
Selama perjalanan Nabila dan Rangga tidak banyak berbincang, sekilas Nabila melihat buket bungan mawar putih di kursi belakang, Nabila pikir mungkin itu untuk kekasih Felix.
"Nabila, rumah kamu di mana?" tanya Felix, sebab Nabila lupa belum memberitahukan alamat rumahnya. Nabila pun menjelaskan.
"Bil, kalau kita mampir dulu boleh? Kebetulan tempat yang saya tuju, belum ngelewatin kediaman kamu," tanya Felix meminta izin.
"Oh, boleh Pak. Malah saya nggak enak, jadi bikin Bapak repot," ucap Nabila tak enak hati.
"Nggak masalah, ini sekalian jalan pulang juga," jawab Felix, mobil terus melaju, suasana sepi dalam mobil, membuat Nabila berpikir, ke mana kiranya Felix ingin mampir.
"Memangnya, Bapak mau ke mana?" akhirnya Nabila memberanikan diri untuk bertanya.
"Ke rumah ibu saya," jawab Felix membuat Nabila terkejut.
"Loh nggak apa-apa Pak, kalau saya ikut?" tanya Nabila lagi.
"Nggak masalah, nah bentar lagi kita sampai," ucap Felix, dan berhasil membuat jantung Nabila berdebar, dia bingung kira-kira harus bagaimana nanti dia bersikap di hadapan ibu Felix. Sampai akhirnya, Felix menepikan mobilny, dan semakin membuat Nabila bingung.
"Pemakaman?" gumam Nabila.
"Iya, di sini orang tua saya tinggal sekarang," jawab Felix yang mendengar gumaman Nabila. Nabila menundukkan wajahnya karena malu, dia takut Felix tersinggung.
"Maaf Pak," cicit Nabila tak enak hati.
"Nggak apa-apa kok," jawab Felix dengan senyumnya yang nampak tulus, Nabila tak pernah melihat senyum itu sebelumnya, beberapa detik Nabila merasa dihipnotis oleh Felix, sampai akhirnya dia tersadar, oleh pertanyaan Felix.
"Kamu mau tunggu di mobil atau ikut?" tanya Felix memberikan pilihan.
"Selamat hari Ibu," ucap Felix seraya menaruh buket bunga tadi di depan salah satu makam.
"Bu, Felix nggak datang sendirian, Felix datang dengan Nabila," Felix berbicara memperkenalkan Nabila di depan pusara sang ibu. Nabila tersenyum canggung, dia pun berjongkok dan memperkenalkan diri.
"Halo tante, saya Nabila, senang bisa diajak Pak Felix ke sini, dan kenalan sama tante," sapa Nabila.
"Nabila, ini ayah makam ayah ku," ucap Felix menunjuk makam di sampingnya, Nabila pun kembali memperkenalkan diri.
"Nabila ini, teman Nona Anyelir, ayah sama ibu ingat, kan yang waktu itu Felix cerita, Tuan Devan menikah lagi? Nah sekarang Nona Anyelir sedang hamil." Felix bercerita seputar kehidupan Devan, melihat Felix dengan sisi yang tak pernah Nabila lihat sebelumnya, membuat nabila terenyuh, dia tidak menyangka, di balik sikap menyebalkan dan dinginnya Felix, menyimpan rasa sepi di hatinya. Nabila yakin, Felix pasti merasa kesepian karena hanya tinggal sendirian.
Felix dan Nabila mulai berdoa, untuk kedua orang tua Felix, dengan khusyuk Nabila mendoakan supaya kedua orang tua Felix di tempatkan di tempat terbaik. Setelah mendoakan kedua orang tuanya, dan memastikan makam dalam keadaan terawat, Felix pun mengajak Nabila untuk pulang.
"Keluarga Pak Felix, sepertinya dekat dengan pak Devan," ucap Nabila, mencoba membuka perbincangan.
"Ayah ku, dulu adalah asisten pribadi mendiang ayah Tuan Devan, mereka meninggal bersamaan karena kecelakaan. Ayah selalu berpasan, agar aku selalu bersama Tuan Devan apapun yang terjadi dan memastikan bahwa Tuan Devan akan selalu baik-baik saja," jawab Felix.
