
Kini, Anyelir dalam perjalanan pulang, dia tidak pulang bersama dengan Devan, karena Devan masih ada pekerjaan , sebenarnya Anyelir juga ingin mengatakan kepada Devan soal ajakan makan malam dari Mayang, namun kebetulan ponselnya mati.
‘Kabarin nanti aja deh,’ batin Anyelir, perjalanan pulang kantor hari ini tidak seperti biasanya, karena jalanan yang begitu macet, Anyelir terus menatap kearah jam tangannya, dan sebentar lagi memasuki jam 6 sore, dia takut kalau nanti dia akan terlambat memenuhi undangan ibu mertuanya, dan mengecewakan Mayang.
‘Masih di jalan, belum siap-siap juga,’ keluh Anyelir dalam hati. Akhirnya jam 18.30 sore Anyelir tiba di kediamannya, dia segera masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri, dia sampai meminta Larissa untuk menyiapkan gaun yang akan dipakainya untuk menghadiri makan malam.
“Anda mau ke mana Nona?” tanya Larissa seraya merapikan rambut Anyelir.
“Aku mau makan malam.” Jawab Anyelir seraya tersipu malu, membuat Larissa berpikir kalau Anyelir akan makan malam dengan Devan.
“Dengan tuan Devan?” tebak Larissa, namun tentu saja Anyelir menggeleng pelan, mendapati jawaban gelengan dari Anyelir, tentu saja Larissa terdiam sejenak, Larissa takut kalau Anyelir akan pergi dengan pria lain. Melihat perubahan wajah Larissa, sontak Anyelir pun menyadari jawabannya, namun hal itu malah membuat Anyelir ingin tertawa.
“Kamu lucu loh Larissa kalau lagi takut begitu,” ujar Anyelir.
“Nona mau makan malam dengan siapa?” tanya Larissa lagi memastikan.
“Kamu tenang aja, aku mau makan malam dengan ibu mertuaku,” jawab Anyelir, raut wajah bahagia terus tergambar dari wajah dan senyuman Anyelir.
“A-apa? maksud Nona, nyona Mayang?” tanya Larissa terbata, dan Anyelir menganggukkan kepalanya dengan begitu semangat.
“Terimakasih ya Larissa, sudah membantuku, aku harus pergi sekarang sebelum terlambat,” pamit Anyelir dengan tergesa.
__ADS_1
“Hati-hati Nona!’ seru Larissa, dia begitu bahagia melihat Anyelir yang nampak excited untuk makan malam dengan ibu mertuanya.
‘Semoga saja acara anda dan tuan bisa berjalan lancar Nona,’ batin Larissa, rupanya dia salah paham, Larissa pikir Anyelir akan pergi juga dengan Devan.
**
Disisi lain, kini Gita tengah ada acara makan malam di kediaman Agam, mereka semua nampak menikmati hidangan makan malam, namun berbeda dengan Agam, sedari tadi dia nampak murung dan makanan yang kini berada di hadapannya pun nampak tidak berselara begonia. Hal itu tidak luput dari penglihatan Rosse , Gita dan Arman.
“Mas, dimakan dong,” tegur Rose kepada suaminya, dia merasa tidak enak kepada Gita dan Arman, karena sedari tadi Agam terus melamun.
“Aku tidak berselera makan, kalian saja,” setelah mengatakan itu Agam bangun dari kursinya dan menuju ke kamar.
“Bu, ayah kenapa? sakit?” tanya Arman. Rose nampak bingung menjawab pertanyaan menantunya, dia juga merasa tidak enak dengan sikap suaminya tadi.
“Kalian lanjut makan dulu, biar Ibu lihat ayah di kamar,” pamit Rosse, sebenarnya Rosse hanya ingin protes kepada suaminya atas sikapnya barusan.
“Mas, aku nggak suka ya dengan sikap kamu barusan,” protes Rose kepada Agam yang tengah duduk bersandar pada kepala ranjang.
“Aku juga nggak suka dengan sikap kamu, kan aku sudah bilang, kalau memang kamu mau mengadakan jamuan makan malam, bersama dengan keluarga, maka undang juga Anyelir dan Devan, tapi kamu malah tidak melakukannya,” ketus Agam menyampaikan keberatannya atas sikap Rose.
