mencoba memastikan.
“Iya, kamu bilang ingin bertemu dengan ibu kan? hari ini kamu akan bertemu dengannya,” jawab Devan. Senyum Anyelir langsung terbit, akhirnya hari yang dia nantikan datang juga.
“Bagaimana kondisi Ibu sekarang? Apa sudah lebih baik?” seingat Anyelir, Devan pernah berucap, bahwa dia akan mempertemukan Anyelir dengan Mayang, namun saat kondisi Mayang sudah Mya embaik. Akan tetapi, dari jawaban Devan yang menggelengkan kepala perlahan, membuat Anyelir kembali sendu.
“Tidak apa-apa, aku yakin Ibu pasti akan kembali sehat,” Anyelir mencoba menyemangati suaminya.
“Ya sudah ayo kita masuk.” Devan mengajak Anyelir untuk masuk ke dalam rumah sakit, dan menuju di mana ibunya dirawat. Saat Devan hendak membuka pintu, namun ponselnya berdering.
“Sayang, kamu masuklah dulu, aku akan terima telepon,” ujar Devan dan diangguki oleh Anyelir. Anyelir masuk ke dalam ruangan Mayang, dan melihat Mayang yang tengah berbaring.
“Pagi Bu,” Anyelir menatap Mayang yang masih memejamkan matanya. Lalu duduk di kursi samping ranjang Mayang.
“Ibu … apa Ibu nggak bosan terus berada di sini? Ayo Bu bangun,” ucap Anyelir sembari terisak.
“Maaf kan Anyelir,Bu. Karena Anyelir sudah hadir dalam kehidupan kak Devan,” lirih Anyelir seraya terisak, dia seolah tengah mencurahkan seluruh isi hatinya.
“Bu, Anyelir mohon, Ibu harus bangun dan Ibu harus sembuh, karena kak Devan masih sangat membutuhkan Ibu. Bagi kak Devan, Ibu adalah separuh raganya, Ibu adalah mataharinya. Tanpa Ibu maka hidup kak Devan akan gelap Bu …” dengan perlahan Anyelir menggenggam jemari Mayang.
“Maaf kalau Anyelir lancang Bu, Anyelir tahu pasti Ibu akan sangat marah kalau Ibu tahu Anyelir begini, tapi Anyelir benar-benar sangat menyayangi Ibu, bahkan jika nantinya Ibu meminta Anyelir untuk pergi dari kehidupan ka Devan, maka akan Anyelir lakukan,” janji Anyelirr, dia mencium tangan Mayang dengan lembut.
“Tapi Anyelir mohon Bu, Ibu bangun ya?” Anyelir menggenggam tangan Mayang dan dan meneruhnya di pipinya. Anyelir memejamkan matanya sejenak, dan saat dia membuka mata, betapa terkejutnya Anyelir, melihat Mayang yang sudah membuka matanya.
“Ibu? Ibu sudah siuman?” senyum terukir di bibir Anyelir, dia begitu bahagia karena akhirnya melihat Mayang yang sudah kembali siuman.
“Sebentar ya Bu, Anyelir panggil Dokter dulu,” Anyelir hendak pergi, dan memanggil Dokter, namun Mayang mencegahnya.
__ADS_1
“Tunggu,” ucap Mayang, membuat Anyelir menghentikkan langkah kakinya.
“Ada apa Bu?” tanya Anyelir bingung.
“Tidak usah panggil Dokter,” titah Mayang dengan mimic wajah yang serius.
“I-Ibu marah?” tanya Anyelir dengan takut-takut, kali ini Anyelir siap jikalau memang Mayang akan mengusirnya, karena tidak suka dengan kehadiran Anyelir.
“Kenapa harus marah? Kan Ibu sedang dijenguk oleh anak mantu Ibu,” jawaban Mayang sontak membuat Anyelir terkejut, dan seolah kehabisan kata-kata.
“Ma-maksud Ibu?” tanya Anyelir yang hampir tidak percaya. Anyelir menatap sekeliling ruangan, dan benar hanya ada dirinya dalam ruangan itu. Itu berarti Mayang berbicara dengannya bukan?
“Kenapa? apa ada yang salah?” Mayang malah balik bertanya.