__ADS_1
Selama perjalanan Nabila dan Rangga tidak banyak berbincang, sekilas Nabila melihat buket bungan mawar putih di kursi belakang, Nabila pikir mungkin itu untuk kekasih Felix.
"Nabila, rumah kamu di mana?" tanya Felix, sebab Nabila lupa belum memberitahukan alamat rumahnya. Nabila pun menjelaskan.
"Bil, kalau kita mampir dulu boleh? Kebetulan tempat yang saya tuju, belum ngelewatin kediaman kamu," tanya Felix meminta izin.
"Oh, boleh Pak. Malah saya nggak enak, jadi bikin Bapak repot," ucap Nabila tak enak hati.
"Nggak masalah, ini sekalian jalan pulang juga," jawab Felix, mobil terus melaju, suasana sepi dalam mobil, membuat Nabila berpikir, ke mana kiranya Felix ingin mampir.
"Memangnya, Bapak mau ke mana?" akhirnya Nabila memberanikan diri untuk bertanya.
"Ke rumah ibu saya," jawab Felix membuat Nabila terkejut.
"Loh nggak apa-apa Pak, kalau saya ikut?" tanya Nabila lagi.
"Nggak masalah, nah bentar lagi kita sampai," ucap Felix, dan berhasil membuat jantung Nabila berdebar, dia bingung kira-kira harus bagaimana nanti dia bersikap di hadapan ibu Felix. Sampai akhirnya, Felix menepikan mobilny, dan semakin membuat Nabila bingung.
"Pemakaman?" gumam Nabila.
"Iya, di sini orang tua saya tinggal sekarang," jawab Felix yang mendengar gumaman Nabila. Nabila menundukkan wajahnya karena malu, dia takut Felix tersinggung.
"Maaf Pak," cicit Nabila tak enak hati.
"Nggak apa-apa kok," jawab Felix dengan senyumnya yang nampak tulus, Nabila tak pernah melihat senyum itu sebelumnya, beberapa detik Nabila merasa dihipnotis oleh Felix, sampai akhirnya dia tersadar, oleh pertanyaan Felix.
"Kamu mau tunggu di mobil atau ikut?" tanya Felix memberikan pilihan.
"Selamat hari Ibu," ucap Felix seraya menaruh buket bunga tadi di depan salah satu makam.
"Bu, Felix nggak datang sendirian, Felix datang dengan Nabila," Felix berbicara memperkenalkan Nabila di depan pusara sang ibu. Nabila tersenyum canggung, dia pun berjongkok dan memperkenalkan diri.
"Halo tante, saya Nabila, senang bisa diajak Pak Felix ke sini, dan kenalan sama tante," sapa Nabila.
"Nabila, ini ayah makam ayah ku," ucap Felix menunjuk makam di sampingnya, Nabila pun kembali memperkenalkan diri.
"Nabila ini, teman Nona Anyelir, ayah sama ibu ingat, kan yang waktu itu Felix cerita, Tuan Devan menikah lagi? Nah sekarang Nona Anyelir sedang hamil." Felix bercerita seputar kehidupan Devan, melihat Felix dengan sisi yang tak pernah Nabila lihat sebelumnya, membuat nabila terenyuh, dia tidak menyangka, di balik sikap menyebalkan dan dinginnya Felix, menyimpan rasa sepi di hatinya. Nabila yakin, Felix pasti merasa kesepian karena hanya tinggal sendirian.
Felix dan Nabila mulai berdoa, untuk kedua orang tua Felix, dengan khusyuk Nabila mendoakan supaya kedua orang tua Felix di tempatkan di tempat terbaik. Setelah mendoakan kedua orang tuanya, dan memastikan makam dalam keadaan terawat, Felix pun mengajak Nabila untuk pulang.
"Keluarga Pak Felix, sepertinya dekat dengan pak Devan," ucap Nabila, mencoba membuka perbincangan.
"Ayah ku, dulu adalah asisten pribadi mendiang ayah Tuan Devan, mereka meninggal bersamaan karena kecelakaan. Ayah selalu berpasan, agar aku selalu bersama Tuan Devan apapun yang terjadi dan memastikan bahwa Tuan Devan akan selalu baik-baik saja," jawab Felix.