“Aku punya alasan kenapa aku tidak melakukan itu mas,” jawab Rose mencoba membela diri.
__ADS_1
“Apa!” ketus Agam, dia ingin tahu kali ini apa lagi alasan Rose.
“Apa kamu lupa? Terkahir acara makan malam dengan kedua orangtua Arman? Semuanya hancur berantakan, acara yang seharusnya berjalan dengan penuh kehangatan dan keharmonisan malah berakhir kacau balau garap-gara Anyelir,” kesal Rose, kalau dia mengingat kejadian itu, ingin sekali rasanya Rose memukul Anyelir, karena putrinya sudah mencoreng wajahnya dan membuatnya malu.
“Kenapa kamu kesal? Bukankah justru kalian sendiri yang memulai menyudutkan Anyelir? Dan Anyelir tetap diam, orangtua Arman memfitnah Anyelir dengan mengatakan bahwa Anyelir berkhianat dari Arman, padahal kamu tahu jelas, bahwa Armand an Gita yang sudah mengkhianati Anyelir, di mana perasaan kamu?” kali ini Agam sudah tidak tahan lagi, dia ingin mengeluarkan semuaya.
“Mas, bisa nggak sih kamu itu berpihak sama aku, aku ngelakuin ini demi kita juga, aku cuman mau Gita menerima aku, jadi aku nggak punya cara lain selain membela Gita,” jawab Rose, dia mengatakan alasan dibalik pembelaannya terhadap Gita selama, yang tidak lain demi bisa diterima dan diakui sebagai ibu sambungnya. Rose juga merasa bersalah karena sudah menyakiti perasaan bunda dari Gita.
“Apakah itu begitu penting? Sampai-sampai kamu mengesampingkan perasaan putri kandung kamu sendiri? Tidakkah kamu merasa bersalah juga terhadap Anyelir? Selama ini sikap kamu terhadapan Anyelir dan juga Gita jauh berbeda, bahkan saat Gita mengkhianati Anyelir yang tidak lain putri kamu sendiri, kamu malah menutupinya, di mana perasaan kamu?” ketus Agam lagi.
“Mas, nggak usah berlebihan deh, Anyelir sudah mendapatkan kasih sayang dari aku sejak dia lahir dan tumbu dewasa, kalau aku sekarang lebih sayang ke Gita, ya wajar Mas, karena aku nggak mau kalau Gita merasa kehilangan sosok ibu dan juga kasih sayang dari seorang ibu,” tukas Rose.
“Iya, dan kamu melakukan itu semua dengan cara menyakiti anak kamu, dan menyakiti perasaannya yang mendalam, aku jamin suatu saat kamu akan menyesal Rose,” perkataan itu menjadi perkataan penutup dari Agam, karena setelah mengatakannya, Agam langsung berbarig dan menutupi tubuhnya dengan selimut, membuat Rose kesal karena lagi-lagi dia merasa Agam selalu saja menyalahkannya. Rose sendiri hanya memandang kesal kearah suaminya, dan itupun tidak lama, karena dia langsung menuju ke meja makan menemui anak dan menantunya. Rose tidak mau kalau sampai Gita dan juga Arman curiga bahwa kedua orangtuanya tengah bertengkar.
“Gimana Bu keadaan Ayah?” tanya Gita cemas setelah melihat Anyelit yang menuruni tangga.
“Ayah baik-baik aja kok, tadi udah minum obtat juga,” elak Rose, dia menutupi pertengkarannya dengan Agam.
“Syukurlah kalau begitu Bu,” lega Arman.
“Oh iya, malam ini kalian nginep ya?” pinta Rose, dia merasa setelah Gita menikah dan tinggal bersama dengan Arman, rumah menjadi semakin sepi.
__ADS_1
“Iya Bu, kita nginep kok,” jawab Gita, dia pun sudah sangat merindukan kamarnya, barang-barang milik Gita juga masih beberapa ada di kamar, dan beberapa baju juga masih ada, bermaksud untuk kebutuhan mendadak seperti saat ini. mendengar bahwa anak dan juga menantunya akan menginap, tentu saja Rose sangat bahagia, dia bahkan sangat bersemangat untuk memasak sarapan pagi esok.