“A-apa maksudnya? Ibu sudah merestui aku dan Devan?” Anyelir mencoba bertanya dengan hati-hati, dia juga tidak mau terlalu berharap. Meski sebenarnya dalam hati Anyelir, dia sangat bahagia mendengar ucapan Mayang.
“Apa alasannya Ibu tidak memberikan restu kepada kamu Nak? sedangkan sekarang Ibu sudah tahu, bahwa kamu adalah anak yang sangat baik. Dan Ibu tahu, kamu membawa dampak besar dalam kehidupan Devan. Terimakasih, karena kamu sudah menyembuhkan luka di hati Devan Nak,” Mayang tersenyum hangat kepada Anyelir.
“Loh, sayang kenapa kamu menangis?” Devan yang baru saja masuk ke dalam ruangan Ibunya, dikejutkan dengan Anyelir yang tengah terisak.
“I-ibu udah restuin kita,” jawab Anyelir sembari terisak.
“Terus kenapa kamu menangis? harusnya kamu seneng dong,” Devan dibuat bingung dengan sikap istrinya.
“Aku terharu,” isak Anyelir semakin kencang. Melihat Anyelir yang menangis begitu, membuat Devan menjadi gemas dibuatnya. Devan pun berinisiatif untuk memeluk istrinya. Namun, saat Devan baru saja mendekat, Anyelir langsung menutup mulut dan hidungnya.
“Kenapa sayang?” tanya Devan bingung.
“Kamu pakai parfum apa sih?” tanya Anyelir, tiba-tiba saja isak tangisnya terhenti, karena Anyelir terganggu dengan bau parfum Devan.
“Parfum biasa, kenapa sih?” Devan mengendus bau badannya.
__ADS_1
“Nggak enak baunya,” jawab Anyelir dengan cepat.
“Masa sih Bu?” Devan meminta pendapat dari ibunya.
“Enggak kok Nak, baunya biasa,” jawab Mayang, setuju dengan jawaban Devan.
“Enggak enak Bu,” jawab Anyelir kekeuh. Anyelir langsung mengeluarkan parfum miliknya, parfum yang khas dengan bau wanita.
“Nah ini baru enak,” ucap Anyelir setelah mengendus bau badan Devan.
“Sayang ini kan parfum cewek,” Devan protes, karena biasanya Devan selalu menggunakan parfum miliknya, yang khas dengan wangi gantle.
“Pokoknya aku mau kamu pake parfum ini aja, yang lama jangan di pake,” titah Anyelir dengan tegas. Devan tidak mau berdebat hanya karena parfum, akhirnya dia pun mengalah dengan mengatakan iya.
“Lalu kapan kalian akan meresmikan pernikahan kalian dan mengumumkan pada public?” tanya Mayang, biar bagaimanapun bagi Mayang, kabar bahagia seputar pernikahan harus dibagikan. Mayang ingin pernikahan Devan dan Anyelir bisa dirayakan. Karena Mayang yakin, Anyelir sebagai seorang wanita pasti punya wedding dreamnya sendiri.
“Dalam waktu dekat ini Bu. Tapi tetap aku ingin Ibu benar-benar sembuh dulu, karena aku ingin Ibu juga bisa hadir dalam resepsi pernikahan kami nanti,” ujar Devan.
“Ibu pasti akan sehat,” jawab Mayang dengan yakin, Mayang melirik Anyelir yang sedari tadi diam.
“Kamu kenapa Nak?” tanya Mayang, sebab Anyelir memegang kepalanya seolah kesakitan.
“Nggak tahu Bu, tiba-tiba sakit dan pusing,” tiba-tiba saja raut wajah Anyelir sudah berubah pucat, membuat Mayang dan Devan terkejut, sekaligus khawatir.
“Loh, sayang kamu kenapa?” Devan panic , karena baru kali ini melihat Anyelir yang nampak sakit.
“Iya Nak, kamu sangat pucat,” Mayang pun ikut cemas dengan keadaan menantunya
“Anyelir …” belum selesai Anyelir menjawab, namun Anyelir sudah langsung jatuh pingsan. Untunglah, Devan langsung sigap dan menahan tubuh Anyelir.
“Anyelir!!” seru Devan dan Mayang bersamaan.
__ADS_1