__ADS_1
Selama perjalanan Nabila dan Rangga tidak banyak berbincang, sekilas Nabila melihat buket bungan mawar putih di kursi belakang, Nabila pikir mungkin itu untuk kekasih Felix.
"Nabila, rumah kamu di mana?" tanya Felix, sebab Nabila lupa belum memberitahukan alamat rumahnya. Nabila pun menjelaskan.
"Bil, kalau kita mampir dulu boleh? Kebetulan tempat yang saya tuju, belum ngelewatin kediaman kamu," tanya Felix meminta izin.
"Oh, boleh Pak. Malah saya nggak enak, jadi bikin Bapak repot," ucap Nabila tak enak hati.
"Nggak masalah, ini sekalian jalan pulang juga," jawab Felix, mobil terus melaju, suasana sepi dalam mobil, membuat Nabila berpikir, ke mana kiranya Felix ingin mampir.
"Memangnya, Bapak mau ke mana?" akhirnya Nabila memberanikan diri untuk bertanya.
"Ke rumah ibu saya," jawab Felix membuat Nabila terkejut.
"Loh nggak apa-apa Pak, kalau saya ikut?" tanya Nabila lagi.
"Nggak masalah, nah bentar lagi kita sampai," ucap Felix, dan berhasil membuat jantung Nabila berdebar, dia bingung kira-kira harus bagaimana nanti dia bersikap di hadapan ibu Felix. Sampai akhirnya, Felix menepikan mobilny, dan semakin membuat Nabila bingung.
"Pemakaman?" gumam Nabila.
"Iya, di sini orang tua saya tinggal sekarang," jawab Felix yang mendengar gumaman Nabila. Nabila menundukkan wajahnya karena malu, dia takut Felix tersinggung.
"Maaf Pak," cicit Nabila tak enak hati.
"Nggak apa-apa kok," jawab Felix dengan senyumnya yang nampak tulus, Nabila tak pernah melihat senyum itu sebelumnya, beberapa detik Nabila merasa dihipnotis oleh Felix, sampai akhirnya dia tersadar, oleh pertanyaan Felix.
"Kamu mau tunggu di mobil atau ikut?" tanya Felix memberikan pilihan.
"Selamat hari Ibu," ucap Felix seraya menaruh buket bunga tadi di depan salah satu makam.
"Bu, Felix nggak datang sendirian, Felix datang dengan Nabila," Felix berbicara memperkenalkan Nabila di depan pusara sang ibu. Nabila tersenyum canggung, dia pun berjongkok dan memperkenalkan diri.
"Halo tante, saya Nabila, senang bisa diajak Pak Felix ke sini, dan kenalan sama tante," sapa Nabila.
"Nabila, ini ayah makam ayah ku," ucap Felix menunjuk makam di sampingnya, Nabila pun kembali memperkenalkan diri.
"Nabila ini, teman Nona Anyelir, ayah sama ibu ingat, kan yang waktu itu Felix cerita, Tuan Devan menikah lagi? Nah sekarang Nona Anyelir sedang hamil." Felix bercerita seputar kehidupan Devan, melihat Felix dengan sisi yang tak pernah Nabila lihat sebelumnya, membuat nabila terenyuh, dia tidak menyangka, di balik sikap menyebalkan dan dinginnya Felix, menyimpan rasa sepi di hatinya. Nabila yakin, Felix pasti merasa kesepian karena hanya tinggal sendirian.
Felix dan Nabila mulai berdoa, untuk kedua orang tua Felix, dengan khusyuk Nabila mendoakan supaya kedua orang tua Felix di tempatkan di tempat terbaik. Setelah mendoakan kedua orang tuanya, dan memastikan makam dalam keadaan terawat, Felix pun mengajak Nabila untuk pulang.
"Keluarga Pak Felix, sepertinya dekat dengan pak Devan," ucap Nabila, mencoba membuka perbincangan.
"Ayah ku, dulu adalah asisten pribadi mendiang ayah Tuan Devan, mereka meninggal bersamaan karena kecelakaan. Ayah selalu berpasan, agar aku selalu bersama Tuan Devan apapun yang terjadi dan memastikan bahwa Tuan Devan akan selalu baik-baik saja," jawab Felix.
__ADS_1